Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
The Boss (18)



“PERGILAH!!!!”


Jin berteriak dengan sekuat tenaga. Bahkan jika tenggorokannya robek dan koyak dia tidak peduli. Dia hanya ingin orang itu pergi. Dia ingin gadis itu meninggalkan tempat ini dan tidak peduli padanya.


Mereka sudah tidak bertemu beberapa hari. Dan ketika mereka bertemu lagi, keadaan sangat menentang. Jin kemudian mengetahui bahwa dadanya begitu sesak dan perih. Dia tidak pernah ingin terjadi. Cukup sekali dia melihat wajah memar dan luka di tubuh gadis itu. Cukup sekali dan itu cukup.


Jin bukanlah orang bodoh. Setelah mendengar suara seorang pria dan Agni saling bertaut. Jin menyadari situasi saat ini bukanlah menargetkan dia. Situasi saat ini lebih seperti dia dijadikan umpan. Dengan menjadikan dia sandera, orang-orang ini bisa mengancam kelompok Yakuza Kuma atau sekolah Kuroyama. Bahkan Agni bisa masuk.


Jin tidak pernah merasa tidak berdaya seperti sekarang. Dia dengan susah payah melepaskan ikatan tali di belakang punggungnya.


“Jin, apa kamu terluka? Sepertinya baik-baik saja. Hmm, ini bagus, Bos Morizawa masih peduli dengan wajah kelompok Kuma.”


“Bukankah kau Sepertinya sangat menenalku. Shiroyama.”


“Oh? Tentu saja. Anakmu memberi kesan yang sangat bagus padaku.”


Morizawa berjalan keluar dari kegelapan. Dia memperlihatkan tubuhnya yang kurus tinggi dengan wajah khas pria 40 tahunan.


Setengah wajah Morizawa memiliki tato simbol naga dan elang.


Morizawa tersenyum dan berdiri dibelakang Jin. Dia melihat Agni yang ada di pintu dengan mata licik.


“Bukankah bocah Kuma ini sangat penting untukmu?”


Jin bergetar karena terkejut. Meskipun dia sangat penasaran. Jin berharap Agni tidak akan membalas dan pergi dari tempat ini. Jin memiliki sedikit keegoisan. Jika Agni menolaknya, dia tidak perlu mendengar.


Jin tidak ditakdirkan kecewa. Dia mengangkat kepalanya dan memandang sumber suara.


“Ya”


Jin merasa ribuan kupu-kupu terbang dihatinya. Perasaan geli dan mati rasa pada saat yang tidak tepat ini membuatnya sedikit tidak nyaman. Jin ingin meminta penjelasan lebih pada Agni, hanya tidak berharap penutup matanya dilepas dan sebuah pistol ditodongkan di samping kepalanya.


“Wow, Bos Morizawa sangat berani”


Morizawa melihat Agni dengan mata tajam dan kejam.


Agni melihat Morizawa dengan santai. Bahkan jika ada senjata di dekat kepala Jin, Agni tidak panik.


Dia melangkah dengan pelan menuju mereka.


“Shiroyama, jika bocah ini sangat berarti bagimu. Bagaimana jika kau menggantikannya.”


“Agni, pergilah...”


Jin mulai memohon. Semua rasionalitas Jin kembali. Dia tidak ingin Agni terluka. Dia tidak ingin Agni menggantikan posisinya. Jin melihat Agni yang semakin mendekat dan tubuhnya sangat gelisah.


Jangan datang, jangan datang, jangan datang. Dia terus berdoa di dalam kepalanya agar Agni pergi.


Agni memiliki senyum diwajahnya. Morizawa menyukai kekuasaan. Dia menginginkan posisi yang selama ini di miliki Takahashi. Namun dia tidak bisa menyelesaikan Takahashi. Selain menggunakan beberapa masalah di kalangan Yakuza. Agni juga membuat masalah pada SYA company. Tapi semua itu berakhir dengan kegagalan Morizawa. Morizawa kemudian memandang keluarga besar dan menemukan celah di keluarga Hoshikawa. Dia tidak menyangka benih yang dia tanam pada wanita itu sangat ambisius sehingga membuat dirinya masuk ke keluarga Hoshikawa. Setelah mengetahui keluarga Hoshikawa bertanggung jawab dengan sekolah. Morizawa mulai menyusun pion. Awalnya pion yang disusun tidak cukup menghadapi Takahashi. Hingga Takahashi mati, dia membuat pion sederhana untuk membunuh raja yang baru. Agni.


Semua berjalan baik selama 1 tahun terakhir. Sampai raja baru menunjukkan kekuasaannya. Agni mulai berubah dalam beberapa bulan dalam 1 tahun ini. Perkembangan Agni begitu menakutkan sehingga Morizawa harus membuat langkah melanggar hukum seperti ini.


Setelah sampai disini, Morizawa dengan tenang mengarahkan senjata ke kepala Agni yang masih 3 meter jauhnya.


“Shiroyama, bukankah kau bodoh?”


“Mungkin.”


“Jangan berani gerakan tanganmu, Morizawa!!”


Jin benar-benar tertekan. Bagaimana bisa semua berakhir seperti ini. Hanya Agni, dia tidak ingin Agni terluka. Apalagi karenanya.


“Bocah, terlalu dini bagimu untuk mengancam ku.”


Morizawa memakai senyum main-main ketika melirik Jin. Agni tetap seperti keadaan semula. Dia memiliki wajah polos dan tidak menunjukkan panik sedikitpun.


“Bagaimana denganku.”


Morizawa dengan kaku melihat tempat Agni berdiri sebelumnya. Berdiri lurus di pintu adalah wajah yang mirip dengan Jin. Dia tidak memiliki emosi diwajahnya. Melihat Morizawa dengan tajam.


“KUMAA!!! ANJING SIALAN YANG TUNDUK DIBAWAH KUROYAMA!!!”


“Oh, kupikir kau lupa. Aku kau sama sama dikalahkan dengan telak oleh beliau.”


“ANJING SEPERTI MU DIAM SAJA!!”


“Wow, lihat ini. Tidak bisa menaruh tangan padaku kemudian anak ku? Lucunya...”


“Keparat!!”


Jin merasa semua terjadi begitu saja. Dia melihat wajah ayahnya yang panik dan suara sebuah tembakan. Tepat setelah tembakan, dia merasa basah di bahunya. Jin tidak tau apa yang terjadi sebelum semuanya menjadi gelap. Jin hanya tau dia tidak merasakan sakit atau apapun sebelum terlelap. Jin terlambat mengetahui dia pingsan. Dia tidak tau bagaimana dia pingsan.