Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Movie Actors Hidden Boss (8)



Reza membuka pintu kamar mandi dengan tenang. Melihat bagian dalamnya, tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku. Matanya melebar dan dia mulai bernafas dengan hati-hati.


Pria di bawah shower memiliki dua kancing atas terbuka di kemejanya. Wajah tampan dengan warna merah menawan dan penuh pesona terlihat linglung. Mata yang seperti rubah tersenyum itu membuat undangan untuk siapa saja. Membuat siapapun ingin menganiayanya. Celananya masih terpasang dengan baik, namun sabuknya terlihat tidak pada tempatnya. Jelas ada sepasang tangan yang mencoba merusaknya.


"Sial, bukankah ini kaisar film!!"


Bahkan dia yang seorang laki-laki mungkin bisa menjadi bengkok untuk orang menawan ini.


Reza tidak bisa berhenti mendesah dihatinya. Benar saja, hanya kecantikan yang mampu mengalahkan gunung es.


Lihatlah Agni, dia tidak pernah bertemu dengan pria ini. Namun dia sangat cepat dan mendapat ciuman cinta pertama kaisar film.


Tentu saja Reza tau itu tidak benar. Melihat kondisi Jordan, tidak sulit menyimpulkan apa yang terjadi.


"Ada obatnya?"


Agni tiba-tiba muncul dibelakang Reza. Reza tidak terlalu terkejut. Dia melirik Agni sebentar.


"Bukankah kamu bisa mengobatinya sendiri?"


"Jika kamu tidak mampu, aku akan memanggil orang lain."


"Wow, sangat tidak menyukai kaisar film? Bukankah ini sangat tampan dan menarik."


Agni melirik Reza. Mata menyipit. Dari sana Reza seolah-olah bisa membaca sebuah kalimat.


'Kamu pikir aku serendah itu?'


Oh, bos tidak ingin diremehkan.


Reza salah paham bahwa Agni mungkin bisa membuat Jordan menyukainya dan mendapatkan tubuhnya secara sukarela.


Namun maksud Agni bahwa dia tidak akan melakukan hal memalukan pada orang-orang yang sedang dalam kesusahan.


Namun tidak ada yang meluruskan kesalahpahaman ini.


Reza kemudian mendekati Jordan. Mata Jordan yang linglung mendapat sedikit fokus.


"..... Nona~"


"Tenang, kawan. Aku akan membantumu."


Mendengar suara laki-laki didepannya. Jordan tidak tau mengapa, namun ada perasaan kecewa yang tidak bisa di jelaskan.


Reza menggunakan jarinya untuk menekan beberapa titik di kepala Jordan. Dia kemudian mengeluarkan jarum suntik.


Melihat jarum suntik. Mata Jordan menyusut. Wajahnya penuh ketakutan dan teror.


"Tidak... Jangan...."


Agni yang mengawasi di pintu mengerutkan kening. Reaksi Jordan sangat tidak benar.


"Eza, tunggu."


"Ada apa?"


Reza mengehentikan gerakan tangannya. Dia melihat Agni seketika. Saat menyadari wajah Agni salah, dia berbalik melihat Jordan. Benar saja, wajah penuh perlawanan dan ngeri itu sangat menyedihkan.


"Ini... Bagaimana?"


Agni diam. Wajahnya sangat tenang. Kerutan diantara alisnya tadi sepertinya tidak pernah ada.


Nyatanya, dia saat ini sangat panik. Dia juga bingung dengan keadaan Jordan. Sistem yang tidak bisa diandalkan juga mati entah bagaimana.


"Jauhkan itu sebentar."


Reza mengangguk setuju. Kondisi Jordan saat ini jelas sangat tidak memungkinkan untuk diberi suntikan. Jika Reza memaksanya, mereka berdua akan sama-sama terluka.


Kamar mandi itu sunyi untuk sementara.


Agni mengingat tindakan Jordan sebelum memasuki kamar. Menurut informasi Jordan terlihat dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya. Namun dia sangat baik pada fans dan koleganya. Agni mengingat sikap Jordan yang sangat manja dan penuh ketergantungan padanya tadi. Sebelumnya, Jordan memang tidak memiliki banyak perlawanan pada Agni.


Mungkin saja dia bisa membujuk Jordan.


Menurut sistem, Jordan dan Agni sama-sama memiliki kesan yang baik dari pertemuan pertama mereka. Agni berpikir saat ini mungkin juga sama.


Agni berjalan dengan ringan. Saat hanya berjarak setengah meter dari Jordan, Agni menekuk kakinya.


Agni berjongkok dengan tenang. Saat ini dia sejajar dengan wajah Jordan. Meski dia sedikit lebih pendek, ini lebih baik daripada melihat Jordan sambil berdiri.


?


Jordan samar-samar melihat seseorang mendekatinya. Orang ini berbeda dari yang sebelumnya. Jordan dengan hati-hati memanggil.


"Nona~"


"Aku disini."


Jordan tiba-tiba melihat ke mata Agni. Mereka saling menatap dengan tenang.


Agni merasa dadanya berdenyut lebih dan lebih cepat.


Ada kebingungan sesaat dimatanya yang jernih.


Jordan benar-benar sesuai dengan estetikanya.


Agni mengabaikan jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak teratur. Tidak memikirkan penyebabnya sedikitpun.


"Kamu... Apakah kamu tidak bisa mendapat suntikan?"


Jordan menggeleng dengan semangat. Dia bicara sangat pelan seperti berbisik. Namun Agni dan Reza bisa mendengarnya dengan jelas di ruangan yang sunyi ini.


"Suntikan, aku akan pingsan, aku tidak bisa bertemu keluargaku lagi. Suntikan mengerikan."


Agni dan Reza saling memandang. Jelas mereka memiliki pemikiran yang sama.


Jordan adalah korban penculikan anak.


Tentu saja Agni mengetahuinya. Namun akan aneh jika dia tenang mendengarnya. Itu kasus lain jika dia hanya sendirian. Sekarang ada Reza disisinya. Dia tidak bisa menunjukkan kekurangan apapun.


"Tenang saja. Aku akan ada di dekatmu. Bahkan jika ada seseorang yang mencoba memisahkan kamu dariku, aku akan menemukan mu. Apakah ini baik-baik saja?"


Jordan berkedip dengan polos.


Jika bukan karena pengaruh obat. Jordan dapat berpura-pura menerima suntikan dengan tenang. Selama itu bukan suntikan untuk membuatnya tidur dia akan baik-baik saja.


Namun saat ini, dia sedang merasakan obat yang membuatnya tidak dapat berpikir dengan jernih. Dan gadis di dekatnya ini membuatnya sangat tenang dan nyaman. Jordan yang tidak pernah menunjukkan sisi lemah, saat ini dia seperti anak kecil yang kehilangan dukungan. Semua yang dia lakukan murni dari refleks alam bawah sadarnya.


Karena sejak kecil dia tidak pernah bahagia. Ketika melepaskan kesadaran dewasanya, dia akan kembali menjadi seperti anak-anak.


Adapun bagaimana dia bisa mempercayai Agni dengan mudah. Dia tidak tau. Itu muncul begitu saja.


"Benarkah?"


"Ya."


"Nona~ berjanjilah~"


"Oke, aku berjanji."


"Janji tidak akan meninggalkan Ardan. Janji akan selalu menemukan Ardan?"


"Baik, aku berjanji."


Jordan mengulurkan tangan untuk memegang tangan Agni. Dia melihat Reza dengan tatapan tegas yang tidak sesuai dengan prilakunya.


"Dokter, saya sudah tidak apa-apa."


Dokter itu menyiapkan obatnya dengan kaku.


Reza sekarang sangat tidak senang. Benar-benar tidak bahagia.


Bukan karena kedekatan Jordan dan Agni.


Tapi karena mereka menunjukkan kasih sayang dihadapannya.


Halo, dia masih lajang disini!


Melihat bagaimana Agni dengan sabar membujuk Jordan. Reza merasa melihat dunia baru. Dia tidak pernah tau Agni bisa sangat sabar. Apakah ini karena wajah Jordan. Baiklah, jika digantikan dirinya, dia juga akan sangat memanjakan.


Suntik kembali diperlihatkan. Tubuh Jordan bergetar hebat. Benar dia adalah pria 24 tahun sekarang. Tapi obat itu membuatnya linglung dan merasa dia adalah anak-anak. Jadi, ketika di mengatakan dia sudah siap, dia sebenarnya masih memiliki bayangan besar di hatinya.


Agni melihat ini dan tiba-tiba mendekati Jordan. Dia memeluk Jordan dan menyembunyikan kepalanya. Tubuhnya yang sejak tadi mencoba menghindari pancuran air sekarang basah. Tapi Agni mengabaikannya.


Jordan entah bagaimana memiliki dorongan lain saat ini. Dia dengan gemetar mengangkat satu tangan dan meletakkannya di punggung Agni.


"Tenang, jangan melihatnya jika takut."


Obat ini bukanlah obat bius sederhana. Obat ini akan mengeluarkan semua pikiran bawah sadar seseorang. Membuat mereka mudah dimanipulasi dan melakukan keinginan duniawi mereka. Jordan tidak pernah tertarik dengan hal-hal semacam itu. Dia lebih tertarik mendapatkan masa kecil yang bahagia. Namun, dia tetap memiliki reaksi fisiologis seorang pria dewasa.


"Nona~"


"Ya, tidak apa-apa."


Agni memerintahkan Reza dengan matanya untuk segera melakukan suntikan.


Reza tidak memiliki ekspresi ketika menyuntikkan cairan penawar ke lengan Jordan. Tapi hatinya memuntahkan darah ratusan liter.


Kedua bajingan ini. Apakah perlu mereka menjadi seperti ini.


Untung saja Jordan dibius. Jika tidak, mungkin Reza sudah memotong tangannya yang tidak bertanggung jawab itu.


Beraninya memanfaatkan Agni.


Tidak, tunggu sebentar. Sepertinya dia salah. Reza ingat Agni melakukannya lebih dulu. Apakah artinya Agni yang mengambil keuntungan.


Reza ingat dengan benar Agni tidak pernah memiliki pengalaman dalam hal emosional, bagaimana dia bisa berpikir untuk mengambil keuntungan.


Aduh, ini terlalu berat. Dia ingin bekerja daripada melihat pertunjukan kasih sayang disini.


Tapi tidak bisa.


Obat itu berangsur-angsur bekerja. Jordan secara bertahap mengantuk.


"Nona.... Tidak...."


"Tidak apa-apa. Aku akan tetap disini, ya."


Jordan perlahan-lahan tertidur. Setelah itu, Reza bisa mendengar helaan nafas panjang Agni.


"Bantu aku mengangkatnya. Jangan lupa ganti bajunya."


Apa yang bisa dilakukan Reza. Melihat Agni mulai melepaskan diri. Reza mengakui nasibnya dan mengurus Jordan.