
“Aaaahhh, sial, bajingan, sakit. Ini sangat menyakitkan. Aaaahh jiwa ku terkoyak..”
Teriakan penuh rasa sakit bergema disekitar ruangan. Agni tidak bisa menahan diri untuk membungkuk penuh rasa sakit.
Agni sebelumnya hidup di dunia yang damai. Di dunianya dulu, masyarakat tidak diperbolehkan memiliki senjata api. Bahkan jika mereka memilikinya mereka harus melalui beberapa prosedur perijinan. Di hidup Agni yang damai. Dia hanya menyentuh mereka saat pergi ke sebuah pangkalan militer. Mengalami 1 bulan pelatihan terpadu untuk mendapat pelatihan perlindungan diri. Selain itu, Agni tidak bersentuhan dengan senjata ganas tersebut.
Agni tidak menyangka, senjata itu sekuat suaranya. Perasaan peluru menembus daging begitu segar di ingatannya. Pertama, peluru itu berputar sebelum menembus tangannya. Dia tidak yakin apakah tulang tangannya baik-baik saja saat itu. Kemudian, tembakan lain mengenai perut, kaki dan bahu.
Agni tidak tau bagaimana tubuhnya secara otomatis melakukan serangan balik kepada orang lain. Agni yakin dirinya berakhir dengan kematian tapi tidak dengan orang yang dia lawan.
Agni tidak bisa menghilangkan perasaan tubuhnya terpelintir dan di lubangi menjadi daging cincang.
Saat Agni merasa dia sudah pada batasnya, sebuah botol berisi cairan terlihat didepannya. Agni mengambil cairan itu dan meminumnya tanpa ragu. Cairan itu masuk ke mulutnya, terlihat mengalir di jiwanya yang transparan menuju tenggorokan dan menghilang di area dada.
Ketika cairan habis Agni mulai merasa jiwanya kembali normal. Tidak ada rasa sakit dan kematian yang dia harapkan. Tidak ada perasaan sakit dilubangi lagi. Agni menghembuskan nafas kecewa. Dia memang bisa menahan rasa sakit, dia sering mengabaikannya. Tapi bukan berarti dia menyukai perasaan sakit itu. Atau, jika dia benar-benar suka rasa sakit, kenapa dia menginginkan begitu banyak untuk mati. Hanya saja, setelah dia menerima banyak siksaan itu, dia masih mempertahankan bentuk jiwanya dan tidak mati.
Bajingan!!!
Agni melihat sekelilingnya dan sedikit mengerutkan area diantara alisnya. Meskipun perasaan Agni sangat beragam, begitu juga bagaimana dia banyak memaki di kepalanya. Dia tidak menunjukkan perasaannya di wajah. Wajahnya hanya berkerut, giginya saling beradu hingga mengeluarkan bunyi. Hanya itu yang terlihat sejak dia masuk ke tempat asing yang tidak asing baginya.
Dia tidak yakin berada di mana.
Agni tidak menyangka dirinya bukanlah karakter pendukung dalam dunia tersebut. Tubuhnya sendiri sebenarnya adalah karakter inti untuk membantu protagonis mempertahankan keseimbangan dunia. Jika tidak, bagaimana dia bisa begitu kuat. Jika dia boleh memberi perumpamaan, dunia yang baru dia lewati seperti sebuah sistem dunia game dengan Bug. Bug di sana adalah Mirai.
Agni mengingat Mirai dan tidak memiliki persimpangan sama sekali di dunia tersebut. Dia hanya melihatnya mendekati Jin. Sekarang Agni sudah mati, bagaimana Mirai akan disingkirkan.
Agni merasa itu bukan urusannya dan mengabaikan.
Dia kembali melihat ruangan yang lebih besar dari ruang ungu sistem sebelumnya. Ruangan tersebut juga berwarna putih dengan garis emas perak menawan disekitarnya. Sangat indah dan mengagumkan.
Agni hanya sedikit melihat-lihat. Agni memiliki perasaan ringan yang tidak biasa di tubuhnya. Dia menunduk dan terkejut ketika melihat tubuhnya. Bukan, itu jiwanya. Agni hampir memanggil sistem saat dia mendengar suara dingin dan kaku memasuki pendengaran.
[Ding~]
[Sistem berhasil diaktifkan. Menemukan Tuan Rumah... Mengidentifikasi kontrak. Kontrak berhasil di identifikasi. Melakukan hitungan mundur untuk mengikat permanen.]
[Berhasil]
[Selamat datang, Tuan Rumah. Selamat telah berhasil mengikat sistem penyelamatan alam semesta.]
[Sistem dengan kode 001, siap melayani anda.]