Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Movie Actors Hidden Boss (19)



Hari-hari berlalu tanpa mereka disadari. Jordan akhirnya selesai dengan syuting dan mulai menghubungi keluarga kandungnya.


Awalnya itu adalah hal yang canggung. Tapi, dia tidak menyangka bahwa ibunya akan mengoleksi semua barang-barangnya. Semua hal sejak dia mulai debut ada di sana. Bohong jika Jordan tidak merasa tersentuh. Dia merasa sangat nyaman di hati mengetahui bahwa, ternyata orang tuanya sangat peduli padanya. Jordan juga mengkonfirmasi satu hal dari pertemuan mereka. Mereka, kedua orang tua Jordan benar-benar menentang kakeknya dan pindah untuk bisa bersama dengan dirinya.


Di sisi lain, Agni tidak memiliki kemajuan sedikitpun. Dia tidak bisa menemukan di mana pamannya berada. Dia merasa seperti mencoba menemukan jarum di tumpukan jerami. Sangat sulit, sangat sulit dan hampir mustahil. Dia sudah mencoba untuk mencari data orang yang melakukan operasi plastik, membuat sistem pengenalan wajah ketika dia memainkan banyak CCTV, mengawasi setiap orang di setiap belahan dunia atau banyak cara yang dia gunakan untuk menemukan pamannya. Tapi belum ada hasil.


Dalam kelelahan, Agni hanya bisa pergi menemui Gustam.


Saat tiba di depan pintu dia bertemu dengan Jordan. Jordan saat ini membawa tas plastik penuh dengan bahan makanan.


"Kamu akan keluar, Nona?"


"Iya. Untuk suatu urusan. Mungkin akan sedikit lebih lama, tidak perlu menyiapkan makanan untukku."


"Nona, kedua orang tuaku ingin bertemu denganmu. Apa yang harus kulakukan?"


Mata Jordan memiliki beberapa kilatan tersembunyi. Dia menyembunyikan beberapa hal dipikirannya. Sikap sopan dan lunaknya hanyalah topeng setiap saat


"Hah?! Kenapa mereka ingin bertemu denganku?"


"Ya, kamu tahu, seperti mertua ingin bertemu dengan calon menantunya? Aku tidak tahu apa yang dia katakan ibuku, tapi, dia berkata ingin bertemu denganmu. Sepertinya karena berita di internet beberapa waktu lalu."


Jordan memiliki kulit merah di seluruh wajahnya. Ketika dia mengatakan kata menantu, dia benar-benar berharap Agni akan pergi dengannya.


Tapi, apakah itu mungkin? Mengingat Agni sangat sibuk.


"Bukankah panas dari berita sebelumnya sudah berlalu. Kenapa kamu tidak mengklarifikasi hubungan kita sekarang?"


"Ah? Eh!"


Mengklarifikasi, mengatakan bahwa mereka tidak memiliki berhubungan. Apa Jordan akan melakukannya? Tentu saja tidak mungkin. Berapa banyak keberanian yang dia keluarkan untuk membuat pernyataan itu, tidak mungkin sekarang dia menariknya.


"Masalah itu belum banyak mereda, nona. Bukankah lebih baik jika kita bertemu dengan orang tuaku. Ini akan membuatnya lebih realistis, sehingga, orang-orang tidak akan berpikir bahwa kita, hanya, maksudku, aku hanya dipermainkan olehmu. Itu banyak beredar saat ini."


Harus dikatakan Jordan benar-benar aktor yang sangat berbakat. Kata-kata dan ekspresinya mencerminkan bahwa dia benar-benar tidak menyukai Agni. Dia hanya melakukannya semata-mata untuk melindungi karirnya.


Agni menghela nafas. Jelas, dia tertipu oleh Jordan.


"Baiklah, atur saja. Aku pergi dulu."


"Baik. Aku akan menunggumu pulang."


"Sudah kubilang aku mungkin terlambat....."


"Tidak apa-apa, Nona. Aku akan menunggu."


Malam itu, Jordan memasak banyak makanan karena dia sedang bahagia. Agni tidak berbohong. Dia pulang jam 10 malam itu. Mereka makan sangat terlambat. Tapi tidak mempengaruhi kesenangan Jordan.


Kembali ke kamar, Agni mengentikan Jordan dan bicara.


"Besok, ikutlah dengan ku."


"Tentu."


"...."


Apakah tidak ada pertanyaan?


Bagaimana jika dia mengajaknya ke tempat aneh. Bukankah orang normal harus bertanya.


Oh, tidak. Apakah Jordan sangat mudah di bodohi. Agni merasa sangat khawatir dihatinya.


Mereka berdua terdiam cukup lama. Jordan merasa suasana sedikit memalukan. Dia tidak bisa menahan bicara.


"Apakah ada yang lain, nona?"


"Ah? Tidak. Tidak ada. Itu saja."


"Kalau begitu, aku akan tidur."


Agni mengangguk.


Jordan saat ini memiliki banyak pikiran. Dia awalnya ingin mengajak Agni bermain. Tapi, tidak pernah memiliki kesempatan. Sekarang, Agni mengajaknya. Bukankah dewa membantunya. Mungkin Agni juga memiliki pikiran untuk bersenang-senang yang sama dengannya.


Jordan tertidur dengan pikiran tenang malam itu. Sementara Agni tidak bisa memejamkan matanya.


Dia mendapat banyak informasi dari Gustam. Dia juga akhirnya mengerti mengapa Gustam memiliki banyak kebencian dengan kakeknya dulu.


Agni tidak pernah menyangka, kebakaran yang menewaskan putri Gustam ternyata disebabkan oleh pamannya. Perusahaan orang tua Reza juga bangkrut karena dia. Paman Gustam mencoba melacaknya saat itu, namun, dia gagal. Hal yang sangat disayangkan adalah kedua orang tua Reza tewas tidak lama.


Kematian mereka bukanlah sesuatu yang wajar. Gustam meraba-raba selama beberapa tahun sampai perusahaan ayah Agni mengalami kebangkrutan. Dari sana, Gustam akhirnya menemukan sebuah titik. Dia tidak lagi hanya meraba-raba. Dia hampir bisa memastikannya saat paman Agni meletakkan tangan pada keluarga Jordan.


Tapi, ini sangat aneh. Jelas, Agni tidak percaya pamannya bisa melakukan hal semacam itu. Bagaimana dia bisa mendapatkan koneksi dan kemampuan untuk melakukannya.


Gustam mengatakan pada Agni bahwa kemungkinan pamannya ada di negara ini. Gustam memiliki banyak kenalan untuk membantunya.


Agni sering menemukan wajah yang mirip beberapa kali. Namun, setelah dia menyelidiki orang tersebut, dia menemukan bahwa orang itu bukan pamannya. Dia sangat kesal karena ini.


Bagaimana orang di jaman ini bisa menghindari deteksi semacam ini. Bahkan orang paling cerdas tidak akan bisa menghindarinya.


Malam ini, Agni tidak tidur di kamarnya. Dia ada di ruang kerja, fokus pada lima monitor besar. Karena kata-kata Gustam. Agni fokus untuk mencari di negara ini.


Sayang sekali tidak semua bagian negara ini memiliki koneksi internet. Masih banyak bagian dari negara ini yang tradisional. Bagian-bagian itu tidak terjamah oleh internet. Jangankan internet, mereka mungkin tidak bisa menggunakan ponsel.


Agni memiliki kecurigaan di kawasan semacam ini.


Pagi datang, Agni tidak tidur sama sekali. Dia keluar dari ruang kerja saat matahari baru saja muncul. Dia pergi ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


Dia tidak melupakan janjinya pada Jordan semalam.


Saat Jordan pergi ke ruang tamu. Dia melihat Agni duduk dengan secangkir kopi di tangannya. Jordan bisa melihat beberapa garis merah di mata Agni. Jelas, dia kurang tidur.


Entah apa yang merasukinya, Jordan mendekat dan berdiri di belakang Agni. Dia dengan tenang mengangkat tangannya. Dia meletakkannya di pelipis Agni dan menekannya.


"Hm?"


"Aku lihat kamu kurang tidur. Aku biasa melakukan ini sendiri, aku jamin ini tidak menyakitkan."


Agni hanya diam. Jordan juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka mempertahankan posisi selama 10 menit sebelum Agni memintanya untuk berhenti.


"Nona, kamu terlihat lelah. Kenapa kamu tidak istirahat saja? Kita bisa pergi lain kali."


"Tidak mungkin untuk ini."


Jordan terdiam. Dia menjadi sedikit penasaran sekarang. Kemana Agni akan membawanya pergi.


Jordan hari ini memakai baju biru gelap. Sedangkan Agni memakai dress hitam panjang. Saat mereka masuk mobil, Pak Puwan yang biasanya memakai kemeja cerah juga memakai setelan jas hitam lengkap.


Jordan menunduk. Dia tidak bisa tidak menebak kemana mereka pergi.