
Agni saling menatap dengan laki-laki yang memiliki ciri rubah dengan bulu hitam itu. Ada sentuhan ketertarikan di matanya.
Sistem belum memberikan informasi apapun tentang bagian protagonis yang harus dia selamatkan. Saat ini, melihat rubah hitam itu, Agni memiliki semacam intuisi. Intuisinya menyebutkan orang ini merupakan target penyelamatannya.
Intuisi ini didasarkan pada kemiripan rubah itu dengan Jin dan Jordan dari misi sebelumnya.
Rubah hitam itu masih melihat Angi dengan bodoh. Bola matanya bahkan tidak berkedip.
Agni menghela nafas di hatinya. Dia memiliki sedikit tebakan. Namun, dia tidak ingin tebakan itu menjadi nyata.
Agni mengalihkan pandangan lebih dulu. Dia menunduk. Saat ini, seorang anak dengan telinga kelinci muncul didepan Agni. Dia dengan malu-malu datang bersama temannya yang memiliki karakteristik kucing. Tidak jauh, ada beberapa anak yang memiliki sisik ular dan karakteristik kadal mendekat. Mereka muncul dihadapan Agni membentuk jajaran.
“Yang Mulia Kakak Duyung, Terima kasih telah menyelamatkan kami.”
Agni sedikit terkejut dihatinya. Dia memang menerima ingatan dari sistem. Tapi menerima ingatan dengan mengalaminya secara langsung adalah dua hal yang berbeda. Anak-anak ini tidak jauh berbeda dengan anak manusia pada umumnya. Jika mereka berbeda, mungkin perbedaan itu terletak dalam bentuk tubuh mereka. Mengingat bagaimana orang tua, ibu atau nenek yang melindungi mereka dengan sekuat tenaga, juga sama seperti manusia. Bahkan mereka mungkin lebih baik daripada manusia yang memiliki keegoisan di hati mereka.
Ini sedikit aneh, orang-orang ini seharusnya hidup berkelompok dengan sesama mereka, menurut ingatannya, mereka selalu merendahkan satu sama lain. Bagaimana mereka tiba-tiba bersama, mengesampingkan segala perbedaan mereka, bergaul dengan tenang meskipun suku mereka berbeda.
Agni memiliki sentuhan rumit dimatanya. Ternyata, mereka juga bisa bersama.
Agni juga merasa sedikit tidak berdaya, dia tidak tau bagaimana orang-orang ini terus memanggilnya ‘Yang Mulia’. Dia belum mengetahui apapun tentang identitasnya. Dia bahkan tidak akan tau dirinya seorang duyung jika tidak memiliki perasaan tentang air.
Agni memandang anak-anak yang perlahan menjauh darinya. Dia dengan tenang mulai merenung. Ingatan perlahan mengalir di kepalanya.
Agni akhirnya mengetahui identitas sebenarnya dari tubuh asli.
Agni bukanlah seorang putri duyung seperti yang mereka katakan. Bukan hanya itu, panggilan ‘Yang Mulia’ yang dia peroleh bukan berasal karena dia keturunan Raja Para Duyung, Neptunus. Melainkan karena dia mendapat berkah kekuatan dari Dewa Lautan, Poseidon.
Ingatan tubuh asli dimulai dengan kegelapan pekat dimana saja. Agni kecil tidak apa itu cahaya. Dia hanyalah anak dengan tubuh manusia dan separuh ikan yang hidup sendirian di lingkungan laut dalam. Kemudian, dia bertemu dengan sekawanan duyung yang tersesat. Karena hidup di laut dalam sangat lama, dia mengerti setiap sudutnya. Dia mengantar para duyung itu keluar dari lingkungan laut dalam. Namun, para duyung berbelas kasih melihat seorang anak tinggal sendirian di laut dalam. Agni mengikuti mereka dalam kebimbangan. Saat bersama para duyung, dia memastikan, dia bukanlah salah satu duyung seperti yang lainnya.
Agni bertemu dengan Raja duyung, Neptunus. Dari sana, dia menemukan identitasnya. Dia adalah orang terakhir dari Sukunya. Suku Paus.
Sejak pertempuran hebat dengan Raja Iblis, Suku Paus, Suku Rubah, Suku Serigala dan Suku Naga kehilangan pasukan paling banyak.
Entah dimana Suku Paus yang lain, Agni hanya tau dia harus bertahan hidup.
Dia hidup sendirian mengelilingi laut dalam. Hal ini bukan tanpa alasan, dia harus memastikan dirinya bertahan hidup. Dia harus menyembunyikan dirinya sampai dia cukup kuat. Agni juga mendengar kalimat "hidup, tetaplah hidup," selalu terdengar di kepala Agni setiap menitnya, membuatnya bertahan lebih jauh. Kemudian, dia hidup dengan memberikan sedikit demi sedikit vitalitas hidupnya di laut terdalam. Hal ini menarik perhatian Poseidon. Akhirnya, Poseidon membantunya menghentikan vitalitas yang bocor dan memberinya sebuah berkat, dicintai oleh air. Hal ini tidak sepenuhnya baik, meskipun dia menjadi kuat, dia tetap tidak hidup lama. Ketika dia muncul di daratan, selain berkat Poseidon agar dia tidak pernah jauh dari air, dia tidak memiliki banyak semangat hidup.
Tubuh asli bernama Segara Agni. Dia adalah anak dari Raja dan Ratu Paus terdahulu. Dunia Agni sekarang adalah dunia fantasi. Dunia ini berjalan seperti dua sisi koin, dimana ada yang baik dan ada yang jahat. Dunia ini mencapai kedamaian dengan menyegel Raja Iblis. Namun, setiap 1000 tahun Raja Iblis akan bangkit. Dan 700 tahun lalu, Raja Iblis bangkit tidak jauh dari tempat Suku Paus. Suku Paus tidak diberi banyak pilihan selain menjadi garda depan untuk berperang.
Tidak tau dimana anggota Suku Paus yang lain, satu-satunya pikiran Ratu saat itu adalah untuk menyelamatkan anaknya, dia dengan putus asa berjuang untuk kehidupan anaknya.
Saat peperangan terjadi, Ratu Paus tengah hamil. Dia harus pergi bersembunyi hanya untuk melahirkan anaknya. Dimana dia akhirnya meninggal saat persalinan.
Anak yang lahir adalah Agni. Ketika dia kecil, dia bertahan hidup dengan berburu dan tumbuh 5 tahun dengan usahanya sendiri. Ketika mengetahui dia adalah salah seorang Suku Paus. Dia dengan semangat pergi ke sana dan menemukan reruntuhan kosong tanpa siapapun.
Akhirnya, dia memberikan jiwanya dan seluruh tubuhnya pada lautan, menarik perhatian Poseidon.
Ketika Agni merasa dia hanya akan hidup kurang dari 3 tahun. Neptunus, Raja para Duyung tersesat dan mendapatkan bantuannya. Dia memintanya tinggal bersama dan hidup.
Dia hidup dengan baik dengan para putri duyung sampai perang di daratan yang menargetkan semua Hybrid muncul. Banyak duyung bersembunyi dan mencari jalan agar bisa hidup. Ini juga berlaku bagi Agni dan 5 saudari duyung yang tinggal di istana Raja.
Tapi bagaimana Agni bisa sampai di daratan?
Dengan masa hidupnya, Agni tau dia tidak akan tinggal lama. Dia juga tidak ingin tinggal sendiri sebatang kara. Akhirnya dia memutuskan menambah waktu pelarian saudarinya dan menjadi umpan.
Pada cerita asli, dia harusnya mati saat ini. Karena bom yang meledak. Tidak ada kegelisahan dan penyesalan. Kematiannya penuh syukur karena bisa menyelamatkan saudari-saudarinya.
Agni sendiri datang di saat yang tepat sehingga gadis Paus terakhir tidak berakhir dengan kematian mengenaskan.
Agni mendesah dengan senyum di hatinya. Sungguh gadis baik dan terhormat. Bahkan jika dia sendirian. Dia membawa kehormatan setiap Paus di tubuhnya.
“Terima Kasih Yang Mulia.”
Agni melihat wanita dan anak-anak yang berterima kasih dan memanggilnya ‘Yang Mulia’ dengan lucu.
“Bagaimana kalian memanggil ku Yang Mulia saat kalian tidak mengerti posisi ku sebenarnya? Jangan hanya mengikuti apa yang di katakan para duyung. Kalian bisa memanggilku Agni.”
Mendapat dunia yang begitu menarik. Agni tidak ingin meninggalkannya begitu cepat. Selain itu, dia merasa umurnya di dunia ini lebih dari itu. Dia tidak akan mati di usia 34 tahun.
“Agni, terima kasih.”
Agni kembali bertatap muka dengan laki-laki rubah hitam. Dia menarik senyum senang di mulutnya dan mengangguk acuh.
Dia tidak akan melupakan hal terpenting.