Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
The Boss (11)



Matahari mulai bersinar. Jam biologis Jin adalah jam 6. Dia biasanya akan berolahraga sebelum mulai melakukan aktivitas lain.


Tapi hari ini, jam 6 sudah terlewati namun Jin belum menunjukkan tanda-tanda bangun. Dia sangat lelah setelah bicara dengan Agni sampai pagi. Dia yang sudah lama tidak berfikir begitu keras harus melakukan ekstra untuk semalam.


Ditambah, dia tidak bisa tidur karena bau tubuh seseorang berlama-lama di sekitarnya. Dia memutuskan merendam dirinya dengan air dingin selama berjam-jam sebelum akhirnya bisa tidur.


Tiba-tiba, Jin mencium aroma wangi makanan dalam tidurnya. Jin yang tidak pernah meneteskan air liur harus mencoreng dirinya sendiri saat ini.


“Pfft~~ Hahahaha, Jin, kamu meneteskan liur. Ayo, bangun dan makan.”


Lambat kemudian Jin mendapat kembali kesadarannya. Dia melihat seorang gadis dengan piring menatapnya sambil tertawa. Dahinya berkerut, tapi hatinya tidak merasakan penolakan apapun.


Semalam, setelah mereka mengatakan sangat banyak. Dia tidak memperbolehkan Agni tinggal di hotel lagi. Jin tidak ingin melihat Agni terancam keselamatannya. Dia memberi Agni kunci apartemen disebelahnya dan membiarkan dia tinggal di sana.


Kembali di waktu malam sebelum tidur. Agni tiba-tiba mengetuk pintu apartemennya dan meminta kunci cadangan rumahnya. Dia bilang ingin memasak sarapan sebagai balasan kebaikan Jin menceritakan semuanya.


Melihatnya saat ini, sepertinya itu bukan kebohongan. Meskipun Agni menggodanya. Jin terhibur dan tidak kesal.


Agni kembali menyiapkan makanan di meja. Setelah beberapa saat sibuk, meja ditata dengan benar dan ada beberapa makanan tersaji diatasnya. Dia kemudian mendengar gerakan dan melihat Jin keluar dari kamar. Dengan senyum di wajahnya Agni duduk lebih dulu.


“Jin-kun, coba karya agung ku.”


Jin melirik Agni. Arti matanya jelas, bukan seperti aku belum pernah mencoba masakan mu.


Jin sudah sering memakan masakan Agni. Ketika Agni merawatnya dulu atau ketika Agni sering berkunjung. Hal yang lucu disini, Agni meminta kunci padanya hanya untuk memasak. Meskipun itu mengemaskan, Jin tidak bisa melupakan perasaan hangat yang menyebar dihatinya.


Dia senang memiliki seseorang bersamanya.


Jin yang hanya memperlihatkan wajah dingin duduk dan mengambil sumpit. Tangannya bergerak ke sebuah hidangan paling dekat. Itu sebuah ikan, namun sausnya sungguh beraroma. Tidak ada amis menjijikan yang tercium. Aroma saus dan ikan beradu kompak menyenangkan hidungnya.


Jin mengambil sedikit ikan dan memasukkan ke mulutnya. Dia melirik Agni sebelum kembali makan.


Sangat enak!!!!


Teknik memasak Agni kembali berkembang!


“Hei, bagaimana kamu bisa makan begitu saja. Bagaimana rasanya. Aku sedikit berusaha kali ini. Karena kamu memberi aku informasi yang berharga semalam. Juga memberi ku tempat tinggal yang aman. Hanya ini cara ku membalasnya. Berikan aku tanggapan. Hei, Jin, Apakah ini sesuai? Bagaimana menurutmu? Apakah ada kekurangan? Jin....”


Jin tetap makan dengan tenang. Setelah gigitan di mulutnya tertelan dia menatap Agni.


“Enak.”


Jin melirik dan menemukan wajah Agni menjadi merah muda dalam sekejap. Dia berkedip sebelum kembali fokus makan. Tampilannya yang malu juga sangat imut.


Jin merasa, hatinya sudah direnggut. Ketika pikiran itu melintas. Dia dengan cepat tenang. Bahkan jika dia sudah direbut. Orang didepannya tidak memiliki perasaan yang sama. Jin sedikit bingung dan tersesat. Dia menghabiskan makanan dengan linglung.


“Oh, ya. Hari ini aku akan keluar. Aku harus kembali ke rumah pulang dan bersih-bersih. Juga menghindari orang-orang itu agar tidak curiga.


Selain itu ada beberapa orang yang ingin bertemu denganku. Jadi aku tidak akan kembali siang. Aih, di musim dingin seperti ini benar-benar menyebalkan untuk keluar. Tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah setuju.


Aku tidak tau jam berapa akan kembali, tapi nasi sudah matang dan aku membuat beberapa makanan di kulkas. Kamu harus memanaskannya nanti siang untuk makan. Tolong jangan memesan makanan diluar. Tidak baik untuk kesahatan mu.”


“Oh…”


“Jin, apa kamu tidak enak badan?”


Jin kemudian tersadar dan kembali ke keadaan normal. Dia makan dengan elegan dan sopan.


“Tidak. Jika butuh sesuatu, panggil aku.”


“Tentu saja.”


Sesi makan kembali dilakukan dengan tenang. Setelah berkemas, Agni keluar dan meninggalkan lingkungan mewah apartemen dengan sebuah tas punggung.


Setelah berjalan cukup lama, dia sampai di sekolahnya. Agni menemukan kelasnya di gedung malam dan masuk.


“Aku kira kalian tidak akan datang.”


“Bagaimana mungkin”


Dihadapannya adalah 10 gadis. 4 diantaranya bertemu ketika dia pertama kali pindah. Mereka adalah orang-orang yang meminta uang padanya saat itu.


“Bagaimana hasilnya?”


“Pengawasan di Dojo dan rumah mu bertambah banyak. Hana dan aku sering bertemu mereka. Mereka tidak menunjukkan banyak minat pada kami. Kami juga menggunakan pintu yang sudah kamu tunjukan untuk masuk rumah. Semua aman. Tapi kurasa mereka bukan Yakuza, penampilan mereka lebih seperti seseorang dari keluarga besar.”


“Aku juga menemukan apa yang kamu butuhkan dari ruang kepala sekolah. Pemilik seluruh sekolah ini sebenarnya, Big Kuroyama. Tidak ada yang tau dimana dia sekarang, tapi menurut informasi, semua ini akan di turunkan ke cucunya. Hanya saja.…”


Agni hanya duduk dengan tenang. Dia mendengarkan setiap informasi dari gadis-gadis ini. Beberapa dugaannya terjawab semalam. Berkat Jin yang memberitahunya, dia akhirnya tau jika kakeknya benar-benar memiliki hubungan atas semua tindakan yang dia alami.


Agni sudah mempersiapkan banyak hal di awal. Bukan hanya dia membuat aset untuk dirinya sendiri. Agni juga mengumpulkan banyak sekutu untuk membantunya menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan dirinya dan kecurigaannya. Orang-orang didepannya adalah salah satu dari orang yang dia anggap sekutu.


Mengingat kembali ketika dia memukuli mereka ketika mereka mendekat, Agni menjadi tidak bisa tidak merasa malu.


Jujur saja, dia lupa konsep dunia dimana yang kuat berkuasa. Orang-orang ini, setelah mereka Agni kalahkan dulu selalu berusaha mendekatinya. Awalnya Agni selalu memukul mereka. Dia memiliki perasaan krisis. Dia menghadapi masalah rumit dan tidak ingin madalah bertambah. Dia mengira gadis-gadis ini ingin membalas dendam dan mengumpulkan uang darinya lagi. Lama kelamaan, dia kerasa aneh karena mereka tidak menyerah.


Setelah duduk dan bicara, akhirnya dia tau bahwa mereka hanya ingin mengikutinya.


Agni melihat kembali gadis-gadis di depannya. 2 diantara mereka akan ke rumah. 3 diantara mereka akan menyelidiki sekolah. 5 lainnya masih belum bergerak.


Dia selalu sibuk dengan Jin dan melupakan beberapa hal. Meskipun dia seharusnya tidak menganggu protagonis dunia. Kecurigaannya tidak mungkin dibiarkan.


“Aku lupa bertanya, bagaimana kalian selalu menargetkan ku dulu?”


“Eh!!”


Aku melihatmu, kamu melihatku. Para gadis saling memandang sebelum menjawab Agni. Seolah, mereka telah mencapai kesepakatan


“Apakah anda tau Hoshikawa dari gedung siang?”


Tentu saja, bagaimana Agni tidak mengenal protagonis dunia. Dia memang memiliki tebakan. Tapi dia yakin tebakannya akan melesat. Selain itu, fakta akan menjadi lebih berat.


“Hoshilawa dari gedung siang sering membicarakan mu.”


Agni yang baru saja berpikir semua lebih berat: “….” Siapa? Apa?


“Bagaimana mengatakannya ya, dia bicara seolah-olah kalian akrab. Karena itu kami sering bertemu denganmu meminta uang.”


“Karena kamu akrab dengan orang kaya, kami pikir kamu juga demikian.”


“Yah, tentang Hoshikawa sendiri, kami tidak berani mendekatinya.”


“Ya, apa kalian bercanda. Siapa mau memprovokasi Tanako-san.”


Agni menunduk. Matanya menyipit penuh dengan ide. Kepala Agni melintas cepat sebuah pernyataan. 'Protagonis dunia. Apakah mereka layak.'


“Baiklah, hentikan. Jangan khawatir tentang Takano. Untuk saat ini, lanjutkan penyelidikan tentang sekolah. Dan tetap awasi sekitar di rumahku. Untuk kalian berlima, ubah menjadi dua tim. Masing-masing tim akan pergi menyelidiki 7 bangsawan dunia bawah dan 7 keluarga besar.”


“Shi-Shiroyama-nee. Apakah.... Apakah ini benar-benar perlu. Maksudku, 14 kekuasaan itu.”


“Sudahkah aku mengajari kalian penyamaran?!”


Mereka saling memandang lagi. Meski ada keraguan, mereka tidak bisa menolak Agni memberi mereka 1 bulan khusus hidup seperti pencuri. Kini mereka bisa melangkah tanpa suara dan menjadi seorang pencuri handal. Pelatihan Agni memang aneh, tapi tidak dipungkiri itu sangat berguna dan efisien.


“Sementara kalian mengumpulkan informasi. Kurasa, aku akan menemui Santa.”


Meskipun gadis lain tidak mengerti, mereka sadar jika Agni memiliki hal yang lebih penting dari mereka.


Agni memiliki senyum tipis dan pergi. Santa Klaus, natal hanya tinggal beberapa hari dan dia harus memberi kunjungan lebih dulu pada Agni.