
“Tentu saja mengobati mu. Kamu kira aku akan meninggalkan mu begitu saja dalam keadaan seperti itu? Aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab.”
Cahaya masuk dari celah jendela sebuah ruang VIP rumah sakit. Cahaya itu dengan sempurna menerpa wajah tampan dan tajam seorang pria yang sedang istirahat. Pria itu perlahan membuka mata dan melihat sekelilingnya. Dia mendesah ketika melihat lingkungan yang dia kenali.
Jin saat ini berada di rumah sakit. Kakinya mengalami keretakan dan dia memiliki beberapa tulang rusuk latah. Selain itu, sayatan di punggungnya sangat dalam sehingga dia membutuhkan jahitan.
Saat ini, adalah hari setelah ujian setengah tahun. Untung saja dia terluka setelah ujian. Jika tidak, dia tidak yakin masih bisa berdiri di gedung siang. Tapi Jin kembali memikirkan kalimat Agni sebelum mengantarnya ke rumah sakit yang dia impikan setiap pagi. Pergi ke gedung malam seperti tidak begitu buruk.
Entah bagaimana, Jin beberapa hari ini selalu merasa seperti baru mendengar kata-kata dari Agni kemarin.
Agni benar-benar menepati kata-kata yang dia ucapkan saat itu. Sudah tiga bulan ini Agni keluar masuk rumah sakit hanya untuk merawat Jin. Jin sudah hampir pulih 60%. Mengingat bagaimana Agni dengan sabar melayani dia di kamar VIP ini. Jin selalu merasa hatinya bergetar. Jin bahkan merasa lebih terkejut karena Agni memang berbeda dari beberapa wanita yang Jin tau. Perlakuan perhatian Agni yang didasari 'tanggung jawab' harus dikatakan membuat ketagihan.
Tapi Jin tidak sepenuhnya terbuai. Pada masa awal perawatan, Jin sering mencoba bertanya tentang alasan Agni menolongnya saat itu. Dia sangat penasaran bagaimana Agni dengan berani bertindak heroik dan gegabah menyelamatkan dia di kondisi paling sulit.
Awalnya Agni akan tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Dia mungkin juga mengatakan beberapa omong kosong. Tapi semakin dia bertanya, Jin merasa Agni semakin terganggu. Dan itu terbukti tidak lama. Agni akan meninggalkannya ketika dia menanyakan hal-hal itu di lain waktu.
Pengalihan pembicaraan dan pengabaian sangat berbeda. Agni bisa mengalihkan pembicaraan dan Jin akan dengan senang mengikutinya. Tapi ketika Agni menjadi acuh dan meninggalkannya, Jin tidak bisa diam. Rasionalnya tidak begitu mengekang sehingga dia menuruti hatinya untuk mempertahankan Agni. Dia tidak lagi peduli dan tidak bertanya.
Ketika Jin sibuk dengan pikirannya. Pintu kamar didorong terbuka perlahan. Dia bisa melihat gadis dengan rambut lurus dan blazer sekolah hijau mendekat.
Gadis itu berdiri di sebelah tempat tidurnya. Dia tidak duduk. Tubuhnya bergerak mendekat memeriksa infus yang menempel di tangan Jin. Setelah memastikan semua beres dia bergerak melihat air mineral dan beberapa makanan ringan ketika semua sudah selesai, dia kemudian duduk.
Tangannya membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku.
Jin bisa merasakan aroma wanita itu berlama-lama melayang disekitarnya. Dia merasa tubuhnya terbakar. Pikirannya yang jernih penuh keinginan. Dia menghirup nafas panjang, tapi dia hanya bisa mencium gadis itu. Dia tidak bisa melewatkan apapun dan membuatnya semakin sulit.
Tiba-tiba Jin menemukan dirinya sedikit mesum. Tapi memikirkan lagi. Selain dihadapan Agni dia tidak pernah melakukan hal tersebut pada siapapun.
“Kurasa kamu bisa keluar besok.”
Jin menghilangkan semua kegelisahan dihatinya ketika Agni bicara. Ketika kegelisahannya hilang, dia mulai merasa berat. Dia merasa seperti hatinya di tutupi oleh sebuah batu. Menjadi pengap dan sulit untuk bernafas. Jin hanya menanggapi dengan cuek.
“…. Ohh.”
Agni yang masih fokus dengan buku memiliki senyum dimatanya setelah Jin bicara. Dia bisa merasakan nada tidak rela dari sana. Tapi Agni tetap pada tampilan tidak tau dan menyembunyikan senyumnya.
“Ada apa denganmu? Keluar dari rumah sakit, Bukankah harusnya kamu semangat?!”
“Bukan apa-apa.”
“Ada apa? Apa kamu khawatir tentang Takano?”
Jin melirik Agni. Dia sering melihat Agni bersama dengan buku saat duduk dengannya. Dia pikir Agni gadis yang cerdas. Tapi tidak memiliki kepekaan. Tapi memikirkan lagi, sepertinya bukan itu masalahnya. Jin mendesah di hatinya. Jin melihat lagi, Agni sudah meninggalkan bukunya dan menatap wajahnya untuk bicara.
“Aguni….”
“Hm~~??”
Jin tiba-tiba merasa darah naik ke wajahnya. Terasa panas dan gerah.
Dua hati setelah Jin masuk ke rumah sakit. Dia menggunakan kontak yang dia miliki untuk menyelidiki semua tentang Agni. Dia tau Agni tidak berbohong tentang namanya, namun menyembunyikannya. Jin sudah mengetahui asal usul Agni. Data yang menunjukkan semua tentang Agni dari kecil sampai besar ada di sana. Hanya setelah mendapat semua data tersebut, Jin sama sekali tidak bisa menghubungkannya dengan gadis di sebelahnya.
“Tunggu sebentar, bagaimana kamu memanggilku??”
“S-shiro?”
“Itu dia. Oh, benar. Minggu depan sudah mulai liburan. Apa kamu baik-baik saja?”
“Hm??”
“Bukankah baru keluar dari rumah sakit? Apa kamu benar-benar bisa merawat dirimu sendiri. Wajah mu sangat buruk untuk meyakinkan ku. Aku rasa tidak bisa meninggalkan mu.”
“Ah? Iya, begitu.”
“Lalu, aku akan ke rumahmu. Mohon bantuannya.”
Jin sedikit tersesat dalam pikirannya. Jika ini adalah sebuah novel, mungkin setelah mereka tinggal bersama. Mereka akan mengembangkan perasaan. Kemudian mereka akan menjalin... Menjalin.…
Jin merasa darahnya bisa keluar dari hidungnya ketika berpikir.
“Tidak apa-apa.”
“Khawatir tentangku? Tenang saja, aku bisa menyewa tempat yang dekat dari rumahmu. Ketika kamu.membutuhkan sesuatu, semua bisa mudah.”
Jin terdiam, apa? Tidak mungkin!
Kepalanya bergerak perlahan menatap Agni. Bagaimana bisa seorang perempuan bersikap begitu kejam. Kenapa dia seperti menebak pikirannya dan memutuskan untuk menyangkalnya saat ini juga. Jin merasa sedih daripada ngeri.
“Yah, itu saja. Aku rasa itu saja. Kepulangan mu akan dibantu orang tuamu bukan. Hmm, tunggu saja di rumah. Aku akan ke sana setelah menyelesaikan beberapa hal.”
Jin melihat kosong ketika Agni berdiri dan berjalan pergi. Agni bersikap sangat mudah seolah mereka sudah kenal sangat lama. Padahal hanya. Tiga bulan yang lalu mereka bertemu.
Jin juga tidak bisa terus berpikir.
Apakah dia mengetahui alamat rumahnya?
Bagaimana dia akan menghubunginya?
Jin hampir berteriak dan menghampiri Agni saat ponsel di sebelah bantalnya bergetar.
“Hallo….”
“Kuma-san, ini Shiro. Ada 2 novel yang tertinggal disana. Bisakah kamu bawa pulang. Akan aku bawa kembali setelah mengunjungimu besok. Kamu bisa tenang, aku mendapat nomor ponsel dan alamat rumah dari ibumu.”
“…. O-oh, baik.”
Setelah panggilan terputus Jin merasa bingung. Apa tadi yang baru saja terjadi. Dia tiba-tiba menerima panggilan seorang gadis. Tidak, itu Agni yang memanggilnya!!
Bagaimana dia bisa mendapat nomor ponselnya tadi? Terserah, lupakan saja. Dia akan berkunjung besok.
Jin tidak sadar saat sebuah senyum terbentuk di wajahnya. Tidak tau sejak kapan, dia mulai menerima kehadiran gadis kutu buku di sebelahnya.
[Nyonya, karena buku anda tertinggal kenapa tidak mengambilnya? Kenapa membuat panggilan?]
Lagipula mereka menuruni masih di tangga. Sistem juga tidak bisa dijelaskan ketika Agni memilih menggunakan tangga daripada lift.
“Diamlah.”
[Tidak, tidak. Anda juga tau tadi dia memanggil anda dengan nama asli. Maksud daya, saya juga sudah bilang dia menyelidiki semua tentang anda, bukan. Kenapa anda membiarkannya]
“Apa itu menghambat penyelesaian tugas?”
[…..]
“Maka, jangan berisik.”
Agni sudah merencanakan semuanya. Dia hanya hidup di dunia ini selama 2 tahun. Bagaimana tubuh asli meninggal adalah sebuah misteri. Banyak misteri yang menyelimuti tubuh ini. Menurut prestasi, dia tidak akan ditaruh gedung malam. Kemudian, di kelulusan siapa yang begituan berani memberinya racun dan membunuhnya. Bahkan jika itu Yakuza, mereka tidak akan membunuh tanpa melihat hukum.
Agni bisa merasakan sampai sekarang tangan itu tidak keluar. Tangan itu hanya bersembunyi di balik kegelapan mengawasinya. Agni merasa ini ada hubungannya dengan kakek pemilik asli. Setelah pindah ke dunia ini, Agni bisa merasakan gerakan dari orang yang ingin membunuhnya. Bahkan jika tersembunyi, intuisinya jelas memberitahu.
Intuisinya selalu tepat. Bahkan ketika dia di sekolah selama beberapa minggu ini, ada beberapa mata yang selalu memperhatikannya di sana. Agni yakin, jika dia mampu masuk ke gedung siang. Perhatian itu akan semakin meningkat.
Agni melangkah keluar dari rumah sakit. Dia melihat ke atas, ruangan Jin. Tiketnya menuju kebenaran adalah Jin. Agni berbalik dan pergi
Shiroyama Agni. Kuroyama Gakuen.
Apakah benar-benar tidak memiliki hubungan.
Agni merasakan beberapa keterikatan yang tidak bisa dipisahkan dari mereka.
Khusunya pada kakek pemilik asli.
Pemilik asli memang tidak memiliki dendam. Dia memang mati dengan tenang dan tidak memiliki penyesalan. Tapi dia tidak mungkin tidak ingin mengetahui siapa pembunuhnya.
Selain semua itu. Agni saat ini menganggur, jika dia menyelesaikan semuanya begitu saja, permainan transmigrasi ini tidak akan menarik. Lebih baik melakukan beberapa hal lain.