
Tempat itu tenang, hanya suara binatang dan serangga malam yang terdengar. Tidak ada sumber cahaya sama sekali, namun orang masih bisa melihat sedikit dengan bantuan cahaya bulan.
Di bangunan tua yang atapnya menghilang sebagian, balok-balok besi besar berserakan, dan sarang laba-laba besar menumpuk, beberapa orang duduk terikat di tanah. Mereka tidak sadarkan diri berada di gedung yang telah ditinggalkan.
Gedung ini ada di dekat jalan raya. Jika seorang lewat dan memperhatikan, mereka mungkin menemukan bahwa lantai paling atas gedung yang sudah diabaikan itu memiliki beberapa bayangan manusia.
Setelah waktu yang lama. Jordan akhirnya bangun. Ketika melihat lingkungan sekitarnya, dia tidak bisa menahan perasaan tertekan. Dia melirik ke kanan dan ke kiri hanya untuk menemukan keluarga yang peduli padanya terikat.
"Apakah putri tidur akhirnya bangun?"
Jordan mendengus. Matanya tajam saat melihat orang yang duduk di kursi di depannya.
"Wow, sangat kejam untuk usia muda."
"Pak Rio, jangan lupa janji kita."
Jordan tiba-tiba melihat ke satu arah. Itu kakeknya, kakeknya ada di sana terlihat mengenal orang yang duduk di depannya.
"Tenang, tenang. Ketika keinginanku terpenuhi, semua itu akan menjadi milik mu."
"Maka itu baik-baik saja."
Pak Rio, orang yang dipanggil itu tidak mengalihkan pandangannya dari Jordan. Melihat wajah tidak percaya, marah, kesal dan kecewa yang terus-menerus berganti membuatnya merasa menarik. Seorang aktor benar-benar bisa memperlihatkan ekspresinya secara sempurna.
Rio tersenyum main-main saat bertanya, "Apa kamu tidak menyangka keluarga mu akan melakukan hal ini?"
Jordan hanya kehilangan kendali ekspresinya selama beberapa detik singkat. Dia memperbaiki postur duduknya dengan nyaman sebelum membalas.
"Tidak juga, aku tau keluarga sepertinya akan selalu egois dan licik. Aku hanya tidak berharap dia bahkan menaruh tangannya pada anak dan menantunya yang sudah tinggal bersama dengannya sejak lama."
"Diam. Ini salahmu, jika kamu mau menuruti kata kami, apakah kami akan memperlakukan mu seperti ini?! Ini kamu! Aku malu darahku mengalir pada orang rendah tidak berpendidikan seperti mu."
Orang rendah?
Tidak berpendidikan?
Apakah menjadi orang tinggi dan berpendidikan artinya mengabaikan moral dan kemanusiaan?
Jika begitu, dia menerima dikatakan seperti itu. Tapi, malu memiliki darah yang sama?
Jordan memiliki senyum sarkastik saat dia melihat orang tua yang disebut kakek itu.
"Apa kamu pikir, aku bisa memilih darah kotor ini. Jika aku bisa, aku lebih memilih untuk tidak memiliki darah kotor ini mengalir di seluruh tubuhku. Memikirkannya membuat ku jijik dan mual."
Kakeknya menjadi kesal. Dia tidak segan maju dengan tongkatnya dan memukul wajah Jordan dengan keras.
Pukulan itu berhasil membangunkan beberapa orang disebelah Jordan.
"Ayah!/Kakek!"
Mereka berteriak serempak melihat postur tubuh orang tua itu. Dia hanya mendengus melirik mereka.
"Ayah, apa yang kamu lakukan."
"Ardan, Ardan."
"Ardan, bagaimana keadaan mu?"
"Ayah, Ibu, Paman, Bibi, Kak Ryan, aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Rio tiba-tiba bertepuk tangan. Dia melihat mereka dengan ekspresi menonton.
"Drama yang bagus. Memiliki seorang kakek yang sangat mencintai uang dan mengabaikan keluarganya benar-benar kisah drama yang bagus."
"Rio De Nanda!!"
Ryan berteriak saat melihat Rio. Beberapa orang juga akhirnya sadar akan keadaan mereka. Mereka mengerutkan alis. Mendengar kata-kata orang tadi, mereka tau, orang tua itu tidak bisa diandalkan.
Disisi lain, Rio melihat Ryan dengan tatapan tertarik.
"Nak, bahkan di usia ayahmu, tidak banyak orang yang mengenalku. Bagaimana kamu tau."
"Luar biasa, apa gadis bodoh itu memberitahu mu?"
Jordan tidak peduli dengan rasa sakitnya. Dia melihat Rio dan Ryan bolak-balik dengan wajah waspada dan curiga.
Sementara itu, kembali ke pukul lima sore. Agni sudah bersiap untuk pergi menata gaya. Untuk bertemu orang yang lebih tua, sedikit berdandan selalu menjadi kesopanan.
Dia tidak menyangka akan mendapatkan panggilan dari asistennya bahwa Dimas kemungkinan besar akan masuk penjara.
Agni tidak memperhatikan orang ini setelah dia mengetahui bahwa orang ini hanyalah pion. Meskipun dia awalnya menyelidiki orang ini untuk menuntun garis, dia tidak menyangka orang ini sangat tidak berguna.
Kemudian, orang ini terlihat bersama wanita protagonis seperti di dalam cerita. Kemudian Agni tidak menemukan mereka lagi.
Namun, menurut asistennya. Gadis itu adalah seorang pengguna obat-obatan terlarang. Setelah gagal menyakiti Jordan. Orang dibelakangnya tiba-tiba pergi. Sebagai artis kelas bawah, dia tidak bisa mendapatkan cukup uang untuk harga yang terus naik. Akhirnya, dia memutuskan untuk menipu seseorang. Dan Dimas jatuh dengan mudah.
Entah bagaimana, mereka memiliki banyak hubungan, dan Gadis itu berhasil mempengaruhi Dimas agar mengonsumsi obat-obatan.
Dimas yang menjadi tangga lagu teratas tidak merasa bangga dan tidak terbendung. Meskipun dia kehilangan beberapa tuan emas karena memiliki pacar, dia masih mendapatkan banyak uang dari lagunya. Di tambah, dia memiliki banyak kenalan dan teman orang kaya karena mengonsumsi hal itu.
Siapa tau, saat mereka mengadakan pesta obat-obatan dan minuman keras, mereka tiba-tiba di tangkap.
Agni membaca informasi yang lebih rinci dari sistem. Dia juga melihat bilah kemajuan tugas 87%.
Itu hanya beberapa menit, tapi bilah kemajuan tiba-tiba turun dan berhenti di angka 12%
Sistem dan Agni sama-sama dibuat terdiam. Sistem menyelidiki prosessor miliknya, takut terjadi eror atau semacamnya. Sementara Agni tetap tenang.
'Coba cek posisi Jordan.'
[Ya]
Meskipun sistem ingin memeriksa kembali mesinnya, dia tidak mengabaikan permintaan Agni. Dia tidak menyangka akan menemukan sesuatu.
[Nona, Jordan tidak ada di paviliun. Posisinya saat ini ada di tengah kota. Aku ingin menyelidiki pemantauan, tapi aksesnya berhenti setelah Jordan tiba]
Agni mengerutkan kening. Dia mengeluarkan laptop tiba-tiba. Jarinya melayang diatas keyboard beberapa saat. Layar memperlihatkan gambar peta dengan sebuah titik merah, dia diam selama tiga detik. Melihat titik merah tidak bergerak, dia membuat tangkapan layar lalu mematikan mesin.
"Pak Puwan, pergi ke paman Gustam."
"Baik, Nona."
Pak Puwan mendengar suara Agni yang tiba-tiba rendah dengan cepat masuk ke mobil. Ketika Agni sudah masuk dengan aman, mobil mulai melaju.
Saat sampai di sana, Agni melihat Gustam dikelilingi beberapa orang dan ada Reza.
"Agni, kebetulan. Bawahan ku bilang, mereka menemukan jejak paman mu."
Agni memiliki wajah muram dan tatapan dingin. Dia tidak turun dari mobil, dia tidak melihat siapapun, matanya lurus ke depan.
"Aku tau dimana dia. Ambil semua bawahan mu, kita akan pergi."
Gustam menerima pesan Agni dan menemukan itu merupakan sebuah lokasi. Dia dengan cepat memobilisasi orang dibawahnya dan pergi.
Reza tidak banyak bicara. Dia hanya mengikuti bersama mobil Gustam.
Sementara itu, Agni mengikuti mobil mereka dari belakang. Saat ini, Sistem tengah menyiarkan segala sesuatu yang terjadi pada Jordan. Meskipun itu hanya dalam bentuk suara, Agni mengepalkan tangannya saat suara benda keras menghantam daging, di sertai beberapa teriakkan.
"Anak muda, apa kamu benar-benar berpikir dia bisa datang dalam waktu yang tepat?"
Ryan hanya diam sejak awal. Dia menghindari tatapan Jordan. Dia tidak mampu menjawab apa yang ingin ditanyakan Jordan. Dia tidak bisa berbohong.
Rio melihat mereka dengan bosan. Dia tiba-tiba memegang kerah baju Jordan. Dia menariknya ke ujung bangunan. Bangunan yang begitu terbuka dibeberapa sisi membuat Jordan memikirkan kembali perasaan jatuh dari gedung di film barunya.
Apakah dia akan mengalaminya.
Jordan menunduk. Awalnya dia tidak terlalu banyak berpikir. Namun melihat tanah yang hampir tidak terlihat, lingkungan sepi di radius 300 meter dan menghadap jalan raya, Jordan akhirnya tau dimana mereka.
Dia tidak bisa menahan getaran hatinya saat berpikir ada di lantai paling atas. Kantai 25 gedung yang belum selesai ditengah kota.
"Nak, apa kamu ingin tau, kenapa kamu bisa ada di posisi sekarang?"