
ADA ADEGAN DEWASA YANG TIDAK DISARANKAN UNTUK PEMBACA DIBAWAH UMUR. SEKALI LAGI, ADA ADEGAN DEWASA YANG TIDAK DISARANKAN UNTUK PEMBACA DIBAWAH UMUR. DISARANKAN UNTUK SKIP 🙏
Kerajaan Anjaya, di halaman belakang Istana Kerajaan Tapa Hitam, Putri kerajaan sedang duduk dan minum teh dengan tenang.
Tidak lama, seorang pria tinggi dengan setelan mahal masuk ke halaman belakang. Dia melihat ke kanan dan kiri sampai menemukan sang putri yang duduk sendiri. Di samping putri ada tiga pelayan wanita.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa dan berjalan ke arah putri.
Dia dengan cepat berdiri di depan sang putri. Putri itu menghentikan gerakannya. Dia meletakkan cangkir teh di tangannya. Dia melihat ke atas dengan tenang.
"Saudaraku, apa yang membawa mu ke tempat ini." Kata putri.
Pria itu tidak menjawabnya. Alih-alih menjawab, dia mengangguk dan berkata, "Salam Putri Mahkota." Dengan kilatan mengejek di matanya.
Sang putri menghela nafas. Dia mengangkat tangannya untuk membuat para pelayannya pergi. Para pelayan bingung. Mereka tidak bisa meninggalkan putri dengan seorang pria yang bukan pangeran mereka.
Sang putri juga melihat mereka kebingungan, para pelayan ini adalah orang baru, mereka tidak mengenal pria itu. Jadi dia menjelaskan. "Ini anak pertama dari Adipati Sena. Dia adalah kakak ku. Ada sesuatu yang harus kami diskusikan, kalian bisa pergi."
Tapi para pelayan masih ragu-ragu. Mereka mendengar bahwa hubungan keluarga Adipati Sena tidak pernah baik. Pria itu sepertinya menjadi sedikit kesal. Sebelum dia bicara, seorang pelayan wanita yang sudah bersama putri itu sejak lama bicara, "Ini perintah putri, Tuan Julian sering datang ke istana sebelumnya, banyak yang mereka bicarakan tentang kerajaan ini. Kita tidak bisa mendengarkan rahasia apapun."
Mereka juga sepertinya sadar. Akhirnya beberapa dari mereka melangkah pergi. Pelayan yang terakhir bicara keluar terakhir. Dia dengan sengaja bicara keras. "Kalau begitu, kami akan pergi. Tolong panggil saya atau siapapun jika anda memiliki sesuatu, Yang Mulia."
Putri mengangguk, dia berkata, "Terimakasih Wulan."
Setelah lingkungan menjadi sepi, pria itu duduk di kursi batu yang ada di sekitar meja. Dia tidak bicara ataupun melakukan apapun.
Namun, putri mahkota, calon istri dari panggeran mahkota, calon ratu mereka yang sejak awal lemah lembut dan perhatian tiba-tiba berubah. Dengan gesit, dia bergerak ke pangkuan pria itu.
Julian memiliki senyum sinis di wajahnya. Dia memuji, "Kamu sepertinya mendapatkan pelayanan yang bagus."
"Julian, jika kamu pergi ke istana seperti ini, kita mungkin akan ketahuan." Kata putri dengan manja.
"Oh, Lilia, apa yang ketahuan?" Julian menggerakkan tangan ke dada Lilia. Lilia menjadi sedikit terkejut. Saat tangan masuk ke dalam bajunya, dia bernafas lebih pelan.
"Ju-Julian...."
"Hm?" Julian memainkan benda kecil yang tiba-tiba muncul di balik bajunya. Dia menarik dan memutarnya berulang kali.
Lilia menutup mata, tangannya bergerak ke kepala Julian. Melihat Lilia menikmatinya, Julian membuka mulut. Dia dengan perlahan mencicipi bibir Lilia. Tapi Lilia sepertinya tidak sabar. Dia mulai mengeluarkan lidah. Mulut mereka bertaut. Tangan Julian tidak berhenti, sesekali ******* keluar dari tempat itu.
Saat merasa Lilia kekurangan oksigen, Julian berhenti. Dia mulai menggerakkan tangan ke bawah. Dia menyibakkan rok panjang Lilia, memasukkan tangannya ke gua rahasia dan bermain didalamnya.
Setelah beberapa saat, Julian melihat wajah merah Lilia dan mendekati telinganya, dia berkata dengan suara rendah, "Lebih keras, bersuara lebih keras sehingga orang-orang itu bisa melihat calon ratu mereka sangat ingin dirusak kakaknya."
Lilia menggigit bibirnya saat dia merasa sesuatu yang hebat keluar.
Melihat Lilia lemas di lengannya, Julian membuatnya duduk di atasnya. Saat ini, kesadaran Lilia kembali. Dia meletakkan kedua tangannya di dada Julian. Dia melihat Julian dengan mata penuh air mata dan kelemahan, dia berkata dengan suara kecil. "Kakak, apakah kamu menemukannya."
Julian tersenyum misterius. "Kalau kamu bisa membuat ku keluar. Aku akan memberitahu mu."
Lilia melihat Julian dengan menggembungkan pipinya, kesal. Tapi ini membuat Julian semakin ingin merusak Lilia. Lilia juga melihat nafsu di mata Julian. "Kakak, beritahu aku. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau."
Ketika benda miliknya dikeluarkan, Julian tiba-tiba menahan nafas. Dia setengah menutup mata saat menjawab. "Ada tanda, sebentar lagi mungkin bisa ditemukan."
"Untuk kakak ku yang berusaha keras. Aku akan memberimu hadiah." Lilia dan Julian mulai melakukan permainan mereka. Para pelayan berada terlalu jauh sehingga tidak mendengar kesenangan dari mereka berdua.
Julian tidak memperhatikan, saat mereka sedang berhubungan, mata Lilia bersinar dengan cahaya aneh.
Saat ini, di hutan luas yang tidak jauh dari kerajaan. Agni dan Reka. Mereka sedang melakukan perjalanan ke kerajaan. Agni ingin bertemu dan membunuh Lilia secara langsung.
Dia merasa, permainan ini terlalu tidak menarik.
"Agni, aku rasa tidak jauh dari kita ada perkumpulan Hybrid. Para Hybrid yang ingin melawan." Kata Reka.
Agni melihat sekitarnya. Saat ini, pendengarannya sangat baik. Ketika Reka mengatakan itu, dia memusatkan perhatiannya. "Berhenti." Kata Agni.
Agni merasa ada seseorang tidak jauh dari mereka. Beberapa saat kemudian, seseorang keluar dari semak-semak. Agni mulai mengumpulkan air di bawahnya untuk digunakan sewaktu-waktu. Saat ini, orang dibalik semak-semak keluar.
Seorang pria kecil dengan telinga besar.
"Suku Tikus?" Kata Reka.
Pria itu sepertinya mendengar Reka. Dia melompat mundur dan bersembunyi. Terlihat sangat ketakutan. Agni berkedip beberapa kali. Ini benar-benar seekor tikus, pikirannya.
"Hei, hei Panpan, ini aku. Reka, dari suku Rubah." Reka mencoba memanggil Panpan, Pria Suku Tikus sebelum benar-benar menghilang.
Benar saja, tidak lama, pria tikus itu kembali. Dia melihat mereka beberapa kali sebelum mendekat.
"Reka, ini benar-benar kamu." Dia menyapa dengan gembira..
"Ya, bagaimana keadaanmu, dan yang lainnya."
"Kami akan segera melakukan penyergapan. Kami berhasil menangkap salah satu orang istana. Setelah kami mendapatkan semua informasi darinya, kami akan segera bergerak."
Hm? Orang dari istana?
"Apakah itu seorang laki-laki atau perempuan?" Agni bertanya dengan tenang. Panpan melihat Agni sebentar. Lalu melihat Reka.
"Dia siapa?" Tanya Panpan.
"Kekasihku?"
"Apa? Kamu masih 25 tahun. Bagaimana kamu memiliki seorang kekasih!"
"Benar, haaahh, usia sialan. Dia penyelamat. Seorang duyung. Agni."
"Oh, kami banyak mendengar tentang mu. Dalam perjalanan menyelamatkan banyak Hybrid. Mereka yang selamat membicarakan tentangmu. Kamu sangat hebat."
"Cukup, bagaimana orang yang ditangkap."
"Itu seorang laki-laki."
Agni merenung. Mungkin itu hanyalah seorang pelayan atau semacamnya. Mungkin tidak berharga. Dia kembali bertanya, "Lalu, apa yang kamu lakukan disini."
"Aku mencari seseorang dari suku lebah, yang mungkin bisa menghipnotis orang itu. Sampai saat ini, dia tidak menjawab pertanyaan apapun."
Wow, seorang manusia berhasil menahan siksaan dari Hybrid. Agni mengangguk. Kualitas manusia sedikit baik disini.
"Bisakah kami ikut melihatnya."
"Tentu, ikut dengan ku. Ada beberapa orang lain yang juga mencari suku lebah itu, aku bisa meninggalkannya."
Mereka bertiga kembali ke tempat persembunyian Hybrid. Saat mereka sampai di sana. Agni menjadi sangat terdiam.
Kualitas manusa meningkat? Agni menarik kata-katanya kembali.
Duduk sendiri di sebuah meja batu. Seorang pemuda bersih dengan setelan baju mewah sedang minum dengan elegan. Mungkin merasakan pandangan Agni. Dia melirik dan terkejut.
"Agni!"
Agni : "???"