Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Dragon King Doesn't Married (13) 21+



Dibawah atap tempat Reka dan Feru bersembunyi, seorang pria dan wanita tengah berbaring bersama.


Lilia duduk di atas tubuh berbaring pengawalnya. Dia bergerak keatas dan kebawah. Sepasang sayap kelelawar transparan keluar dari punggungnya. Dari pantatnya yang indah, sebuah ekor tipis seperti tali dengan ujung berbentuk hati keluar. Itu sedikit kabur, dan tidak bisa dilihat dengan mata manusia.


Dia melihat pria dibawahnya yang menikmati layanan darinya. Dia bergerak lebih cepat. Saat dia merasa benda keras di dalamnya akan menembak. Dia berhenti.


"Ya-Yang Mulia?"


"Apa kamu menginginkannya, Pengawal kecil."


Pengawal itu tau, seharusnya dia tidak melakukan ini. Namun tubuh yang tidak dililit busana di atas tubuhnya sangat menarik. Dia melihat Lilia menggigit sudut bibirnya, lalu lidah kecilnya keluar menyapu bibirnya, membuat bibirnya basah dan menggiurkan. Undangan jelas di wajahnya.


Meskipun Lilia tidak lelah. Dia ingin pengawal itu mengambil inisiatif.


Pengawal itu tidak tahan. Dia menggunakan kedua tangan menahan di samping tubuh Lilia. Tubuhnya bagian bawah bergerak keatas dan bawah beberapa kali.


"Ah..." Lilia mendongak. Dia merasakan cairan panas masuk ke tubuhnya. Dia melihat kebawah dengan senyum menawan.


Setelah berhari-hari mencari, dia akhirnya menemukan benda yang besarnya sama seperti Julian. Sejak Julian pergi menemukan gerbang penyegel. Dia sudah dua minggu tidak melakukan hubungan. Sebagai seorang succubus, dia membutuhkan cairan laki-laki untuk bertahan hidup. Awalnya itu tidak apa-apa untuk mendapatkannya hanya dari pangeran, namun lama kelamaan, dia merindukan benda besar dan panjang milik kakaknya.


Untuk mengobati keinginan itu, dia beberapa hari ini mengawasi setiap pria di dekatnya. Akhirnya dia menemukan pengawal ini. Meskipun dia sudah menikah dengan salah satu pelayan miliknya, Lilia tetap menginginkannya.


Akhirnya, mereka benar-benar melakukan ini.


Lilia mendengar sesuatu di balik jendela. Ketika dia melihat keatas, istri dari pria dibawahnya sedang di ikat oleh Wulan. Dia dipaksa melihat Lilia dan pengawalnya.


Lilia tersenyum. Dia turun dari lelaki itu dan berjalan ke jendela. Dia menekuk tubuhnya, tangannya berada di tepi jendela yang menghadap Wulan. Dari dalam, jendela terlihat gelap. Tapi Lilia bisa melihatnya karena kekuatan sihir yang dia miliki.


Dia menggerak-gerakan tubuhnya bagian belakang saat memanggil pengawal itu. "Hei, Pengawal kecil. Kemari, aku akan memberimu hadiah karena berhasil mengumpulkan semua hybrid ke kota G." Lilia menghela nafas perlahan. Wajahnya menunjukkan nafsu yang menggoda. "Aku yakin istrimu tidak pernah membiarkan mu melakukan gaya ini."


Pengawal itu terfokus pada pantat yang bergerak-gerak. Dia seperti terhipnotis. Mendekat dan berdiri beberapa saat di sana.


"Pengawal kecil, katakan, apakah istrimu bisa memuaskan seperti aku."


"Yang mulia, yang mulia yang terbaik." Pengawal itu dengan panik menusuk miliknya ke lubang di depannya.


"Yah..." Lilia memekik nikmat. Dia tidak menghiraukan air mata di pipi istri pengawal itu. Saat ini, dia hanya berpikir menyerap esensi yang diberikan pria ini.


Meskipun Feru merasa hal itu biasa di istana, dia tidak pernah melakukannya. Dan dia mengonfirmasi bahwa Lilia benar-benar bukan Lilia yang dia kenal. Dia juga sangat benci dan jijik karena kakak ipar ini, orang yang akan menikah dengan putra mahkota benar-benar berani bermain dengan pengawalnya sendiri, sangat tidak tau malu.


Reka sendiri seperti membuka dunia baru. Dia tidak tau, apakah Agni mau melakukan itu dengannya. Reka menggelengkan kepalanya saat dia dan Feru keluar dari istana kekaisaran menggunakan jalur rahasia.


Malam bergerak dengan cepat. Di pagi hari yang indah, Lilia duduk di meja batu halaman belakang. Ada empat pria di sekelilingnya.


Satu bermain dengan dada kanannya, satu bermain dengan dada kirinya. Satu menjilati bagian bawah dan satu menyuapinya dengan mulut.


Sesekali Lilia akan mengeluarkan suara, "Yah..." Atau "Benar, di sana."


"Tuan, saya mendengar kabar dari Tuan Julian." Wulan datang dengan surat ditangannya. Dia melihat Lilia dengan tenang, sepertinya telah terbiasa.


"Hmm.... Apa... Apa katanya...."


Wulan membuka surat dan membacanya. "Adik kecil, apa kamu merindukan aku. Senjata kakak mu sangat merindukan kamu. Dia ingin menusuk dan membiarkan kamu berteriak sangat kencang sehingga seluruh istana kerajaan tau apa yang kamu lakukan...."


"Aahhh....." Lilia mengeluarkan teriakkan puas. Wajahnya yang putih berangsur-angsur menjadi merah. Meskipun Wulan yang berbicara. Dia merasa seperti Julian sendiri yang bicara padanya. Ditambah dengan seluruh tindakan di sekitar tubuhnya. Dia bereaksi dengan kuat.


Saat ini, Wulan memerintahkan orang-orang itu untuk pergi. Mereka dengan cepat menurut. Wulan melanjutkan, tidak peduli dengan keadaan Lilia yang terlihat setengah sadar. "Adik kecil, provinsi Y benar-benar menyimpan banyak rahasia. Aku mendengar sebuah informasi. Di lembah kehidupan milik suku ular, ada sebuah pintu besar yang sesuai dengan gambaran yang kamu berikan. Aku akan pulang untuk memberitahu mu secara pribadi. Ketika surat ini kamu terima, maka kurang dari satu hari sebelum aku sampai. Tunggu aku, adik kecil."


Lilia dengan suara serak bicara, "Bagaimana kabar pangeran kedua?"


"Belum ada hasil saat ini, namun kami masih melakukan pencarian."


Lilia mengangguk, dia memberi perintah. "Bersihkan seluruh ruangan."


Sebelum Lilia pergi, Wulan menghentikannya. Dia menyerahkan surat ke tangan Lilia. Lilia membaca, ternyata ada tambahan dibawahnya.


'Ps. Jika aku menemukan kamu memiliki banyak pria, jangan berharap mendapatkan hukuman ringan.'


Lilia merasa sesuatu mengalir di bagian bawah tubuhnya. Iblis nafsu seperti kakaknya, benar-benar mengenal dia dengan baik.


Dia menggigit bibirnya rendah. Dia adalah succubus, melakukan hal ini biasa baginya. Namun, dibandingkan melakukannya dengan kakaknya, semua manusia ini tidak ada apa-apanya.