
Alert!!!!!!
Jika kalian sudah membaca dari sebelumnya, saya sarankan mengulangi. Saya baru saja selesai membenahi 11 Chapter The Boss.
Um, jika kalian pembaca baru, selamat datang dan silahkan menikmati waktu kalian.
Salju sudah turun beberapa hari di kota. Agni menggenakan baju tebal dan melewati beberapa jalan sebelum akhirnya sampai didepan pintu kafe. Dia masuk dan membuka jaketnya.
Agni pergi ke konter depan dan memesan. Kemudian duduk menunggu. Tidak lama sebelum kopi datang. Agni menyesap sediki kopi sebelum kembali meletakkannya di meja. Dia menambahkan banyak susu untuk kopi sebelum kembali meminumnya. Rasanya menjadi sangat manis hingga memuakkan. Namun Agni meminumnya dengan santai, dia bahkan tidak mengerutkan kening.
Dia duduk didekat jendela kafe yang menghadap luar. Dia bisa melihat banyak orang berlalu-lalang. Ketika dia menghabiskan minumannya. Orang yang dia tunggu datang.
Agni memiliki senyum diwajahnya.
Pintu kafe berbunyi saat orang masuk. Agni tidak mengalihkan matanya dari orang itu sampai dia berjalan ke arahnya. Akhirnya seseorang yang dia tunggu datang. Santa Klaus miliknya.
Agni memanggil orang tersebut Santa Klaus karena orang tersebut adalah orang yang membawa kekayaan hidupnya. Agni melihat orang itu melangkah dengan santai. Agni tidak bisa tidak bersemangat. Namun di permukaan wajahnya dia masih menunjukkan ekspresi tenang.
Takehiro Gin. Seorang pengacara peringkat atas. Seorang pengacara dengan mendali emas bintang 5. Saat ini, dia memiliki 6 instansi pengacara di bawah namanya. Dan orang ini, adalah orang yang di percayakan kakeknya untuk menulis surat wasiat.
Menurut ingatannya, Gin di bawa oleh kakek Agni sejak kecil. Setelah menemukan dan mengembangkannya, anak dari lingkungan kumuh berubah menjadi pengacara paling top di negara ini.
Namun dengan semua hal hang sudah terjadi, Agni tidak yakin pengacara ini bisa langsung menjadi pengacara.
“Agu-chan, sudah lama tidak bertemu.”
“Begitu juga dengan anda, paman Gin. Saya melihat anda tidak bertambah tua.”
“Ahahaha, apa yang kamu katakan. Paman bukanlah anak muda sepertimu.”
Mereka memiliki obrolan murah beberapa saat. Agni kemudian berdiri dan bicara serius. (Disini maksudnya obrolan murah itu obrolan biasa. Seperti menanyakan, apa cuaca hari ini.)
“Paman, saya punya sesuatu untuk dikatakan, bisakah kita pergi ke ruangan atas?”
“Ruangan?”
Gin melihat interior cafe yang seperti kebanyakan kafe. Tidak yakin apakah cafe menyediakan ruang kotak khusus untuk pertemuan.
“Paman, anda bisa mengikuti saya.”
Ini bukan kebohongan. Setelah pindah ke dunia ini. Agni mulai menumpuk asetnya. Mengabaikan tentang kematiannya. Dunia modern dimana uang ada sangat sederhana. Uang bisa menjadi salah satu kekuasaan di dunia ini. Bahkan jika dia tidak akan menggunakannya. Jika dia mati setelah 2 tabun. Aset yang dia kumpulkan bisa digunakan untuk target penyelamatannya sehingga hidup dengan baik. Meski sejak awal dia tidak meremehkan target penyelamatan. Sebuah pencegahan tidak kalah penting.
Kafe ini sendiri juga salah satu dari 5 tempat yang dia buka berkat simpanan dari kakeknya.
Agni tidak melupakan aset dari kakeknya yang dibawa Gin. Bahkan jika Gin tidak memberitahu. Setelah mendengar kata-kata Jin, bagaimana Agni tidak mengetahui tentang asetnya. Dan jika dia benar memiliki aset, Gin adalah orang yang akan dipercaya kakeknya.
Itulah sejak awak datang, Gin menjadi Santa Klaus miliknya.
Ketika dia sampai di depan sebuah pintu, seseorang melihatnya dan dengan cepat menghampirinya. Dia memiliki wajah seram dan kulit kecoklatan. Ada bekas luka di dahi, memanjang sampai rahangnya.
“Nyonya, anda di sini.”
“Yah, datang dan gunakan tempat ini sebentar. Bagaimana perkembangannya?”
“Semua baik, apakah anda ingin melihatnya?”
“…. Tidak perlu. Cukup kirim seperti biasa.”
Kemudian Agni masuk ruangan dengan tatapan rumit Gin dibelakangnya. Dia tau itu sulit diterima. Faktanya, mencari uang dengan menggunakan uang tidak begitu sulit baginya. Ditambah, dunia ini tidak ramah bagi mereka yang lemah. Yang kondisi tersebut lebih menguntungkannya.
Bukankah ada pepatah, kelinci yang terpojok akan tetap menggigit.
“Agu-chan…. Ini....”
“Hehee, Paman Gin santai saja. Mari bicara setelah makan!”
Melihat sikap ceria Agni seperti sebelumnya, Gin hanya bisa menghentikan pikirannya dan menerima secara perlahan. Lagipula dia adalah cucu yang belajar langsung dari orang paling dia kagumi. Tentu saja tidak akan lebih buruk.
Setelah makanan selesai. Mereka duduk berhadapan dengan masing-masing secangkir kopi dihadapannya. Kali ini, Agni minum kopi pahit tanpa gula atau susu.
“Jadi, kenapa Agu-chan memanggilku?”
“Ya, Paman Gin, tebak berapa umurku.”
“16 tahun.”
Mata Agni berkilat aneh. "Benar sekali."
“Tapi Paman Gin, Aku bukan hanya 16 tahun. Aku akan 17 tahun setelah 2 bulan.”
“Memang.” Senyum merekah di wajah Agni ketika dia mendengar jawaban langsung Gin.
Gin merinding melihat senyum di wajah Agni. Dia tidak tau kenapa dia memiliki firasat buruk tiba-tiba. Dia kembali mengingat data mengenai Agni dan membandingkan orang didepannya dengan Agni tersebut.
“Yah. Paman Gin, bukankah kakek memberikan semua aset padaku?”
“Iya, namun ketika kamu berada di 18 tahun aku akan memberikannya.”
“Tidak mungkin, bukankah kakek memberikannya ketika aku 17 tahun.”
“Memang begitu. Tapi kehidupanmu membuatku khawatir. Meskipun uang itu tidak akan habis, kami belum mengenal lingkungan masyarakat dan aku takut kamu ditipu. 18 tahun, usia dimana kamu tidak hanya harus fokus pada sekolahmu. Kamu akan lulus dan mendaftar di universitas. Kamu juga akan keluar ke lingkungan masyarakat. Itu akan membantu kamu berfikir mengelola wasiat kakekmu.”
Mengelola wasiat kakekmu. Agni senang karena Gin mengungkap petunjuk dihadapannya. Seperti yang dia duga dari seorang pengacara top.
“Ah, paman Gin. Bukankah kamu meremehkan ku?”
Gin mengangkat kopinya dengan tenang. Dia tidak menanggapi kata-kata Agni. Secara tidak langsung tidak menolak pertanyaan tersebut.
“Paman Gin, taukah kamu berapa aset ku saat ini?”
Sepertinya Gin tertarik. Dia menurunkan cangkir dan melihat Agni. Jika tidak salah. Selain kebutuhan sehari-hari. Agni akan menerima 100.000 setiap bulan. Tapi dilihat dari kehidupan boros Agni, setelah hampir 2 tahun kematian Takahashi, Gin menyimpulkan kalau aset Agni tidak lebih dari 500.000.
“Paman Gin, Jika aku mengatakan, aset ku saat ini mungkin 20% dari keuntungan bersih mu setiap tahun. Apakah anda percaya?”
Gin mengerutkan kening. Dia tidak menyangka Agni akan berbohong. Gin merasa sedikit kecewa. Minatnya menurun. Gin berniat menjawab Agni sedikit asal-asalan.
“Paman Gin, saya juga tau semua urusan kakek. Dan melihat semua yang sudah kakek lakukan. Saya yakin warisan kakek tidak akan bisa saya habiskan dalam hidup ini.”
“Kamu tau?”
“Tentu saja. SYA Company.....”
“Sepertinya kakek mu tidak sepenuhnya menyimpan mu dalam kegelapan.”
“Jadi saya benar?”
“Ya”
“Apakah keuntungan dari perusahaan itu akan menjadi milik saya setelah 17 tahun?”
“Secara alami begitu.”
Agni memiliki senyum dimatanya ketika melihat Gin fokus pada kopi. Dia sepertinya tau Gin tidak menyukai pendekatannya tentang uang. Tapi apa yang dia incar lebih dari itu.
“Termasuk Sekolah Kuroyama?!”
Gin membeku, dia langsung berdiri dari tempatnya. Tapi Agni sudah siap sejak awal bergerak lebih cepat. Dia menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan di meja. Dengan lompatan sempurna, dia berhasil mendarat dibelakang Gin. Tangan kiri Agni memegang garpu yang diarahkan ke pembuluh darah leher. Tangan kanan Agni memegang pisau dan diarahkan pada pinggang Gin.
Gin tertangkap basah dan dia tidak bisa bergerak.
“Paman Gin, Kamu seharusnya tidak boleh meremehkan ku.”