Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Dragon King Doesn't Married (1)



Berisik.


Itulah kesan pertama Agni saat kemampuan tubuhnya kembali.


Dia merasa kesal saat ini. Dia pikir, dia akan terbiasa. Namun, tidak. Sistem yang tiba-tiba memindahkan dirinya membuatnya marah.


Agni membuka mata untuk melihat langit. Langit biru dengan sedikit awan. Mungkin itu pemandangan normal jika dia tidak mendengar banyak kegaduhan.


Agni jelas bangun di tempat yang aneh. Dia menggerakkan bola matanya melihat lingkungan penuh dengan abu-abu mencekik. Benar-benar berbeda dari langit diatas. Ada banyak kepulan asap sekitar Agni. Dia sangat tidak nyaman dengan pernapasannya. Namun dia tidak bisa batuk, dia merasa sangat lemah.


Agni duduk dan melihat sekeliling. Wajahnya menjadi gelap. Di ekspresi dinginnya ada kemarahan yang besar.


Agni merasa benar-benar sudah cukup. Tidak hanya dia ditarik begitu saja, dia juga ditempatkan di tempat seperti ini.


Selain itu, Agni merasa tubuhnya sangat kering. Dia haus dimana-mana. Menggerakkan tangannya saja sangat susah. Dia hampir kehabisan tenaga dan kembali jatuh. Namun, dia berhasil menahannya. Dia menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuh. Dia akan berdiri ketika sebuah benda hitam menghantam tanah menggelinding didekatnya. Bola itu mendekat dengan bunyi detik jam dari dalamnya.


Agni mengenali benda itu dalam sekilas.


F**k!!


Agni dengan semangat mencoba pergi. Tapi tubuhnya begitu lemah untuk bergerak. Dia merasa benda didekatnya semakin panas. Kepalanya berdengung dengan banyak penolakan.


Tidak, tidak. Dia sudah mengetahui rasa sakit ditembak, dia sudah tau rasanya hancur jatuh dari gedung, dia tidak ingin lagi mengetahui rasa sakit hancur karena bom!


Saat Agni sedang panik. Dari bawah tanah, air menggulung naik. Semakin keatas dan membentuk genangan dibawah tubuh Agni.


Tubuh yang lemah membuat Agni merespon lebih lambat. Saat dia sadar, Agni tiba-tiba memiliki perasaan basah. Tidak tau air apa, dan kenapa saat ini, Agni hanya memiliki perasaan akrab tiba-tiba dengan air. Dia sangat nyaman. Seperti berteduh dibawah pohon saat terik matahari. Perlahan-lahan, perasaan haus menghilang. Agni kemudian fokus pada dirinya. Dia terkejut menyadari air itu masuk ke tubuhnya melalui pori-pori kulit.


Perasaan tidak enak menghampirinya. Dia merasa dunia saat ini akan sangat sulit.


Sedetik kemudian, Agni ingat dia melupakan sesuatu. Dia melihat kesamping tepat pada bola yang memiliki suara setiap detiknya.


Benar, dia melupakan ini.


Agni memiliki wajah polos pasrah. Tubuhnya sudah bisa bergerak, namun dia merasa sia-sia untuk pergi sekarang. Dampak ledakan benda ini akan tetap menghancurkan dia.


Dia berpikir untuk mengajukan keluhan pada sistem.


Ketika tugas ini gagal, dia hanya perlu mengulangi tugas dunia ini sampai berhasil. Itulah perjanjian dalam kontrak dengan sistem. Dia membaca semuanya sejak awal. Kesuksesan dia di dunia uji coba dan bagaimana dia masih bisa mendapatkan poin darinya membuktikan kekuatan Agni. Kelancaran tugas dunia pertama juga menegaskannya. Sejak Agni menyetujui kontrak, Agni benar-benar akan terikat padanya.


Kegagalan misi pada setiap dunia tidak diperbolehkan. Jika itu gagal, dia hanya harus mengulangi semua dari awal sampai sukses.


Bukankah ini sistem sampah.


Dia berpikir akan mengalami dunia modern atau kuno dimana tidak perlu terlalu berusaha. Tapi, dia naif. Bagaimana bisa setiap dunia menjadi sederhana.


Bunyi detik tiba-tiba memanjang. Agni menyerahkan nasibnya sekarang. Benda itu mengeluarkan percikan api sebelum meledak dengan keras. Agni menutup mata dengan cepat. Tangannya reflek terangkat menghalangi wajahnya dari dampak ledakan. Cahaya yang muncul begitu terang, dia merasa ditelan di dalamnya. Rasanya hangat, hangat dan panas. Namun, masih dalam kisaran yang mampu dia toleransi. Mungkin sekarang dia mulai terbakar. Tubuhnya akan segera menghilang.


Agni masih berpikir bagaimana keadaannya.


Saat semua kehangatan pergi. Dia membuka mata tiba-tiba.


Hm??


Dia masih hidup?


Apa?


Agni melihat dinding air dengan ketebalan sepuluh centimeter menghalangi ledakan didepannya. Ada kebingungan langka dimatanya. Dia mendengar beberapa bunyi mendesis akibat ledakan di depan air ini.


Apa yang baru saja terjadi?!


Agni berdiri dengan tenang. Kedua alisnya menyatu.


Hangat.


Kehangatan ini sedikit membuatnya tidak nyaman.


“Disini!!! Kelompok Duyung lain ada disini!!”


Agni berkedip. Dia melihat beberapa orang dengan baju tentara datang dengan tergesa-gesa setelah teriakkan tadi. Agni sekarang menebak identitasnya. Dibelakang mereka adalah kandang yang memiliki roda. Ada dua tentara menariknya. Kandang itu memiliki jeruji sebesar lengan orang dewasa. Terlihat sangat kokoh. Ada beberapa manusia yang terkurung di sana. Mereka memakai lingkaran besi di leher, tangan, dan kakinya.


Ada perasaan akrab menghampirinya.


Apakah tubuh ini mengenal mereka?


Agni melihat mereka dan beberapa dari mereka membuka mulut menggunakan bahasa lain. Anehnya dia mengerti bahasa mereka.


“Yang Mulia, Lari!!”


"Lari."


Kerutan diantara alisnya semakin dalam.


Agni diam beberapa saat sebelum menghela nafas. Dia tidak suka kehangatan ini. Bukan kehangatan dari orang-orang itu. Tapi kehangatan dari air disekelilingnya.


Tubuh Agni mulai meneteskan air. Padahal saat dia berdiri tadi, tidak ada air yang merembes bahkan dari bajunya. Beberapa orang didalam kandang terkejut dan bahagia. Mereka menggenggam kedua tangan dan menunduk. Beberapa dari mereka meneteskan air mata. Tapi sangat jelas bahwa mereka bahagia.


Agni menyentuh air yang membentuk dinding di depannya. Air hangat ini, sepertinya bisa diubah. Ada senyum kecil diwajahnya.


Yah, dia belum mengetahui pasti dunia ini. Tapi, bukan berarti dia tidak bisa bersenang-senang.


Sepertinya, dunia ini lebih menarik dari dunia sebelumnya.


Agni memegang air didepannya seolah itu benda padat.


Duyung.


Duyung dan air tidak pernah bisa dipisahkan.


Keduanya seperti kupu-kupu dan bunga, seperti jamur dan akar pohon. Mereka tidak bisa dipisahkan.


Jika dia benar-benar duyung...


Agni berhasil membuat tongkat panjang dari air. Dia menghembuskan nafas perlahan. Entah bagaimana, ini seperti naluri.


Ketika air masuk ke pori-porinya, dia merasakan perasaan sejuk dan dingin, bukan hangat. Saat air yang memiliki suhu hangat masuk ke tubuhnya, dia selalu merasa tidak nyaman yang aneh, dia berpikir lebih suka dengan air dingin.


Karena air ini tidak memberinya perasaan seperti itu, dia mencoba membuatnya dingin. Itulah kenapa dia menghembuskan nafas.


Benar saja, dia membuat air itu membeku.


Dia tidak menyangka tindakan kecil itu berhasil membuat air membeku.


Agni dengan tenang mulai membayangkan tingkat panjang di tangannya mencair. Tetesan demi tetesan air jatuh. Dia kehilangan tembok air. Tapi dia tidak berhenti.


Agni menghentikan tetesan air di udara. Dia membayangkan tetesan itu membeku menjadi jarum tipis. Agni melirik para prajurit. Salah satu dari mereka terlihat gemetar dimatanya. Kemudian Agni melihat ke arah lain.


Prajurit itu, sepertinya seorang pemimpin. Karena ketika dia berteriak, orang lain disekitarnya menindaklanjuti dengan cepat.


“Tembak!!”


Bersama dengan bunyi tembakan, Agni mengarahkan jarum es pada setiap peluru. Para prajurit terkejut dan lebih bersemangat menembak.


Bukan karena mereka ingin bersaing. Tapi karena, mereka menyayangi nyawa mereka. Mereka ingin tetap hidup. Mereka tau konsekuensi jika mereka gagal menghentikan Agni.


Tapi satu persatu teman disebelah mereka jatuh. Tidak ada bekas luka besar. Hanya sebuah titik kecil di dahi dan dada mereka yang menunjukkan mereka terkena serangan.


Sementara orang-orang dikandang melihat dengan mata memuja, lara prajurit memandangnya seperti teror.


Agni merasa air di tubuhnya tidak pernah habis. Dia melirik kebawah dan merasakan sebuah sumber mata air dari bawah tanah. Sepertinya tempat ini memiliki teori bumi tempatnya dulu tinggal.


Lapisan kerak bumi ketiga. Dibawah bebatuan, terdapat aliran air yang tidak pernah habis.


Agni menjadi semakin bersemangat. Dia menggunakan banyak jarum es untuk memblokir peluru dan menyerang.


Saat peluru tidak lagi ditembakkan, Agni tau semua sudah selesai.


Jarum es tidak memberikan banyak luka berdarah pada mereka. Saat bersentuhan dengan kulit para prajurit, jarum es akan mengebor masuk ke dalam tubuh. Jarum itu akan pecah dan mengalir mengikuti pembuluh darah. Detik berikutnya, serpihan es itu akan mulai membekukan edaran darah dan merambat ke setiap sel tubuh mereka. Para prajurit akan menjadi kaku sebelum terjatuh dan hancur. Beberapa yang beruntung hanya menghancurkan tangan dan kakinya saat jatuh. Tapi kematian mereka tetap dipastikan.


Agni tiba-tiba memiliki perasaan aneh menyebar dari otaknya. Menutupi hatinya untuk berpikir.


Agni terkejut. Itu bukan karena apa yang sudah terjadi. Tapi, pada apa yang dia lakukan.


Dia melihat banyak orang jatuh, musnah, dan hancur hanya dengan lambaian tangan darinya. Dia selalu mengetahui, pembantaian itu mengerikan. Tapi dia tidak bisa menahan diri saat ini. Rasanya sedikit menarik. Melihat orang lain seperti semut. Agni tidak pernah tau akan semenarik ini.


Dia sedikit tersenyum. Senyum misterius penuh aroma pembunuhan. Sifatnya yang buruk kembali.


Saat dia masih bis berpikir jernih, dia bergumam beberapa kata. Beberapa kata bahasa arab. Beberapa kata patriotisme sebelum kembali ke rasionalitas dan memandang kandang besi penuh orang.


Penulis memiliki sesuatu:


Jeng Jeng Jeng....


Selamat datang di dunia ketiga.


Karena sekarang tanggal 18/05. Saya akan menambahkan satu bab lagi di sore hari. Hadiah untuk pembaca setia!!


Selamat membaca~~