Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
The Boss (17)



Agni beristirahat di rumah Kuma selama waktu ini. Dia makan, minum dan menjalani kehidupan yang tidak buruk di rumah Kuma. Namun Agni harus menelan rasa kesal.dan bosan setiap kali diganggu oleh Kuma dengan banyak bukti kedekatan Jin dan Mirai yang tidak bisa dijelaskan. Kuma juga terlihat sangat bahagia ketika mengganggu Agni mengenai Jin.


Apa maksudnya? Dia dan Jin hanyalah teman dan saling membantu!


Sebagai seorang Ayah, Kuma sangat mengenal pikiran Jin. Kuma bisa mengetahui bahwa Jin memiliki perasaan pada Agni. Sementara Agni tidak memilikinya sedikitpun. Kuma tidak mengerti semua tindakan Agni. Tidak tau untuk motif apa. Kuma selalu melihat Agni sebagai seseorang yang hatinya tidak memiliki celah untuk perasaan. Karena itu Kuma akan mengganggu Agni sehingga Agni akan menumbuhkan setidaknya sedikit perasaan untuk Jin.


Hari-hati berikutnya juga sama. Kuma akan muncul dan mengejek Agni sebagai seorang calon istri Jin. Agni sedikit menebak tujuan Kuma melakukan hal tersebut. Sehingga Agni hanya bisa diam.


Agni hanya bisa menelan semua dalam diam.


Lingkungan mewah dan dekorasi elegan. Di kamar apartemen lantai 13, Jin membuka matanya.


Jin tidak merasa nyaman seperti biasanya. Dia sudah tidak tidur semalam. Dia juga tidak tidur nyenyak dalam beberapa hari terakhir. Sejak terakhir kali Jin menceritakan banyak hal pada Agni. Agni menghilang darinya. Sudah beberapa hari Agni tidak muncul di sekolah atau dilingkungan rumahnya.


Jin khawatir setiap malam.


Apalagi sejak Mirai datang ke rumahnya. Jin selalu merasa telah melewatkan sesuatu. Jin memiliki firasat buruk dalam hatinya.


Hari kembali berputar seperti biasa. Jin dengan wajah kuyu dan lingkaran hitam disekitar matanya berangkat ke sekolah. Jin tidak peduli dengan orang lain menyadari keanehannya. Setengah wajah Jin selalu ditutupi poni, membuat orang lain tidak bisa melihatnya. Jin tidak mengikuti pelajaran dengan mengambil cuti sakit. Di sekolah, Jin menelusuri setiap lingkup ruang untuk menemukan Agni.


Jin sesekali akan bertemu Mirai dan dia hindari seperti seekor ular. Jin sangat tidak menyukai gadis ini. Mirai selalu menempel dan bersikap dekat dengannya yang memuakkan.


Kembali ke pencarian semua hasilnya nihil. Hari ini juga dia tidak menemukan Agni dimana pun.


Ketika sekolah telah usai. Jin pulang dengan berjalan kaki. Jin berencana mengunjungi tempat-tempat yang mungkin di datangi Agni lagi. Setelah mengunjungi beberapa tempat, Jin berhenti di gang gelap. Tempat pertama dia dan Agni bertemu.


Malam ini tidak sama dengan malam dia bertemu dengan Agni. Saat itu bulan bersinar cerah dan beberapa sudut gang bisa dilihat. Jin bisa melihat wajah Agni yang putih bersinar dibawah bayang remang rembulan.


Saat itu, gadis dengan wajah putih berdiri dengan tegak dihadapan 50 laki-laki. Dia sangat tegas dan tidak takut. Ada senyum diwajahnya. Gadis itu dengan berani melindungi orang yang lebih besar darinya.


Tapi kali ini Jin sendirian di tempat ini. Hanya dalam beberapa hari. Jin sudah merindukan keberadaan Agni.


Jin yang sibuk dengan pikirannya tidak menyadari adanya seseorang tidak jauh darinya. Ditutupi bayangan kegelapan, tubuh itu bergerak licik mendekati Jin.


Jin melihat kosong ke depan. Jin masih tenggelam dalam pikirannya, sampai sebuah sapu tangan menutup hidung dan mulutnya. Jin ingin melawan, namun sepertinya dosis obat bius dalam sapu tangan lebih banyak dan dia menjadi lemas dalam waktu lebih cepat.


Jin mengingat, dia menurunkan kewaspadaannya ketika dia sampai di tempat ini


Dia menurunkan kewaspadaannya ketika mengingat Agni. Jin memikirkan Agni lagi dan semakin ingin bertemu.


Bersama dengan keinginan, mata Jin terpejam dan dia tidak bisa merasakan sekelilingnya.


[Nyonya, nyonya...]


Agni membuka mata dengan malas ketika dia mendengar sistem. Agni beranjak dari tempat tidur dan menuangkan air di meja.


‘Foxy? Kemana saja kamu?’


[Nyonya. Ini darurat. Saya akan memberitahu Anda secara singkat. Dunia ini rusak. Dunia akan merekonstruksi kembali bagiannya dan memilih protagonis utama baru. Karena protagonis diganti. Anda akan segera meninggalkan dunia ini]


‘Oh? Kenapa ganti? Hanya begini.’


[Nyonya, protagonis yang sudah kita ketahui bukanlah protagonis pilihan dunia. Dia adalah protagonis yang muncul karena jalan protagonis sesungguhnya hilang. Dan nyonya. Anda masih harus menyelamatkan target. Jika dia mati, keseimbangan dunia akan berguncang]


Agni, yang baru saja merasa semua baik-baik saja: ‘…..’


WTF! Jangan katakan padanya!!!


Sialan!!!


Agni mengabaikan tubuhnya yang belum sembuh sempurna dan bergegas menuju lokasi yang diberikan sistem.


Agni menggunakan sepeda motor yang ada di depan rumah Kuma. Ketika dia akan pergi, Kuma muncul dan menghentikannya.


“Bocah! Apa yang kamu lakukan. Ingin mati?!”


Kuma melihat Agni dengan balutan perban merah menjadi sangat kesal. Gadis ini tidak bisa menghargai hidupnya.


Jujur saja, dari segi dimana mereka menilai Agni, Jin dan Kuma benar-benar ayah dan anak.


Agni mengerutkan kening. Dia benar-benar tidak suka dengan pria ini. Kuma akan muncul dimana-mana. Jika dia tidak mengejeknya, dia akan mengomelinya. Yang tidak tertahankan.


“Anakmu, di pelabuhan timur kota. Sekarat dan butuh bantuan.”


Kuma melihat kosong pada Agni. Kemudian ada senyum main-main dan tidak percaya diwajahnya.


“Apa katamu?”


“Aku harus pergi dan menyelamatkan Jin!!!


Jika kamu tidak ingin anakmu mati. Aku harap kamu juga bergegas.”


“Nak, kamu serius”


Persetan! Untuk apa Agni menghabiskan banyak waktu mengobrol. Melihat senyum main-main di wajah Kuma. Agni sangat ingin memukulnya.


“Hei nak, Agu. Tunggu se.……”


Agni dengan tegas mengabaikan Kuma dan mengendarai sepeda motor dengan tergesa-gesa ke pelabuhan timur.


Sebuah gudang yang ditinggalkan di sudut pelabuhan. Tempat itu terlihat rapuh dan reot dengan banyak hewan pengerat. Jin merasakan tangannya tidak bisa bergerak dengan bebas dan matanya di tutup kain gelap. Jin menghembuskan nafas keras. Tidak pernah Jin berpikir menghadapi situasi seperti ini dalam hidupnya. Jin dengan tenang mulai mencoba melepaskan ikatan pada tangan.


Wajahnya menjadi hitam ketika dia sadar tali itu lebih sulit dari yang dia kira.


“Jin!!”


Mata Jin yang tertutup kain bergetar. Jin mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar dari jauh.


‘Foxy, kemana?’


[Melewati dua belokan didepan, setelah itu anda harus pergi ke kanan]


Agni mengikuti saran sistem dan sampai di depan sebuah gedung. Agni dengan santai membuka pintu gudang timur dan pupil matanya menyusut.


Agni menemukan seseorang duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat kebelakang dan mata ditutup kain hitam. Tampak lemah dan tidak berdaya.


“Hahahaha, lihat siapa yang datang. Tentu saja, kondisimu tidak akan baik.”


Suara itu tiba-tiba melayang ke pendengaran Agni dan Jin. Agni melihat ke atas dan menemukan seseorang berdiri dengan bantuan sebuah tongkat jalan. Agni mengeluarkan suara marah dari sela-sela giginya.


“Morizawa”