Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Movie Actors Hidden Boss (25) Finale



Pada awal Maret, musim semi terasa dingin.


Di musim semi, hujan deras menetes, uap air berkabut naik dari pegunungan Gunung, dan seluruh pemakaman dibawah gunung diselimuti kabut, seperti tempat mistis dengan banyak misteri.


Beberapa mobil berjejer diluar. Terlihat banyak orang yang berkabung menggenakan pakaian resmi. Bahkan beberapa orang diantara mereka terlihat tidak terawat dan terburu-buru untuk datang.


Proses pemakaman itu berlangsung lama. Banyak pelayat yang memberikan bunga sebelum pergi. Beberapa orang tua menangis seolah tidak percaya.


Saat hujan semakin deras. Pemakaman mulai menjadi sepi.


Seorang pria muda sedang memegang payung di tangan kanannya, mengenakan setelan jas hitam biasa, dengan sebuah rangkaian bunga di antara lekukan lengan kanannya, menyaksikan batu nisan baru didepannya sambil berpikir.


Ciri wajah pria itu heroik, kulitnya dingin dan putih seperti lemak, bibirnya merah terang tidak bertitik memiliki kesan pucat, dan temperamennya halus dan abadi.


Dia mendekat ke makam dan meletakkan bunga di tangannya.


Senyuman tipis muncul di mata indah Jordan, dan jari-jarinya yang seperti giok di tangan kirinya membelai batu nisan, bergumam pada dirinya sendiri: "Sepertinya, kita masih tidak bisa bersatu di kehidupan ini."


Saat ini, beberapa pemuda menghampirinya. Dia mengetahui mereka, Reza, Anggie dan Norman. Norman masih menggunakan baju militer saat menariknya tiba-tiba. Dia berdiri menghadap mereka bertiga.


Jordan melirik Reza. Reza memiliki wajah minta maaf saat ini. Jordan menghela nafas dihatinya.


Tidak ada pilihan lain.


Dia hanya diam, dia ingin tau apa yang dilakukan Norman. Benar saja, Norman tiba-tiba melayangkan pukulan ke wajahnya.


"Ini kamu. Ini semua karena kamu!"


Jordan terbanting di sebelah makam Agni. Dia tidak melawan. Dia hanya menunduk. Saat dia melihat keatas. Matanya merah, lingkaran hitam kurang tidur sangat jelas dimatanya.


"Ya, ini salah ku. Ini salahku."


Mata merah Jordan kembali meneteskan air. Dia menunduk dan menangis menyalahkan dirinya sendiri.


Norman dan Anggie terkejut. Mereka sudah mendengar dari Reza bagaimana pria ini berusaha melompat mengikuti Agni saat kejadian itu terjadi. Mereka pikir itu hanyalah kebohongan Reza. Apalagi, mereka mendengar bahwa hampir seluruh hak waris milik Agni diberikan pada Jordan. Mereka merasa Jordan hanyalah artis licik seperti kebanyakan.


Mereka tidak menyangka akan melihat Jordan jatuh dan menerima semua tuduhan.


Norman menjadi sedikit terdiam. Sebagai seorang militer, dia memiliki garis bawah dan keadilan. Dia memang sangat marah dan banyak berpikiran buruk pada awalnya. Tapi, setelah semua berlalu. Dia meras sedikit buruk.


Reza saat ini maju.


"Tapi jika bukan untuk menyelamatkan aku, dia tidak akan berakhir buruk. Jika bukan karena aku, dia tidak akan datang ke tempat itu. Dia tidak perlu, dia tidak perlu pergi seperti ini."


Jordan tersedak saat bicara. Dia tiba-tiba berlutut disebelah makam Agni.


"Reza, kamu seharusnya tidak menghentikan aku saat itu."


Jordan mengucapkannya dengan suara rendah. Ini benar-benar apa yang dipikirkan Jordan. Sekarang, dia harus menunggu beberapa saat sebelum dia bisa pergi menemuinya. Jika dia mengikuti Agni saat itu juga, dia bisa langsung bertemu dengannya.


Sekarang, Jordan tidak tau apakah gadis itu sudah mulai menemukan dirinya di kehidupan lain.


Anggie melihat kesungguhan dimata Jordan saat mengatakan itu. Dia terkejut dan mengikuti disebelah Reza.


"Dia menyelamatkan mu bukan untuk membuat mu membuang nyawa dengan percuma. Jangan pernah berpikir hal aneh."


Jordan diam. Dia menghela nafas sebelum berbalik. "Kamu benar. Maafkan aku."


Mereka merasa itu tidak masalah. Mereka berbicara sebentar sebelum pergi. Norman juga maju dan meminta maaf karena impulsif.


Mereka kemudian pergi meninggalkan Jordan sendirian.


Jordan menghela nafas. Dia menekuk salah satu lututnya di sebelah makam.


"Hei, lain kali, jangan pergi terlalu cepat. Sangat susah menangkap mu."


Dia membelai batu nisan itu sebelum berdiri. "Tunggu aku."


--End MAHB


Hehehe, akhirnya Arc 2 selesai [Tabur bunga.jpg]


Terimakasih telah mengikuti cerita ini sampai sekarang. Dengan rendah hati, Shi mengharapkan dukungan dari pembaca.


Salam


Semoga cerita ini semakin menarik.


Ps. Ada satu lagi nanti