Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Dragon King Doesn't Married (12)



Pertama kali dalam seluruh hidupnya, Agni menerima pelukan putri dari seorang pria. Dia berkedip beberapa kali. Dia merasa sedikit aneh saat melihat pria ini. Sedikit akrab dan tidak pada saat yang bersamaan. Pria ini terlihat sedikit mirip dengan Reka, namun itu juga tidak bisa dibilang mirip. Pria ini memiliki mata vertikal seperti seekor ular. Tubuhnya memancarkan hawa dingin yang mengerikan. Agni tiba-tiba berkata. "Suku Ular?"


Pria itu terkekeh pelan. Dia membawa Agni bersembunyi di batu paling besar dengan celah kecil. Dia menurunkan Agni ke tanah dengan perlahan.


"Ini bukan pertemuan kembali yang menarik."


Hm?


Agni memiliki wajah bingung. Kenapa dia merasa pria ini mengenalnya. Tapi, prilaku pria ini sangat terkendali, Agni tidak bisa menebaknya. "Kamu?"


Apakah kita saling kenal.


Bar tersembunyi di panel sistem kembali melaju. Bar yang terlihat kosong dengan titik cahaya, sekarang menunjukkan isi yang mencolok. 1/10 bar terlah terisi.


Sistem yang tertutup tirai hitam juga melihat ini. Dia terkejut dan bingung. Sebelum dia mengetahui bar apa ini, dia tidak akan pernah mengatakan apapun ke Agni.


Namun aneh, sebelumnya dia masih bisa berkomunikasi dengan Agni, kenapa sekarang tiba-tiba terputus.


"Aku Hybrid, seorang dari suku Ular. Bagaimana dengan mu, nona muda?"


"Duyung." Agni bicara perlahan, saat ini dia tidak tau situasinya. Dia tidak bisa mengatakan identitasnya dengan mudah. Dia tidak tau apakah orang ini ada di pihak mana. Jik orang ini berbeda disisi Raja Iblis, dua


"Bagaimana kamu ada di tempat ini?"


"Troll menangkap ku saat aku dalam wujud ular."


"Jadi kamu ular yang dimaksud." Ular itu hanya tersenyum sebagai jawaban.


Sangat misterius. Apa dia pikir itu menarik.


Dia, Agni, tidak akan pernah tertarik dengan makhluk semacam dia.


"Oh, benar. Apa kamu tidak ingin keluar dari sini?" Agni mulai mendapatkan kembali kekuatannya. Dibawah kakinya, banyak bercak air mulai terlihat. Agni menghela nafas nyaman.


"Mungkin."


Jawaban macam apa itu!!


"Ikan? Ikan, dimana? Teman, Troll."


Agni terkejut dan mengerutkan kening. Dia berdiri akan keluar. Tapi ular itu menghentikan dia. "Dia akan memakan mu."


"Tidak." Agni menyingkirkan tangan pria itu. Dia dengan tegas keluar.


Agni membuat air di bawah kakinya untuk membuat menara es yang sangat tinggi. Dia berhadapan sejajar dengan Troll besar itu.


"Troll."


"Ikan!!"


Troll itu memiliki mata berseri-seri. Dia seperti anak kecil yang bertemu temannya. Atau mendapat mainan baru?


Agni menghela nafas lelah. Dia dengan tenang bicara. "Aku harus pergi. Aku memiliki banyak urusan untuk dilakukan. Jangan memakan ku, jangan menghalangi ku."


"TIDAAKKK!!" Troll menjadi marah, dia mengayunkan tangannya mencoba menghancurkan menara es Agni. Agni tenang, menara es dibawahnya membentuk banyak duri tajam.


"Diam." Kata Agni kesal. Troll yang mengeluarkan cairan biru di tempat dia tergores menangis dengan sedih.


"Ikan jahat, ikan nakal."


Agni merasakan pelipisnya berdenyut. Dia menghela nafas beberapa kali. Saat ini, ular hitam muncul dibelakang Troll. Dia mengeluarkan suara desis. Troll bodoh itu berbalik dan melihat ular hitam besar di belakangnya.


"Ular!??" Dengan mata kebingungan, dia melihat kembali ke Agni, "Kenapa Ular?"


Troll merasa bahagia karena berpikir ular yang dia tangkap kembali dengan sendirinya.


Melihat Troll dialihkan, Agni tidak banyak berpikir. Dia menggerakkan air mengelilingi Troll. Dia mengendalikan air untuk mengelilingi Troll, lalu dengan mudah dia membekukan Troll dari kaki sampai ke kepalanya. Saat Troll membeku sempurna, Agni menghela nafas lega.


Dia tidak memiliki maksud jahat. Dia hanya ingin pergi dari gua. Jika Troll itu ada, kecil kesempatannya keluar dari sini. Apalagi, dia tidak tau apakah Troll ini benar-benar tidak akan memakannya.


Hybrid ular tadi benar untuk merasa waspada dengan Troll.


Ular itu bergerak maju. Agni mundur satu langkah. Saat ingat dia masih di udara. Dia menghembuskan nafas pelan. Tapi dia lupa, ular adalah makhluk fleksibel yang bahkan bisa masuk ke mesin mobil. Ular itu melata melalui bebatuan, saat Agni sadar, dia berhadapan dengan kepala ular itu. Mata mereka saling memandang.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Bu, dia takut ular. Agni mundur sampai kehilangan pijakan. Dia tidak berhasil menggapai es di dekatnya, melihat tanah yang sangat dekat, dia merasa kali ini adalah akhirnya. Tapi, rasa sakit tidak datang.


Hybrid ular kembali menjadi manusia. Dia kembali memeluk Agni didepan tubuhnya. Dia tersenyum hingga matanya sedikit menyipit. "Kamu sangat senang terjun dari ketinggian?"


Agni melihat pria itu perlahan. Dia dengan cepat mendorong tubuh orang itu.


Dia takut dengan ular. Bahkan manusia ular yang terlihat tidak berbahaya masih menakutkan.


"Tolong, Tuan, Pangeran, Yang Mulia, lepaskan aku." Kata Agni ketika dia masih ada di pelukan manusia ular itu.


Manusia itu terkekeh disela-sela bibirnya. Dia dengan tenang kembali menurunkan Agni. Tapi Agni langsung mundur menjauh.


Ular itu mendekat dan Agni menjauh. "Nona duyung, aku Sani. Aku tidak akan menyakiti mu, sungguh. Jangan takut, ya."


"Aku tidak takut pada manusia." Aku takut pada ular!


Agni menghela nafas dan mencuci pikirannya sendiri berulang kali. Setelah beberapa saat, dia akhirnya melihat orang ini sebagai manusia.


"Bisakah, bisakah kamu tidak berubah menjadi ular lagi."


"Tentu."


Keheningan berlangsung diantara mereka selama beberapa saat. Agni kemudian berkata, "Haruskah kita keluar?"


Sani mengangguk. Mereka berdua keluar dengan tenang melalui celah batu. Celah batu itu dibuat oleh Agni dengan melakukan korosi menggunakan air di bebatuan itu.


Agni tidak mengerti kenapa, tapi dia membiarkan Hybrid ular itu mengikutinya. Dia tidak tau, 7 jam setelah perjalanannya, es di tubuh Troll mencair dan hancur. Troll itu melihat jejak tanah dan mengikuti Agni dari kejauhan.


Sementara itu, malam di istana kekaisaran, Feru dan Reka berada di atas atap, menyamar dengan lingkungan sekitar. Mereka sedang mencoba mendapatkan informasi.