
Pagi kembali datang ke bumi. Jin membuka matanya ketika jam alarm didekatnya berbunyi. Sekarang pukul 6. Dia biasanya akan lari atau melakukan sedikit peregangan sebelum kembali ke tempatnya dan makan. Tapi kondisinya tidak memperbolehkan dia banyak beraktivitas.
Jin hanya mengeluh dalam sunyi. Kakinya belum sempurna. Dia masih menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Dengan hati-hati, Jin masuk ke kamar mandi. Jin perlahan melepas baju dan melihat lukanya yang sudah membuat kerak.
Dia tidak banyak melakukan hal selain sedikit membersihkan dan menggosok gigi. Dia keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk melilit tubuhnya dari pinggang sampai lutut. Jin tidak memiliki kebiasaan mengganti baju di kamar mandi. Semua bajunya ada di kamar dan dia tinggal sendirian.
Kali ini juga sama. Jin dengan santai berjalan ke lemari saat dia melewati tempat tidur besar miliknya dan melihat seseorang tengah menggulung selimut Jin ditubuhnya.
Gadis itu sepertinya merasakan gerakan dari kamar mandi. Dia membuka matanya perlahan dan berhadapan dengan tubuh setengah bugil Jin.
Wajahnya tiba-tiba berubah warna menjadi tomat matang.
"P-pa-pagi. Sarapan sudah siap. A-aku akan menunggu di luar."
Gadis itu dengan sigap melepas selimut dari tubuhnya dan lari tergesa-gesa seperti ada yang mengejar.
Jin juga tidak kalah terkejut. Wajahnya juga tidak kalah dari gadis itu. Bahkan jika dia berusaha tenang. Telinganya masih menunjukkan rona merah. Jin menarik nafas dalam-dalam.
Dia baru saja sedikit mandi. Tubuhnya yang dingin dengan jelas berubah. Dia bisa merasakan tubuhnya menjadi sedikit panas. Jin mendesah dan dengan cepat mengganti baju. Dia berada di kamar cukup lama sebelum akhirnya keluar.
Sekilas setelah keluar, dia melihat wajah gadis itu kembali normal. Gadis itu duduk di sofa dengan mata terpejam.
Jin tinggal sendiri di lantai 13 sebuah bangunan apartemen. Gedung apartemen ini merupakan hasil investasi ibunya. Setelah investasi berhasil, Ibunya memutuskan membeli Lantai 11 sampai 15. Oleh karena itu, apartemen ini kosong dari lantai 11 sampai 15 selain lantai 13 miliknya.
Semua area ini juga sudah dalam nama Jin. Jin tidak tau apa yang dipikirkan ibunya. Ketika dia ingin mulai hidup mandiri. Ibunya dengan mata sedih dan susah mengirimnya ke sini. Dia mengatakan banyak hal agar Jin menjaga diri baik-baik. Selain itu, Ibunya juga mengatakan agar Jin meminta uang ketika habis.
Keesokan harinya. Ibu Jin memberi dia sebuah sertifikat kepemilikan dari 5 lantai apartemen mewah ini.
Jin membangunkan Agni sedikit sebelum makan bersama. Setelah selesai makan, Agni tidak meninggalkan meja. Jin juga mengikuti dan tidak meninggalkan meja. Dia duduk berhadapan dengan Agni.
Agni kemudian menyerahkan sebuah kunci. Dan Jin tidak bisa lebih mengenal kunci itu karena kunci itu adalah kunci apartemennya.
"Jin, ini kunci apartemen mu. Aku tidak bisa kemari lagi. Kamu juga sudah hampir sembuh sempurna. Jadi ini."
Jin hampir terbatuk-batuk karena ludahnya sendiri. Dia tidak bisa menolak karena faktanya memang seperti itu. Dia dengan kaku menggambil kunci dari depan Agni.
Jin tiba-tiba linglung dan merasa kosong. Dia bahkan tidak sadar kapan Agni meninggalkan dirinya sendiri.
Setelah beberapa minggu kemudian. Jin melepas gips dan tidak memakai tongkat lagi.
Dia sudah masuk sekolah secara normal. Sekolah juga memasuki musim dingin sehingga dia memakai lebih banyak baju.
Jin memakai lift untuk naik ke lantai apartemennya. Setelah tiba di lantai 13, tubuhnya terdiam sejenak. Dia dengan kaku melihat seorang gadis didepan pintu apartemen. Dia melihat gadis duduk dengan kepala jatuh diantara kedua lututnya di depan sebuah pintu. Terlihat kesepian dibangunan lantai 13 yang sepi dan kosong.
Terakhir kali dia bertemu gadis ini adalah saat memberikan kunci apartemennya. Sekarang melihatnya sendiri di sana. Jin sedikit bersemangat.
“Agu?”
Jin tidak mendapat jawaban da mempercepat langkahnya. Dia melihat Agni dengan wajah merah dan menggigil duduk di sana. Jin tidak bisa mempercayai matanya. Jin menekuk lututnya dan sejajar dengan Agni.
Agni menjadi waspada ketiak merasakan seseorang disekitarnya.
“Hmm??”
[Nyonya, nyonya, tuan rumah. Pria itu datang. Bangun!! Anda bisa membeku jika tetap diam di sana!!]
“Agu, apa yang kamu lakukan di sana?”
Bersamaan dengan suara sistem ada suara laki-laki setengah dewasa terdengar. Dia ingin membuka matanya, tapi tidak bisa. Terlalu berat untuk dibuka. Tapi suara itu membuatnya menurunkan kewaspadaan. Dia mengenalnya, semua baik.
“Hei, Agu.”
Jin dengan bingung menyentuh tangan Agni. Kilasan khawatir terbentuk di matanya. Dia terkejut merasakan tangan tersebut sangat panas. Dia tidak bisa berhenti dan menyentuh kening Agni. Ketika tangannya tersengat, Jin sudah mengambil keputusan. Dia mengangkat Agni dalam gaya putri, berbalik kembali ke lift.
“Sial, bagaimana bisa begitu ringan!”
Jin memiliki mata merah ketika memikirkan apa yang sudah terjadi beberapa beberapa bulan terakhir. Gadis yang sangat kuat, berisik dan suka seenaknya sendiri. Bagaimana bisa begitu kurus dan lemah.
Jin ingat ketika Agni pertama kali datang ke rumahnya.
“Hei, Kuma-san. Seperti yang ku katakan, aku datang untuk merawat mu. Juga, kamu masih menyimpan buku milikku, bukan.”
Dia terlihat seperti anak kecil yang kegirangan ketika melihat PS 7 Virtual Remake di ruangan tersebut.
“Hei, hei, Kuma-san. Mari memainkan beberapa game.”
“Sebenarnya, siapa yang kamu panggil Kuma-san??”
Jin mendekat dan menjebak Agni di antara kedua tangannya. Dia dijebak di sofa sehingga tidak bisa membuat gerakan dan melarikan diri. Dia hanya bisa berhadapan muka dengan Jin.
Jantungnya sangat tenang ketika wajahnya berubah menjadi merah dan dia melihat sekeliling dengan bingung. Engan melihat mata Jin.
“Aku…. Aku...”
“Jin, Shiroyama Aguni, namaku Shirokuma Jin. Asal kamu tau, aku benci kata Kuma dalam namaku. Jadi, jangan panggil aku seperti itu. Cukup Jin, panggil aku Jin.” kemudian aku bisa memanggilmu Aguni.
Jin tidak melanjutkan kata-kata dihatinya. Dia hanya menyimpannya sendiri.
Jin menghela nafas pelan. Dia bisa melihat Agni menatapnya dengan kosong. Mulutnya bergerak tanpa mengeluarkan kata. Jin berkedip dan melanjutkan.
“Lagipula, bagaimana kamu memanggilku seperti itu.”
“Ah? Kuma-san? Anda besar.”
“…. Maaf?”
“Kamu memiliki tubuh besar, tinggi mu bahkan 2 meter. Itu bisa lebih tinggi lagi kan. Juga, wajahmu.... Itu.… Yah, lucu, keren. Aku.... Aku mengingat panda setelah melihatmu. Saat itu aku tidak tahu namamu, makanya aku memanggilmu Kuma-san. Jika kamu tidak suka, aku akan memanggilmu Jin-kun. Bagaimana?”
Permisi, Panda dan Beruang sangat berbeda!! (Kuma dalam bahasa Jepang berarti Beruang)
Sistem yang melihat semua itu merasa bingung. Melihat bagaimana tuan rumahnya berbohong dengan wajah lurus. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Tuannya adalah seseorang yang dilahirkan dengan akting alami!!
Dalam data yang dia berikan, sangat jelas menyebutkan Jin membenci kata Kuma dalam namanya. Semua itu hanya karena ayahnya memiliki panggilan yang sama dikalangan bos dunia bawah. Di dunia bawah, ketika mereka menyebutkan tentang Shirokuma, tidak akan ada yang tau. Namun jika mereka bicara mengenai Kuma, mereka tidak akan bisa menemukan orang lain selain ayah Jin.
“Aku…. Seperti itu?”
“Um”
“Oh, hanya karena itu. Tapi, tetap. Panggil saja aku Jin.”
Oh, pria ini dimainkan oleh tuan rumahnya. Sistem mulai mengumpulkan bunga untuk orang itu. Entah kapan dia menaburkan di makamnya nanti.
“Ya, Jin-kun.”
Waktu berlalu beberapa menit. Jin tiba-tiba merasakan lengannya disentuh. Dia melihat tangga yang menyentuhnya sebelum berbalik ke pemilik tangan.
“Bisakah…. Bisakah kamu pindah. Posisi ini sedikit tidak nyaman.”
Jin mengangkat kedua tangannya dengan refleks. Wajahnya dingin, tapi telinganya berubah warna menjadi merah. Dia berusaha tetap santai namun tingkahnya hanya menunjukkan kekakuan. Tanpa melihat Agni, dia pergi dari ruangan. Jin mengambil minuman dingin sedangkan Agni hanya duduk melihat punggung Jin.
Senyum muncul dimatanya.
‘Foxy, dia sangat lucu.’
Sistem melihat grafik tugas miliknya. Dia menghela nafas susah.
[Lakukan saja asal tugas selesai, nyonya]
‘Tentu saja.’
Jin kembali ke ruangan dengan keadaan normal. Dia mengambil sebuah kaset game sebelum memainkannya bersama.
Kembali ke masa sekarang.
Jin berlari setelah lift sampai bawah. Dia sesekali melirik gadis berani dalam keadaan lemah di pelukannya. Rumah sakit tidak jauh. Dia tidak perlu menunggu taksi untuk mengantar Agni.
Jin hanya sering bergumam.
“Bertahanlah…”