Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
The Boss (9)



Seminggu setelah kepulangannya dari Rumah Sakit. Agni meminta ijin cuti dari sekolah. Dia tidak pulang ke rumah. Ketika pagi, dia akan menjaga rumah Jin dan bermain. Saat malam menjelang, dia akan beralasan pulang tapi tinggal di hotel.


Baru Senin minggu ini Agni kembali masuk sekolah.


Setelah 5 hari, akhirnya hari ini adalah akhir pekan.


Jin masuk ke rumahnya dengan kantong plastik. Banyak makanan ringan didalamnya. Dia berjalan menuju sofa dan menemukan seorang gadis menatap LCD besar di ruangannya. Dia memiliki senyum memanjakan di wajahnya. Meletakkan kantong plastik dan duduk di sebelah gadis tersebut.


“Aku benar-benar tidak berdaya denganmu.”


Agni mengabaikan Jin dan terus melihat LCD dengan fokus.


Jin tidak mengalihkan pandangannya. Matanya masih melihat Agni yang sedang duduk di depan layar dengan joystick ditangannya. Jarinya bergerak cepat dan wajahnya yang mengemaskan sangat serius.


Beberapa hari ini menjadi misterius untuk Jin. Setelah Agni meminta pulang Jin dengan jelas ingin mengantarnya. Tapi dia tidak pmenyangka, Agni bukan hanya tidak ingin pulang. Dia memutuskan tinggal di tempatnya sebentar. Hanya ketika malam datang agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, Agni akan meninggalkan rumahnya. Jin tidak terlalu banyak berpikir. Dia merasa Agni sudah sering bersamanya dan tidak ingin kesepian lagi dirumah.


((Author Note: Male Lead, anda terlalu banyak berpikir! ( ͡° ͜ʖ ͡°)))


Saat ini, waktu sudah menunjukkan senja. Jin ingat Agni selalu mengingatkan dia ketika sudah sore. Dia bisa sangat lupa waktu ketika memainkan beberapa hiburan di rumah Jin.


“Agu, Sudah senja. Tidak pulang?”


Jin mendesah. Dia berdiri dan berjalan ke arah kulkas.


“Agu, aku seorang laki-laki. Bisakah kamu sedikit membatasi dirimu. Sebagai perempuan, bagaimana bisa kamu menjadi seperti ini.”


Agni sedikit mengalihkan pandangan dari layar. Dia melirik Jin yang jauh sebelum kembali ke permainan.


“Apa maksudmu, Jin?”


“Kamu, jika datang ke rumah seperti ini. Aku akan berpikir kamu menyukai ku.”


Agni, yang sedang melawan bos level: “…..”


Tunggu, apa yang baru saja dia dengar?


Agni tertawa terbahak-bahak di hatinya. Wajahnya masih dengan tenang melihat layar namun senyum diwajahnya tidak bisa di sembunyikan.


Dia sengaja menghela nafas panjang dan bersikap manja seperti anak-anak.


“Eeeehhh, tapi aku menganggap Jin-kun sebagai kakak laki-laki ku.”


Jin tiba-tiba mengerutkan kening. Entah bagaimana, dia tidak suka di sebut kakak laki-laki oleh Agni. Dia tidak menolak mengakui kata-katanya baru saja memiliki motif tersembunyi. Tapi mendengar Agni mengatakan 'kakak laki-laki' dengan fasih. Jin merasa giginya sangat gatal dan ingin memukul sesuatu.


Dia benar-benar tidak mau dengan judul itu diantara dia dan Agni.


Agni berkedip dengan bodoh. Dia hanya meluangkan sedikit waktu untuk menanggapi Jin. Bagaimana dia bisa kalah. Agni melihat informasi karakter dari bos level. Setelah membaca semuanya, dia melihat sesuatu yang salah. Bos level tidak memiliki teknik penyembuhan HP. Tapi bos yang dia lawan tadi sangat sulit untuk menempatkan pukulan. HP mungkin berkurang, namun ketika hanya sedikit berkurang, itu akan bertambah seolah-olah tidak pernah berkurang.


Bug, pasti itu Bug pada game. Agni melambaikan jari tengah dihatinya pada development game.


Bajingan!!


Dengan nada manja dan centil yang belum hilang. Dia berteriak pada Jin yang masih sibuk dengan pikirannya.


“Lagi?!! Aaahhh, Jin, bantu aku mengalahkan monster sialan itu.”


Jin yang masih dalam perasaan rumit menghela nafas. Lupakan saja, dia banyak berhutang dengan gadis ini.


“Berikan padaku.”


Agni meraih snack yang tidak jauh darinya. Snack ini yang baru dibeli Jin. Beberapa lainnya sudah disimpan di kulkas. Agni mulai fokus melihat permainan Jin.


“Hei, Jin. Kenapa kamu sepertinya tidak menerima ku dirumah mu?”


Jin sedang minum air ketika Agni bertanya. Karakter di game itu sedang berlari menuju tempat lainnya. Masih ada beberapa jalan sebelum bertemu bos level.


Dia terbatuk-batuk dan melambaikan tangannya mencoba meraih air.


Siapapun bisa menolak dan tidak menerima Agni. Tapi bukan dia. Dia tidak akan pernah menolak gadis disebelahnya.


“Kapan aku menolak mu?”


“Ya, bukankah kamu baru saja mengusirku.”


Jin, yang sadar pertanyaannya menyebabkan Agni salah paham : “….”


“Aku salah. Aku tidak mengusirmu. Mari selesaikan permainan ini sebelum pulang, Okay?”


Agni menganggukkan kepala. Dia berdiri dan mulai mengambil beberapa buah dari kulkas. Dia menggunakan pisau untuk mengupas kulit sebelum memotong dan menyajikan buah untuknya dan Jin.


Jin memasuki pintu bos level. Merasa suasana sedikit sepi. Jin memulai pembicaraan.


“Oh, ya. Kenapa kamu ada di depan pintu ku saat itu.”


“Hah? Kapan? Oh, saat aku demam? Yah, Sembunyi.”


“Hah!??”


Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Setelah berpikir, siapa yang bisa ku minta bantuan selain kamu? Makanya, beberapa hari yang lalu setelah dari sekolah aku langsung kemari. Aku pikir ingin menginap disalah satu rumah apartemen disini.


Hmm, siapa yang tau. Jin-kun sangat sibuk dan membuat ku menunggu berjam-jam.”


Agni masih memegang pisau dan buah. Matanya melirik Jin menunggu responnya. Meskipun lambat, itu tidak mengecewakan.


“Maaf….”


Jin meminta maaf sebelum akhirnya sadar dengan semua kalimat Agni. Kata-kata terakhir Agni membuatnya merespon secara refleks. Tapi ketika dia fokus pada kalimat pertama Agni. Jin bahkan tidak sadar game yang dia mainkan berada di posisi kritis. Kepalanya terus berputar dengan kalimat, ‘Seseorang mengawasiku’, ‘siapa yang bisa ku mintai bantuan selain kamu?’


“Jin, jin, Awas!! Hei, kamu juga ditelan monster.”


Jin bahkan tidak peduli dan meletakkan joystick ditangannya dengan keras. Dia berdiri dan menaruh kedua tangannya ke masing-masing bahu Agni. Matanya khawatir, tubuhnya bergetar takut. Dia tidak tau, dia tidak ingin Agni mengalami hal yang sulit. Dia pikir Agni kesepian, tapi bukan itu masalahnya.


((Author Note: Sudah kubilang ¯_(ツ)_/¯))


Dia melihat Agni dengan tatapan rumit. Tangannya di bahu Agni semakin kencang. Meskipun ada sedikit kebahagiaan karena dia memikirkannya setelah ada masalah. Jin masih tidak sanggup menerima jika Agni memiliki bahaya.


“Agu, seseorang benar-benar mengawasimu?”


“Uh, ya memang.”


“Sejak kapan?”


“Kalau sejak kapan…. Aku tidak memperhatikan. Seseorang yang aku hentikan dan tanyai mengatakan kalau dia sudah mengawasi ku sejak kematian kakek. Hanya saja, akhir-akhir ini semakin bertambah. Makanya aku sedikit menyadarinya.”


“Kakekmu??”


Jin mengingat kembali semua data yang dia dapatkan mengenai Agni. Dia memang memiliki kakek yang baik dan penyayang. Kakek Agni sering dipanggil kakek Takahashi. Namun, saat Agni akan memasuki bangku SMA, kakeknya meninggal.


Takahashi.…


Jin merasa nama ini sedikit familiar.


Tiba-tiba Jin memiliki pikiran mengerikan di kepalanya. Tangannya di bahu Agni mengendur secara tidak sadar.


“Kakekku? Ada apa dengannya?”


“Siapa…. Siapa kakek mu?”


“Eh, Biarkan aku memikirkannya sebentar.


Kakek dipanggil Takahashi.Oh, namaku ikut dengan kakek.l, sama dengan ibu. Shiroyama Aguni dan Shiroyama Takahasi.


Kakek orang yang baik. Dia mengajar Taekwondo dengan sabar dan sungguh-sungguh. Aku awalnya baik-baik saja. Tapi sejak kakek meninggal semua menjadi seperti itu. Mereka bilang kalau orang-orang membuang ku ke gedung malam karena kakek. Tapi aku tidak percaya.


Anehnya, Paman Gin selalu memanggil kakek, Pak Tua Kuro. Atau Kuroyama Bos. ”


Agni mengambil joystick dan tidak melihat perubahan di wajah Jin. Dia hanya mengatakan narasi seolah-olah bukan kakeknya yang dia ceritakan.


[Nyonya.…]


‘Hmm?’


Tidak! Bagaimana tuan rumahnya bisa begitu acuh!! Sistem bahkan tidak tau Paman Gin dan Kuroyama yang dikatakan Agni.


Sistem juga melihat, setelah beberapa saat tuan rumahnya datang perkembangan dunia menjadi sedikit aneh. Sistem tidak tau apa yang salah. Hanya dunia sepertinya sedikit bergeser. Meskipun itu jelas bukan hal yang buruk. Itu juga belum tentu hal baik.


Sistem tidak ingin mereka mengalami kegagalan tugas. Dia percaya pada tuan rumah ini kuat. Tapi dia tidak bisa membimbingnya dan mungkin membuat mereka gagal. Jika dia dipisahkan dari tuan rumah ini, dia hanya akan menjadi rongsokan.


‘Kurasa aku menebak pikirkanmu. Tapi tenang saja, aku tidak akan menyebabkan dunia hancur.’


Sistem: [….]


Meskipun dia merasa tidak nyaman dengan apa yang dikatakan tuan rumahnya. Dia tidak bisa membantah. Faktanya, tidak ada yang salah dari kata-kata Agni.


Sistem mulai berdoa agar tidak terjadi kecelakaan dan semua berjalan lancar.


Sistem yang malang, dia tidak tau bahwa Agni yang merasa direndahkan sejak awal karena di buang ke tempatnya sedang membalas dunia sistem. Dia akan menemukan setiap celah untuk menentang tugas dari sistem pusat.


“Aguni, kenapa kamu tidak pernah memberitahu ku? Tidak, ini bukan kamu menyembunyikannya. Tapi kamu juga tidak tau.”


“Eh? Apa?”


“Apa kamu tau siapa kakekmu?”


Jin benar-benar tidak berharap sama sekali. Bagaimana kehidupan Agni satu tahun setelah kematian kakeknya sangat jelas bagi Jin. Meskipun dia tidak melihatnya secara langsung. Siksaan yang dia terima dan bagaimana dia bertahan diketahui oleh Jin.


Meskipun Jin ragu, mengapa dia yang selalu bertahan kemudian melepas sifat dan membantunya. Mendekatinya dan bersama seperti sekarang.


“…. Hmm~ Kakek yang baik bagiku?”


Jin menghela nafas. Apa yang dia harapkan dari seorang gadis yang tidak pernah menyentuh dunia bawah. Dunia kotor dengan banyak hal menjijikkan itu. Jika bisa, dia tidak ingin Agni tau. Tapi situasinya, dia tidak bisa membiarkan Agni dalam kegelapan dan tidak mengetahui apapun.


“Darimana kita mulai. Mengenai Yakuza saat ini dan bagaimana peran kakekmu. Aku akan memberi tahumu semuanya. Kamu harus menjaga diri baik-baik setelah itu.”