
Acara itu sudah dimulai selama beberapa saat. Tapi Agni sangat malas untuk masuk dan bersosialisasi. Dia masih di parkiran bawah tanah. Melihat beberapa orang yang masuk menggunakan lift biasa atau khusus untuk naik. Agni merasa kebosanannya bertambah.
Agni bahkan bisa menghitung jumlah orang yang masuk gedung menggunakan lift khusus. Dan rata-rata orang itu adalah kenalan bagi tubuh aslinya. Agni menghela nafas.
Tujuannya ke tempat ini adalah menyelamatkan Jordan dan berusaha mengikat Jordan disisinya.
Memang, kematian pemilik asli tidak memiliki penyesalan. Pemilik asli sangat bersyukur karena Jordan berhasil menyematkan dirinya saat terakhir dan meninggal dengan tenang. Tapi Agni tidak. Setidaknya, dia harus melihat hasil jerih payah tubuh asli benar-benar digunakan dengan baik oleh Jordan.
Entah pemilik asli mengharapkannya atau tidak. Agni akan berusaha membuat impian pemilik asli untuk meletakkan bunga baru dimakannya dari waktu ke waktu terpenuhi.
Sistem sudah memberikan informasi tentang orang yang berhubungan dengan Dimas. Dan orang itu adalah orang yang sama dengan orang di depan lift. Mengingat orang yang hampir mirip dengan Jordan. Agni menghela nafas lagi. Dunia ini, mungkin tidak menarik seperti yang dia pikirkan.
Melihat jam lagi, Agni mengalihkan pandangan pada tempat parkir yang sepi. Acara mungkin sudah hampir pada puncaknya. Agni kemudian membuka pintu mobil dan menuju lift khusus. Untuk menggunakan lift khusus, Agni harus menggunakan kartu VIP dari hotel.
Agni dengan tenang mengeluarkan kartu dan menunggu lift terbuka. Saat lift terbuka, Agni melihat seorang gadis tergesa-gesa berjalan ke lift. Agni mengenal gadis itu. Itu adalah gadis yang seharusnya tidur dengan Jordan malam ini. Agni menyipitkan mata. Bagaimana artis yang tidak terkenal ini bisa masuk hotel tanpa undangan dan siapapun bersamanya.
"Anu, permisi. Bisakah saya naik dengan anda?"
Wow, gadis ini sangat sopan. Agni sedikit mengangguk dan masuk terlebih dulu ke lift.
Laura, gadis itu, merasa sangat luar biasa. Ini pertama kalinya dia melihat wanita yang lebih cantik daripada dia. Dan bukan hanya itu, wanita ini juga sangat baik. Awalnya Laura merasa iri dengan wanita cantik itu. Wajah dan bentuk tubuhnya sangat indah, membuat laki-laki manapun ingin menatapnya. Dan dengan postur dan sikap yang sempurna, Laura tau wanita ini bukanlah wanita biasa. Dia mungkin istri kaya atau anak dari orang kaya. Namun sikapnya sangat baik. Dia tidak merendahkan Laura atau bersikap sombong. Sangat rendah hati. Rasa iri karena wajah Agni berangsur-angsur menghilang dipikiran Laura.
Tangannya memegang sebuah kartu kamar. Dia mencengkram kartu itu dengan erat. Malam ini adalah kesempatan untuknya. Dia mungkin bisa menjadi seperti wanita disebelahnya.
Jika Agni tau apa yang dipikirkan Laura, dia mungkin tertawa terbahak-bahak.
Dia rendah hati atau tidak sombong?
Bukan seperti itu. Dia hanya malas peduli dengan kasta dan semacamnya.
Agni melihat gerak-gerik Laura dan langsung menebak tujuannya.
Bukan Dimas yang meminta Laura untuk bersama Jordan. Jelas, Dimas tidak akan mampu memberikan kartu kamar lantai 9 dengan mudah. Dimas tidak memiliki kemampuan itu sekarang.
Agni mengesampingkan pikirannya. Apapun yang mereka rencanakan pada Jordan, itu tidak akan berhasil karena dia ada disini.
Mereka berdua tidak melakukan pembicaraan apapun sampai di perjamuan.
Laura berterimakasih dan masuk ke perjamuan terlebih dulu. Dia tidak bisa masuk dengan Agni. Cahaya Agni terlalu menyilaukan. Laura merasa dirinya akan seperti semut di sebelah matahari.
Agni melihat ini dan tidak pergi dengan tergesa-gesa. Ada sedikit kebosanan dimatanya. Ketika dia masuk ke tempat perjamuan, lingkungan menjadi hening. Mereka melihat ke satu tempat yang sama.
Agni tidak peduli. Dia hanya pergi ke orang tua yang sedang berulang tahun.
"Tuan Tua Jaya, selamat ulang tahun. Saya sudah mengirimkan hadiah untuk anda. Maaf saya terlambat, ada beberapa urusan."
"Eh? Ah, tidak, tidak. Ini adalah kehormatan kami karena anda mau menyempatkan waktu datang."
Keluarga Jaya sangat bersemangat. Kegembiraan merekah di wajah mereka.
Agni ini adalah salah satu tokoh yang paling sulit ditemui di industri. Bahkan presiden suatu negara tidak akan sesulit dia. Tapi itu juga dapat dimaklumi. Agni adalah wanita paling berbakat dan revolusioner yang pernah diketahui dunia. Dia mampu menggunakan strategi dan beberapa cara sederhana untuk menghasilkan uang. Bisa dikatakan apa yang diinvestasikan oleh Agni tidak akan pernah merugi. Banyak orang berbondong-bondong membuat hubungan baik dengannya, namun tidak ada satupun yang bisa melihat wajahnya. Kecuali beberapa bos besar dan terkenal, Agni tidak pernah menunjukkan wajahnya pada khalayak umum. Karena itu, kedatangan Agni membawa banyak manfaat bagi keluarga Jaya. Bagaimana mereka tidak bahagia.
Agni juga mengetahui manfaat kedatangannya. Namun dia tidak mempermasalahkannya. Lagipula, Lelaki tua di keluarga Jaya pernah membantu Ayah pemilik asli. Ini dapat dihitung sebagai membalas budi.
"Wow, ada apa ini. Tiba-tiba tercerahkan untuk bersenang-senang?"
"Alfred, jangan mengatakan itu. Agni mungkin datang untuk urusan penting."
"Kalian berdua anak nakal. Bersikap sopan pada Nona Agni."
"Kakek Jaya, tenang saja. Kami juga sudah mengenal Agni."
"Meski hanya sedikit."
"Benar, hahahaha"
Agni memiliki senyum kecil saat ini. Ini adalah lingkaran sosialnya. Seorang CEO, Presiden dan pemilik perusahaan. Agni mengenal orang-orang ini dari kerjasama perusahaan atau pertemuan penting dengan beberapa orang atas.
Meskipun tidak akrab. Orang-orang ini dapat dipanggil kenalan oleh Agni.
Jika bukan karena orang-orang ini memiliki sikap yang baik meskipun mereka seorang pengusaha. Agni mungkin sudah lama memalingkan muka ketika orang-orang ini mengenalkan seorang putra atau cucu padanya.
Tidak jauh dari tempatnya. Jordan berdiri dengan segelas anggur ditangan. Di depannya adalah Dimas dengan ekspresi mengingat masa lalu.
Agni melirik gerakan di sana sambil sesekali menjawab orang-orang disekitarnya. Ketika Dimas mencoba membantu Jordan berdiri. Agni tau waktunya sudah datang.
"Tuan tua Jaya. Saya sedikit lelah saat ini. Bisakah saya istirahat sebentar."
Lelaki tua Jaya dengan tenang mengangguk. Orang-orang lain juga merasa tindakan Agni tidak aneh. Mampu mencapai hasil saat ini diusia muda. Tentu saja banyak rintangan yang harus dihadapi Agni, dan orang-orang paruh baya ini mengerti.
Namun, mereka menggigit saputangan di hati mereka. Lihat Agni, masih muda mampu mencapai hal-hal yang mustahil. Kenapa anak atau cucu mereka sangat tidak berguna dan hanya memikirkan bersenang-senang. (ノ`Д´)ノ彡┻━┻
Mereka hanya bisa menghela nafas.
Sementara itu, Agni mengikuti Dimas dan Jordan. Mereka menuju lift. Jordan masuk lift sendirian. Wajahnya yang tampan memerah. Dia terlihat gerah dan menawan. Agni menggelengkan kepala.
Fokus. Jangan jatuh pada kecantikan!
Setelah berulang kali menghipnotis pikirannya. Agni kembali melihat Jordan dan Dimas.
Jordan mulai menjalankan lift sementara Dimas menunjukkan wajah palsu penuh khawatir.
Dimas kemudian memanggil.
".... Iya nyonya. Dia sudah naik. Saya memberikan kartu kamar anda padanya... Baik... Ya nyonya... Saya mengerti."
Agni mendengarnya saat Dimas beranjak dari sana. Wajahnya yang tidak tampan menjadi semakin jelek saat ekspresi ganas muncul.
Agni berjalan dan berdiri di pintu lift. Dia memastikan tujuan lantai Jordan.
Dia hanya tidak berharap akan berhadapan dengan Dimas.
"Nona, apa yang kamu lakukan disini? Apakah kamu tersesat? Lelah?"
Agni melirik Dimas dengan ringan. Dimas mengatakan hal-hal itu dengan nada main-main yang sangat memuakkan. Jika buka karena keadaan saat ini, Agni sangat ingin memukulnya. Agni mengabaikannya dan mulai menggesek kartu VIP.
Peduli lebih lama maka dia akan marah sampai mati!
Sistem yang sejak masuk perjamuan diam tiba-tiba bicara.
[Nyonya, orang ini sangat menjijikkan. Melihat anda membuka lift khusus, dia mengubah wajahnya dengan cepat]
Dimas yang diabaikan sangat kesal. Tapi wanita cantik ini ternyata memiliki kartu VIP. Dimas segera mengubah sikapnya. Dengan nada menyanjung dia berkata.
"Nona, apakah anda membutuhkan seseorang menemani anda ke kamar? Jika tidak keberatan saya bisa menemani anda."
[Wow, sial. Beraninya orang ini pada nyonya. Aku akan menggali semua bahan hitam orang ini. Lihat saja, aku akan membalas perilaku tidak sopannya]
Agni mengangkat satu alisnya. Bukan karena Dimas, tapi karena sistem.
Hanya meninggalkannya beberapa saat, sistem menjadi sangat tercerahkan dan mampu melindungi tuan rumahnya. Agni merasa sangat luar biasa.
'Tenang.'
Sebuah kata membuat sistem berhenti. Ada sedikit perasaan tidak rela di dirinya. Bagaimana mengatakannya, dia sudah membela tuan rumahnya, tapi tuan rumahnya seperti tidak peduli.
Seperti seorang anak merajuk. Sistem mencari sudut ruangan dan duduk menggambar lingkaran di tanah.
Agni yang menenangkan sistem tidak diam. Dia berbalik melihat Dimas. Matanya naik turun pada Dimas. Pandangan itu tidak menghina, namun Dimas merasa sedikit aneh dan tidak nyaman.
"Apakah kamu..... Layak?"
Ding...
Lift terbuka dan Agni meninggalkan Dimas begitu saja.