
Waktu terus berjalan dan tidak satupun dari mereka yang bicara. Ryan dengan gugup mengambil ponsel, kadang dia akan melihat keluar dan melirik Agni.
Jujur bicara, dia sama sekali tidak mengenal orang di depannya. Namun dia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Selain itu, dia tidak merasakan sesuatu yang kejam dari wanita ini.
Ini adalah kelebihan Ryan, dia mampu membedakan sifat manusia baik dan buruk. Berkat pendidikan penuh kasih sayang orang tuanya dan pengalaman orang-orang disekitarnya, Ryan berhasil mempertahankan kelebihan ini sampai dia dewasa.
"Permisi..."
Agni baru saja mengucapkan sesuatu dan Ryan dengan gugup mengambil cangkir teh di depannya. Dia ingin meminumnya, tapi teh itu tumpah ke bajunya.
Dia sangat gugup hingga lupa melepas maskernya ಥ_ಥ
Ini sangat memalukan. Dia mengambil sapu tangan dan membersihkan bajunya yang terciprat sendiri.
Ryan memang tidak merasakan pikiran buruk orang didepannya. Tapi dia merasakan penindasan aneh yang sering dia alami ketika bertemu kakeknya.
Tidak, sebenarnya, sejak kecil sampai besar, Ryan sangat minim bergaul dengan seorang perempuan. Selain ibu dan keluarganya yang lain, dia tidak pernah memiliki kontak dengan perempuan. Memang ada beberapa saudara perempuan di keluarga, namun Ryan tidak pernah akrab.
Saat TK, dia tidak memiliki anak perempuan dikelasnya. Dia juga merasa perempuan sangat menyebalkan dan berisik. Kemudian dia melanjutkan sekolah di sekolah khusus laki-laki. Sampai kuliah, dia pergi ke luar negeri. Di sana dia juga tidak mengembangkan hubungan dan fokus belajar. Jadi setelah selesai belajar dan kembali ke rumah, dia hanya bisa mematung saat ditanya tentang pacar oleh ibunya.
Melihat Agni berbeda dari kebanyakan perempuan yang pernah dia temui. Ryan secara tidak sadar gugup.
"Bisakah saya bertanya?"
"Ah? Oh, ya. Tentu, silahkan."
Meski dia gugup, dia tetap seorang direktur umum dari perusahaan besar. Dia mencoba dengan terbaik untuk membuat dirinya kembali terlihat tenang.
"Tentang Jordan. Apakah penculik itu tertangkap."
Ryan terdiam. Kegugupan dan kegelisahan dihatinya hilang. Dia dengan serius melihat Agni.
"Tidak. Kami berusaha mencarinya, tapi tidak ada jejak."
[Nyonya rumah, meski hanya sedikit, bukankah saya sudah menemukannya untuk anda]
'Tenang, Foxy. Aku hanya ingin tau seberapa berguna keluarga Jordan.'
[Dan jika tidak?]
Agni tidak menjawab. Dia hanya saling memandang dengan Ryan.
"Lalu, mengapa tidak mengenali Jordan? Keluarga kalian, hanya untuk sepasang sendok dan piring tambahan tidak mampu memberikannya?"
"Maaf, tolong jangan merendahkan kami. Kami melakukan ini agar Jordan dan keluarga kami juga aman."
"Heh, bukankah hanya untuk memancing umpan."
Ryan terdiam. Melihat senyum menghina di wajah Agni, dia tidak bisa membalasnya.
Itu memang benar. Tapi bukan berarti mereka tidak melindungi Jordan.
"Jika kalian ingin yang terbaik untuknya, mengenalinya adalah langkah yang tepat. Daripada melihat Jordan dalam bahaya dari jauh, lebih baik mengawasinya dari dekat."
Agni menyesap teh didepannya sedikit.
"Aku yakin kalian masih mencari-cari dimana dia tinggal saat ini."
Ryan menunduk. Itu benar. Awalnya dia juga berpikir demikian, namun dia tidak ingin membahayakan semua keluarganya. Jika Jordan masuk, dia mungkin akan membawa sesuatu dari luar yang menyakiti semuanya. Apa yang diketahui Jordan berbeda dari apa yang mereka ketahui.
Untuk membuat keduanya aman, keluarganya hanya bisa melakukan ini.
Sepertinya orang didepannya ini mengetahui dimana Jordan tinggal sekarang. Dia memandang Agni hanya untuk menemukan matanya yang hitam memiliki sentuhan dingin. Dia memiliki wajah yang tersenyum, tapi senyum itu sangat merendahkan. Mulutnya perlahan terbuka. Dia mengeja kata dengan pelan dan jelas.
"Pengecut."
"Kamu!"
Pintu tiba-tiba terbuka dari luar. Orang yang membuka pintu melihat Ryan berdiri sementara Agni duduk dengan tenang.
"Ar, Ardan..."
Jordan baru meminta cuti lebih awal untuk bertemu Agni. Beruntung dia bermain dengan baik sehingga sutradara memberinya ijin. Saat mobilnya datang, dia melihat Yona tidak jauh.
Dia mengenal Yona setelah pertemuan pertama mereka. Sedikit lucu mengingat bagaimana dia meminta tanda tangan saat mereka pertama bertemu, dia sangat terkesan dengan sekretaris yang sangat mengidolakan dia ini.
Dia meminta Asistennya memberitahu pengemudi untuk pergi lebih dulu. Dia menunjuk suatu arah dan asistennya mengerti dengan cepat.
Agen, asisten dan orang-orang disekitarnya berpikir dia memiliki hubungan khusus dengan Agni. Karena perlakuan Agni padanya, banyak bawahan Agni juga merasa mereka adalah kekasih.
Agni tidak pernah membenarkannya. Jordan juga membiarkannya begitu saja. Sehingga kesalahpahaman indah ini terdiri.
Tentu saja, faktanya dia hanya juru masak di rumah Agni alih-alih kekasihnya.
Dia pergi ke pintu dan bertemu Yona. Yona mengatakan bahwa Agni sedang bertemu seseorang. Jordan awalnya ingin menunggu di mobil. Tapi Yona mengatakan bahwa pria yang ditemui Agni sedikit aneh. Jelas dia bukan klien atau teman.
Jordan dengan tegas naik dan mencari Agni. Yona memberitahu nomor kamar sehingga Jordan tidak terlalu kesulitan.
Saat dia akan mengetuk pintu, dia mendengar seorang pria menggedor meja dan berteriak. Jordan langsung membuka pintu. Mendengar orang itu memanggil namanya, Jordan memasang wajah tidak peduli.
"Nona, apakah kamu baik-baik saja?"
Agni meletakkan cangkir teh dan melihat Jordan. Riasan Jordan belum dihapus, ada sedikit keringat karena cuaca panas diluar. Tampilannya heroik dan keren. Namun kekhawatiran di matanya tidak bisa disembunyikan.
"Tidak apa-apa."
Jordan mengangguk. Dia memandang Ryan dengan tenang.
"Anda adalah?"
"Aku, aku, aku Ryan Ardiansyah. Aku, maksudku, kita pernah bertemu."
Jordan mengerutkan keningnya. Sementara Agni mengangkat salah satu alisnya.
Ryan tentu saja tidak akan gugup berhadapan dengan Jordan. Namun kata-kata Agni membuatnya sangat bersalah. Dia tidak tau bagaimana mengahadapi Jordan saat ini. Apalagi dia tidak tau berapa banyak hal yang telah didengar Jordan.
"Banyak yang telah bertemu saya, bagaimana saya bisa mengingat mereka satu persatu."
Jordan menarik tangan Agni dan mulai bicara.
Ryan terdiam. Dia diabaikan dan tidak mempermasalahkannya. Ryan kembali duduk dengan tenang. Dia diam-diam mendengarkan mereka.
"Nona, apakah kita tidak akan kembali, aku sudah meminta ijin pada sutradara."
"Baiklah."
"Apa yang ingin kamu makan?"
"Sederhana saja."
"Nona, aku tadi melakukan adegan jatuh dari gedung. Sungguh, itu perasaan yang sangat baru dan menyenangkan. Bagaimana jika kita melakukannya lain kali?"
"Skydiving? Bungee Jumping?"
"Ya, apapun. Pasti akan menyenangkan."
"Kita lihat nanti."
"Oke. Nona~ kamu ingin kembali ke hotel atau rumah pribadi?"
Ryan tiba-tiba tidak bisa menahannya. Apakah hubungan mereka seperti yang dia pikirkan. Dan wanita ini sangat menjaga Jordan sejak awal. Ryan tidak Banyak berpikir. Dia dengan cepat menyela mereka.
"Kalian, hubungan macam apa?"
Jordan menarik Agni berdiri. Dia tersenyum cerah saat melihat Ryan.
"Bos tersembunyi dibelakang saya. Jadi, jika kalian tidak memiliki urusan, bisakah kami pergi?"
Ryan hanya diam. Mereka saling memandang dan Ryan mengalihkan pandangannya lebih dulu.
Jordan tersenyum dan membawa Agni pergi. Tapi saat sampai pintu, Agni berhenti.
"Kembali dulu, aku ingin mengatakan beberapa hal padanya."
Jordan berkedip. Dia melepaskan tangan mereka yang bertautan dengan sedikit tidak rela. Kemudian dia berjalan keluar. Dia tidak menunggu Agni di tempat parkir, dia menunggunya di ujung tangga.
Ryan yang sedang linglung melihat keluar jendela saat sebuah suara melayang ke telinganya.
"Karena kalian tidak ingin mengenalinya, jangan mengenalinya seumur hidup. Dia adalah orangku, jadi jangan mencoba macam-macam padanya. Hentikan pikiran kalian untuk menjadikannya umpan. Jika tidak, jika sesuatu terjadi padanya, perusahaan GORD, akan langsung menemui akhir."
Ryan mengerutkan kening tiba-tiba. Bagaimana wanita ini bisa begitu sombong. Siapa dia. Apakah dia tidak tau seperti apa perusahaan GORD itu.
"Siapa kamu?"
"Agni Dewi Prasasti, Perusahaan JA."
Agni kemudian pergi meninggalkan Ryan yang memiliki wajah terkejut.
'Karena mereka tidak berguna. Tidak perlu bagi mereka untuk mencoba mendekati target lagi.'
[Anda... Benar.... Nyo....]
Sistem tiba-tiba kehilangan suaranya.