
Siapa dia?
Di mana dia?
Agni merasa sesuatu yang keras menghantam kepalanya. Jelas orang yang baru memanggilnya itu mengenalnya, namun masalahnya di sini, dia manusia.
Manusia yang berpenampilan bersih dan tinggi ini tidak lain dan tidak bukan adalah manusia yang ditangkap.
Pantas saja dia tidak menjawab semua pertanyaan, mengapa dia menjawab para Hybrid ketika dia tidak dipaksa.
Agni merasa kepalanya besar. Ada hal lain mengapa dia sedikit bingung. Dilihat dari penampilan manusia itu, jelas dia seseorang dengan pangkat tinggi. Namun, jika dia memiliki pangkat yang tinggi, mengapa dia mengenal Agni?
Agni mencari-cari di setiap sudut ingatannya, namun tidak ada satupun ingatan tentang orang ini. Sebenarnya siapa?
"Kalian saling mengenal?" Kata Reka dengan curiga.
Hentikan tatapan itu, dia juga tidak tahu.
Panpan yang menuntun mereka juga melihat Agni dengan penasaran.
Agni baru akan menolaknya saat manusia itu berdiri dan mendekatinya. Hal ini membuat banyak Hybrid di sekitar mereka menjadi waspada. Mereka berdiri dan memasang kuda-kuda. Ada beberapa yang sudah membawa senjata di tangan mereka.
"Agni, ini aku, Feru...."
Feru?
Sesuatu tiba-tiba melintas di kepala Agni.
Ini adalah ingatan saat dia masih kecil. Sebelum dia bertemu dengan Raja Duyung Neptunus, Agni pernah pergi ke permukaan.
Saat dia sedang mencoba melihat permukaan, dia bertemu dengan ombak kencang. Dia melihat kapal laut saat itu. Agni yang masih kecil tidak tahu tentang kapal. Karena tertarik, dia mendekati kapal itu. Siapa yang tau, sebelum dia berada sangat dekat, kapal itu terbalik. Seluruh isi kapal itu jatuh ke lautan. Agni bersembunyi di balik ombak ketika dia melihat banyak dari mereka menyelamatkan diri dengan perahu kecil.
Mereka menghindari ombak dan akhirnya bisa pergi ke laut yang lebih tenang. Kembali ke daratan. Namun, Agni tidak mengikutinya. Dia melihat seorang anak kecil, yang tidak memiliki ekor mencoba naik ke permukaan yang penuh ombak. Agni yang masih kecil sangat penasaran. Dia mendekati anak itu. Sebelum dia pergi karena rasa penasaran yang telah terpuaskan, anak itu mengucapkan permintaan.
"Tolong."
Agni tidak tahu apa yang mendorongnya saat itu. Dia menarik anak kecil yang tidak bisa bernafas di dalam air ke daratan. Saat mereka sampai di pantai, Agni terkejut anak itu benar-benar memiliki sepasang kaki. Agni melihat ekornya berulang-ulang sebelum ekor itu berubah menjadi kaki. Di situlah Agni belajar cara perubahan Hybrid menjadi manusia pertama kalinya.
Saat setelah kaki Agni berubah, anak yang dia selamatkan juga memuntahkan air. Perlahan-lahan dia terbangun.
Agni dan Feru bertemu secara resmi.
Feru tahu Agni yang menyelamatkan dirinya. Dia sangat berterima kasih. Namun, dia merasa sangat aneh karena Agni tidak bisa berjalan. Atau lebih tepatnya, dia tidak tahu bagaimana cara berjalan.Feru yang telah diselamatkan tentu saja membantu Agni belajar berjalan. Berkali-kali, berjam-jam, akhirnya Agni bisa berdiri dengan kedua kakinya. Saat itu, Feru akhirnya melihat Agni dengan jelas.
Kulit putih bersinar, rambut biru keperakan seperti laut yang disinari matahari terbit, mata hitam yang mempesona. Feru merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Dia bermain bersama Agni selama beberapa hari, mereka akan makan ikan hasil tangkapan Agni atau buah yang tumbuh di sekitar mereka. Feru selalu mengatakan akan mengajak Agni ke tempat indah dan bersinar lebih dari lautan.
Tempat yang dimaksud Feru adalah istana. Saat dia merasa bahwa dia bisa pergi bersama Feru. Dia dikejutkan dengan rombongan besar pengawal yang mencari Feru. Benar, Feru adalah seorang pangeran. Dia pangeran kedua di Kerajaan Anjaya.
Setelah meninggalkan Feru menemui pengawalnya, Agni kembali ke laut dalam. Mengelilinginya dan bertemu Raja Duyung Neptunus.
"Kamu mengingat aku?" Mungkin melihat wajah Agni yang berubah sejak dia mengatakan namanya, Feru bertanya dengan hati-hati.
"Kamu benar." Ada senyum bahagia di wajah Feru. Feru mendekati Agni dengan senang. "Agni, apa kamu masih ingat janjiku. Aku bisa memenuhinya. Setelah itu, bisakah, bisakah aku menikah denganmu?"
Agni: "....."
Panpan: "...."
Hybrid lainnya: "...."
Reka: "....." (┛◉Д◉)┛彡┻━┻
Persetan! Beraninya dia menginginkan wanitanya.
Reka melakukan tindakan tegas untuk pertama kali. Dia bergerak sangat cepat ke hadapan Feru. Dia melayangkan pukulan ke wajah Feru hampir seketika. Feru menghindar, namun Reka masih terus memukul sampai Feru lengah dan Reka mengambil kesempatan menendangnya. Para Hybrid bersorak melihat Reka berhasil.
Agni menghela nafas. Tubuhnya saat ini memang menjadi kecantikan nomor satu di dunia. Apalagi setelah suku paus lainnya tidak ditemukan.
Reka berdiri dan memandang rendah Feru yang setengah berbaring. "Jangan pernah menginginkan wanitaku." Katanya dengan mendominasi.
Agni: ...
Permisi? Siapa wanita siapa? ⊙.☉
Agni menghela nafas. Tapi, sebelum dia bisa bicara, Feru sudah berdiri. Dia melihat Reka dengan pandangan tajam. "Siapa kamu dan apa hubunganmu dengan Agni?!"
"Apa kamu masih perlu menanyakannya?" Reka mundur beberapa langkah. Saat dia berhadapan dengan Agni, kepalanya bergerak maju dan mencium pipi Agni.
Jantung Reka berdetak kencang. Ini pertama kalinya dia melakukannya, dan ini semua atas dasar naluri. Dia melihat Agni dengan tatapan biasa di wajahnya dan sedikit kecewa. Entah bagaimana, dia mengharapkan Agni memiliki ekspresi lain di wajahnya.
Namun, Agni tidak setenang yang dipikirkan Reka. Jantungnya berdetak beberapa kali lebih cepat. Ada kekosongan sesaat di wajahnya yang cantik. Namun, itu hanya sesaat yang sulit disadari orang lain.
Agni melirik Reka dan beberapa Hybrid di sekitarnya.
Orang-orang di dunia ini benar-benar sangat bebas. Agni akan memaafkannya untuk saat ini.
Berbeda dengan respon mereka, Feru melebarkan matanya. Dia melihat Agni dengan wajah penuh air mata. "Agni, katakan ini bohong. Ini semua kebohongan, bukan."
Feru berhenti sejenak. Dengan wajah penuh air mata, ia melanjutkan bicaranya. "Agni, meskipun itu benar, kamu tetap harus pergi bersamaku. Kamu harus bersamaku."
Agni melirik Feru dan tiba-tiba merasa sedikit aneh. "Kenapa kamu sangat ingin aku bersamamu?"
Lingkungan sekitar menjadi sunyi. Feru menyadari bahwa ia mungkin telah melebihi batas. Dia tahu bahwa Agni pintar dan menjadi salah ketika terlalu banyak bicara. "Tentu saja... Tentu saja karena kamu menyelamatkanku," jawab Feru ragu-ragu.
"Aku memang telah menyelamatkanmu, tapi aku tidak pernah berjanji untuk bersamamu. Dan apakah ini imbalan mu sebagai orang yang telah menyelamatkanmu?" tanya Agni tajam.
Feru tiba-tiba terdiam, sepertinya ia kewalahan. Dia bersimpuh ke tanah. "Aku... Kamu memang telah menyelamatkanku. Tapi aku masih harus membawamu bersembunyi, agar mereka tidak bisa menemukanmu."
Agni mengerutkan kening bingung. Feru tiba-tiba menatapnya dengan kedua matanya. "Agni, hidupmu dalam bahaya."
Apakah kembali berpusat pada Agni?
Sial!