Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Dragon King Doesn't Married (15)



Troll ini tidak sebodoh yang dia kira. Setidaknya dia bisa melindungi dirinya sendiri.


Agni memiliki tatapan apresiasi diwajahnya. Troll itu menggunakan lumpur yang sedikit basah untuk menutupi seluruh tubuhnya. Di atas matanya adalah daun yang dapat digunakan untuk menghalau sinar matahari. Ini benar-benar jenius untuk menggunakan lumpur untuk mencegahnya terkena sinar matahari.


"Kamu mengikuti kami sejak awal?"


Troll itu mengangguk lalu menggelengkan kepala. "Es pecah, Troll pergi."


Oh, jadi setelah es mencair, dia mengikuti mereka. Tidak, bagaimana dia bisa mengikuti mereka. Agni tiba-tiba melihat Sani.


"Agni, apakah ada sesuatu?"


"Apa kamu.... Tidak, tidak apa-apa."


Itu bukan urusannya. Dia masih merasa ular ini aneh. Dia masih tidak tau bagaimana ular ini mengetahui namanya.


"Ya, apa kamu benar-benar tidak mengenaliku?"


Sani melihat Agni dengan serius saat ini. Tapi Agni benar-benar tidak mengingat orang ini. Dia mirip dengan Jin, dia seperti kembaran Jordan, dia memiliki ciri Reka di beberapa tempat, namun Agni masih tidak dapat mengenali orang ini.


Protagonis dunia ini sudah diputuskan, itu Reka. Meskipun sistem mati saat dia bersama Sani, dia bukanlah protagonis dunia ini. Agni yakin dengan intuisinya.


Agni menghela nafas sebelum melihat Troll.


"Apa kamu yakin ingin ikut aku?"


"Teman?"


"Aku akan pergi ke daerah naga, apa kamu yakin itu akan baik-baik saja."


"Teman."


"...."


Lupakan saja, dia kesulitan berkomunikasi.


"Dengarkan aku, jika kamu ikut, kamu tidak bisa bertindak seenaknya, ikuti semua kata-kata ku dan jangan makan aku!"


"Tidak makan teman, baik."


"Haaah"


Dia merasa ini akan menjadi perjalanan yang panjang.


Agni tidak melihat mata penuh kasih saya dan memanjakan di mata Sani.


Mereka melanjutkan perjalanan ke lembah naga. Disisi lain, Agni merasa aneh kerena Sani tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Dia juga membantunya tanpa banyak bicara.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Sani melihat Agni sedikit terkejut. Dulu, dia juga seperti ini. Dia takut dan benci ular, namun dia akan menghawatirkan dia. Sani masih tidak tau bagaimana seekor paus mengetahui dan takut ular, tapi Sani menggunakannya untuk menakut-nakuti Agni.


Sekarang, dia tidak ingin melakukan itu lagi. Sani tersenyum senang saat bertanya alih-alih menjawab.


"Kamu mengkhawatirkan aku?"


"Tidak mungkin."


Sani terkekeh pelan. Kali ini, dia sedikit pemalu, tidak mendominasi seperti sebelumnya. Sani memandang Agni saat dia berpikir, 'Dulu, kamu melindungi ku dengan nyawa mu, sekarang aku akan melakukan hal yang sama. Kali ini akan aku pastikan untuk melindungi mu.'


Agni memimpin mereka berdua masuk ke hutan gelap dengan pepohonan hitam.


Reka berubah menjadi rubah kecil. Warna hitam di bulunya menyembunyikan dia dengan sempurna di malam hari. Dia melompati atap rumah-rumah yang ada di sana. Dia berhenti di sebuah atap rumah tua yang hampir roboh.


"Dibawah sini." Gumamnya dalam wujud rubah.


Feru duduk di sebuah rumah dengan gelas teh didepannya. Sebagai seorang pangeran, dia memiliki banyak aset bahwa namanya. Rumah yang dia tempati saat ini merupakan salah satu aset yang dia beli tanpa sepengetahuan istana. Selain rumah ini, Feru masih memiliki beberapa tempat lain yang dapat digunakan untuk bersembunyi. Ketika dia dengan tenang menyesap teh, sebuah makhluk hitam kecil tiba-tiba melompat dari jendela.


"Aku menemukannya."


Makhluk itu perlahan-lahan berubah wujud menjadi seorang manusia.


Feru mengangguk menanggapi kata-kata Reka.


"Kita tidak bisa membebaskan mereka dari atas."


"Memang. Selain itu, kita harus hati-hati. Aku mencium beberapa bau busuk yang sama dengan Putri di istana itu."


"Kamu mencium bau busuk. Apa maksudmu dengan bau busuk?"


Feru melihat Reka dengan tatapan penasaran. Baik dia maupun Reka tidak mengatakan apapun sejak mereka pergi dari istana, jadi dia tidak tahu tentang bau yang dirasakan Reka.


"Apa kamu tidak mencium baunya? Ini aneh. Aku tidak berbohong tentang calon putri dan pelayan di sampingnya memiliki bau yang tidak tertahankan. Itu bukan bau busuk sampah. Tapi, entah mengapa aku tidak menyukainya."


Feru bertanya-tanya apakah semua Hybrid seperti ini. Jika begitu bukankah dia menangkap Hybrid dan membunuh mereka untuk menyembunyikan identitasnya.


"Reka, apa kamu tahu cara menghubungi Agni? Kita harus melaporkan ini padanya, iya mungkin tahu apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan."


"Agni tidak memberiku apa-apa selain keong yang menuntun Hybrid lain ke teritori duyung. Kamu juga melihatnya saat itu."


Ya, Agni memang tidak memberi mereka apapun untuk menghubunginya. Tapi mereka tahu di mana Agni akan pergi. Karena mereka tidak bisa menghubungi Agni, maka mereka harus datang kepadanya dan memberitahunya. Tentu saja, Feru akan melakukan itu setelah membebaskan Hybrid yang tertangkap.


"Sepertinya, kita harus mempercepat penyelamatan para Hybrid itu."


Reka mengangguk, dia akan segera meminta pertolongan beberapa Hybrid tikus tanah dan beberapa bawahan Feru untuk membuka jalur bawah tanah.


Rawa hitam hidup, daerah khusus yang harus dihindari ketika seseorang sedang menjelajah dunia. Rawa hitam hidup seperti namanya, penuh dengan bagian-bagian yang memiliki pasir hisap atau lumpur hidup di setiap belokannya yang dapat membunuh manusia maupun hewan.


Agni sebenarnya baik-baik saja di tempat ini, dia mempu menghindarinya dengan menggunakan kemampuannya menciptakan es. Itu mudah bagi Agni untuk membuat jalan setapak. Sani sendiri tidak memiliki masalah karena ketika dia berubah menjadi ular dia mampu melewati rawa-rawa ini melalui pepohonan. Masalahnya di sini adalah makhluk yang ukurannya sangat besar mengikuti mereka. Awalnya Agni tidak khawatir, Dia pikir dia bisa membawa orang besar ini melewati rawa dengan jalan es yang dia buat. Namun, dia tidak menyangka es yang dia buat akan sangat mudah dihancurkan oleh satu langkah Troll. Sani juga memikirkan cara, dia tidak terlalu membenci Troll saat ini.


"Kita tidak bisa terus seperti ini."


Agni lelah. Dia sangat lelah.


Dia baru saja menyelamatkan Troll itu dari pasir hisap di bawahnya. Awalnya semua baik-baik saja, karena Troll tidak bisa melewati es Agni, baik Agni dan Sani membuat jalan melalui pohon yang mereka robohkan. Tapi kenapa tidak ada yang bilang, Troll bodoh seperti anak-anak ini, akan bermain-main dan dengan sengaja melompat ke atas pasir hisap.


Jika dia tidak membekukan pasir hisap itu, Agni tidak akan pernah tahu betapa mengerikannya rawa hitam hidup ini. Ketika Agni mulai membekukan air lumpur yang ada dari bawah kaki Troll, dia tidak bisa melihat dasar dari pasir hisap ini. Biasanya, pasir hisap akan menelan sesuatu sampai terkubur, setelah orang itu terkubur cukup lama, kehabisan oksigen dan tidak bisa bernafas, dia akan mati. Tapi, lumpur hidup yang baru saja dibekukan oleh Agni tidak memiliki dasar sekalipun. Dia merasa ngeri dan takut, dia sangat bersyukur saat ini memiliki sebuah kemampuan.


Agni duduk di bawah pohon yang tidak memiliki pasir hisap, dia dengan lemah berkata : "Ini tidak akan berhasil, aku sangat lelah."


Dia tidak ingin lagi menyelamatkan dunia ini.


Dia ingin menyerah.


Sani tiba-tiba berubah menjadi manusia tepat di depan Agni. Dia duduk dan memberikan beberapa buah-buahan liar.


Agni : ???


Sepertinya dia tidak bisa menyerah saat ini.