
[……]
Sistem terkejut dengan perkembangan jalan cerita dunia. Meskipun Takano merupakan berandalan kejam dan berdarah. Sebagai protagonis laki-laki dunia. Seharusnya dia tidak melakukan hal sampai seperti ini terhadap wanita! Belum lagi itu adalah tuan rumahnya.
Salah, sistem tiba-tiba menemukan dirinya sangat bodoh. Dia bukan sistem penyelamatan seseorang. Dia adalah sistem penyelamatan dunia.
Sistem masih cukup pintar untuk tidak mengajukan keluhan ke pusat. Sistem hanya menjadi seorang anak sejak awal dia muncul di dunia sistem. Ketika dia mencari seseorang untuk membina, mereka meliriknya dan pergi dengan tidak peduli.
Sistem melakukan tugas tanpa bimbingan sistem yang lebih awal. Dia tidak tau kenapa mereka tidak mau membinanya. Dia hanya merasa dia semakin tersisih dan tersisih.
Ketika dia gagal dan selalu mendapat tolakan dari setiap jiwa tuan rumah. Sistem lain akan menertawakannya. Dia tau, tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya menerimanya dalam diam.
Hanya satu, pemimpin dari dunia sistem. Sistem yang memiliki komando dan tidak harus mengikat jiwa. Selalu memandangnya dengan hormat.
Memikirkannya sampai sekarang. Bagaimana dia tidak hormat dihadapan sistem yang menyelamatkan sebuah dunia.
Sementara itu, Agni berpikir melakukan beberapa hal yang menentang Dunia Sistem. Tapi dia tidak menyadari dirinya sendiri melakukan tugas dari dunia sistem lebih baik dari apapun. Dia yang ingin menyerang dunia sistem malah membantu dunia sistem.
Tapi sejak awal semua itu hanya ada di hati Agni. Agni tidak melakukan secara terang-terangan dan karenanya Agni tidak bisa menyadari kesalahan tersebut. Agni berjalan menyelesaikan tugas yang membuat dunia sistem gembira karenanya.
Sistem menjadi sunyi. Dia bersembunyi di sudut pikiran Agni dan menonton diluar. Jika Agni benar-benar berhasil membalikkan dunia, maka tugasnya adalah sempurna.
Tapi, dia sebagai sistem terikat juga memiliki tugas untuk tuan rumahnya. Dia merasa kepalanya akan meledak ketika melihat tugas yang dia miliki.
Rantai hanya setengah meter jauhnya dari kaki Agni. Agni memiliki senyum licik ketika dia melompat dan bergerak 3 langkah ke samping.
Agni tidak membawa alat apapun untuk membantunya melawan orang-orang disekitarnya. Musuh-musuh disekitar Agni memegang sesuatu di tangan mereka. Agni menghembuskan nafas keras.
Dia tau ini akan sulit untuk hidup.
Seseorang mulai datang. Dia membawa pemukul baseball. Tubuh pria itu besar, namun gerakannya canggung. Senyum muncul di wajah Agni. Seseorang sebenarnya memberi dia sesuatu untuk di gunakan.
Sangat baik!
Agni melirik kurang lebih 50 orang disekitarnya. Senyumnya menjadi semakin kental. Wajahnya yang mempesona membuat beberapa orang gelisah dan buta oleh nafsu.
Mereka kemudian berpikir untuk memiliki keindahan Agni dibawah mereka setelah mereka selesai menundukkan Agni.
Tapi tentu saja, mereka terlalu banyak berpikir.
Hanya Takano yang merasa senyum di wajah Agni sangat mengerikan. Dia sepertinya pernah melihat senyum yang lebih mempesona di wajah Agni. Sepertinya itu beberapa bulan yang lalu. Saat Agni dengan cemerlang membantai orang-orangnya.
Pemukul itu berayun ke samping tubuhnya. Agni tidak menghindar. Dia menerima pukulan tersebut dengan tangan kosong. Pukulan yang menuju tubuh kanan dia hentikan dengan tangan kiri 5cm jauhnya. Senyum main-main mekar di wajahnya yang indah.
"Untuk ku.…" Agni menendang perut orang itu dan tetap memegang pemukul. Orang itu terlempar ke belakang. Pemukul itu beralih ke tangan Agni.
Agni mengayunkan pemukul baseball ke kanan dan kiri.
"Hahahahahaaa dunia lain memang menyenangkan. Ini tidak akan membosankan. Ta-ka-no-saaannn... Mari bermain."
Sistem melihat senyum Agni terkejut hingga bergetar. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali. Tuan rumahnya bukan orang semacam itu. Tuan rumahnya seorang pemalas dan orang yang sangat mudah bosan. Meskipun dia memiliki kemampuan bertarung yang baik. Dia tidak akan menunjukkan senyum iblis seperti itu. Dia tidak percaya. Dia tidak bisa percaya.
Bukankah tuan rumahnya akan menyelamatkan dunia. Sistem berpikir orang yang menyelamatkan dunia akan menjadi belas asih dan anggun. Agni dihadapan sistem adalah 2 sisi dari apa yang ada dibenak sistem.
Sistem mulai memikirkan banyak hal. Selama ini, dia memiliki tuan rumah cantik, anggun, baik dan menawan. Akhirnya selalu kegagalan. Sementara Agni adalah orang yang sangat pemalas dan bosan dengan sisi mengerikan tersembunyi.
Apakah sebenarnya orang seperti Agni yang bisa membantu menyelesaikan tugas dari sistem penyelamatan. Sistem tidak tau, dia juga tidak ingin memikirkannya begitu banyak.
Sistem takut jika memang itu adalah kebenaran. Tugas yang dipercayakan padanya akan hilang.
Takano dan orang lain juga terdiam melihat wajah bahagia Agni. Orang lain mulai merasa merinding naik ke tubuh mereka. Mereka tidak lagi berpikir tidak senonoh pada Agni.
Takano sendiri, meskipun dia sedikit takjub dengan wajah cantik itu, dia kembali ke akalnya dengan cepat. Ada kebingungan langka diwajahnya yang tampan. Dia merasa Agni sangat akrab dengannya. Melihat Agni memiliki senjata dan dalam beberapa detik yang lalu menyelesaikan bawahannya, raut Takano menjadi tidak senang.
Bagaimana pria bisa kalah dari wanita!!
"Hei, bangsat. Aku akan menghitung sampai tiga. Jika kalian tidak maju, aku akan menyapu kalian lebih dulu.…."
Orang-orang saling memandang. Takano bahkan menggertakan gigi kesal. Dia ingin memerintah orang-orangnya saat Agni membuka suaranya dengan lantang.
"Tiga..."
Dia berlari dan mulai menerjang orang-orang yang tadinya berada dibelakang tubuhnya.
Dia tidak memiliki ekspresi bosan dan malas biasanya. Juga bukan ekspresi jahil ketika dengan Gin. Bahkan bukan senyum menawan dan sopan untuk formalitas.
Seolah-olah lepas dari belenggu. Dia tersenyum lebar dengan mata merah gila.
Sementara itu, seorang gadis cantik dan anggun terlihat berjalan ke arah rumah Jin. Dia berulang kali menata rambut poni saat berjalan. Langkahnya teratur dan ringan. Tidak meninggalkan suara jejak. Sesekali dia akan melirik lingkungan sepi mewah yang dilewatinya.
Gadis itu melewati penjaga keamanan dan masuk ke lift. Dia mengeluarkan smartphone dan membuka galeri. Ada foto Jin saat SMP di sana. Gadis itu memiliki warna merah muda di pipinya ketika melihat gambar lebih lama.
Tidak sadar lift sampai ke lantai tujuannya. Dia kembali memasukkan smartphone dan keluar. Setelah sedikit menyesuaikan hati, dia keluar dengan senyum kecil di wajahnya.
Ada kilatan semangat dimatanya ketika menekan bel pintu rumah Jin tapi dengan cepat hilang dan kembali tenang. Wajahnya menunjukkan senyum kecil.
Jin didalam rumah sedang menyelesaikan game. Dia selalu kesal ketika Bug dalam game belum dibenahi dan tidak bisa menyelesaikan permainan.
Jin mendengar bel pintu dan melihat waktu. Jin hanya berpikir itu adalah Agni. Meskipun Agni tidak akan menekan bel atau mengetuk pintu. Jin tidak memiliki siapapun yang akan datang ke tempatnya selain Agni.
Jin berdiri dengan cepat dan membuka pintu. Wajahnya santai dan tenang.
Tidak sampai pintu di buka, wajah Jin jatuh ke titik beku.
"Selamat sore, Shirokuma-san."