
"Ardan?"
Ryan tidak pernah menyangka dia akan mengalami pertemuan semacam ini dalam hidupnya.
Setelah obrolannya dengan Agni beberapa waktu yang lalu. Ryan diliputi rasa bersalah setiap harinya. Dia juga sudah mengatakan pertemuan itu kepada keluarga. Tidak dapan disangkal mereka juga merasa bersalah. Namun, mereka tidak seperti Ryan yang menghadapinya secara langsung.
Setelah beberapa hari mengalami mental naik turun. Keluarga menyuruhnya mengajak keponakan kecil ke taman bermain. Dia yang sedang dalam keadaan tertekan memang membutuhkan sedikit hiburan. Dia menyetujuinya dengan langsung. Keluarga mereka asli dari kota ini, karena itu, dia mengajak keponakannya ke taman bermain terbaik milik Tuan Bern.
Siapa tau, dia akan bertemu dengan Jordan dan Agni. Saat ini, dia merasa sangat bingung. Dia tidak tau apa yang harus dilakukan.
Agni meliriknya dengan ringan.
"Halo, kita bertemu lagi. Tapi saya harus mengatakan nama saya Jordan, hm, Tuan Ryan, benar?"
Jordan berbicara lebih dulu. Saat ini matanya tidak memiliki nostalgia. Mata itu tidak peduli. Namun Agni akrab dengan mata itu. Dia sering melihatnya di wajah temannya dulu.
Mata yang penuh ketidakpedulian itu sedikit bergetar. Rasa sakit, kecewa dan tidak rela. Dia menyembunyikannya dalam sikap tidak peduli.
"Ya, ya. Kalian, sedang berkencan?"
"Tuan Ryan bercanda, mungkinkah kami terlihat seperti sedang bermain petak umpet."
"Haha... Tentu tidak."
Saat percakapan canggung itu menemui jalan buntu, keponakan yang berada di samping Ryan tiba-tiba mendekati Jordan.
"Paman, apa kabar."
Ketiga orang dewasa itu diam. Agni juga tidak mengatakan apapun. Dia hanya melirik Jordan dan Ryan beberapa kali.
"Nak, kamu mungkin salah. Aku bukan paman mu."
Jordan mengatakan kalimat lebih dulu. Dia dengan senyum kaku melihat ke bawah.
"Benarkah?"
Anak itu terlihat kebingungan.
Keponakan yang sedang di asih Ryan baru berusia 5 tahun. Seorang anak laki-laki setinggi lutut orang dewasa.
"Ardan, sepertinya kita harus bicara."
Ryan sudah memikirkan ini dalam beberapa hari ini. Dia tidak tau mengapa keluarganya tidak ingin mengakui Jordan. Namun, setelah pertemuannya dengan Agni, orang tua Jordan dan orang tuanya setuju untuk membawa Jordan kembali.
Jelas, jika orang lain ingin menyakiti mereka, dia bisa melakukannya dengan banyak cara. Bukan hanya menargetkan Jordan. Tapi jelas, orang itu tidak mengincar mereka, dia hanya mengincar Jordan selama ini
Sekarang, sebagai seorang yang selalu menjadi target, dia tidak tau berapa banyak kemalangan yang dilalui Jordan.
Memikirkan seperti ini, sepertinya orang-orang yang peduli dengan Jordan hanya sedikit. Sangat sedikit.
"Nama saya Jordan. Saya tidak tau kenapa anda memanggil saya seperti itu. Juga, saya sedang berkencan dengan pacar saya. Saya tidak ingin diganggu, jadi saya permisi lebih dulu."
Jordan dengan tenang menarik tangan Agni, menjauhi Ryan dan keponakannya.
Agni melihat Jordan dengan tenang. Sejak awal kemunculan Ryan, Dia tidak memiliki respon apapun. Dia dengan tenang melihat gerak-gerik Jordan. Setelah mendengarkan kalimat terakhir Jordan, Agni tidak bisa berhenti berpikir.
Apakah Jordan benar-benar tidak mengetahui keluarganya.
Jordan menarik Agni dengan erat. Dia tidak menyadari langkahnya menjadi semakin cepat untuk menjauhi dua orang di belakangnya.
Menjelang sore hari, antusiasme orang-orang akan taman hiburan tidak turun. Ditambah cuaca cerah berawan membuat mereka menikmati diri mereka lebih banyak.
Dibelakang bangunan untuk staf taman hiburan terdapat banyak pepohonan dibalik semak-semak bunga.
Saat ini, Jordan dan Agni berada di bawah salah satu pohon. Jordan masih belum melepaskan tangan Agni.
Tunggu, apa dia akan mengajaknya sembunyi disini?
Mereka akan tiba-tiba duduk di bawah?
Agni berpikir dengan cepat. Dia tidak pernah takut apapun, kecuali serangga. Meskipun itu bukan ketakutan yang berlebih, dia tidak suka serangga mendekatinya.
Agni melihat kiri kanan sebelum menemukan sebuah bangku tidak jauh. Ada mesin penjual minuman disampingnya. Dengan tangan yang masih bersautan. Agni menarik Jordan menuju ke sana.
Jordan awalnya sedikit tidak nyaman. Tapi perasaan itu digantikan dengan kebingungan oleh sikap Agni.
Dia melihat Agni memasukan koin dan membeli dua kaleng minuman dingin. Jordan mengikuti Agni duduk di bangku.
Bangku itu ada di bawah pohon besar yang membuat nyaman untuk beristirahat. Jordan merasakan angin yang berhembus dengan tenang. Meskipun itu rusak saat suara membuka kaleng minuman Agni terdengar, dia saat ini merasa jauh lebih tenang.
"Um."
Mereka berdua terdiam. Agni merasa, saat ini dia hanya akan menjadi pendengar. Waktu berlalu bersama dengan sisa-sisa kegelisahan Jordan. Dia menunduk melihat kaleng minuman yang baru setengah kosong ada di kedua tangannya.
"Agni, apakah kamu tau siapa Ryan tadi?"
"Kurang lebih, sebagai seorang pengusaha, aku mengenalnya sebagai manager umum perusahaan GORD. Selebihnya, tidak ada."
"Benar, orang-orang harus mengenalnya seperti itu. Tapi, aku tidak. Aku, aku tau dia kakak ku."
Agni tidak menanggapi. Dia menyesap minumannya perlahan.
"Saat pertama kali aku melihatnya bersama ibu kandungku, aku tau kami memiliki sesuatu. Bagaimana mengatakannya, seperti karena ikatan darah? Aku tidak mengerti. Aku hanya merasa sangat akrab dengan mereka. Aku memendam pikiran tentang mereka berdua sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan penyelidikan. Aku sangat terkejut ketika menemukan semuanya, ketika aku tau bahwa aku tidak dibuang oleh orang tua ku. Aku sangat bahagia. Ternyata mereka kehilangan aku, mereka masih berusaha mencari ku. Aku menunggu mereka datang lagi dengan semangat. Aku pikir, akhirnya, akhirnya aku tidak harus sendirian lagi. Akhirnya aku memiliki keluarga."
Agni mengerutkan kening, dia merasa aneh di bagian belakang tubuhnya. Sesuatu menggeliat di punggungnya.
"Kamu tau, aku menunggu mereka untuk datang selama bertahun-tahun. Tapi pada akhirnya mereka masih tidak datang."
Betapa besar harapan Jordan saat itu, betapa kecewa dia kemudian. Dia sendiri yang mengetahuinya.
"Kemudian, aku berpikir. Mereka benar-benar tidak akan menginginkanku lagi. Aku juga merasa itu bagus. Aku tidak dibesarkan dengan terhormat seperti kebanyakan anak orang kaya. Mereka mungkin berpikir aku membuat malu. Aku hanyalah anak dari panti asuhan yang kemudian masuk industri hiburan yang kotor. Aku, aku mungkin tidak pantas untuk me...."
Agni tiba-tiba berdiri membuat Jordan berhenti.
Agni hanya mendengarkan sedikit kata-kata Jordan. Saat ini dia fokus melihat kembali ke tempat duduknya. Seekor kumbang besar baru saja terhimpit dengan punggungnya terlihat. Agni bisa merasakan merinding naik dari ujung kakinya.
Sial, kumbang yang sangat besar. Bagaimana dia bisa memiliki warna yang sama dengan tempat dia duduk!
"Kamu, apakah kamu ingin bertemu mereka sekali? Setidaknya untuk memperjelas?"
Meskipun Agni tidak mendengarkan semua. Dia memahami poin kunci kata-kata Jordan.
Kini, Jordan tidak tau harus melakukan apa.
Bohong jika dia bilang tidak ingin menemui mereka.
Saat ini, mereka berdua mendengar sesuatu dari belakang pohon.
"Kami tidak pernah mencoba menyangkal kamu. Kami selalu memperhatikan mu. Aku tidak tau kenapa kakek tidak ingin mengenali kamu dulu. Tapi, sekarang aku tau. Ayah dan ibumu benar-benar peduli pada mu."
Itu Ryan. Agni tau sejak awak Ryan mengikuti mereka, namun dia tidak mengatakannya pada Jordan.
Dalam dunia ini, orang lain yang bisa melindungi Jordan merupakan keluarganya. Dia tidak benar-benar ingin memisahkan Jordan dari keluarganya. Apalagi setelah kejadian internet tadi malam.
"Ardan, paman dan bibi, orang tuamu memutuskan untuk meninggalkan keluarga sehingga bisa bersama mu."
Keluarga Ryan sudah lama berpisah dari rumah tua, jadi tidak masalah jika Ryan ingin mengambil Jordan bersamanya. Tapi jelas, Jordan tidak akan menginginkan itu.
"Lalu, selama ini...."
"Ini kakek, dia tidak ingin keturunannya masuk ke industri hiburan. Dia tidak ingin bergaul dengan lingkaran industri hiburan. Beberapa bibi juga berpikir untuk tidak menambah saingan dalam warisan kakek. Aku juga baru mengetahui itu setelah bertemu dengan nona Agni."
Malam itu dia menceritakan semua percakapannya dengan Agni. Tentu saja, Ryan dengan pintar menyembunyikan identitas Agni. Dia mengatakan semuanya dan mengubah sedikit kebenaran. Benar saja, kakek sangat marah. Dia merasa seseorang dari industri hiburan memang seperti itu. Orang-orang yang dibesarkan oleh ' tuan emas'. Memalukan keluarga atau semacamnya. Kemudian, setelah pertemuan keluarga, beberapa orang bersyukur bahwa Jordan tidak dikenali, membuat beberapa orang berpikir lebih mudah untuk memenangkan hak waris.
Paman dan bibi mendengarnya. Paman bukanlah orang yang tidak masuk akal. Meskipun dia terlihat dingin, dia sebenarnya sangat menyayangi istirnya. Apalagi setelah kehilangan Jordan, dia merasa sangat tertekan untuk istrinya setiap hari.
Besoknya, paman dan bibi mengatakan untuk berpisah. Ayah dan ibu Ryan mendukungnya. Setelah perdebatan singkat mereka berhasil berpisah dari keluarga itu. Namun, mereka tidak memiliki keberanian untuk datang kepada Jordan.
Ryan juga merasakan hal yang sama. Akhirnya, ibunya meminta dia mengajak keponakan, anak dari adik ibunya untuk keluar dan bermain.
Dia tidak menyangka akan bertemu Jordan dan mendengar kebenaran seperti itu. Rasa bersalahnya semakin besar. Tapi dia tidak ingin saudara ini berpikir kedua orang tuanya tidak mencintainya. Ryan juga enggan mereka berpisah lagi.
"Ardan, maukah kamu bertemu paman dan bibi. Mereka selalu memikirkan mu."
Jordan bingung. Dia tidak pernah menghadapi situasi ini. Tiba-tiba suara lembut datang dari dekatnya.
"Cobalah. Aku merasa ini bukan pilihan yang salah. Lagipula aku sudah berjanji tidak meninggalkan seseorang."
"Ah?"
Jordan merasa pernah mendengar sesuatu mengenai itu. Namun, dia tidak ingat dimana.
Penulis memiliki sesuatu:
Pom pom pom....
Selamat bagi yang sudah menebak dengan benar. Maaf tidak ada hadiah untuk saat ini. Tapi terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai sekarang~~