Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Dragon King Doesn't Married (14)



Lilia memang sisa-sisa dari pasukan Raja Iblis seperti tebakan Agni.


Dia seorang succubus. Awalnya dia memiliki tubuh, namun setelah perang berakhir, dia kehilangan tubuhnya. Jiwanya dan jiwa beberapa pengikut lain Raja Iblis tersegel di dunia ini.


Itu merupakan sebuah keberuntungan karena gadis ini, Lilia, menemukannya dan membebaskannya dari sebuah segel batu.


Gadis ini, Lilia memiliki hidup yang sangat keras. Dia sering diabaikan orang tuanya karena orang tuanya lebih mementingkan adiknya yang memiliki kesehatan lemah. Tapi sebagai seorang kakak dia harus mengalah dan rela menemani adiknya, membuatnya tidak memiliki teman dan tidak pernah keluar rumah. Selain itu saudara laki-laki nya yang lebih besar adalah pemimpin keluarga selanjutnya sehingga dia diperhatikan lebih daripada Lilia. Dia hanya memiliki teman pangeran kedua yang tidak sengaja bertemu, Lilia juga tidak mengenal identitas asli pangeran. Mereka hanya berteman, sering bercerita, dan berbagi rahasia.


Setelah dia mengambil alih tubuh Lilia, dia kehilangan semua ingatan beberapa hari. Itu membuatnya lengah, dan pangeran kedua menyadari keanehannya. Sebelum dia bisa menemukan pangeran itu, pangeran itu menghilang.


Tapi di tidak memikirkannya. Dia yakin orang itu tidak akan melakukan apapun yang membahayakan tubuh Lilia.


Kemudian dia membangkitkan kakaknya, sang iblis nafsu, Lust. Dia menggunakan tubuh kakak asli Lilia, Julian untuk membangkitkan kakaknya.


Setelah itu, dia menyusup ke kekaisaran. Dia mencoba memperoleh informasi. Dia menyihir pangeran mahkota dan kaisar untuk membuatnya menjadi calon putri mahkota. Lalu, dia meminta kakaknya menemukan sisa-sisa iblis lain dan mencoba membangkitkan Raja Iblis sekali lagi.


Lilia berbaring tenang di dalam kamarnya. Dia dengan tenang menunggu iblis nafsu, oh tidak, itu sekarang kakaknya. Dia hanya harus menunggu kakaknya kembali.


Sementara itu, jalan bawah tanah kekaisaran ke kota G. Reka dan Feru tidak memiliki percakapan setelah meninggalkan istana.


Feru sangat membenci Lilia saat ini, tidak, itu bukan Lilia. Dia harus mengembalikan temannya seperti sedia kala.


Reka berpikir, apa yang dilakukan Lilia dan pengawalnya semalam terlihat sangat intens dan menarik. Dia tidak tau apakah dia harus melakukannya dengan Agni. Tapi, mengapa dia melakukannya. Mereka Hybrid, mereka hewan atau setengah manusia. Mereka bukan manusia. Bagaimana bisa mereka melakukan itu.


Reka menghela nafas. Dia tidak menyangka bahwa ada perbedaan besar dalam hidup manusia dan iblis.


Reka tiba-tiba mengerutkan kening. Dia merasa aneh karena wanita tadi memiliki bau busuk dari seluruh tubuhnya. Dia tidak tahu apakah itu kebetulan, tapi dia pernah mencium itu di suatu tempat. Reka mengabaikannya dan kembali fokus berjalan dengan Feru.


Di tempat lain jauh dari kehidupan manusia. Agni dan Sani telah berjalan selama berjam-jam tanpa istirahat.


Agni sangat kesal. Dia merasa ingin memukul wajah tersenyum pria di sampingnya. Jelas mereka tidak pernah bertemu, jelas mereka tidak akrab. Mengapa pria ini begitu mengenalnya. Seolah-olah mereka pernah bertemu sebelumnya.


"Agni, hati-hati."


Sani tiba-tiba menarik tangan Agni. Wajahnya berubah menjadi hitam saat melihat Agni hampir jatuh dari tebing.


Mereka saat ini berada di jalanan kecil yang sisi kanan berupa gunung dan sisi kiri berupa jurang yang dalam. Sani tahu alasan Agni memilih jalan ini agar dia tidak mengikutinya, namun melihat Agni seperti ini, dia tidak bisa berhenti khawatir. Tentu saja, dia akhirnya mengikutinya.


Tapi Agni tidak memiliki pikiran yang sama. Saat tangan mereka bersentuhan lagi, dia menjerit dihatinya. Lalu dia dengan cepat berkata.


"Kamu, bukankah kamu terlalu banyak."


Cukup dengan memeluknya di dalam gua, sekarang dia coba menyentuhnya lagi!


Agni benar-benar tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.


Sungguh, dia tidak mengenal Sani. Jadi bagaimana Sani ingin mengetahui namanya. Baik dirinya maupun ingatan pemilik asli tidak mengetahui tentang Sani, jadi bagaimana mereka bisa seakrab ini.


Agni mengabaikan pikiran kacau itu dan mencoba menyingkirkan tangan sani dari tubuhnya.


"Kenapa aku terlalu banyak?"


"Kamu, kamu sudah cukup banyak menyentuh ku!"


"Benar, apakah kamu ingin menyentuhku sebagai balasan."


"....."


Tidak tahu malu!


Tidak tahu malu!


Dasar hewan melata mesum!!


Dia benar-benar tidak bisa menghadapi orang semacam ini.


Agni bernafas beberapa saat dengan cepat. "Aku tidak ingin menyentuhmu, dan bisakah kamu menjauh sedikit dariku."


"Tidak bisa." Aku tidak ingin kamu terluka.


Agni dengan kesal berjalan sampai melewati tebing. Saat menginjak tanah dan bukan batu, Agni merasa sangat senang. Karena perasaannya sedang bagus, dia tidak terlalu memusuhi Sani. Dia mencoba bertanya dengan tenang.


"Bagaimana kamu bisa mengenal aku?"


"Aku rasa tidak bisa menjawabnnya sekarang."


"...."


Lupakan, apapun yang ingin dia lakukan.


Saat ini, Agni menarik Sani menjauh. Mereka melewati dua pohon besar sebelum berhenti. Sani melihat Agni dengan heran, namun Agni tidak memperhatikannya. Pandangan Agni fokus ke depan, dia melihat tiga pohon yang lebih besar dari tubuhnya hancur dan runtuh. Agni mulai mempersiapkan airnya. Sani juga melihat sesuatu yang tidak beres. Mereka berdua siap untuk bertempur.


"Menemukan, Troll menemukannya...."


Agni: "..."


Sani: "..."


Siapa yang bisa memberitahu mereka kenapa makhluk besar dan bodoh ini ada disini.


Troll memiliki tubuh gelap gulita seperti malam. Berjalan di matahari tenggelam masih sangat mencolok untuknya.