Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Movie Actors Hidden Boss (18)



Agni masuk ke dalam dengan tenang. Dia bisa mendengar jeritan beberapa anak laki-laki yang sedang bermain game, beberapa suara lagu bahasa inggris yang sedang populer dan banyak nuansa keceriaan.


Dia menuju ke depan konter. Agni berdiri diam melihat penjaga warnet. Orang yang duduk di dalam konter sedang mengetukkan tangan di keyboard. Dia terkadang berhenti dan mengambil rokok yang diletakkan di asbak dekatnya, sebelum menyesapnya kemudian menaruh dan mulai mengetik lagi. Entah apa yang dia lakukan sangat serius Tapi saat ini banyak kesenangan melintas di matanya.


Orang ini merupakan seorang kenalan. Dia adalah Pak Gustam orang yang melakukan panggilan untuk melecehkan Jordan di internet. Paman tiri Reza.


Agni hanya diam menunggu Gustam menyadarinya. Dia melihat Gustam dengan pandangan tidak terduga. Entah beberapa menit kemudian, Gustam akhirnya melihat ke atas. Matanya membulat terkejut saat melihat Agni. Dia tidak menyangka Agni akan menemuinya sendiri. Dia tau Agni pasti menemuinya, namun untuk datang ke tempatnya seorang diri sangat tidak dia duga.


Dia bertanya-tanya bagaimana Agni bisa menemukannya.


"Halo, Paman. Lama tidak bertemu"


"Yah, halo. Lama tidak bertemu."


"Paman sepertinya sedang sibuk, aku akan mengunjungi paman lagi nanti."


"Tidak, tidak terlalu sibuk. Katakan saja jika kamu memiliki sesuatu."


"Benarkah? Paman, haruskah aku memanggil Reza, sekarang? Aku yakin, dia akan segera datang."


Gustam tiba-tiba mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu trik apa yang digunakan oleh anak ini.


Jujur saja, dari banyak anak yang ada di lingkungan dulu dia tinggal. Dia paling takut oleh anak di depannya. Dia tidak tahu bagaimana anak ini tumbuh. Jangan katakan pada usia ini, meski dia masih 12 tahun, dia sudah memiliki penglihatan yang begitu tajam.


Memikirkan tentang keponakannya, Reza. Gustam tiba-tiba menghela nafas dia berdiri dan berteriak.


"Nur, gantikan aku sebentar."


"Siap, Bos."


Setelah seorang pria yang sedikit gemuk datang, Gustam berdiri. Dia mengambil sisa rokoknya berjalan mendekati Agni.


"Mari pergi ke tempat lain."


Dia tahu, mereka tidak akan melibatkan Reza pada masalah ini. Agni ini hanya mengatakannya untuk membuat ancaman padanya. Mungkin tidak banyak yang tahu, tapi, hubungannya dengan keponakannya tidak renggang seperti yang dikatakan orang luar. Gustam sangat menghargai keponakannya ini. Dan Agni mengetahui ini. Agni sering dengan sengaja atau tidak menemukannya berkomunikasi dengan keponakannya. Dia selalu menjaga Reza, terlebih setelah kedua orang tuanya meninggal. Bagaimana mengatakannya, keponakannya adalah anak yang baik bahkan di lingkungan kalangan atas. Dia tidak pernah membedakan antara manusia. Tidak peduli dengan kasta.


"Kamu tidak perlu bertanya, aku tahu apa yang akan kamu tanyakan."


Gustam menyesap rokoknya. Beberapa detik singkat kemudian, dia mengeluarkan asap putih tebal dari mulutnya dengan *******. Seolah-olah dia mengeluarkan beban yang berat.


"Aku tidak akan mengatakan apapun padamu. Jangan terlibat."


"Kenapa? bukankah tujuan orang itu sejak awal bukanlah Jordan."


"Memang tapi kamu bisa terlibat jika kamu ikut di dalamnya."


"Bukankah aku sudah terlibat."


"AGNI!"


"Paman, orang itu akan mengincar aku setelah dia menyelesaikan GORD company."


Gustam terdiam karena apa yang dikatakan Agni kemungkinan besar benar.


"Lupakan. Aku akan bertanya saja. Kenapa Paman melakukan itu? Aku merasa Paman tidak memiliki dendam dengan Jordan."


"Aku memang tidak. Tapi, aku harus melakukan ini agar orang itu keluar. Orang itu, orang itu yang menyebabkan kakakku, kedua orang tua Reza meninggal."


Sial, teka-teki ini menjadi semakin dan semakin sulit.


"Kamu tidak memiliki petunjuk sedikitpun? Sepertinya tidak mungkin."


"Sudah kubilang untuk tidak ikut campur! Urus saja perusahaanmu, bangun lebih banyak kekuatan dan hiduplah dengan damai."


"Bagaimana mungkin. Jika itu adalah orang sama yang membunuh paman dan bibi. Bagaimana kamu mengecualikan kemungkinan kedua orang tuaku."


Kali ini giliran Gustam yang tidak bisa bicara. Bohong untuk mengatakan bahwa Agni sepenuhnya tidak memiliki urusan dengan masalah ini. Gustam terdiam, dia bahkan tidak menyadari rokok itu sudah terbakar habis hampir mengenai tangannya. Saat dia merasakan rasa tersengat di jari-jarinya. Gustam menjatuhkan rokok tiba-tiba dan menginjaknya.


"Yah, orang itu ada di luar negeri. Aku tidak tahu di mana tempatnya. Tapi, sepertinya orang itu sangat mengenal lingkungan domestik kita."


"Apa Paman tidak memiliki tersangka?"


"Ada, tentu saja ada, kamu juga harus mengenalnya. Dia adalah satu-satunya kerabatmu yang masih ada saat ini. Sudah, aku akan pergi. Aku juga tidak mengetahui lebih banyak lagi. Aku menganggap mu sebagai keponakan. Ku mohon, jangan terlalu masuk ke dalam hal ini. Berhati-hatilah."


"Aku tahu, Paman Gustam."


Saat ini, sistem di kepala Agni telah memberikan data rinci tentang seseorang.


Itu merupakan paman dari tubuh asli, adik kandung dari ayahnya. Bagaimana mengatakannya, orang ini sangat licik bahkan lebih licik daripada rubah tua yang dia temui di mall.


Paman ini tumbuh dengan baik pada awalnya. Dia adalah anak yang cerdas, penuh motivasi, dan sangat menyenangkan bagi orang-orang disekitarnya.


Kemudian, dia berubah setelah berusia 17 tahun. Tidak ada yang tau apa yang terjadi. Tiba-tiba pamannya berubah. Dia menjadi seorang yang tidak berguna. Orang yang hanya makan, minum dan bermain wanita. Banyak hal buruk yang sudah dia lakukan. Agni mengerutkan kening saat melihat orang ini pernah tidur di kantor polisi selama dua hari dua malam.


Selain itu, ada masalah dengan kedua orang tuanya. Saat pertunangan kedua orang tuanya, dia hampir menganiaya ibunya. Ini sangat tidak dimaafkan. Hampir membuat ayahnya memutuskan hubungan dengan kakeknya. Meskipun entah bagaimana kakeknya bisa menenangkan ayahnya kemudian. Hal terakhir, dia membuat kebakaran besar di sebuah hotel yang menewaskan beberapa orang. Kakeknya dipaksa menggunakan koneksi dan uang untuk mengirim pamannya ke luar negeri. Setelah itu, tidak ada lagi kabar tentang dia.


Agni menyipitkan matanya.


Apakah memang semua terjadi seperti ini?


Apa alasan yang membuat pamannya berubah. Mengapa dia melakukan hal seperti itu pada kakak kandungnya. Mengapa dia berani melakukan pembakaran dan pembunuhan.


Agni merasa dia perlu menemui Paman ini. Tapi, dia tidak tahu di mana pamannya sekarang.


[Nyonya aku juga tidak bisa menemukannya. Data orang ini berakhir saat dia pergi ke luar negeri. Setelah itu, tidak ada informasi lain mengenai keberangkatannya ke tempat lain. Dia seperti tidak pernah meninggalkan negara itu. Tapi, aku tidak dapat ditemukan di manapun di negara itu]


Benar saja.


Agni sudah menduganya. Jika bisa, dia ingin salah menebak. Tapi, Agni tidak salah menyimpulkan seseorang sekarang. Orang ini sangat lihai dan licik.


Agni pulang ke rumah dan mulai sibuk untuk menemukan orang ini sendiri. Alih-alih hanya mengandalkan sistem Agni juga berusaha untuk mencarinya.


Hal ini membuat Agni dan Jordan tidak terlalu memiliki banyak persimpangan. Agni sibuk dengan urusannya sendiri, sementara Jordan juga sibuk dengan urusannya sendiri. Mereka hanya bertemu pada saat makan malam atau sarapan. Selain itu, mereka tidak pernah melihat satu sama lain di rumah ditambah Jordan sebentar lagi akan berangkat ke kota lain untuk syuting.


Jordan merasa tidak nyaman. dia benar-benar merasa sangat tidak nyaman. Beberapa hari ini, awalnya dia memang malu untuk bertemu Agni, tapi siapa tahu, kemudian Agni begitu sibuk dengan urusannya sehingga hampir membuat mereka tidak pernah bertegur sapa. Syuting Jordan sudah selesai di tempat ini. Dia tidak mengambil pekerjaan lain sehingga bisa istirahat. Karena memiliki cuti, dia awalnya ingin mengajak Agni pergi untuk bermain. Entah taman hiburan atau tempat lain. Tapi, tidak bisa. Agni terlalu sibuk. dalam penyesalan, Jordan hanya bisa membuat sibuk dirinya sendiri. Tentu saja, dia tidak melupakan janjinya dengan Ryan.