
Shirokuma Jin. Dia tidak pernah memikirkan untuk melakukan hal-hal jahat dan kejam. Sejauh ingatannya, pertama kali dia terprovokasi bertarung adalah saat berusia 5 tahun. Ayah dan ibunya bercerai dan orang-orang itu mengatakan hal buruk tentang mereka.
Saat itu, anak usia 5 tahun adalah hal wajar untuk sedikit bertengkar. Tapi lingkungan Jin tumbuh bukanlah lingkungan normal sehingga hal wajar itu tidak lagi hanya menjadi wajar.
Setelah perceraian orangtuanya, Jin ikut ayahnya. Ayahnya sangat baik. Dia memberinya uang, memberi dia makan, baju, tempat tinggal dan segala kebutuhannya. 5 bulan pertama hidup dengan ayahnya, ayahnya tidak meninggalkan setengah langkah dari Jin. Hanya satu bulan berikutnya.
Semua keuangan dan kehidupan miliknya tidak lagi bebas. Ayahnya mempercayakan seorang asisten untuk merawat Jin. Alih-alih merawatnya seperti harta, dia dirawat untuk menjadi penerus ayahnya. Seorang Bos Yakuza.
Jin tidak tau apakah ayahnya mengetahui dia menderita.
Hari-hari Jin kemudian tidak bisa menjadi baik. Dia mencari jalan di kepala kecilnya. Dia membuat alasan merindukan ibunya dan ingin tinggal bersama ibunya. Ibunya setuju dan ayahnya tidak memiliki kesempatan menolak.
Pindah bersama ibunya juga tidak jauh lebih baik. Ibunya sibuk dengan perusahaan dan tidak punya kesempatan merawatnya. Ibunya membantu Jin menemukan perawat yang selalu menjejalkan buku pada Jin. Bagaimana Jin kemudian? Dia hanya bisa melampiaskan frustasi miliknya pada pemukulan. Dia sering bertengkar dan semakin menjadi tidak terkalahkan.
Ibu Jin yang selalu melihat Jin terluka tidak tahan. Dia tidak ingin melihat anaknya yang seperti ayahnya. Bertarung dan bertarung setiap hari. Dia memberi usulan agar Jin kembali hidup dengan ayahnya. Tapi Jin menolak dengan tegas. Dia meminta sebuah rumah dan hidup sendiri.
Hari-hari Jin kemudian sangat santai dan damai. Dia memiliki teman, berprestasi dan bebas menjadi normal.
Tapi insiden kecil mengubah semuanya.
Saat itu dia menginjak bangku kelas 2 SMP. Dalam perjalanan pulang, beberapa orang menargetkan dia untuk uang. Jin tidak tinggal diam dan menghabisi mereka hingga terkapar saat itu. Mengetahui Jin kuat, semakin banyak berandalan di sekolah menantang Jin.
Sekolah menjadi resah dan dia dikeluarkan. Jin kemudian masuk ke Sekolah Kuroyama dengan bantuan ayahnya. Lelah dengan hal-hal mengenai Yakuza. Jin memilih hidup dalam persembunyian. Dia memakai topeng autisme dan menjalani hidupnya.
Hanya, bagaimana hidupnya yang tenang bisa berakhir seperti ini.
Jin saat ini berdiri dengan goyah di hadapan banyak orang. Entah kapan dia bisa membuang kata ‘Kuma’ dalam namanya dan menghindari pusat perhatian disisi ini. Jin sangat kesal ketika nama yang sama dengan ayahnya ini selalu membawakan masalah kemanapun dia pergi. Selama mereka mengetahui kanji namanya, mereka akan mengacungkan pisau ke hadapannya.
“Hahahaha… Sialan, dia benar-benar sekuat rumor.”
“Huh, huh, tanganku patah...”
“Aku bahkan tidak yakin apakah Takano-san masih berdiri di depan orang ini”
"Ugh..."
“Satu jam dan dia masih berdiri sementara 30 teman kita jatuh!!”
“Sialan, apa ini saatnya kagum!!! Maju!!”
Ratapan dan hinaan diabaikan oleh Jin. Jin hanya terus mencoba mempertahankan kesadaran di antara luka tubuhnya. Kehilangan darah dan tenaga membuatnya sangat tidak berdaya. Untung rasa sakit membuatnya tetap terjaga, tapi staminanya menurun tajam setelah satu jam.
Sialan, dia tidak ingin berakhir begitu saja.
Ketika Jin linglung, seseorang mengambil kesempatan. Dia menggunakan pemukul tepat ke kaki Jin. Jin melompat, tapi dia tidak melihat sebuah tinju dan tendangan di depannya. Dia tidak bisa mengelak dan terlempar beberapa meter ke belakang.
Sial, sialan!!!
Jin kembali berdiri, dia memasang posisi siap bertarung. Tapi tiba-tiba dia mengerutkan kening ketika melihat musuhnya kehilangan fokus. Mereka mengalihkan pandangan ke bagian belakang mereka. Di gang yang tidak bisa menampung banyak orang, Jin melihat beberapa orang gelisah khawatir.
Jin mulai memusatkan nafas. Tidak masalah, ini adalah keberuntungan untuknya sehingga bisa mengukur waktu untuk mendapatkan kembali beberapa stamina yang hilang.
Tiba-tiba dia menjadi waspada saat seseorang melompat kedepannya. Dia hampir memukul orang itu ketika tangannya berhenti beberapa centimeter dari sebuah punggung kecil dan ramping.
Jin : “.....” Tunggu sebentar, apa yang terjadi!!
“Woah, sangat menyenangkan. 1 lawan 100. Sementara lebih dari 20 sudah tidak sadar, 40 lainnya terluka cukup fatal. Hei, hei, hei, kenapa tidak membangunkan mereka dan bermain denganku sebagai gantinya.
Sialan, Shirokuma Jin memang sangat kuat.”
Suara tinggi dan nyaring menusuk ke pendengaran setiap orang yang ada di sana. Mereka tidak bisa mempercayai mata mereka ketika melihat seorang gadis yang tingginya hanya sampai bahu Jin berdiri dengan tenang menghadap mereka.
Apa yang dia katakan tadi? Bermain? Satu kata terlintas di pikiran mereka.
“Ayolah, orang di belakang bahkan tidak cukup untuk pemanasan.”
Ketika orang lain sedang dalam keadaan gelisah, bingung dan tidak tau harus bagaimana. Seseorang maju dan bertanya.
“Siapa kamu?!!”
Takano melihat gadis ini menginjak beberapa kepala bawahannya untuk sampai ke tempat itu. Dia juga sempat melirik bawahannya yang terbaring di belakang. Gadis itu, bukan gadis biasa.
Agni balas menatap Takano dan tidak bisa menahan siulan dalam hatinya. Sebagai seorang protagonis, ketampanan Takano bukan hanya kata-kata belaka. Jika boleh dikatakan, Takano mirip dengan Voice Actors Kaito Ishikawa dari masanya dulu.
Takano mengerutkan kening melihat tatapan tidak senonoh Agni. Bisakah seorang gadis menjadi kurang sopan, pikirnya.
“Tidak, tidak. Kamu salah. Yang benar, Kamu. Siapa. Sialan!!!”
Agni merasakan dadanya panas. Jantungnya berdetak kencang penuh adrenalin. Dia menjilat bibir tipisnya sambil melihat orang-orang kuat disekitarnya.
Beraninya mereka melukai target penyelamatannya. Apakah mereka ingin membuat tugasnya lebih sulit. Biarkan dia menyelesaikan dunia ini dengan cepat. Kemudian mati dengan tenang!
Meski dia tidak akan bunuh diri, banyak hal bisa dia lakukan untuk mati dalam 1 tahun.
Agni maju dengan cepat. Perkelahian tidak bisa di hindarkan. Mereka yang memakai alat di sambut dengan tongkat pemukul baseball. Sedangkan yang lainnya mendapat tendangan dan pukulan rahang. Jika mereka tidak pingsan, mereka akan menghadapi ronde kedua dimana tulang rusuk atau tulang kaki retak.
Jin melihat gadis kecil di antara banyak pria dengan takjub. Apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak bisa menjelaskan. Dia bisa merasakan gadis itu membantunya. Jin tidak bisa melupakan punggung ramping yang berdiri tegak beberapa saat lalu. Tiba-tiba dia sedikit merasa tidak enak. Dia memiliki perasaan rumit dihatinya.
Ketika dia fokus lagi, dia melihat Takano menyerang gadis itu dari belakangnya.
Sialan, tidak beradap!
Jin bergerak dan membatu gadis itu memblokir Takano.
“Yo, Tuan Muda Jin. Mendapat bantuan bukan.”
Takano terkejut ketika serangannya di blokir Jin. Takano mundur dan berhadapan dengan Jin. Dia menunjukkan senyum ironis dan sarkasme.
“Tuan Muda Jin, saya bahkan tidak pernah tau jika bawahan anda adalah gadis. Abaikan gender itu, dia sangat kuat. Bukankah Jin berkata tidak merebutkan kursi. BERANINYA KAU BILANG TIDAK AKAN MENGAMBIL KURSI DUNIA BAWAH SAAT SEMUA TERLIHAT SEPERTI INI!!!"
“Memang.”
Jin menjawab dengan ambigu. Tapi niatnya jelas. Dia memang tidak menginginkan kursi yang dimaksud Takano.
Takano menggertakan giginya. Inilah Jin, kata-kata sangat sedikit. Bahkan setelah banyak hal, dia tidak pernah melihat matanya kabur dan mulutnya memohon. Takano merasa Jin seperti seorang raja alami. Takano sangat membenci ketika dia merasa kalah dari orang lain.
Takano bisa merasakan sekelilingnya berubah buruk. Dia ada di kondisi tidak beruntung.
Takano tidak bisa terus menerus memperhatikan ego dan harga dirinya. Dia memberi kode orang-orang dibawahnya untuk mundur.
Sisa 43 orang yang berdiri dengan goyah, saling membantu mengambil orang-orang yang sudah tidak sadar. Beberapa dari mereka juga sampai dibangunkan dan berjalan sendiri dengan tertatih-tatih.
“Aku akan kembali. Jin! Dan, nona! Awasi dirimu.”
Agni mengangkat alisnya. Dia merentangkan tangan, siap kapan saja Takano datang menantangnya. Tapi tidak bisa memikirkan kata-kata klise seperti dalam beberapa novel pada peran penjahat.
Setelah gang itu menjadi sepi, Jin jatuh berlutut. Agni berbalik dan berjalan ke arah Jin.
Wajah Jin memang penuh luka, tapi tidak bisa menyembunyikan ketampanannya. Darah di tubuhnya juga tidak membuat Agni jijik. Agni hanya terpana. Agni menelan ludahnya tanpa sadar. Dia bisa melihat bayangan Yudai Chiba di tingkatkan dari wajah Jin. Poninya yang mengarah ke belakang membuka wajahnya sepenuhnya. Agni merasa tidak bisa berpaling.
Ayolah, siapa yang akan melepas keindahan ketika itu ada di depan mereka.
“Siapa kau?”