Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Movie Actors Hidden Boss (21)



Hari-hari berjalan seperti biasa.


Tiga hari kemudian, Jordan memaksa Agni untuk melakukan pemeriksaan. Benar, memaksa. Agni sebenarnya tidak ingin pergi untuk melakukan pemeriksaan. Namun, dia dikalahkan oleh ketegasan Jordan.


"Ini karena kamu bicara aneh."


Reza menerima Agni dengan wajah geli. Dia tidak pernah menyangka jenius satu ini akan mengalami nasib diperintah oleh orang lain.


"Kenapa kamu tidak memberikan hasil tes bulan lalu. Semua akan beres."


Bukankah lebih merepotkan melakukan hal-hal ini!


Agni merasa sedikit kesal dihatinya. Dia berhasil mendapat beberapa petunjuk belum lama ini. Dia mungkin bisa memecahkannya jika tidak disela oleh hak semacam ini.


"Tidak mungkin, kamu sangat susah melakukan tes kesehatan. Kamu bilang bulan lalu? Maksud kamu dua bulan yang lalu. Sebelumnya kamu juga menunda empat bulan untuk melakukan tes. Aku sudah bilang untuk datang satu bulan sekali, tapi kamu tidak menurut. Ini adalah pembalasan."


"Nona, kamu tidak bisa melakukan itu. Mulai sekarang aku akan menemanimu melakukan pemeriksaan. Kamu harus memastikan tubuh mu tetap sehat, Nona."


Agni melihat Jordan dan Reza bergantian. Dia menghela nafas panjang dihatinya. Dia melihat mereka berdua dengan tebang


"Menyebalkan."


Meskipun dia kesal. Dia tidak bisa melakukan apapun pada dua orang ini.


Berbeda ketika dia melakukan semua hal sendirian, perasaan diperhatikan membuatnya sedikit senang.


Reza membawa Agni menjalani berbagai prosedur. Sementara Jordan menunggu di luar.


Proses pemeriksaan berjalan selama beberapa jam sebelum selesai.


Jordan menunggu dengan perasaan bingung. Ada sedikit kecemasan dimatanya. Dia tidak menyangkal memiliki perasaan pada Agni. Memikirkan dia memiliki sesuatu, membuat Jordan tidak tenang.


Setelah beberapa saat Reza keluar membawa Agni. Jordan berdiri dan mendekati mereka. Dia menatap mata Reza, jelas dia bertanya mengenai hasilnya. Reza juga tidak mengecewakannya, dia mengangguk dan tersenyum tenang.


Jordan merasa sesuatu terlepas dari hatinya. Seolah-olah ada beban berat terangkat.


Jordan menghela nafas lega. Agni tidak memperhatikan pertukaran keduanya, dia mengatakan pada Reza dan Jordan untuk pergi terlebih dulu. Sesaat setelah pemeriksaan selesai, dia menerima pesan dari Gustam mengenai keberadaan pamannya.


Semenjak Agni menemui Gustam. Mereka membuat kesepakatan kerjasama. Agni akan memberi informasi yang dibutuhkan Gustam saat dia menerima satu atau dua informasi tambahan dari Gustam.


Sebelumnya, Gustam mengatakan bahwa dia mendapat surat yang ditunjukkan pada Agni. Surat itu masuk dari bawahannya, tidak jelas siapa pengirimnya. Ketika Gustam membaca surat itu. Dia dengan pasti mengatakan itu berasal dari Paman Agni.


Mereka sedikit ragu saat Agni pergi dengan tergesa-gesa. Namun mereka tidak terlalu banyak memikirkannya.


Itu beberapa menit setelah Agni benar-benar menghilang dari pandangan mereka. Jordan meminta hasil tes pada Reza.


Reza, tentu saja memberikannya dengan mudah.


Melihat hasil melihat hasil kesehatan yang baik-baik saja, Jordan akhirnya puas.


"Kenapa kamu sangat mengkhawatirkannya."


"Apa kamu tidak tau?"


Reza terdiam. Hal semudah ini, jika dia tidak bisa menebaknya, dia akan malu mendapat julukan jenius muda di bidang kedokteran.


Melihat waktu, Jordan akhirnya bertanya. Dia ingin tau mengenai masa kecil Agni. Bagaimana kehidupannya, apa yang sering dilakukan, bagaimana dia tumbuh dan banyak hal.


Reza melihat Jordan dalam waktu yang lama sebelum mengajaknya ke ruang kerja. Dengan itu, dia setuju menjawab semua pertanyaan Jordan.


"Dimana suratnya?"


Agni datang ke warnet yang dimiliki Gustam. Gustam melihat Agni masuk dengan terburu-buru. Rambutnya berhamburan, ada beberapa keringat di keningnya, namun wajahnya masih cantik. Tapi, Gustam tau, keponakannya yang satu ini benar-benar mengerikan saat menggunakan kepalanya.


Dia menyerahkan surat yang diterima dengan tenang. Agni membuka surat itu. Dia membacanya selama beberapa detik sebelum merobeknya menjadi berkeping-keping.


"Sial!"


Surat itu hanya memiliki beberapa kata


...Pembalasan ku akan segera selesai....


"Dendam apa yang dimiliki pamanmu."


"Bagaimana aku tau."


Agni berpikir. Dia mencari-cari didalam ingatannya. Berharap menemukan petunjuk. Tapi tidak ada.


Tiba-tiba Agni merasa pusing. Ada sesuatu. Dia merasa ingatannya kabur. Seolah-olah ingatan itu disembunyikan.


"Aku akan kembali dulu."


Entah apa yang dia pikirkan, dia tidak pindah setelah beberapa jam.


"Halo, kakak cantik, apa kamu baik-baik saja?"


Agni tersentak dari lamunannya.


"Aku baik-baik saja."


Sistem merasa aneh. Dia tidak tau apa yang terjadi pada tuan rumahnya. Karena tuan rumahnya bisa mengaktifkan dia, artinya tuan rumah memenuhi syarat menyelesaikan tugas.


Namun, baru dunia pertama. Tuan rumah sudah seperti ini. Ini membuatnya sedikit khawatir.


[Nyonya?]


'Tidak apa-apa.'


Anak kecil didepan Agni tiba-tiba berdiri tegak dengan kedua tangan ditekuk di samping tubuhnya.


"Kak, ini sudah sore. Kata mama ku, sangat berbahaya diluar. Anak perempuan harus melindungi dirinya sendiri."


Agni menunduk dan melihat anak laki-laki kecil didepannya. Dia tersenyum kecil. Tidak jauh dari sana ada seorang wanita dewasa melihat mereka.


"Baik, kakak tau."


Dia menunjuk suatu arah. Anak itu mengikuti arah yang ditunjuk. Benar saja, anak itu sangat senang. Tapi dia menunduk dan tidak pindah. Agni bertanya-tanya.


"Ada apa?"


"Mama sudah menjemput ku. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan kakak. Aku melihat kakak sendirian di sini dari tadi. Kakak sangat cantik, pasti banyak orang yang menginginkan kakak. Apa kakak tidak punya pacar? Aduh, ini sangat sulit. Apakah aku harus jadi pacar kakak. Aku sudah menyukai Jeje, aku tidak bisa menyukai kakak lagi. Mama bilang laki-laki hanya boleh menyukai satu orang. Tapi kakak lebih cantik dari Jeje. Bagaimana ini...."


Agni terdiam oleh pola pikir anak ini.


Wow, benarkah?


Seorang anak benar-benar memikirkan hal semacam ini sekarang.


Agni tidak hanya merasa lucu, dia juga merasa ini menyeramkan. Sistem juga mendengarnya. Dia hampir tertawa terbahak-bahak saat sebuah tirai hitam akrab menutupinya.


[....]


WTF!! (⁠ノ⁠`⁠Д⁠´⁠)⁠ノ⁠彡⁠┻⁠━⁠┻


"Anak kecil, Kakak ini milik ku. Jangan pernah berpikir tentangnya."


Sebuah tangan tiba-tiba muncul dan melingkari pundak Agni. Agni mengenali suara ini.


"Ah? Benarkah? Kakak cantik, apa ini pacarmu? Jika bukan, kamu bisa berteriak. Aku akan membantumu kabur."


Jordan tiba-tiba merasa pembuluh darah di keningnya berdenyut. (⁠ʘ⁠言⁠ʘ⁠╬⁠)


"Pfft. Ehem, ya. Ini pacar kakak. Kamu bisa tetap menyukai Jeje. Sekarang, pulanglah bersama ibumu."


"Benarkah? Baiklah, karena kakak cantik mengatakan itu aku akan percaya. Selamat tinggal, kakak cantik dan paman bertopeng."


Anak itu berpamitan pada Agni dan lari lebih cepat. Jordan sudah bersiap mengejar saat Agni menghentikannya.


"Paman bertopeng, jangan terlalu galak dengan anak kecil."


"Nona~ apa aku terlihat seperti seorang paman?"


Akhirnya Agni tidak bisa menahan tawa. Tentu saja, Jordan tidak seperti seorang paman. Tapi, melihatnya digoda anak-anak membuatnya sangat lucu. Melihat bagaimana Jordan tidak berdaya sangat menyenangkan.


Jordan awalnya kesal. Dia ingin mengambil kesempatan bertindak manja. Namun, melihat tawa Agni. Dia terdiam. Jordan bisa merasakan hatinya ikut bahagia karena tawa Agni. Mungkin inilah bagaimana orang jatuh cinta.


Terkadang akan khawatir, cemas, gundah. Terkadang akan senang, gembira dan lega.


Kemudian, Jordan duduk di dekat Agni. Mereka mempertahankan posisi selama beberapa saat.


Agni bisa merasakan hatinya tenang saat ini. Tidak perlu terlalu memikirkan apapun. Dia selalu bisa memikirkan beberapa cara saat sesuatu benar-benar yang muncul didepannya.


Cahaya matahari tenggelam menyinari mereka dari belakang. Saat langit berangsur-angsur menjadi gelap. Jordan berdiri lebih dulu.


"Haruskah kita pulang?"


Agni menghela nafas panjang. Ada senyum di wajahnya.


"Baik."