Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
The Boss (8)



Agni membuka matanya dengan lelah. Dia yakin tidak melakukan apapun yang membuatnya menjadi sangat lelah seperti sekarang. Agni melihat lingkungan putih yang familiar. Memberinya perasaan suram yang kuat.


Bau disinfektan dan kesunyian menyedihkan. Jika ada tempat yang dia benci dalam hidupnya, mungkin itu hanya adalah rumah sakit.


Dalam kepala Agni, Rumah Sakit merupakan tempat seseorang mendapat harapan dan kehidupan baru. Hanya saja, Rumah Sakit juga tempat seseorang berhenti berharap dan menjadi putus asa. Rumah Sakit merupakan tempat untuk menyelamatkan orang juga menjadi tempat mereka berakhir. Mungkin orang normal tidak merasakan apapun, lagipula Rumah Sakit dibangun sebagai tempat seseorang berobat dan menyelamatkan hidup mereka. Tapi Agni tidak bisa seperti itu, sejak dia berkunjung pertama kali ke rumah sakit hanya kesedihan yang bisa dia rasakan.


Dia bukan orang yang peduli pada orang lain. Tapi dia memiliki empati dan simpati. Dia tidak suka dengan perasaan suram dan menderita disekelilingnya.


Mereka, sebagian besar melihat orang yang disayangi menderita, melihat bagaimana orang yang disayangi sedikit demi sedikit berjalan ke pintu maut. Bagaimana mereka tidak sedih. Setiap tangis dan wajah susah mereka adalah sebuah cambuk dihari Agni.


Itulah kenapa sejak dulu bahkan jika Agni sangat sakit, dia tidak pergi ke tempat ini. Itu juga membuatnya memiliki sedikit penolakan terhadap obat.


Agni tidak tau kenapa, tapi dia merasakan hal yang sama bahkan jika dia berubah tubuh. Khususnya saat ini


Dulu saat merawat Jin, target penyelamatannya. Dia memilih sebuah bangsal VIP untuk satu orang. Dia mencoba mengisolasi diri dari banyak orang yang menderita. Dia juga tidak sering tinggal di Rumah Sakit. Untung saja, dia bisa bertahan saat itu.


Tapi sungguh,. Bagaimana dia bisa ada di sini!


Agni mencoba duduk. Tanpa sadar tangannya yang mendapat suntikan jarum berdenyut. Dia menyipit dan melepas jarum tanpa sepatah kata. Bahkan jika ada darah yang keluar dia tidak peduli.


[Nyonya!!]


Agni tiba-tiba teringat keberadaan Sistem. Dia dengan cepat bertanya. Tangannya tidak berhenti berjuang membantunya duduk.


‘Apa yang terjadi?’


[Apakah anda tidak mengingatnya? Anda tidak pulang ke rumah dan langsung pergi ke tempat target penyelamatan setelah selesai sekolah]


Agni sedikit mengerutkan kening. Dia ingat itu.


‘Bagaimana aku disini?’


[Tentang itu, anda tidak sadar setelah menunggu target penyelamatan di depan pintunya selama 4 jam. Anda sedang menderita demam. Selain itu Anda sudah... Eh, darah!! Nyonya, tangan, tangan, tangan.…]


‘Diamlah.’


Agni memijat pelipisnya sedikit untuk meringankan kepalanya yang kembali pusing. Dia turun dari tempat tidur, meletakkan kaki di lantai. Dia bisa merasakan kakinya, tapi sangat lemah. Agni menyipit kesal.


Dia mengambil beberapa saat sebelum mencoba untuk berdiri, namun dia masih belum kuat berdiri. Tubuhnya limbung dang jatuh begitu saja. Tangannya ingin menggapai sesuatu untuk menopang tubuhnya, namun dia mengenai rak disampingnya dan membuat benda diatasnya berjatuhan.


“Aguni!!!”


Agni dengan linglung melihat seseorang berjalan tergesa-gesa kearahnya. Dia mendongak dan melihat wajah khawatir Jin.


“Hai, Jin-kun.”


Agni memberi Jin senyum cemerlang miliknya. Tapi senyum cemerlang di wajah Agni hanya membuat hati Jin seperti digali. Dia hanya merasa Agni berpura-pura kuat setelah jatuh.


“Diam. Apa yang kamu lakukan?!”


“Aku…. Ini….” Agni tiba-tiba sedikit canggung. Dia merasa bersalah didepan mata Jin yang tulus. Dia masih menopang tubuhnya dilantai dengan tangan. Ketika Jin sudah ada dideonnya, Agni menunduk.


“…Aku tidak suka rumah sakit.” Bisiknya.


Jin kemudian melihat kekacauan disekitar Agni. Selain barang-barang yang berjatuhan. Jarum infus juga tergantung begitu saja. Jin melihat tangan Agni sedikit bengkak memiliki beberapa darah di sana. Api kemarahan tidak dikenal berkobar di hati Jin seketika. Dia berkata kasar.


“Bagaimana keadaanmu?”


Agni, yang baru saja merasa canggung dan bersalah : “….”


WTF!!!


Jin berlutut dan membantu Agni untuk berdiri. Namun tangannya diblokir oleh Agni secara langsung.


“Tidak, aku bisa sendiri.”


Jin masih sedikit marah. Jadi dia menarik diri dan berdiri satu langkah dari Agni.


Agni menopang tubuhnya dengan tangan dan mencoba berdiri. Perlahan-lahan dia bisa berdiri. Dia merasa lega. Namun tidak lama dia berdiri, tubuhnya berayun.


Dia akan menggapai sesuatu sehingga tidak jatuh lagi. Tapi saat itu juga, tubuhnya jatuh ke pelukan hangat.


Agni berkedip beberapa kali.


“J-J-Jin??”


Sistem: [….]


Jika sistem tidak melihat tugas yang dia miliki tidak berkembang. Dia hampir percaya tuan rumahnya bertingkah malu dan gugup. Sungguh, bagaimana tuan rumahnya memiliki wajah merah begitu saja. Apa tuan rumahnya memiliki kontrol warna!!


“Kembalilah ke tempat tidur.”


Agni tidak ingin melepaskan kesempatan keluar dari Rumah Sakit. Dia menjawab dengan tegas.


“Tidak!!”


Agni memegang baju Jin dengan erat. Dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya dari Jin. Jika Jin bisa melihatnya, dia mungkin melihat Agni memasang wajah datar dan dingin yang menakutkan.


“Kenapa?”


Jin melembutkan hati dan merasa tidak tega dengan Agni. Kemarahannya lenyap ketika Agni menarik bajunya dengan erat.


Jin sedikit mengerti mengenai Agni. Khususnya dia yang saat ini hidup sendiri tanpa kerabat. Jin selalu merasa jika Agni hanya menggunakan topeng saat ceria dan melompat bahagia sebelumnya. Karena itu, ketika Agni jatuh sakit seperti ini Jin dengan sepenuh hati akan merawatnya.


Tidak seperti dia yang Ibunya akan berkunjung atau Asisten ayahnya yang akan mengirimkan barang dan melihat perkembangan kondisinya. Agni tidak memiliki siapapun.


“Aku benci rumah sakit.”


Jin mendengar suara pelan Agni. Dia sedikit terdiam beberapa saat. Sebelum menghela nafas.


“Apakah kamu bisa berjalan?”


“Aku rasa bisa.”


“Tunggu sebentar disini. Aku akan.memanggil dokter untuk melihat kondisimu. Jika semua baik, aku akan menyelesaikan administrasi. Setelah itu kita bisa pulang. Asal kamu tau, kamu sudah 2 hari demam.”


Jin membimbing Agni duduk. Sebelum dia pergi.


Bahkan jika dia memiliki aroma Agni di tubuhnya. Dia tidak memperhatikan dan pergi keluar bangsal.


Agni sendiri duduk melihat dengan kosong kepergian Jin. Apa yang dikatakan tadi? 2 hari? Sistem tidak.…


Yang benar saja!!


‘Foxy!!!’


Sistem yang sudah melihat semuanya, tentu saja menjadi mati. Jangan bercanda, tuan rumahnya seperti iblis yang keluar dari neraka sekarang. Bagaimana mungkin dia mencari masalah sendiri. Mengingat dia tidak menyelesaikan laporannya dan mengganggu perbuatan baik tuan rumahnya. Sistem lebih tidak ingin muncul.


Meskipun itu juga karena dia terlalu peduli dengan mental tuan rumahnya.


Agni yang diacuhkan sistem tidak bisa berkata-kata.


Bajingan!!!


Tapi Agni ingat mengapa sistem tidak melanjutkan laporan tadi dan tidak mempermasalahkannya.


Semua bergerak cepat. Dokter berkata dia bisa pulang dan mengonsumsi beberapa obat sehingga kondisinya tidak berulang. Sementara itu Jin mulai menyelesaikan administrasi, Agni juga tidak diam. Dia mengemasi barang dan mengganti baju.


Agni sedikit menghela nafas. Dia sudah 6 bulan lebih beberapa hari di dunia ini. Sejak awal, Agni sengaja membuat hubungan dekat dengan Jin, target penyelamatannya.


Dia tidak yakin awalnya. Dalam narasi asli, Jin seharusnya sudah tersingkir dan menjadi hitam. Tapi saat ini, Jin tidak seperti itu. Dia menjadi semakin baik. Auranya yang dia keluarkan bahkan melebihi Takano yang merupakan protagonis Laki-laki. (Hitam disini maksudnya manjadi jahat. Saya sedikit tidak nyaman menggunakan kata Jahat. Jadi saya memakai kiasan Hitam)


Karena setelah 1 tahun 5 bulan kemudian, dia akan mati. Agni yakin dia bisa mengetahui siapa orang yang ada dibalik kematiannya. Hanya saja, dia merasa tidak rela.


Jika dia berhasil mengetahui siapa yang berada di balik kematiannya. Dia tidak bisa membalas. Karena itu, untuk Jin yang bisa menyamai Protagonis dunia. Dia akan menggunakannya.


Dia berharap Jin bisa memenuhi ekspektasi miliknya dan membalaskan dendam jika dia mati.