
Harapan, sebuah kata yang menggambarkan perasaan sebagai dorongan untuk mencapai sebuah tujuan. Membantu seseorang mengambil langkah demi langkah untuk dapat mewujudkan apa yang diinginkan.
Saat seseorang diberi harapan, mereka terkadang terlalu terpaku oleh harapan tersebut hingga tidak melihat sekitarnya. Karena, terkadang harapan terlalu mendorong mereka untuk maju.
Dengan berharap, seseorang akan merasa mampu menghadapi tantangan dengan segala strategi untuk mencapai kesuksesan dan meningkatkan peluangnya untuk mencapai tujuan.
Jordan, selalu berharap menemukan keluarganya. Karena itu, dia dengan tegas masuk ke industri hiburan. Di banyak bidang industri berkembang, dia memutuskan untuk menjadi seorang aktor. Dia berpikir, jika keluarganya masih ada, mereka akan mengenalinya saat melihatnya muncul di televisi atau lainnya.
Jordan waktu itu berpikir, jika mereka mengenalinya. Mereka akan mendatanginya. Kemudian, dia akan bersama keluarganya lagi.
Tapi, Harapan itu hancur setelah keluarga yang dia nantikan berbalik. Mereka memang datang, mereka memang meningkatkan harapan yang sejak kecil dipikirkan Jordan. Jordan hanya tidak menyangka mereka akan menghapus harapannya itu.
Seolah-olah tidak ingin mengenalinya. Setelah sekali pertemuan, mereka tidak pernah datang lagi kepadanya.
Baru saja, kata-kata Agni membawa gelombang hebat pada Jordan. Benarkah dia tidak ingin mengetahui keluarganya lagi?
Perasaan yang dimiliki Jordan semakin rumit.
"Pergilah."
"Nona~"
"Jordan, selalu ada alasan untuk semuanya. Apa yang diketahui orang luar belum tentu benar. Bahkan jika, Tuan Ryan, mengatakan banyak hal dengan ku saat itu, bukan berarti semua benar dan aku harus mempercayainya."
Jordan melihat Agni. Saat ini, Agni seperti memiliki lingkaran cahaya di seluruh tubuhnya.
"Kamu harus mempercayai apa yang kamu lihat. Bukan apa yang kamu dengar."
Jordan menunduk. Ada satu lagi dipikirannya.
Kepada siapa Agni berjanji!
Ya, bukankah itu aneh. Kenapa dia mengatakan janji itu kepadanya. Dia tidak ingat telah berjanji pada Agni. Tidak, apakah dia mencoba membuatnya cemburu. Tentu saja tidak mungkin.
Lalu apa yang terjadi.
Jordan awalnya ingin bertanya. Namun, mengingat ada Ryan di dekat mereka. Dia terdiam.
Ryan saat ini melihat Agni dengan penuh terimakasih.
"Kalau begitu, aku akan menitipkan Jordan padamu mulai sekarang. Tuan Ryan, kata-kata saya saat itu masih berlaku."
"Ya, No...."
"Tidak, jangan memanggilnya nona."
Jordan tiba-tiba bicara memutus kalimat terimakasih Ryan. Di sana, bukan hanya Ryan, Agni juga kebingungan.
"Panggil saja Presiden! Dia merupakan pemilik perusahaan besar, kalian tidak akrab. Itu lebih pantas."
Tunggu, bukankah kamu selalu memanggilnya Nona?! Kenapa berbeda saat ada padanya!
Oh, apakah ini kecemburuan legendaris. Ryan tiba-tiba meludah di hatinya. Sifat sepupunya ini benar-benar sama seperti ayahnya.
Jangan lihat bagaimana Ryan dekat dengan ibu Jordan. Faktanya, dia jarang menghabiskan waktu bersama. Ini juga karena ayah Jordan yang sering membuatnya bermain sendiri sedangkan dia bicara dengan istrinya.
Melihat Jordan saat ini, Ryan tidak terlalu kesal.
Hanya bercanda, dia sudah mendapat makanan cinta semacam ini sejak masih kecil. Bisakah hal kecil ini memiliki efek padanya.
"Baik, aku akan pergi."
"Benarkah?"
"Ya, tidak sekarang. Tunggu sampai syuting film sekarang selesai."
"Baik. Aku akan memberitahu Paman dan Bibi terlebih dulu."
Jordan mengangguk. Kemudian, mereka berpisah. Ryan kembali ke asistennya. Karena dia tidak terlalu akrab dengan anak-anak, untuk keamanan, dia membawa asisten. Saat melihat Jordan pergi begitu saja, Ryan langsung memberikan keponakannya kepada asisten sementara dia mengikuti Agni dan Jordan.
Malam itu, Jordan tidak bisa tidur. Lebih dari kecemasan bertemu kedua orang tuanya, dia penasaran mengenai kata-kata Agni.
Dalam tidurnya, dia bermimpi.
Mimpi itu terbilang sangat aneh.
Dia bermimpi kembali menjadi anak-anak. Saat itu, dia sepertinya merasa banyak orang yang menggertaknya. Namun dia diselamatkan oleh seorang wanita dewasa, Jordan memanggil wanita itu dengan sebutan Nona. Di dalam mimpi, Nona mencoba mengobatinya, sepertinya dia mengalami sakit. Dia tidak tau kenapa, nona itu mirip, sangat mirip dengan Agni.
Nona itu memanggil seorang dokter. Dokter datang dengan cepat. Dia memeriksa Jordam sebelum mengeluarkan suntikan. Namun, Jordan sangat takut oleh jarum suntik dokter saat masih kecil. Dia memiliki bayangan gelap tentangnya. Kemudian, Dokter itu menepi. Nona yang mirip Agni membujuknya dengan lembut. Nona itu berjanji padanya beberapa hal sebelum dia memberanikan diri untuk disuntik. Lalu, mimpi itu berakhir.
Di pagi hari Jordan terbangun dengan kepala berat. Dia tidak tahu apakah mimpi yang dialaminya semalam itu nyata atau tidak. Tapi tanpa sadar Dia merasa bahwa mimpi itu nyata. Jordan kemudian mulai mengingat-ingat pertemuannya dengan Agni.
Eh?
Jordan merasa ada sebuah titik kosong dalam pertemuannya dengan Agni.
Tunggu, apakah itu saat pertemuan pertamanya dengan Agni.
Memang dia tidak mengingat Apapun yang terjadi saat itu setelah Agni menyelamatkannya. Ingatannya tentang malam itu menghilang. Kecuali lift, Jordan tidak mengingat apapun. Dokter juga mengatakan kalau ingatannya mungkin saja bisa hilang sehingga dia tidak peduli lagi.
Siapa sangka, ingatan itu adalah sesuatu yang sangat dia inginkan sekarang.
Tapi apakah itu artinya dia bersikap manja. Dia benar-benar seperti anak kecil di depan Agni. Apakah itu artinya janji yang Agni katakan adalah janji yang dia buat dengannya.
Tunggu, tunggu, kuncinya di sini adalah bersikap seperti anak kecil.
Jordan tiba-tiba memiliki perasaan malu. Dia malu untuk bertemu dengan Agni. Beruntung dia memiliki jadwal shooting yang padat akhir-akhir ini.
Kemudian, Jordan menghindari Agni. Dia akan berangkat lebih dulu atau pulang terlambat sehingga sulit saling bertemu. Agni juga terlihat sibuk yang sedikit melegakan.
Tentu saja, karena sekarang mereka tinggal serumah. Itu bukan masalah bagi Jordan untuk sesekali mengintip Agni.
Pagi itu, Jordan pergi ke tempat syuting dengan tenang. Dia bisa melihat banyak tatapan iri cemburu kagum dan lebih banyak tatapan berharap.
Tunggu, apa yang mereka harapkan?!
Saat Jordan sedang bingung dengan pikirannya sendiri, asistennya tiba-tiba datang.
"Jordan, apakah Ketua akan datang hari ini? Maksudku, karena kalian sudah mengumumkan kebersamaan, sepertinya tidak masalah jika ketua mengunjungi lokasi secara terbuka."
Selain kata-kata asistennya, Jordan juga tiba-tiba merasa mendengar beberapa bisikan aneh dari berbagai sudut.
"Entah kenapa aku merasa bahwa wanita itu lebih tampan daripada foto. aku benar-benar ingin melihat wajah aslinya Apakah dia akan datang hari ini."
"Bukan begitu melihat wanita cantik dan pria tampan berdiri bersama benar-benar memanjakan mata."
"Apa yang wanita itu. Dia presiden perusahaan besar. Jangan menyebarkan desas-desus aneh."
"Benar. Tapi, aku berharap presiden itu datang. Apakah dia seperti presiden-presiden sombong pada umumnya."
"Mungkin dia seperti tokoh dalam novel. Waahh."
"Coba pikirkan dia tiba-tiba datang kepadamu dan memberimu sebuah kartu hitam. Lalu dia bilang, gunakanlah sesukamu. Bukankah itu sangat romantis!!"
"Romantisme mu hanya pada uang, sial!'
"Apa yang salah. Lagipula memiliki uang memang hal yang terbaik."
"Setuju."
"Aku benar-benar ingin melihat presiden wanita legendaris itu."
Jordan menatap kosong ke depan. Dia tidak pernah menyangka bahwa meskipun berita di internet sudah surut, orang-orang di sekelilingnya akan memiliki sikap ini.
Jordan melirik asistennya dengan tenang Dia membalasnya dengan kalimat, tidak sekarang akan ada waktunya lain kali.
Jordan mendengar beberapa jeritan dan bisikan di belakangnya lebih keras. Tapi, dia tidak ingin memperdulikannya lagi. Jordan mulai fokus pada tiga hari ke depan. Dia akan menyelesaikan adegan di tempat ini. Setelah itu, mereka akan pergi ke tempat lain. Hal itu akan memakan 3 minggu sebelum syuting selesai.
Di tempat lain, Agni berjalan di sepanjang trotoar menuju jalan sempit sebelum akhirnya sampai di lingkungan biasa. Dia berbelok ke kiri dan kanan, melihat beberapa tulisan sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah warung internet. Dia melihat ke dalam warung internet dan melihat orang yang dicarinya. Senyum melintas di mata Agni.