Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
Movie Actors Hidden Boss (20)



Perjalanan berjalan mulus. Tidak ada percakapan didalam mobil. Agni sesekali melihat ponselnya sementara Jordan melihat mobil lalu lalang di luar jendela.


Akhirnya mereka berhenti. Jordan melihat keluar. Dia menunduk saat tebakannya benar.


Saat mobil dimatikan, gerimis mulai turun di luar. Mereka sangat tenang.


Pak Puwan keluar mobil lebih dulu. Dia membuka bagasi dan mengambil tiga payung. Dia membuka salah satunya. Dia mendekati pintu Agni dan membukanya. Dia menyerahkan payung yang belum dibuka. Agni menerimanya begitu saja. Kemudian dia keluar dari mobil. Pak Puwan juga melakukan hal yang sama pada Jordan.


Melihat Agni dan Jordan sudah berdiri diluar. Pak Puwan kembali ke bagasi dan mengambil buket bunga.


Jordan bisa melihat banyak batu nisan berjejer rapi. Tidak lama, sebuah mobil berhenti di dekat mobil mereka. Reza dan Gustam keluar dari sana.


"Hai."


"Sudah lama, dokter."


Reza menyapa. Agni hanya mengangguk sementara Jordan menjawabnya.


Gustam mendekat. Mereka berlima berjalan menuju pemakaman.


Jordan tiba-tiba menemukan sebuah kebenaran. Orang tua Agni ternyata sudah meninggal. Orang-orang luar mengatakan bahwa orang tua Agni tidak pernah muncul dan meninggalkan Agni karena tidak pernah ada berita yang mengatakan kedua orang tua Agni meninggal.


Jordan berdiri dibelakang Agni sementara Gustam dan Reza pergi ke sisi lain. Pak Puwan memberikan buket bunga pada Agni. Ada dua buket bunga. Mawar merah dan mawar putih. Agni meletakkan mawar merah di makam ibunya dan mawar putih di makam ayahnya.


Ibu Agni menyukai mawar putih, sementara ayahnya menyukai mawar merah. Ibunya pernah berkata, ayahnya adalah orang yang romantis saat muda. Dia selalu memberi ibunya bunga, bunga itu berisi surat yang berisi makna bunga. Ada alasan mengapa Agni meletakkan bunga yang disukai ayahnya ke ibunya dan sebaliknya.


"Jordan."


"Ya?"


"Ibuku menyukai mawar putih sementara ayahku menyukai mawar merah. Dulu, saat aku kecil, ayahku selalu pulang membawa buket mawar merah untuk ibuku. Meski ibu suka mawar putih, dia tetap menerima mawar merah ayahku. Aku bertanya, dan ayahku bilang kalau mawar merah adalah bunga yang diberikannya saat ibu menerima cintanya. Karena itu, setiap bulan, ayah akan memberikan buket mawar pada ibu...."


Mungkin itu adalah pertama kalinya Agni bicara panjang lebar. Jordan hanya berdiri dengan diam. Saat ini dia ada di sebelah Agni.


Jordan mendengar bagaimana keluarga mereka. Jordan tidak bisa berhenti membayangkan seorang putri kecil bahagia di tengah orang tuanya. Ada senyum kecil di wajahnya. Namun, senyum itu segera memudar.


Agni memberitahu Jordan mengenai kebangkrutan keluarganya. Bagaimana kedua orang tuanya berusaha membangun kembali perusahaan. Bagaimana orang tuanya berjuang agar mereka bisa makan setiap hari. Bagaimana mereka melindunginya saat teman-temannya yang dulu mengolok-olok dia.


Jordan saat ini dipenuhi kemarahan. Jika bisa, dia ingin kembali ke masa lalu dan memukul orang-orang itu.


Jordan lahir di lingkungan keras sejak kecil. Dia sudah biasa melakukan banyak pertengkaran. Namun, dia tidak bisa membayangkan bagaimana Agni. Seorang putri kecil yang tiba-tiba menjadi Cinderella. Bagaimana dia bisa baik-baik saja.


Tapi, dia kembali tenang saat mendengar Agni belajar satu atau dua trik dan memukul orang yang mengatakan hal buruk tentangnya.


Meski begitu, ayahnya akan tetap memberi ibunya satu tangkai bunga mawar setiap bulan. Ibunya pintar menanam tumbuhan, dia menanam banyak tanaman termasuk mawar putih kesukaannya untuk dijual. Tapi dia tidak pernah menanam mawar merah.


Di hari-hari sederhana itu, Agni sering melihat kedua orang tuanya bertukar bunga. Dibandingkan kehidupan glamor dan penuh tipuan, Agni menyukai kehidupan sederhana mereka.


Sayangnya itu tidak bertahan lama.


Ayahnya mengalami kecelakaan kerja, ibunya juga mengalami insiden saat menjual bunga.


Agni tidak memiliki apapun saat itu. Namun, dia tidak menyerah. Dia bersekolah, mencari beasiswa, bekerja paruh waktu. Bahkan, Reza baru mengetahui kesulitan Agni setelah lima bulan.


Dan saat dia ingin membantu, Agni menolaknya.


Kemudian kehidupan Agni berubah. Dia membangun perusahaan lagi dari nol. Dia mengembalikan reputasi kedua orang tuanya dan membalas mereka yang merendahkan ayahnya.


Kemudian dia menemukan bahwa ayah dan ibunya tidak meninggal secara sederhana. Agni saat itu, tubuh asli, mulai melakukan penyelidikan. Namun, tidak ada hasil sehingga dia berhenti terburu-buru. Dia melakukan penyelidikan perlahan-lahan.


Sampai Agni datang dan menemukan banyak terobosan.


"Paman dan bibi adalah orang yang saling mencintai."


"Tentu saja."


Merek terdiam. Agni kemudian berbalik. Mereka berdua berjala berdampingan. Pak Puwan sudah kembali ke mobil saat Agni menerima buket bunga.


Agni tiba-tiba berhenti. Jordan juga berhenti dua langkah didepan Agni. Dia berbalik melihat Agni.


Bum Bum Bum


Jordan merasa senyum itu bisa membuat jantungnya keluar dari tubuhnya. Agni jarang memiliki ekspresi di wajahnya. Jordan mungkin bisa menghitung berapa banyak Agni mengeluarkan emosinya.


Namun, kata-kata Agni membuatnya merasakan sesak. Dia merasa matanya mulai kabur.


"Jika aku meninggal, aku ingin seseorang memberi aku dan kedua orang tuaku bunga seperti ini."


Jordan mengambil satu langkah besar. Dia tidak banyak berpikir dan memeluk Agni.


"Jangan mengatakannya. Kamu akan hidup. Kamu akan hidup selamanya."


Agni hanya diam. Bar tersembunyi mulai bergerak lagi.


"Ya."


Agni tidak menjanjikan apapun. Dia hanya mengatakannya untuk menghibur Jordan.


Dia tau dia tidak akan lebih lama tinggal disini. Sebelumnya, sistem mengatakan perkembangan tugasnya sudah 78%.


Hanya tinggal beberapa persen sebelum Agni pergi. Dia yakin, kuncinya adalah menemukan pamannya. Setelah itu, Jordan akan bisa hidup dengan baik.


Mereka berdua akhirnya pulang. Jordan memegang tangan Agni dan tidak melepaskannya bahkan sampai mereka di rumah. Agni mengira dia dikejutkan oleh kata-katanya sehingga dia membiarkannya.


Dan tebakan Agni benar.


Keesokkan harinya, Jordan menemui Reza di rumah sakit.


Mereka duduk di bangku lorong rumah sakit yang sepi. Tidak ada siapapun di sana.


"Ada apa?"


"Ini tentang Agni."


Reza hanya diam. Dia tidak tau apa yang akan dikatakan Jordan, dan dia tidak tertarik bertanya.


"Apakah dia menderita suatu penyakit?"


"Tidak. Dia mengatakan sesuatu?"


Kini giliran Jordan yang diam. Dia tidak tau harus mengatakan apa.


Setelah banyak menit. Jordan akhirnya mengatakan apa yang terjadi di pemakaman pada Reza. Dia ingin Reza jujur padanya jika Agni memiliki sesuatu.


Reza mengerutkan kening.


"Pemeriksaan miliknya selalu baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah. Gadis jenius itu selalu membuat orang bebas khawatir. Kenapa dia mengatakan itu tiba-tiba."


Itu juga yang ingin diketahui Jordan.


"Aku akan melakukan pemeriksaan padanya. Besok, tidak. Tiga hari, aku akan mencoba mengosongkan jadwalku. Ajak dia kemari tiga hari kemudian."


Seseorang kemudian datang. Dia adalah laki-laki yang juga menggunakan jas dokter putih.


"Dokter Reza, kita siap melakukan operasi."


Reza berdiri. Dia berpamitan pada Jordan sebelum pergi.


Sebenarnya Jordan ingin mengetahui lebih banyak tentang Agni. Tapi dia tidak melakukan. Dengan kepergian Reza, dia juga pergi.


Saat Jordan melewati sebuah pedagang kaki lima. Jordan berbalik, dia tidak tau mengapa. Dia merasa ada yang mengawasinya. Jordan menyentuh masker dan membernarkan topinya sebelum pergi dengan tergesa-gesa.


Pedagang kaki lima yang dia lewati tiba-tiba melihat ke arah Jordan pergi. Ada senyum licik di wajahnya.


"Sebentar lagi, pembalasan ku akan lengkap."