
Aldi dan revia sekarang di depan rumah mama nya revia. Mereka memasuki gerbang dan di sana masih terukir indah tulisan *ravindra house*.
Revia memutuskan untuk berbaik kan dengan mamanya siapapun yang salah sebagai anak dialah yang harus berbakti bukan.
Revia di persilahkan masuk oleh bodyguard dan memberitahu kan bahwa mama nya ada di kamar.
Aldi ikut bersama revia.
Revia membuka pintu kamar mamanya dan terlihat lah sosok wanita paruh baya yang anggun sedang duduk di balkon kamar nya.
"Huftttt".
Revia menghela nafas nya dan berusaha melupakan apapun yang terjadi di antara mereka.
" mama".
Revia berdiri di tempat nya.
Mama revia menoleh dengan tatapan tidak percaya nya sekarang putri nya kembali lagi kepada nya.
"Re-revia".
Mama nya memeluk hangat putri tercinta nya.
" mama apa kabar? ".
Revia perlahan melepaskan pelukkan mama nya.
" mama baik, kamu gimana? Udah sembuh? Maafin mama ya re".
Terlihat raut wajah menyesal di mata wanita yang sudah melahirkan revia ini.
"Udahlah ma, lupain semua. Revia sekarang udah gede ma, revia berfikir kalau revia ga punya banyak waktu lagi bukan untuk menjadi putri kecil nya mama. Masa kecil revia juga ga sepenuhnya sama mama dan sekarang keadaan nya juga gini".
Revia mengenang segalanya.
" maafin mama revia, mama benar-benar menyesalinya. Mama tidak berfikir untuk mencari laki-laki lain lagi. Setelah mama fikir ga ada laki-laki sebaik papa kamu dalam kehidupan mama".
Revia tersenyum.
"Revia ga keberatan kalau mama nyari pengganti papa, tapi seperti kata mama. Mama ga akan nemuin sifat papa dalam diri pria lain ma, karna yang kayak gitu cuma papa".
" ga sekarang rasanya mama ingin sendirian aja bersama anak-anak mama, aldi? Jagain revia terus ya mama percaya sama aldi jangan ngerusak kepercayaan mama".
Pesan mama revia.
"Siap mama mertua".
Aldi tersenyum.
" ihhh genit banget panggilan nya".
Revia mencubit lengan aldi.
Mama revia tampak berharap kehadiran anak-anak nya.
Revia mengerti di usia seperti sekarang tidak ada lagi kebahagiaan terbesar orang tua selain melihat anak-anak mereka bersama mereka .
" oke mah, re coba nelfon kak davie. Re yakin dia ga akan marah sama mama. Kalau gitu re ke kamar dulu ya".
"Iya re , kamar itu akan selalu jadi kamar kamu sayang. Sekalian nih aldi ganti baju juga kamar kamu juga ada di sini kan".
" hehehe iya mama mertua. berharap nya bisa satu kamar sama re ".
Aldi terus bercanda.
" selesai in dulu sekolah nya".
Tegur mama revia.
Revia masuk ke kamar nya bagi revia ini lah rumah nya. Kamar hasil dekorasi papa dan keinginan revia kecilnya.
Meskipun ada rumah dan villa lain tapi inilah rumah bagi revia.
"Ouh iya aku harus menelfon kak davie".
Revia menekan nomor sang kakak dan di sebrang sana davie Tengah berada di kantor, ia pun mengangkat telfon dari adiknya.
" iya dek? Kenapa? ".
Tanya davie.
" kakak, bisa pulang sekarang ga kita makan bareng sama mama. Maksudnya di rumah kita".
"Apa? Rumah kita? ".
Davie merasa dirinya seperti salah dengar.
" kak, re mohon kakak lupain semua. Biar bagaimana pun mama. Dia tetap mama kita dan cuma dia orang tua yang kita punya sekarang.
Re ga pengen waktu merebut semuanya dengan cepat, kita gatau kan apa yang akan terjadi kedepan nya".
Davie paham maksud revia ada benar nya. Mereka sudah dewasa jika semua waktu di habiskan dengan kemarahan seperti ini. Kapan lagi mereka bisa berkumpul bersama mama.
"Eumm iya dek nanti kakak kesana sama vino".
" oke makasi ya kak".
Revia menutup telfon nya.
"Awal dari segala nya akan dimulai".
Revia tersenyum.