Queen January

Queen January
aku akan mengambil nya darimu(part 64)



Sekarang revia terbangun dengan kepala yang masih nyeri dan di ruangan ini aroma obat-obatan sangat pekat. Ia fikir ia ada di rumah sakit. Namun ia salah ini adalah rumah . tapi rumah siapa.


"Awhhh".


Revia memegangi kepala nya yang di perban .


"Selamat siang nona,anda sudah bangun?".


Seorang pria membungkuk sopan.


"Siapa kamu?".


Dia bukan pengawal revia dan seperti nya bukan orang negara ini.


"Saya yang akan membantu anda jika anda membutuhkan apapun".


Dia berdiri tegap .


"A-aku ingin pulang".


Suara revia masih terdengar lemah.


"Nanti kalau sudah waktu nya anda akan di bawa pulang".


Dia tersenyum.


"Tapi... Semua orang pasti mencari ku kan".


"Nanti kita akan kembali mencari mereka kalau begitu".


Dia terlihat kaku dan tidak seperti vino yang bisa ia becandai seperti kakak sendiri.


"Ouh ya kalau boleh tau siapa yang membawa ku kesini?".


"Yang membawa anda adalah tuan besar".


"Siapa?apakah aku mengenal nya".


"Tentu saja karna kalian punya ikatan darah,karna itulah saya harus menjaga anda dengan nyawa saya".


Dia menatap revia.


Siapa yang menolongku?punya ikatan darah?huh kenapa tidak langsung jelaskan saja . semua orang pasti mencari ku.apakah mama juga menghawatirkan ku. Atau malah memaafkan pria itu. Huft sungguh anak yang tidak beruntung.revia.


Revia merenungi nasib nya saat ini.ia melihat sekeliling .mata nya mengitari ruangan yang di depan nya kita bisa melihat kolam dan kaca putih bersih di sekeliling nya dan ada seorang pengawal yang berdiri di dekat nya saat ini.


"Ehem boleh aku minta sesuatu".


Revia bosan saat ini.


"Silahkan nona anda mau apa?".


"Aku mau keluar ,emm ya aku tau kau di suruh menjaga ku maka kau boleh temani aku ".


Revia berharap dia mau .


"Baiklah!karna tenaga mu belum pulih kita keluar dengan kursi roda karna tuan tidak mengizinkan anda berjalan dengan kondisi saat ini".


"Emm baiklah".


Revia setuju selanjutnya ia akan meminta hal lain karna pasti semua orang menghawatirkan nya.


Pria itu menekan tombol di dekat nya dan datanglah pelayan lainnya ,yaitu dua orang wanita.


"Ada apa tuan?".


"Bawakan kursi roda !cepat!".


Dia terlihat sangat dingin bagi revia.


Dua orang wanita itu membawakan kursi roda dan memindahkan revia dengan hati-hati.


Ia mulai mendudukkan revia dan memegangi tangan nya .


Revia mencoba berdiri tapi ia merasakan seluruh tubuh nya sangat ngilu.


"Aaawh".


Revia meringis.


"Kalau kau tidak hati-hati melakukan nya lihat akibat nya nanti ".


Kata pria itu kepada para pelayan itu.


"B-baik tuan".


Ia tertunduk.


Setelah revia berhasil duduk kedua orang itu keluar .


"Apakah tubuh mu masih sakit?akan ku panggilkan dokter".


"A tidak -tidak aku tidak apa-apa,aku ingin tau siapa namamu?


Revia mencegah nya.


"Ouh maaf aku belum memperkenalkan diri ,kau bisa memanggil ku hans ".


Dia membungkuk.


"Tidak perlu formal begitu anggap saja aku ini adikmu".


"Tidak bisa begitu nona !aku tidak berani melakukan itu kau adalah ....".


Dia tidak melanjutkan ucapan nya.


"Aku adalah apa...?".


"Ah tidak ,anda kan putri nya keluarga ravindra ,saya tidak berani melangkahi tuan davie dann menggantikan posisi nya ".


Ia tersenyum.


"Jadi kau mengenal kakak ku?".


"Siapa yang tidak kenal dengan kk anda nona,orang biasa juga akan tau".


Dia mulai mendorong kursi roda revia dan memasuki lift.


"Tunggu !kita sedang di lantai berapa memang nya".


"Kita ada di lantai 8 anda jangan takut saya tidak akan mendorong anda dari lantai ini tentu nya".


Ia mengingat kan revia pada kejadian saat ia jatuh.


"Emm hans ?aku ingin menelfon seseorang bisakah aku meminjam ponsel mu?".


Sekarang mereka berada di dalam lift.


"Emm baiklah anda boleh menelfon".


Hans memberikan ponsel nya dan keluar dari lift dengan mendorong kursi roda revia.revia melihat ada banyak penjaga di sana mereka diam dan sangat siaga .


Revia mulai menelfon no kakak nya dan tentu saja davie mengangkat dengan cepat,sekarang ia kacau sekali kerna kehilangan adik nya.


"Hallo".


Suara lembut revia mengagetkan davie .


"H-halo ini siapa?!".


Davie kelihatan sangat berharap ini benar revia. Dan seperti harapan nya.


"Ini aku kak , revia. Aku baik-baik aja".


Seketika davie kaget dan menatap layar ponsel nya.


"Vino!!!!".


Davie memanggil vino karna ia takut ia hanya salah dengar karna terlalu memikirkan adik nya.


"Ada apa tuan!".


"Dengarkan ini".


Davie memberikan ponselnya pada vino.


"Apa benar itu adik ku".


"Halo kak davie?kau masih mendengar kan ku?".revia heran karna tidak mendengar suara davie.


Vino mengangguk ."ya ini nona revia tuan".


Davie langsung mengambil ponsel nya dan sangat senang.


"Hallo re kamu dimana".


"Aku gatau kak tapi aku baik-baik aja ".


"Kakak jemput kamu .share lock ya".


Davie Sekarang tersenyum.


"Maaf nona boleh aku bicara dengan kakak mu?".


"Emm baiklah".


Revia mengizinkan.


"Hallo tuan".


"Kau siapa???".


"Aku seseorang yang di tugaskan menjaga adikmu dan kau tidak bisa menjemput adik mu sebelum tuan ku kembali".


"Apa maksud mu!!!!dia adikku dan akau akan menjemput nya".


Davie memberikan isyarat pada vino agar melacak lokasi revia menelfon saat ini.


"Tenang saja aku menjaga adikmu lebih baik dari dirimu ".


Hans meremehkan davie.


"Tunggu di sana akan ku habisi kau!!!".


Davie mematikan telfon saat vino sudah menemukan lokasi nya dan tentu nya mereka bergerak ke sana dengan orang-orang ke percayaan davie yang jumlah nya tidak sedikit.


"Kakak pasti merindukan aku kan?".


Revia menatap hans.


"Ya seperti nya begitu . tapi dia harus berhadapan dengan tuan besar".


Hans mengirimkan pesan pada seseorang.


Revia sekarang ada di taman dengan hans .taman ini sangat indah tentu nya.namun terik matahari membuat kepala revia pusing namun ia menahan nya.hingga ia berkeringat.


"Nona?kau baik-baik saja?".


Hans memperhatikan wajah revia yang pucat.


"Ya aku baik".


Hans langsung membawa revia kedalam rumah karna ia tahu revia berbohong.


"Hei kau mau bawa aku kemana ".


"Tidak kemana-mana ".


Hans memberhentikan kursi revia di ruang tamu. Dan seorang pelayan datang dengan semangkuk bubur.


"Sekarang anda harus makan".


Hans berjongkok di depan revia dan menyuapi revia.


"Emm tunggu aku tidak suka bubur".


Revia menutup mulut nya.


"Tapi kau harus makan supaya punya tenaga nona".


Tiba-tiba seorang pria paruh baya memasuki ruangan itu diikuti pengawal nya dan ia mengisyaratkan agar hans pergi .


"Emmh".


Revia ketakutan karna ia tidak tahu orang ini.


"Hai tuan putri ku?kau sudah makan?".


Ia mengelus kepala revia.


Revia menggeleng.


"Tidak perlu takut aku adalah kakek mu kau adalah putrinya ravindra.anakku sendiri".


Ia tersenyum.


"Kakek??tapi papa tidak pernah cerita kalau re punya kakek".


"Ya karna dulu ada sedikit masalah antara kakek dan ayah mu tapi Sekarang tidak ada ".


"Hmm ... ".


Revia mencerna semua ini dan memperhatikan wajah pria ini memang mirip papa nya.


"Kau mungkin tidak mengenali ku tapi davie pasti sangat mengenalku ".


Revia berfikir dan kepala nya malah ngilu sekali.


"Awwhh".


Revia memegang kepala nya.


"Dokter!!!!".


Kakek revia memanggil seseorang dan ia langsung datang.mungkin karna revia sakit jadi orang ini harus berada di sini setiap detik.


Ia memeriksa revia .


"Dia harus makan dan istirhat tidak boleh berfikir terlalu banyak dulu tuan".


Dokter itu menatap kakek revia.


"Baiklah kau boleh pergi".


"Emghh".


Revia berusaha mengumpulkan energi nya saat ini.


"Sekarang katakan?ingin makan apa ?".


Kakek revia tersenyum.


"Aku mau pulang ,emm bolehkan aku memanggil mu opa ?".


"Ya tentu boleh,Sekarang makan dulu akan opa antarkan pada davie nanti ,lagian ini kan opa mu .tidak akan membahayakan mu sedikitpun".


"Ya aku percaya opa ga Mungkin jahat sama re , tapi re takut kakak khwatir dan juga temannya re ".


"Yasudah hans sebarkan sebuah kabar bahwa nona muda ini sudah di temukan oleh kakek nya".


Opa revia menatap hans.


"Siap tuan ".


Jawab hans tegas.


"Sekarang kita makan dan opa akan menuruti permintaan mu mau makan dimana".


"Boleh di luar opa?".


Revia senang.


"Boleh asal ada pengawal dan dokter mu dan juga opa".


"Ya re mau opa".


"Gimana kalau kita ke caffe milik opa?".


"Opa punya caffe?".


Opa revia mendorong pelan kursi rodanya ke mobil.


"Hahaha sayang opa mu ini punya caffe dan perusahaan juga bahkan pulau pribadi dll lah ,cucu opa tidak tau rupanya".


"Berarti selama ini opa ga di sini?".


"Ya opa dulu di negara xxxx papa mu lahir di sana dan bisnis opa banyak sekali di sana. Kalau di sini opa suruh orang kepercayaan opa mengelola nya".


Revia dan kakek nya menuju caffe yang bertahun-tahun tidak di kunjungi nya mungkin semua orang akan kaget melihat kehadiran tuan besar ini di caffe itu.


"Opa?".


"Apa sayang".


Kakek revia ini terlihat sangat menyayangi nya.


"Kenapa pengawal di rumah opa pendiam sekali?".


Revia menanyakan hal itu.


"Karna opa tidak mengizinkan nya ,kecuali dia mau nyawa nya dalam bahaya".


Kakek revia menatap cucunya dengan hangat.


"tapi itu tidak berlaku untuk cucu kesayangan ku tentu nya kau boleh melakukan apa saja dan perintah mu sama dengan perintah opa.harus mereka patuhi karna kau adalah penerus opa nanti nya".


akhirnya aku menemukan putri mu ravindra, dia sangat manis rupanya dia bisa mencairkan hati ku dengan cepat .mungkin hanya dia yang bisa meredakan semua amarahku. aku bersyukur putri mu tidak tiada karna aku menginginkan seorang cucu perempuan.tapi aku kecewa dengan istrimu tidak bisa menjaga putri nya dengan baik !.aku merestui kalian menikah bukan untuk lepas dari tanggung jawab begini.


kakek revia merenung dan terus menatap cucu nya ia menyadari usia revia yang sudah remaja dulu terakhir kali ia bertemu revia masih berusia 1 tahunan.