
Seorang pria paruh baya itu memasuki caffe itu dengan para bodyguard dan cucu nya. mereka sekarang sedang duduk di salah satu meja di sana banyak orang yang diam-diam merekam dan memotret mereka .ya revia tidak tahu seberapa berpengaruh nya opa nya di negeri ini.
"Opa???".
"Apa sayang ,mau pesan apa?".
"Bukan itu opa. Ini bukannya caffe punya nya reza ya opa?".
"Reza???, siapa? Ini caffe opa sayang,mau bukti?".
Opa revia memberi kode pada hans dan muncul lah 2 orang yaitu orang tua reza.
"Se-selamat datang tuan".
Kata mereka gugup.
"Maksud mu anak dari mereka ini?".
Kata opa revia dan revia menjawab nya dengan anggukkan.
"Jelaskan hans mereka siapa".
"Baik tuan, mereka adalah pegawai yang di tugaskan menjaga caffe dan beberapa rumah tuan besar yang ada di sini ".
"Sudah jelaskan re".
Opa revia menatap cucu nya itu.
"Emm iya opa re faham".
Revia teringat perlakuan reza padanya.
Ia ingin bercerita tapi ia tak ingin opa nya marah pada orang tua reza .
"Kenapa?kau punya masalah dengan mereka???mereka pernah membuat mu kesulitan??".
"T-tidak opa ,sekarang re mau makan ".
Revia membuka buku menu dan agar mengalihkan pembicaraan saat ini.
"Hans cari tau apakah mereka mengusik cucu ku atau tidak aku ingin informasi ini kau temukan paling lambat sebelum aku keluar dari sini".
Diam-diam opa revia membisikkan itu pada hans.
Opa revia orang yang Sangat serius dan hans sudah profesional dalam hal ini.
"Siap tuan".
Hans keluar dan menghubungi seseorang.
"Ingat re jangan pesan minuman yang ada es nya dulu kamu kan masih belum sehat betul".
"Iya opa".
Revia memesan makanan dan minumannya juga opa nya. Saat mereka menunggu datang lah davie dan rombongan nya diikuti gavin serta sahabat revia yang mendapatkan kabar yang di sebarkan hans dengan cepat.
"Tuan dan nona ini pesanan nya".
Pelayan meletakkan pesanan nya dann menunduk pergi. Setelah itu davie yang melihat adiknya ada di salah satu meja itu segera menghampiri nya.
"Re!!!!".
Davie memeluk revia.
"Kak davie".
Revia tersenyum senang".
"Kamu baik-baik aja??? Kamu kemana aja sayang".
Davie mengelus kepala adik nya itu.
"Ehem!sebaiknya biarkan adikmu makan dulu karna dari tadi dia belum makan !".
Opa revia menatap cucu sulung nya itu.
"K-kakek!".
Davie kaget dan langsung berdiri.
"Duduk!".
Pria paruh baya itu menatap cucunya.
"Suruh bodyguard mu tunggu di luar mereka membuat caffe ku jadi penuh dan kalian sahabat nya revia boleh bergabung di sini".
"Baik opa !kalian tunggu di luar !".
Semua bodyguard davie keluar dari caffe itu.
Aldi yang sangat rindu dengan revia menahan diri karna sekarang ada kakek nya .mereka duduk semua duduk termasuk gavin.
"Kau anak nya andika bukan?".
Tanya nya pada gavin.
"Ia opa ".
"Wahh cucu ku sudah besar semua,waktu sangat cepat berlalu.dulu kalian hanya bayi kecil yang cengeng".
"G-gimana bisa opa nemuin revia opa?bukannya opa sedang ada bisnis di negara lain".
Davie memulai pembicaraan.
"Hmm adikmu?sebelum aku menjawab aku yang bertanya. Kau sebenarnya ingin membunuh adik mu atau menjaga nya".
"Tentu saja aku ingin menjaga nya opa".
"Re lanjutkan makan mu dan minum obat ".
Opa revia memperhatikan cucu nya yang menghentikan aktivitas makan nya.
"T-tapi opa...".
"Aah opa faham,kalian pergilah ke meja yang lain,opa akan bicara dengan kakak mu,dan kalian jaga cucuku jika sampai kalian lalai nyawa kalian jaminan nya mengerti!!!".
"Makasih opa".
Revia di bantu amanda mendorong kursi rodanya mereka duduk di meja yang berjauhan dengan opa revia tetapi dokter dan bodyguard opa nya tetap mengikuti,karna itu perintah.
Setelah sampai di meja lain tentu saja amanda memeluk sahabat nya itu.
"Duhh re lo jangan kayak gini lagi gue takut banget lo kenapa-napa".
"Hehehe iya manda aku kan juga gatau dia bakal dorong aku dari sana,emm oh ya mama aku mana".
"Em mama ?kayak nya kak davie ga ngizinin mama kamu buat ketemu kamu karna masalah ini".
"Emm kasian mama".
"Yang kasian itu lo revia gimana si".
Amanda sewot dengan jawaban sahabat nya.
"Huh gua di lupain".
Aldi mengusap wajahnya frustasi.
"Hmm kamu ga kangen sama aku?".
Revia memegang tangan aldi.
"Kangen bangetttt".
Aldi langsung memeluk revia dan mencium pipi nya.
"Aku mau minta sesuatu".
Aldi masih memeluk revia dan mengajukkan permintaan.
"Apa?".
"Bisa ga kamu jangan ngilang lagi,jangan sakit-sakitan lagi .aku khawatir re, aku ga sanggup liat kamu gini terus".
Aldi mengelus kepala revia.
Mereka seakan melupakan di sana ada Gavin dan yang lain serta bodyguard opa nya.
"Maafin aku ya bikin kamu khawatir".
Revia melepaskan pelukkanya.
"Hm sekarang kamu makan ya ".
Revia mengangguk dan menghabiskan makanan nya tadi yang di pindahkan ke meja sana oleh bodyguard nya.
"Kalian ga mesen makanan?".
Kata revia.
"Huh lo fikir kita punya nafsu makan liat lo kayak gini ,bikin jantung mau putus aja".
Daffa mulai bicara.
"Wkwkw death dong kalau putus".
"Dihh ketawa lagi .cepet sembuh lo tuh ga bsa jalan ,liat lo kayak gini makin dendam gua tuh sama adelard itu".
Gavin kesal melihat revia Sekarang berada di kursi roda dengan tubuh lemah nya.
"Udah biarin aja kan aku gapapa".
Revia senyum.
"Stop senyum-senyum! Nyawa lo itu hampir aja ga selamat masih bisa ngomong gitu jadi orang jangan kelewat baik!".
Gavin menatap tajam revia.
"Jangan ngomel-ngomel gitu gue lagi sakit ga ada kasian-kasian nya lu sama gua".
Revia selesai makan dan meminum obat nya.
"Hoammzzz gua cape nih".
Revia menyender.
"Nona?,apa mau pulang Sekarang?".
Kata seorang bodyguard itu.
"Emm ga gapapa di sini aja dulu".
Hans datang dan menuju opa revia dan menceritakan semua tentang reza .mendengar hal itu opa revia sangat marah ia memukul meja itu dan memanggil orang tua reza.
"Kau fikir anak mu itu pantas untuk begitu pada cucu ku!!!!".
Suara opa revia menggema di sana dan revia kaget mendengar nya Untung saja caffe ini di kosongkan karna opa tidak ingin ada orang lain.
"Lah opa kenapa tuh".
Gavin penasaran.
"Huft gatau".
Revia tidak tau mereka membahas apa.
"Ih lo tau ga opa kalau marah dihh ga ada yang bisa nenangin ancur udah semua".
Tanya revia.
"Kan opa pernah satu negara sama aku sebelum pindah ke sini jadi aku tau lah tentang opa .karna opa mampir kalau ada waktu luang".
Revia berusaha menggerakan kursi rodanya.
"Mau ke mana re".
Aldi segera berdiri membantu revia.
"Ke tempat opa".
"Hmm oke".
Aldi mendorong kursi roda revia dengan hati-hati.
Plakkkkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi papa nya reza . dan revia kaget melihat itu.
"S-saya minta maaf tuan".
Mereka ketakutan.
"Jangan sampai aku melenyapkan putra mu itu!!!kau fikir aku sama dengan davie yang masih bisa memberi mu maaf!!!.
Jika aku yang ada di sana pada saat itu!aku pastikan putramu tiada di tangan ku".
Mereka menunduk ,tidak berani membantah sedikit pun dan tiba-tiba reza datang melihat orang tuanya seperti itu dia kesal.
"Apa-apa an nih kenapa orang tua gua di marahin!".
"Oh ini dia pria bajingan itu".
Opa revia menarik reza dan memukuli nya. Tidak ada yang berani menghentikan itu.tapi revia kasihan melihat reza dan orangtua nya.
"Opa!!! Stopppp".
Revia berusaha berdiri.
"Nona!anda belum boleh berdiri".
Dokter memberi revia peringatan.
Opa revia mendorong reza dan tersengkur ke lantai.
"Ingat aku memberhentikan ini karna aku tidak ingin terlihat jahat di mata cucuku,berterima kasih lah pada tuhan kau tidak mati saat ini".
Opa revia mendekatinya.
"Sayang kau belum boleh berdiri".
Revia di bantu opa nya duduk kembali.
"Opa re mohon opa jangan gitu sama reza,kasihan dia opa".
Revia memegang tangan opa nya.
"Buat apa kasihan sama cowo bajingan seperti itu".
"Re mohon opa jangan nyiksa mereka lagi maafin mereka opa".
Revia memeluk opa nya.
"Aku tidak suka jika cucu ku di ganggu .karna kau adalah satu-satu nya cucu perempuan ku yang sejak lama aku nantikan !aku tidak suka kalangan rendah seperti mereka berani menyentuh cucu ku".
"Re ngerti opa gamau re kenapa-napa,tapi re gamau opa nyiksa orang kayak gitu".
"Hmm baiklah sayang opa ga akan nyiksa mereka kalau itu mau kamu".
Hebat juga nona muda ini bisa menghentikan amarah tuan besar,bahkan tuan davie bahkan tuan ravindra tidak mampu mengatasi nya ,bagus kalau anda adalah penawar nya jadi tuan besar tidak akan sering marah lagi.hans.
"Sekarang kita pulang ya?".
Revia di bawa oleh opa nya keluar.
"Tunggu opa".
Davie mengikuti opa nya.
"Kau ikut saja dengan opa jadi kau bisa melihat adikmu setiap detik,lagi pula kapan lagi kau berkunjung ke rumah ku.aku senang jika rumah ku dikunjungi".
"Baik opa".
Davie memerintah vino membubarkan bodyguard nya dan hanya vino yang ikut dengan davie.
"Opa?".
"Hmm apa?".
"Boleh ga kalau sahabat re sama gavin ikut kita juga ".
"Tentu saja apapun yang kau mau maka lakukan lah".
"Yey makasih opa".revia senang dan melirik sahabat nya.
"Kalian nginap di rumah opa ya".
"Emm boleh juga ".
Amanda setuju.
"Oke apa salah nya selagi kita bersama dimanapun itu ga masalah".
Aldi menuju mobilnya dan begitu juga revia .mereka menuju kediaman opa revia. Satu persatu mobil memasukki area parkir yang luas itu.
Hans membuka pintu mobil untuk revia dan vino datang membantu.
"Biar aku yang lakukan".
Vino melirik hans.
"Kau fikir aku tak bisa melakukan ini,ayo nona".
Hans mengulurkan tangan nya begitu juga vino.
"Hans jangan berdebat dengan nya".
Revia mencegah mereka.
"Baik nona muda".
"Kau lihat kan dia lebih suka aku yang melakukan nya".
Vino membisikkan itu di telinga hans.
"Kapan kelar nya nih!".
Gavin membantu revia dan mendorong kursi roda nya kedalam rumah.
"Nona muda dan tuan muda kamar kalian ada di sana dan ini kunci nya. kalau butuh apa-apa silahkan panggil pelayan yang ada di sini,dan anda nona revia silahkan panggil saya kalau ada apa-apa".
Hans tersenyum.
"Terimakasih,tapi kalau sudah ada aku dia tidak membutuhkan mu".
Vino lagi-lagi memandang hans sinis.
"Ehem,vino sudah lah sebaik nya kita istirahat, re cepat sembuh ya".
Davie mencium kedua pipi adiknya.
"Iya kak selamat istirahat kak davie,kak vino".
"Iya daaa".
Mereka pergi begitu juga hans.
"Kamu mau langsung tidur re?".
Tanya aldi.
"Emm iya di aku cape ,kamu juga tidur ya ,selamat malam".
Revia tersenyum.
"Malam sayang".
Aldi juga tersenyum.
"Manda,daffa aku tidur dulu ya kalian istirahat yang nyenyak".
"Iya re tenang aja".
Jawab amanda.
"Yaudah gua anter kakak gua dulu".
Gavin mendorong kursi roda revia ke kamar nya.
Mereka masuk kamar masing-masing,bersih-bersih dan tidur,begitu juga gavin setelah mengantar revia dan membantu revia berbaring ia kembali dan masuk ke kamar nya sendiri.Namun revia tidak merasa nyaman di kasur nya,bukan karna kasur nya yang kurang empuk tapi seluruh badan nya masih terasa ngilu .
"Awhhh, tubuh gua pegel-pegel ngilu lagi, huft gua harus bisa tidur".
Setelah berusaha susah payah akhirnya ia bisa tidur dengan nyenyak.
Pagi hari semua pelayan rumah itu mulai sibuk menyiapkan sarapan, mereka sudah bangun sepagi itu begitu juga dengan hans ia biasa bangun sebelum opa nya revia bangun .
"Hoaamzz".
Revia terbangun dari tidur nya dan ini masih sangat pagi ,ia tak bisa kembali memejamkan matanya. Revia duduk dan menatap kaki nya.
"Gua coba jalan kali ya, orang gua bisa duduk siapa tau kaki gua ga ngilu lagi".
Revia mulai menurunkan kaki nya dari tempat tidur ,ia memegangi meja yang ada di samping tempat tidur nya dan mulai berdiri.
"Awhhh".
Revia berdiri dan berpegangan pada meja kecil di sana,ia mencoba menggerakkan kaki nya tapi terasa sangat kaku dan akhirnya ia terjatuh.
Brukkk.
Hans yang mendengar itu mendekati kamar revia.
"Nona?apa anda baik-baik saja".
Hans bicara dari luar kamar revia.
"Hans?itu kau?emm bisakag bantu aku berdiri".
Revia menahan sakit pada kaki nya.
"Baik nona".
Hans fikir revia masih di tempat tidur tapi ia kaget melihat revia terduduk di lantai.
"Nona?sejak kapan kau jatuh kenapa tidak memanggilku".
"Tidak apa ,aku tadi hanya coba berjalan tapi yaa ini hasilnya".
Hans mendudukan revia di tempat tidur.
"Anda belum bisa berjalan nona jangan di paksa kan ,nanti kalau emang waktu nya anda bisa berjalan dokter akan memberitahu".
"Emm baiklah ".