PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 8 : Another Victim



WARNING⚠️


ADA ADEGAN BERDARAH DISINI!


Black Mountain, 08 Desember 2019


Tepat diatas ranjang kecil itu, seseorang sedang terbaring kaku, kepalanya melepuh, bahkan itu sudah hampir membusuk, baju seragam sekolah yang ia pakai terlihat lusuh dan banyak sekali bercak darah yang mengering dan menghitam, mungkin itu berasal dari luka-luka ditubuhnya. Terlihat ada beberapa jarum suntik berada disekitar tubuh orang itu, entah apa yang tengah dilakukannya dengan jarum suntik itu.


Alunan musik sendu yang berasal dari sebuah kotak musik lawas pun mengalun disana, memberi kesan terdalam saat malam itu, orang itu tidak bergerak, namun seseorang telah datang, seorang pria dengan kaos putih dan jeans hitamnya, ia bersandar didinding, memandangi sosok yang mungkin sudah tak bernyawa itu. Netra nya menyorot tajam, ini sudah tiga hari orang itu terbaring disana.


Pria itu berjalan mendekat, dengan perlahan mengambil sebuah jarum suntik yang berserakan disana, lalu terkekeh pelan.


"Kematiannya terlalu lama," gumamnya.


"Aku bahkan sudah lima kali menyuntik kepalanya dengan air panas, hah ternyata bermain dengan pisau lebih menyenangkan kekeke." ocehnya sembari terkekeh. Kekehan pelannya berubah menjadi gelak tawa yang memenuhi seisi ruangan itu.


Tepat setelah itu, ia bungkam, kembali ia memandangi orang itu, ia melepas semua pakaiannya, menyeretnya kekamar mandi dan meletakkannya di bathup, mungkin dia akan memandikannya, itu terlihat saat ia menghidupkan keran air dan mengisi air di bathup itu.


Wajahnya berpikir keras, tak lama setelah itu ia bergegas mengambil sebuah pisau pemotong daging beku dan plastik hitam besar. Bagaikan sedang memasak ayam, ayam itu harus disembelih dan dipotong-potong terlebih dahulu, bukan? Ia memulainya dengan memasang sarung tangan pada kedua tangannya lalu mencukur rambut orang itu hingga benar-benar tak tersisa, pria itu mulai memotong anggota tubuhnya, dengan raut wajah datarnya ia melakukan aksi gilanya, potongan demi potongan ia masukan kedalam plastik hitam itu dan menaruhnya disudut kamar mandi, bau bangkai dan anyir darah mungkin sudah memenuhi seisi kamar mandi itu, namun pria itu tetap tak bereaksi apapun, seakan itu adalah hal biasa yang bahkan bukan apa-apa baginya. Sembari bersiul, ia menghidupkan keran showernya, membiarkan air yang keluar itu membasuh dan mengguyur tubuh atletisnya, ia memejamkan mata, seakan menikmati sensasi itu.


"Ah, nikmat sekali," ujarnya sembari menyeringai dibawah guyuran air.


Black Mountain, 09 Desember 2019


Rin tampak sibuk dengan kain lap yang berada ditangannya, sembari mengelap meja dikafe itu, matanya terus melirik kearah ponselnya, seakan sedang ada yang ditunggunya saat itu. Benar saja, kain lap itu langsung dijatuhkan saat terdengar ponselnya berdering. Sebuah pesan dari Nick, itulah yang dia tunggu sedari tadi, dengan senyum lebar dan pipi yang memerah ia membalasnya, sejak hari mereka berteman, mereka jadi semakin akrab, saling mengirimi pesan atau bahkan saling mengingatkan satu sama lain, itu perkembangan yang luar biasa, bahkan Bella hanya bisa berkata "Wow" akan hal ini.


Hari ini ia sendirian, Bella akan masuk disore hari karena ia ada kelas. Lalu, hal menyenangkan lainnya adalah, Rin diterima di kampus itu, ia tersenyum simpul dengan penuh rasa lega, sebentar lagi ia akan menjadi seorang mahasiswi seperti Bella, memulai kegiatan baru dan melakukan banyak hal lainnya.


Rin sampai menutup mulutnya seakan tak percaya, pembunuh itu semakin dekat, bahkan ia mengabaikan ponselnya karena berita mengerikan itu.


Orang seperti apa sebenarnya dia itu? Seberapa gila psikopat itu hingga ia melakukan hal-hal keji itu disini, Rin duduk disalah satu bangku disana, menghela nafas kasar sembari menahan hasrat paniknya.


"Sebenarnya apa yang dilakukan para polisi disini?" ujar Ronny yang sedari tadi juga ikut menonton berita itu.


"Entahlah, mereka yang terlalu bodoh apa memang psikopat itu terlalu pintar," ujarnya lagi menahan kekehannya.


"..."


Rin hanya diam dan berpikir, apa berita ini semacam lelucon hingga Kak Ron bisa terkekeh seperti itu, bahkan korbannya hanyalah remaja yang masih bersekolah, dia hanya tak beruntung karena bermain saat hujan turun.


Rin memikirkan betapa hancur perasaan Ibunya kala ini, sama seperti kehancuran yang ia rasakan dulu, Rin beranjak dan beralih.


"Kak Ron, boleh aku istirahat sebentar?"


"Ah, ya ya silahkan saja."


Gadis itu membawa tasnya dan keluar dari kafe itu, duduk disalah satu bangku tepat disamping kafe, menyandarkan punggungnya didinding sembari menikmati hembusan angin yang semakin kuat, ia bahkan harus mencoba berkali-kali agar pematik apinya berhasil dinyalakan. Sembari menikmati asap rokok dan sebotol bir, ia menatap langit yang kian menghitam, akankah hujan turun lagi hari ini, pikirnya.


Ini adalah perasaan takut, bahkan tangan gadis itu bergetar walau samar, seakan perasaan dulu kini seakan melintas, bertamu direlung hati dan otaknya, ketakutan akan kehilangan orang yang terkasih, itu masih membekas, bahkan itu kembali terpancing saat mendengarkan berita tadi, Rin tak bisa melepaskan diri dari candunya dengan dua barang yang tengah dinikmatinya itu, efek gabungan antara nikotin dan alkohol ternyata lebih besar dari bagian mereka sendiri, itu terasa saat getaran ditubuhnya masih ada hingga kini. Bersamaan dengan itu, ia mencoba untuk tenang, walau tak dipungkiri bahwa jantungnya berdebar.


Ada apa dengan diriku, rasanya aneh, aku tak bisa tenang, aku merasa cemas, dan aku tak tau apa penyebabnya, perasaan ini menyesakkan, andai saja aku tak melihat bocah itu waktu itu, andai saja aku tak lewat gang itu saat itu, mengapa aku merasa bersalah, padahal itu semua tak ada kaitannya denganku, batin Rin.


"Ah, air mataku menetes, aku bahkan menangis," gumamnya.