
Felix memacu mobilnya, melewati jalanan yang ramai di jam-jam seperti ini, fokusnya terbagi. Senyum gadis itu dan wajahnya yang memerah akibat demam itu kini terus saja memutari kepalanya. Ia mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, membuatnya tersadar bahwa masih ada banyak hal yang harus ia pikirkan, seperti halnya surat yang mengancam gadis itu. Bila dipikirkan, pembunuhan baru-baru ini pun terjadi sejak dirinya memasang beberapa CCTV disekitar Apartemen Rin. Apa itu ada kaitannya? Pada dasarnya dia telah melakukan pembunuhan itu sebelum mengancam.
"Hah, yang benar saja. Sebenarnya siapa orang sialan ini?" gerutu Felix.
PEMAKAMAN NASIONAL RUMANOV. Disinilah tempat pembaringan terakhirnya, seorang wanita yang dulu disebutnya Ibu hingga akhirnya wanita itu menghabisi nyawanya sendiri dengan seutas tali dikamarnya. Pemuda tampan mengenakan jaket hoodie berwarna abu-abu gelap itu meletakkan seikat bunga Lily putih segar diatas pemakaman, netra hazelnya menatap sayu seakan mengasihani wanita yang terkubur didalamnya. Sylvia morisette holder, beristirahatlah dengan damai, ucapnya dalam hati.
Angin yang berhembus di pemakaman itu menemani kepergiannya, pria itu membenahi rambut coklatnya tatkala angin membuatnya menjadi berantakan. Ada banyak yang ia pikirkan jika tak sengaja menatap wajahnya, ia mengadahkan kepalanya ke langit, nampak gelap saat awan hitam itu bak menelan matahari.
...****************...
"Kak Ron?" ujar gadis centil dengan mata coklat itu nampak terkejut.
Rin menganggukan kepalanya mantap, Bella nampak khawatir, begitu pula dengan Vin yang berada tepat disebelahnya.
"Kenapa kau tak menceritakan hal penting ini lebih awal?" tukas Bella sedikit marah.
"..."
"Kau tau, Kak Ron memang sedikit aneh belakangan ini, aku bahkan pernah tak sengaja melihat dia sedang menatapmu dengan tatapan yang aneh," ujar gadis itu panjang lebar.
"Apa? Lalu kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"
"Ah soal itu, aku selalu tak punya kesempatan untuk memberitahumu, dan lagi tugasku sangat banyak akhir-akhir ini."
"..."
Perasaan merinding yang menjalar keseluruh tubuh saat membayangkan hal-hal yang belum tentu benar, namun jika saja itu memang benar, lantas apa yang harus dilakukan? Rin menundukkan kepalanya, dia berpikir akan lebih menyenangkan bila duduk santai sambil membaca komik romantis ketimbang memikirkan semua kejadian mengerikan yang sedang terjadi. Rin bersyukur kini demamnya sudah mereda seiring berjalannya waktu, itu juga berkat obat yang ia tenggak beberapa jam lalu. Vin duduk dan diam dengan tatapannya yang tak lepas walaupun angin berlalu, netra hitam itu terus memperhatikan Rin yang sedang berusaha menyembunyikan rasa cemasnya.
"Jadi kau sudah menceritakannya pada polisi itu?" tanya Vin tiba-tiba.
"Eh? I-iya aku sudah memberitahukan semua nya padanya," jawab Rin terbata.
"Siapa? Apa itu Felix?" Bella bertanya dengan polosnya.
Rin menganggukan kepalanya beberapa kali, untuk beberapa saat Vin hanya diam menatapnya, hingga kemudian ia tersenyum sembari berkata, "Itu bagus, hal seperti ini memang sebaiknya dilaporkan pada polisi sepertinya, ini sudah terlalu berbahaya."
Entah kenapa rasanya seperti sudah mengabaikan sesuatu secara tak langsung, Rin terlalu takut, seseorang tengah mengancam dirinya dan kehidupannya, dan satu-satunya orang yang ia curigai hanya Ronny Hailey. Pria didepannya ini mengatakan bahwa hati-hati dalam berucap, namun kembali lagi, gadis itu terlalu takut. Lagipula, dia memberitahukan hal itu pada polisi dan bukan sembarang orang. Mengenai surat ancaman yang bahkan membuatnya mimpi buruk tadi malam, itu tidak bisa ia ceritakan pada Bella, mungkin bisa saja bila pada Vin, tapi tidak disini, itu permasalahan yang sensitif baginya, bisa saja Anxiety-nya langsung kambuh saat berbicara sekaligus memikirkan hal itu.
"Mau pulang bersama?" ajak Vin.
Entahlah, apa dia memang ingin mengajak Rin pulang bersama atau justru dia sangat peka. Baru saja Rin berpikir untuk menceritakan tentang surat itu padanya nanti, sekarang dia sudah membuka jalan untuk Rin melakukan itu.
Bila diperhatikan, wajah Vin begitu tenang, ketampanannya begitu meneduhkan, bahkan Bella akan kehilangan banyak air liur saat berada didekatnya.
"Rin akan pulang bersamaku!"
Mereka menoleh secara bersamaan untuk melihat siapa yang sedang menentang ajakan Vincent. Netra hazel itu bahkan terlihat menakutkan. Ia berdiri tegap dengan jaket hoodienya dibelakang anak-anak itu. Rin mendelik saat tau bahwa suara itu berasal dari Nick, pria yang baru-baru ini menyatakan cinta padanya.
"Bersamamu?" tanya Vin kembali.
"Kau tak mendengar? Rin akan pulang bersamaku, apa itu kurang jelas untukmu?"
"..."
Entah ini sudah keberapa kalinya, saat mereka berdua saling bertatapan itu bagai ada aliran listrik yang menyala terang diantara mereka.
"Baik baik, aku mengerti. Jangan menatapku seperti itu, kau bisa melubangi wajahku." ujar Vin sembari terkekeh. Ia bangkit dari kursi, membenahi piercing hitam ditelinga kirinya dan tersenyum pada Rin, "Mungkin pulang bersamanya lain kali saja," katanya. "Dah Bella," sambungnya sembari melambaikan tangannya pada Bella lalu melenggang pergi dari sana.
Nick merubah raut wajahnya, kini terlihat lebih santai dibandingkan saat ia pertama kali datang. Ia duduk tepat disamping Rin, tersenyum manis seperti halnya senyuman itu hanya ditujukan pada Rin.
"Apa kau tidur dengan baik semalam?" tanya pria itu.
"Ah? Oh ya tidurku nyenyak," jawab gadis itu kikuk.
Haha, nyenyak apanya? Kalau bukan karena pil tidur yang kuminum itu, aku mungkin sudah menjadi zombie hari ini.
"Aku selalu memikirkanmu saat itu," ujarnya. Rin mendelik bahkan Bella sampai tercengang saat itu, wajah Bella seakan mengatakan, ada apa dengan pria ini?
"Maaf?"
"Ya, aku tak bisa berhenti memikirkanmu sejak kemarin,"
"..."
Apa dia benar-benar Nick yang aku kenal? Aku sampai tak bisa berkata-kata mendengar kalimatnya.
Hal yang lebih mengejutkan terjadi, dengan perlahan tapi pasti kini telapak tangan Nick telah berhasil meraih tangan Rin yang berada di atas meja, tatapannya melembut bersamaan dengan sapuan jemarinya.
"Hei Nick, kau ingat kan kalau aku masih disini?" gerutu Bella.
"Ah Bella, aku bahkan tak tau kau ada disana sedari tadi."
"Hah? Yang benar saja,"
Ya, setidaknya Nick telah berhenti melakukan hal yang membuat suasana menjadi canggung. Dan kali ini pun perasaan ambigu ini masih terasa, Rin tak merasa senang namun juga tak terlalu membencinya. Lalu, semua hal yang ia lakukan itu terkesan tidak nyata, ya itu tidaklah nyata, apa dia terpaksa? Tapi kenapa?