PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 36 : Satu kupon terpakai



Vin menggunakan jaketnya untuk menutupi tubuh Rin agar tak terkena hujan. Ia berjalan cepat sembari menggendong Rin memasuki gedung apartemennya, melewati tangga dan koridor yang luar biasa sepi. Hujan diluar sangat deras, itu menjadi alasan mengapa semua penghuni apartemen bahkan tak ada yang keluar satu orang pun.


Vin terpaksa merogoh tas Rin untuk mencari kunci pintu apartemennya. Sejujurnya dia sadar bahwa hubungannya dengan Rin belum sampai tahap dimana Rin memberitahukan kode sandi apartemennya.


Vin meletakkan Rin diatas kasurnya perlahan, menyelimutinya dan mengusap kepala gadis itu pelan. Netra hitamnya menatap bunga Lily yang berada di atas meja belajarnya, ia berjalan dan mengintip dari celah jendela, terlihat hujan sedang mengamuk diluar. Ia menghela nafasnya, menyeret kursi kayu itu mendekat kesamping ranjang. Sorot matanya menatap Rin yang terbaring itu dengan datar, ia tersentak saat mendapati bengkak di pipi sebelah kanan gadis itu. Netra hitam itu tak bergeming, namun sorot matanya sungguh menakutkan kala itu.


Vin meraih tangan Rin dan meletakkannya di pipi sembari memejamkan mata, berharap dapat meredakan amarahnya yang sedang bergejolak.


"Vin?" suara Rin yang parau itu membuatnya tersentak, sontak matanya terbuka dan menatap gadis itu.


"Kau sudah sadar?" tanyanya lega.


"Iya, tapi kepalaku sangat pusing."


"Jangan banyak bergerak dulu, berbaring saja. Aku akan membawakan air untukmu," ujar Vin beranjak.


Rin mengedip-ngedipkan matanya, rasa sakit di kepala maupun di pipi kanannya itu membuatnya meringis. Gelegar petir dan gemuruh diluar membuatnya tersentak kaget, bulu kuduknya merinding saat merasakan hawa dingin yang menjalar diseluruh tubuhnya. Ia melihat kebawah, tak ada yang basah sedikitpun. Namun ia terkesiap saat melihat Vin yang datang dengan segelas air ditangannya, rambut dan sebagian kaosnya basah.


"Nah, minumlah pelan-pelan." Vin membantu Rin duduk agar bisa minum air yang dibawakannya.


"Terimakasih," ujar gadis itu lalu kembali berbaring.


"Siapa pria itu?" tanya Vin tiba-tiba.


Rin terdiam. Namun seluruh tubuhnya mulai bergetar, sepertinya perlakuan Ronny telah membuatnya menjadi sangat takut.


"Hei tenanglah, tarik nafasmu!"


"D-Dia itu Kak Ron," jawab Rin terbata.


"..."


"D-Dia ingin membunuhku, d-dia ingin membunuhku, Vin!" ujar Rin histeris.


Vin tak berbicara apapun, ia hanya menarik gadis itu kedalam dekapannya.


"Tenanglah, bajingan itu tak mungkin membunuhmu." Vin berusaha menenangkan gadis yang tengah bergetar di pelukannya itu. Gadis itu bungkam, menenggelamkan wajahnya didalam pelukan Vin sambil terisak.


"Aku takut," ujarnya.


"Sst, tak ada yang perlu kau takutkan. Ada aku disini," jawabnya.


"Aku akan melaporkannya pada polisi, Vin aku harus memberitahu Kak Felix tentang ini!"


"..."


Rin melepaskan pelukannya pada Vin. Ia berniat beranjak untuk menelpon Felix, namun kepalanya yang pusing itu membuatnya terjatuh lemas diatas tempat tidurnya.


"Jangan memaksakan diri. Kau bisa menelpon polisi itu besok, bajingan itu memang harus dilaporkan, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya padamu. Tapi untuk sekarang, kau harus istirahat dulu."


"..."


"Vin, terimakasih."


Vin hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kau bisa ada disana?"


"Aku berniat kerumahmu karena kau menelponku. Untung saja aku dengar teriakanmu saat itu," jelasnya.


"Hah, aku harus menraktirmu makan siang lagi ya?"


"Pft, untuk yang ini akan aku gratiskan karena kau memakai kuponmu,"


"Kupon?"


"Ya, kuponmu." Vin mengacungkan secarik kertas yang telah rusak.


Rin tercengang menyadari keberadaan kupon itu, itu benar-benar berguna pikirnya. Tak lama ia pun tertawa yang diikuti dengan tawa Vin.


"Nah, karena ini hanya bisa digunakan satu kali. Maka aku akan memberimu satu kupon lagi," ujarnya sembari memberikan kupon baru pada Rin. Gadis itu menerimanya sembari terkekeh.


"Istirahatlah, aku akan pulang." Vin mengusap-usap pelan puncak kepala gadis itu. Gadis itu tenggelam dalam selimutnya, menutupi wajah merah dan rasa malunya. Ia bungkam hingga Vin benar-benar pulang. Ditatapnya kupon kertas yang ia genggam, ia tersenyum dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Suara petir yang menggelegar kembali itu pun menyadarkannya, hujan sepertinya sudah mulai berhenti tapi gemuruhnya masih terus berlangsung.


"Kuharap Vin baik-baik saja dan sampai dengan selamat," gumamnya.


Black Mountain, 26 Desember 2021


Wajah Bella sungguh jelek saat dia mengekspresikan kesedihannya, Rin sangat ingin mengatakan itu, namun itu akan membuat Bella semakin menangis. Siang ini Bella sudah mengunjungi Rin dan menangis tersedu-sedu. Bahkan Rin, orang yang seharusnya menangis akibat kejadian semalam itu terlihat bingung melihat sahabatnya begitu bersedih.


"Hei, sudahlah. Aku tidak apa-apa, berhentilah menangis, ingusmu sampai keluar tuh!"


"Huu... Kenapa kau malah mengejekku? Aku ini khawatir tau!" ucapnya sembari menangis.


"Aku tau, makanya berhentilah menangis." Rin berkata sambil mengusap-usap punggung belakang sahabatnya itu.


"Kak Felix, kau harus segera menangkap pria gila itu." Bella berkata dengan suaranya yang parau. Felix menghela nafas panjang, pria berambut emas itu datang bersama Bella, Rin menelpon Bella hanya untuk berbagi cerita tentang keadaannya tadi pagi. Sahabatnya itu terdengar kaget dan shock, dia bahkan nekat bolos kuliahnya hari ini karena ingin bertemu dengan Rin. Felix berkata, sejak tadi pagi dia dan beberapa polisi lainnya telah berangkat kerumah Ronny untuk mencarinya, namun Ronny tak ada dirumahnya, bahkan kedua orang tuanya pun berkata tak melihat putranya sejak kemarin sore. Wajah Felix bertekuk saat melihat memar di salah satu pipi Rin, perasaan yang ambigu itu selalu muncul bila berkaitan dengan Rin. Dia memegang dahinya, masalah terkait Dayana Hill belum terselesaikan dan muncul satu masalah lagi. Kenapa susah sekali mencari orang di daerah kecil ini, pikirnya gusar.


"Dia sudah pasti melarikan diri, dia tau kalau dia akan dicari oleh polisi," ujar Felix.


"Bagaimana kalau dia menemui Rin dan melakukan hal yang sama lagi?" tanya Bella menggebu-gebu.


"Itu tidak akan terjadi. Aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk menangkap orang itu," jawabnya lantang penuh percaya diri.


"..."


Rin tenggelam dalam pikirannya saat Bella tengah sibuk mengompres memar pada pipinya. Rasanya dia sedang hidup didalam dunia fantasi yang menyeramkan. Dering ponsel membuyarkan lamunannya, sorot matanya beralih, Felix berdiri dan berjalan menyudut saat mengangkat ponselnya. Dia terlihat terkejut dan gelisah, tentu itu pasti hal yang sangat penting jika dilihat dari mimik wajahnya, terlebih dia adalah seorang polisi.


"Aku akan pergi, ada sesuatu yang mendesak. Bella, kau tetap disini dan jaga temanmu, ya!" ujarnya sembari memakai jaket kulitnya. Bella hanya menganggukkan kepalanya. Sekilas Felix memberikan senyum simpul pada Rin yang dibalas sepadan. Raut wajahnya terlihat tidak baik. Dia kenapa, batin Rin.