PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 55 : Death or punishment



[Author's pov]


Suara langkah kaki terdengar sangat pelan, Rin terkesiap saat tau pintu kamar itu terbuka perlahan. Apa dia telah kembali, pikirnya. Ternyata pria itu memang tak berniat membiarkan Rin sendirian barang hanya sebentar saja. Dia berbohong saat bilang akan keluar membeli bahan masakan dan akan memasak pasta yang Rin minta, mungkin saja dia menyimpan pasta instan yang tinggal dihidangkan saja.


Bahkan aku baru saja ingin bernafas, batin Rin bersamaan dengan jantungnya yang mulai berdebar kembali. Rin menatap nanar pria yang masuk kekamar itu, namun kini bola matanya mulai membesar, gadis itu ingin mengeluarkan suara, namun jari telunjuk sang pria yang mengisyaratkan untuk tetap diam itu membuat suara Rin tercekat.


Kemeja lusuh yang robek di bagian punggung dan lengannya, wajah memar dan banyak meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya, dengan keringat yang mengitari seluruh permukaan wajahnya, pria itu berjalan mendekat kearah ranjang sembari terus mengisyaratkan Rin untuk jangan berisik.


"SSTT!! Jangan mengatakan apapun!" ujar Felix dengan suara berbisik. Suaranya sangat rendah, mungkin dia berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan suaranya. Gadis itu semakin terbelalak, mengkatupkan bibirnya yang sedari tadi terbuka, wajar saja jika dia menjadi shock, didalam otaknya Felix telah mati dengan mengerikan, lalu secara tiba-tiba sosok itu berdiri dihadapannya dengan kondisi mengenaskan. Untuk beberapa saat Rin mungkin berpikir bahwa yang muncul saat itu adalah hantu Felix yang gentayangan, sebelum akhirnya ia melihat kaki pria itu menyentuh lantai ubin.


"Kak Felix, bagaimana bisa..."


"SSTT, nanti aku jelaskan. Kita harus segera pergi dari sini!"


"T-Tapi bagaimana caranya?"


Felix terdiam sementara memegangi sikunya yang terluka, terlihat ia menelan salivanya berkali-kali. Diluar hujan begitu lebat, membuat petang terlihat kelam bagai malam, Felix menghela nafas kasar, matanya mulai memerah.


"Syukurlah kau baik-baik saja," ujarnya sembari tersenyum pahit.


"Bukankah harusnya aku yang bilang begitu Kak? Aku sangat senang melihatmu masih hidup,"


Felix menarik lebih tinggi ujung bibirnya, matanya berkaca-kaca saat itu. Apa yang telah Vin lakukan terhadapnya hingga kondisinya terlihat sangat menyedihkan, begitu pikir Rin. Felix mendekat, mengulurkan tangan mencoba membuka ikatan tali yang mengekang pergelangan tangan gadis itu, namun dengan sigap Rin menahannya.


"Tunggu!"


"Ada apa? Aku akan melepaskannya, kita harus segera pergi dari sini!"


"Aku rasa dia telah kembali, lebih baik Kakak sembunyi sekarang juga." Rin berkata dengan raut wajah yang sangat serius, membuat Felix terdiam dengan wajahnya yang menekuk.


Benar saja, suara langkah kaki yang menderu berakhir dengan munculnya Vin dari balik pintu kamar itu, dengan menjinjing sepiring makanan yang dicurigai adalah pasta lengkap dengan segelas jus jeruk. Dengan wajah yang bersemangat ia melangkahkan kakinya, mendekat dan duduk disamping Rin yang masih berbaring.


"Apa kau sudah lama menunggu? Kupikir akan memakan waktu lebih lama jika memasaknya sendiri, jadi aku membeli yang sudah jadi." Vin berkata sembari membantu Rin bangun dan duduk bersandar.


"Sangat susah mencari restoran yang buka disaat hujan lebat begini, untung saja aku menemukan satu."


"..."


Air yang menetes dari rambut hitamnya tak menutupi kalau dia kehujanan saat mencari pasta itu, bahkan kaosnya tampak sangat basah dan dia tak berniat untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Rin mengerutkan dahinya, mengamati dari atas hingga kebawah pria yang sedang duduk dihadapannya.


"Kau basah!" ujar Rin tiba-tiba.


"Eh?" Vin terlihat kaget, spontan pria itu langsung menunduk memperhatikan setiap inci pakaiannya.


"Ah benar, aku basah. Aku jadi membuat selimutnya basah, kau jadi tak nyaman ya? Maafkan aku, aku akan mengganti pakaianku dulu."


"Tidak, bukan itu!"


"..."


"Bukan karena selimutnya basah, tapi kau akan sakit jika terus memakai pakaian basah seperti itu!"


"..."


Rin mengerjipkan matanya seolah tersadar, tadi itu dia seakan sedang mengkhawatirkan Vin dengan berkata seperti itu. Senyum tipis terangkat dari bibir Vincent, dia terlihat puas. Rin tertunduk dengan nafas yang naik turun, diliriknya diam-diam pria yang masih tersenyum sambil membuka lemari pakaiannya itu. Tanpa berkata apapun, Vin keluar dari kamar sembari menenteng beberapa lembar pakaian ditangannya. Gadis itu memejamkan mata sambil menghela nafas kasar, kebiasaan tetaplah kebiasaan, itu tak bisa diubah karena pada dasarnya ia masih menaruh hati pada pria itu. Disamping itu, atmosfer yang tidak mengenakan terasa dari bawah ranjang, mungkin pria yang sedang bersembunyi di bawah sana sedang merasakan dadanya berkecamuk dengan amarah.


Hujan masih saja turun, ini hampir malam namun air yang menetes deras itu sepertinya tidak mau berhenti. Vincent masuk kekamar dengan setelan yang rapi kembali, tidak basah dan seperti biasa, tampan.


"Sekarang ayo makan, pastanya nanti dingin."


Rin hanya mengangguk, tak berusaha membantah karena dia tau itu hanya akan menghabiskan tenaga. Diantara rasa terpaksa itu, Rin membuka mulutnya saat sesendok pasta bergerak kesana.


"Aku senang kau masih mengkhawatirkan aku," ujarnya.


"..."


"Tadinya kupikir kau akan sangat membenciku, dan itu membebaniku sebenarnya." Vin berbicara dengan tangan yang konsisten menyuapi kekasih tercintanya.


"..."


"Kau masih menyukaiku, bukan?" tanya Vin tiba-tiba, matanya menatap tajam seolah dia menginginkan jawaban "Ya" dari Rin.


Vincent tersenyum puas, "Bisakah kau katakan sekali lagi?"


"Eh?"


"Katakan sekali lagi kalau kau masih menyukai, ah tidak... Katakan kalau kau mencintaiku!"


Rin menelan salivanya kasar, ada banyak sekali penekanan dari setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. "A-Aku mencintaimu," ujar Rin terbata. Itu membuat Vin menyeringai lebar, ia menaruh piring pasta itu dan berdiri, membuat Rin memasang wajah bodoh karenanya.


"Itu membuatku senang, dan sepertinya itu cukup untuk memberi tau..." tukasnya dengan perlahan menggerakan tubuhnya kebawah, berjongkok kemudian menunduk, menatap sesuatu yang membuatnya menyeringai di bawah ranjang tempat tidurnya.


"Itu cukup memberi tau tikus kurang ajar yang bersembunyi di bawah tempat tidurku," ujarnya menyeringai.


Sial, Felix mengutuknya dalam hati. Ia mendorong tubuhnya agar bergerak dan keluar dari bawah sana, Vincent sudah siap dengan kepalan di kedua tangannya, sementara Rin hanya bisa terdiam saat keberadaan Felix diketahui. Vas bunga ukuran sedang melayang dihadapan Vin, namun tak ada satupun yang berhasil mengenainya, itu membuat Vin bersemangat, ia melangkahkan kakinya cepat, mencoba melayangkan sebuah pukulan kewajah dan perut Felix. Tak dapat disangka, polisi itu masih ada tenaga untuk mengimbangi stamina Vin yang seakan tak pernah habis. Vin sedikit geram, ia mengulurkan tangannya dan mencengkram kuat leher Felix dengan satu tangannya, matanya terlihat memerah, namun senyumnya masih terlihat walau mengerikan.


Jeritan Rin menghentikan aksinya, gadis itu menangis dengan airmata yang berlinang, Vin meregangkan cengkramannya sembari menatap nanar gadis yang sedang menangis kencang itu, tanpa dia ketahui, Felix mungkin sudah berhasil meraih sebuah piring pasta dan memukulkannya tepat di kepala Vin, membuat darah keluar dari sana dan merobohkan tubuhnya dengan seketika. Suara Felix yang terbatuk dan tangisan Rin yang kencang seketika membuat gaduh kamar itu, tubuh Vin yang tergeletak dengan darah yang mengucur dari kepalanya membuat Rin terkesiap dan shock, namun Felix tidak ada waktu lagi untuk menunggu, segera ia melepaskan tali yang selama itu mengikat Rin dan menyeret gadis itu untuk pergi bersamanya. Gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, namun kakinya dipaksa untuk terus berlari hingga akhirnya mereka berhasil keluar dari rumah itu. Mega yang sangat hitam akibat hujan yang tak kunjung berhenti, membuat tempat itu menjadi sepi dan hening, hanya bunyi hujan dan pijakan rumput becek yang terdengar mengiringi mereka berdua.


Mereka terhuyung menapaki selangkah demi selangkah menjauh dari sana. Rasanya perjalanan ini tiada habisnya, dan lagi tak ada seorang pun yang bisa dimintai tolong. Felix tetap memegang kuat tangan gadis itu agar tetap berada didekatnya, tubuhnya kini membeku, ia meringis disetiap langkahnya, menahan rasa perih akibat hujan yang mengguyur setiap luka di tubuhnya.


"Kak Felix, aku tidak kuat lagi, aku kedinginan." Rin berkata dengan bibirnya yang pucat.


Sorot mata Felix berubah nanar, ia berdecak kesal dan membawa Rin kedalam dekapannya.


"Kita harus tetap berjalan, kita harus segera pergi dari tempat ini." Felix berkata dengan suaranya yang bergetar. Gadis itu hanya menganggukan kepalanya pelan tanpa berbicara apapun. Isakan tangis Rin bahkan tak menggema karena derasnya hujan, layaknya suara air yang terjatuh hari itu mendominasi semuanya, bahkan suara lesatan sebuah pisau pun tak lagi diketahui. Felix baru tersadar saat pisau itu sudah menancap sempurna di punggungnya. Ia tersentak, suaranya tercekat namun jantungnya memacu lebih keras.


"Kak Felix? Ada apa?" tanya Rin yang masih berada di pelukannya itu bingung. Felix mematung, dia hanya menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum pahit. Hal itu malah membuat wajah gadis itu menekuk, ia mengalihkan pandangannya, seorang pria dengan mata tajam mengawasi mereka dibalik punggung Felix, pupil gadis itu membesar tatkala menatap netra hitam yang diselimuti dengan amarah itu.


Bagaimana bisa dia bergerak secepat ini, terlebih dengan kepala yang terluka seperti itu, batin Rin.


"Kak Felix, kita harus segera pergi!" tukas Rin sembari melepaskan pelukannya dan mengajak Felix agar segera pergi. Pria itu tak menjawab, tak memberi respon apapun kecuali tubuhnya yang merosot.


"Kak Felix, Kak! Ada apa denganmu?" tanya Rin yang terlihat bingung. Gadis itu masih berusaha memapah Felix yang kehilangan keseimbangan, itu membuat seseorang yang tak jauh dari sana berdengus kesal.


"Ya ampun, seharusnya aku menusuk tenggorokannya selagi kubisa, aku jadi melupakannya karena kepalaku pusing semalam." gumam Vin sembari melangkahkan kakinya mendekat.


Rin masih mengguncang tubuh Felix yang terlihat hampir membiru. Ia tersentak, saat tau dipunggung laki-laki itu telah menancap sebuah pisau. Ia menutup mulutnya seakan berteriak tanpa suara, airmatanya terus keluar bahkan luruh bersamaan dengan air hujan.


"Ya ampun, Rin-ku basah kuyup begini. Ini peganglah!" tukas Vin menjauhkan Rin dari Felix dan memberikannya sebuah payung bening yang tak asing bagi Rin. Terlihat jelas bahwa wajah tampan itu sedang tersenyum pada gadis itu. Dengan tangan yang bergetar, dia menerima payung itu, itu membuat senyum simpul Vincent menjadi lebih lebar.


"Nah, pakai ini juga!" Vincent memakaikan jas hujan bening miliknya pada Rin. Gadis itu masih terdiam, melirik sekilas kearah Felix yang mungkin tak dapat bertahan lebih lama. Dadanya semakin lama semakin sesak, rasa dingin yang mungkin membuat jantung membeku, lalu menahan tangisan saat terluka itu tidak menyenangkan.


"Jangan terus-terusan menatap laki-laki itu! Aku tak menyukainya!"


Rin tersentak, sontak ia mengalihkan pandangannya kearah tanah. Suara Vin terdengar mengerikan, bahkan Rin tak berani menatap wajahnya.


"Maaf, maaf. Aku tak bermaksud membentakmu, itu karena aku cemburu."


"..."


"Tunggu disini sebentar, aku akan membereskan laki-laki itu dulu lalu kita kembali kerumah. Kita akan mandi air hangat dan akan kubuatkan kau teh madu yang spesial."


Vin berjalan pelan mendekati Felix yang terkapar lemah, dengan seringai diwajahnya dia mencabut pisau di punggung Felix. Pria itu melenguh, mendesis sakit saat pisau terlepas dari punggungnya. Darahnya keluar begitu banyak, bahkan hujan tak mampu membersihkan tiap tetes darah yang keluar. Vin mencengkram kuat kerah baju Felix, netra hitam itu terlihat penuh dengan kekesalan sembari menatap wajah Felix.


"Pak Felix, kau pintar dalam hal membuatku kesal. Jadi, haruskah aku mengulitimu? Kulihat kau senang sekali saat memeluk wanitaku tadi," ujar Vin dengan suara yang rendah.


"Menyingkir dariku!" jawab Felix dengan suara parau dan bergetar.


"Pft, arogan sekali!"


Apa yang bisa dilakukan Felix selain menerima dan menahan setiap pukulan yang mendarat di wajahnya. Pria itu tak akan sanggup melawan Vin yang sudah menggila, bahkan dengan kepala yang pecah, Vin masih bisa sekuat itu. Kini bukan hanya punggungnya yang mengeluarkan darah, hidung bahkan mulutnya kini memar dan tak hentinya mengeluarkan cairan kental merah itu. Gelak tawa tak tertahankan keluar dari mulut Vincent, jelas di matanya dia sangat menyukai pemandangan itu.


"Oke, oke. Sudah cukup, kita akhiri sekarang!" tukas Vin yang segera mengangkat pisau dilengannya. Dia telah mengunci jantung Felix, titik yang seharusnya dia tancapkan pisau. Matanya berkobar penuh semangat, bahkan seringai jelas terpampang di wajah tampannya.


Namun, sesuatu yang lain terjadi. Dengan sekuat tenaga, Rin yang sedari tadi diam saja kini memberanikan diri berbuat sesuatu. Gadis itu dengan berat hati menghantamkan balok kayu yang ia temukan tepat di pundak Vin, membuat pria itu tersentak, lalu tak sadarkan diri.


"Maafkan aku, Vin." ujarnya sembari menangis kelu. Ia terus menangis, mengikat Vin mengunakan tali yang ia temukan bersama balok kayu itu. Ia menyandarkan Vin di bawah sebuah pohon, memakaikannya jas hujan yang tadi pria itu berikan, lalu menempatkan payung diatas kepalanya.


Dengan satu sentuhan ia mengusap pelan kepala kekasihnya itu dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir pria itu. "Maafkan aku," ujarnya lagi, kali ini tangisannya semakin menjadi tatkala melihat wajah polos Vin yang menunduk saat tak sadarkan diri. Namun, dia harus bergegas, Felix mungkin masih bisa diselamatkan jika dia bergerak lebih cepat. Seharusnya dia melakukan ini sedari tadi, tapi rasa sayangnya pada Vincent membuat pikirannya menjadi kosong.


"Kak Felix, kau harus bertahan, aku akan memapahmu." dengan kedua tangannya ia memapah tubuh Felix yang tak berdaya lagi. Beruntung hujan kini tak sederas tadi. Rin menghapus sisa airmatanya, setidaknya Felix harus diselamatkan terlebih dahulu.