
Black Mountain, 16 Januari 2020
Ini awal tahun yang nampak indah, mungkin. Bulan Januari, ternyata sudah memasuki musim dingin, walaupun di Black Mountain jarang sekali turun salju, namun suhu udaranya dingin bukan main, matahari sangat sulit menampakan diri pada musim ini, hujan sudah pasti akan turun lebih sering, dan hal itu membuat merinding.
Rin sudah menjadi mahasiswi sekarang, tampaknya ia menikmati hari-harinya sebagai mahasiswi, ia lebih sering bertemu dengan Bella, bahkan hubungannya dengan Nick juga sudah mulai ada perkembangan, walaupun Nick masih mempertahankan sikap dinginnya.
Rin berjalan melewati koridor, memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantelnya yang tebal, disaat musim dingin seperti ini tiba, cuaca sangat tidak bersahabat, bekas hujan semalam pun masih terasa hingga kini. Rin terus berjalan dengan wajah lesuhnya, ia tak bisa tidur tadi malam, gemuruh hujan yang hanya berselang beberapa menit itu meninggalkan bekas yang mengerikan, entah ini sudah yang keberapa kali, setiap hujan turun dimalam hari, Rin akan melihat seorang pria misterius mengenakan topi putih yang tak asing baginya, ia akan berdiri dibawah lampu jalan dan terbasahi oleh hujan, entah apa tujuannya, itu seakan dirinya sedang mengawasi Rin. Hal itu terkadang membuat Rin sulit untuk tidur seperti sekarang ini, hawa dingin terasa di seluruh permukaan wajah gadis itu, sesekali ia menghembuskan nafasnya yang bahkan dapat membuat mulutnya membeku.
Sudah minggu kedua sejak ia kuliah, namun selama itu ia tak pernah bertemu dengan pria itu.
"Kupikir dia memang kuliah disini, Bella juga mengatakan hal itu, apa dia cuti?" gumam Rin pelan.
Mungkin aneh, hal yang dianggap menyebalkan malah sering sekali dicari, Rin tak ingin mengakuinya, tapi hati kecilnya tak bisa berbohong, pertemuannya dengan pria itu memang memberikan kesan yang cukup baik baginya.
"RIN!"
Rin tertegun saat mendengar Bella memanggil namanya, sontak ia mendongakkan wajahnya dan melihat Bella tengah melambaikan tangannya pada Rin, Nick juga ada disana tepat disebelah Bella, wajah datar dan ekspresi dinginnya itu tak pernah berubah, namun Rin tetap menyukainya.
"Kau pucat, apa kau sakit?" tanya Bella dengan raut wajah khawatir.
"Ah, benarkah?"
"Iya, coba kau lihat sendiri,"
Dari cermin kecil yang diberikan oleh Bella itu dapat terlihat wajah Rin memang agak pucat, dibawah matanya juga tampak hitam, apa karena efek sulit tidur beberapa malam ini. Hal itu kemungkinan bisa terjadi, hujan sudah turun beberapa malam ini dan orang yang mengerikan itu membuatnya terjaga sepanjang malam.
"Kau lihat sendiri kan, dibawah matamu hitam, apa kau ingin jadi bagian dari killing stalking?" tukas Bella.
"Apa sih, ini karena semalam aku begadang untuk menonton film."
Bella memulai ceramahnya, rentetan ocehan keluar dari mulut kecil dan pedas itu, dia bagaikan seorang Ibu yang sedang memarahi anaknya karena begadang. Rin hanya diam begitu pula dengan Nick yang bungkam sembari menatapnya. Kepala yang mulai pusing itu perlahan terasa, dua jam adalah waktu yang sangat sedikit untuk tidur, itu juga berkat kumpulan pil yang diberikan Dr. Freya, rasanya Rin sedikit demi sedikit mulai ketergantungan dengan obat itu, saat kejadian yang memicu ia mengingat traumanya, perasaan yang aneh itu menyeruak keluar, gejala seakan merasa sangat cemas dan gelisah itu sungguh menyesakan, bahkan Rin akan kehilangan akal sehatnya bila itu dibiarkan. Obat itu membantunya tenang, setidaknya itu meredakan perasaan cemas berlebihannya. Hal seperti itu sungguh memalukan untuk diceritakan pada Bella maupun Nick, dan Rin sepertinya tak mempunyai niatan untuk menceritan itu pada siapapun.
"..."
"Itu benar, jangan sering tidur larut malam, itu juga mempengaruhi kesehatan, kau mengerti?" ujar Nick mendaratkan sentilan kecil di dahi Rin.
"Aduh," lontarnya kecil.
Pipinya memerah, siapa sangka perbuatan kecil yang bahkan dengan sikap yang datar dan dingin itu dapat membuat wajah Rin memanas, itukah wujud perhatian? Entahlah, perasaan suka itu memang menakutkan, dengan kata lain, apapun yang diperbuat oleh orang yang kita suka itu adalah hal yang menyenangkan.
Nick memang lebih perhatian dari waktu ke waktu, itu dirasakan baru-baru ini, saat ia memutuskan untuk berteman dengan Rin, itu adalah hal yang membahagiakan dan membingungkan secara bersamaan. Apa mungkin itu hanya perasaan iba karena Rin menceritakan kenangan masalalunya? Entahlah, Rin belum mendapatkan jawaban untuk itu, karakternya sungguh sulit ditebak.
Baik Nick maupun pria itu, keduanya memberi tanggapan yang berbeda, entah mengapa aku malah menyukai respon pria itu, batin Rin.
"Eh, kenapa aku berkata seperti itu?" gumam Rin.
"Kenapa? Kau berkata apa?" tanya Bella
"Oh tidak, aku tak mengatakan apapun." jawab Rin kikuk.
"Ah, kau ini!"
"..."
Mau dipikirkan bagaimana pun itu memang terasa aneh, saat Rin pertama kali menginjakan kaki di kampus ini, orang yang ingin ia lihat adalah pria itu, bukannya Bella atau pun Nick, terkadang sulit untuk menyangkal ketika hati dan otak tak dapat diajak kerjasama.
Sebuah bayangan hitam terlihat dilantai bawah saat Rin menunduk, langkah kaki Nick dan juga Bella pun terhenti karenanya, apa karena orang itu menghadang kami? Daripada menghadang kami, mungkin lebih tepatnya orang itu sedang menghadang Rin.
"Akhirnya ketemu,"