PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 10 : Vin



Ajakannya membuat Rin bungkam, ia menoleh, mencari-cari sumber ketakutannya, namun tak ada yang dapat dilihat kecuali malam gelap yang mulai meneteskan butiran air dari langit, pria itu merangkul Rin, membantunya berjalan hingga kedalam mobil putihnya.


"Kau pulang kemana?"


"..."


Tak ada jawaban dari Rin, pria itu menjalankan mobilnya pelan, sesekali melirik Rin yang tengah melamun, ia menghela nafasnya lalu mencoba menyentuh Rin.


"Hei,"


"Ah, i-iya ada apa?"


"Hah, kau pulang kemana?"


"Oh disana, Apartemen Rodeo yang disana,"


"Baiklah." ucapnya sambil tersenyum.


Rasanya itu bak halusinasi, tapi perasaan menakutkan itu terasa begitu nyata, bahkan tangan Rin masih bergetar walau itu tak terlalu nampak. Di sepanjang koridor ini mereka berjalan tanpa sepatah kata pun, hingga akhirnya mereka telah sampai didepan pintu Apartemen Rin.


"Kita sudah sampai, terimakasih karena telah mengantarku malam ini," ucap Rin pelan.


"...Baiklah, aku akan pulang sekarang, jaga dirimu," ujarnya tersenyum.


Baru beberapa hari lalu sejak Rin mengatainya brengsek karena senyum dan tawanya yang menyebalkan, kini senyuman itu bahkan mampu membuat Rin merasa tenang dan lega, Rin mengakui itu walau ia membencinya, gadis itu melirik keluar Apartemennya, hujan lebat masih mengamuk diluar sana, bagaimana mungkin ia tega membiarkan pria yang telah menyelamatkannya itu pergi begitu saja, apalagi didaerah seberbahaya ini.


"Oh tunggu,"


"Hm?"


"Masuklah terlebih dahulu, diluar masih hujan."


Dengan kikuk Rin menekan kata sandi Apartemennya dan masuk terlebih dahulu, pria itu tertegun sebentar lalu tersenyum sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam Apartemen Rin. Ia duduk disofa yang berada diruang tamu itu, mengusap-usap rambut hitamnya yang basah karena hujan, sesekali ia membenarkan piercing disalah satu telinganya.


Rin datang dengan sebuah handuk ditangannya, memberikannya pada pria itu dan diterimanya dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Rin melirik kerarah pria itu, kini kesadarannya mungkin sudah ditingkat yang lebih baik akibat diterpa hujan, terlihat pria itu duduk sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk yang diberikan Rin, kemeja nya basah membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas dan pemandangan itu membuat kedua pipi Rin memerah.


"Pft, kau sedang melihat apa?"


"Ah, a-aku tidak melihat apa-apa kok,"


Rin segera memalingkan pandangannya dan melenggang pergi sementara pria itu masih terkekeh.


"Dia lucu," gumam pria itu.


Tak berselang lama, Rin telah kembali dengan sebuah kaos hitam ditangannya, pria itu tersentak saat Rin melemparkan kaos itu padanya, untuk beberapa saat ia hanya menatap kaos yang sekarang tengah berada ditangannya itu.


"Itu punya Ayahku, kau bisa mengenakannya."


"Wah, aku tidak menyangka ternyata kau perhatian juga ya,"


"..."


Rin mengerutkan dahinya, ternyata pria ini memang menjengkelkan, tanpa sadar Rin memperhatikannya sedari tadi, membuatnya memandang Rin dengan bingung.


"Apa kau akan terus disana dan melihatku mengganti pakaian?"


"Hah, mana mungkin, a-aku akan pergi membuatkan kau minum, k-kau mau minum apa?"


"Pft, aku akan meminum apapun yang kau buatkan,"


Sial, aku malu sekali, batin Rin sembari melenggang pergi kedapur dengan cepat, pria itu hanya terkekeh pelan sambil melucuti pakaiannya yang basah.


Rin mengaduk coklat panas dengan sesekali melirik kearah pria itu, ia tidak bisa membayangkan, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia membawa seorang pria kedalam rumahnya, dan lagi itu adalah pria asing yang bahkan namanya saja Rin tak tau.


Terlihat pria itu sudah selesai mengganti pakaiannya, untung saja kaos hitam itu pas ditubuhnya. Ia berjalan pelan sambil melihat-lihat isi ruang tamu Rin lalu berhenti sejenak memandangi foto-foto yang berjejer didinding ruang tamu itu. Ia menatap datar disana, hingga tak menyadari Rin telah datang dengan secangkir coklat panas tersuguh di meja. Kembali ia duduk, menyeruput sedikit demi sedikit coklat panas yang dibuat oleh Rin, mereka tak berbicara apapun, namun suasana ini tak terasa canggung, Rin memandang jendela yang tirainya masih terbuka, hujan diluar tampaknya jauh lebih lebat daripada sebelumnya.


"Vin, Vincent Damieer," ujarnya tiba-tiba, membuat Rin tertegun, dia mengenalkan dirinya sangat tiba-tiba, netra hitamnya tak bisa diabaikan, sepertinya pesona wajahnya itu sangat berbahaya.


"Rin, Rinoa beverly," jawab gadis itu pelan.


"Sepertinya kita memang jodoh, aku Vin dan kau Rin," tukasnya sembari terkekeh.


"..."


"Kau sedang apa disana tadi?" tanya Rin.


"Aku tak sengaja lewat saat sedang mencari makan malam."


"Memangnya dimana rumahmu?"


"Wah, kenapa kau ingin tau? Apa kau ingin bertamu kerumahku?"


"Tidak!"


"Hahaha, galak sekali."


Rin menyandarkan punggungnya di sofa, melipat kedua tangannya sembari menatap tajam kearah Vin, dilubuk hati terdalamnya ia berharap hujan diluar segera berhenti.


Vin tipe pria yang tak kaku dan canggung layaknya Nick, dia suka bercanda dan itu berhasil membuat Rin jengkel, Vin sangat mudah mencairkan suasana, itu terlihat jelas saat ini, mereka terlihat akrab walau baru beberapa jam mengobrol bersama.


"Mereka keluargamu?" tanya Vin dengan sorot mata yang mengarah kesebuah foto didinding.


"Ah iya,"


"Ternyata begitu ya, jadi mereka juga menjadi korban kekejaman pembunuh itu,"


"...Kau mengetahuinya?"


"Aku sudah tinggal disini lumayan lama."


"Ah, begitu."


"Apa polisi tidak menyelidikinya saat itu?"


"Entahlah, sepertinya mereka melakukan investigasi saat itu, namun tidak juga membuahkan hasil, kasus ini mungkin ditutup seperti yang sudah-sudah."


"Begitukah? Lantas, apa kau puas hanya dengan itu?"


"Apa?"


"Orang tuaku juga menghilang saat itu, bahkan ketika ditemukan, yang ada hanya sisa tulang belulang mereka, dan sama sepertimu, polisi tak dapat menemukan jejak pelakunya."


"..."


"Aku tau benar perasaanmu Rin, tapi kuharap kau menjalani hidupmu dengan perasaan bahagia,"


"Vin..."


"Hah, andai kau bisa membaca pikiranku, mungkin saat ini kau akan menangis."


"..."


Untuk beberapa saat Rin menundukan kepalanya, bahkan sampai beberapa menit yang lalu ia menganggap Vin adalah pria konyol yang menjengkelkan, siapa yang menyangka bahwa ia juga mengalami masa sulit itu, Rin menatap Vin ragu, bagaimana caranya dia dapat menjalani hidup tanpa beban seperti itu, dengan senyum yang selalu ia tampilkan diwajahnya itu, kini rasa iri itu perlahan datang.


"Kau ini, suka sekali menganalisa seseorang ya?"


"Eh?"


"Jangan melihat seseorang dari luarnya saja, kau lihat rumah sakit, diluar ia tampak bagus, namun didalamnya sakit semua."


"..."


"Ah, aku terlalu banyak omong ya Rin, maaf maaf, kau jadi tak nyaman ya."


"Tidak, aku menyukainya!"


"Hah?"


"Eh?"


Sial, tanpa sadar aku mengatakan hal yang bikin merinding seperti itu.