
[Rin] Siapa orang yang mengirimiku surat mengerikan seperti ini? Apa ini dia? Orang itu? Dia bilang disurat ini aku mengetahui rahasianya. Rahasia apa? Apa yang dia maksud? Aku tak mengerti. Orang itu menuliskan kata-kata aneh yang bahkan aku sendiri tak paham apa maksudnya. Daripada itu, kapan dia menaruh surat ini didepan pintu rumahku? Bahkan, para tetanggaku tak ada yang mengetahui hal itu.
Aku takut, benar-benar takut. Aku tak bisa berpikir sekarang, haruskah aku membiarkan saja surat ini? Tidak, tidak. Lebih baik aku menenangkan diriku dan mencoba berpikir dengan dingin, mungkin aku harus menyalakan satu batang rokok agar aku lebih tenang.
Akan ada pembunuhan lagi kalau kau tak membiarkanku melihatmu. Sejujurnya aku tak mengerti arti dari kalimat itu, pesan apa yang diselipkan disana? Lalu, kau pasti tau siapa aku karena kau tau rahasiaku. Sejauh apapun aku berpikir, kenapa yang terlintas dalam benakku hanya Kak Ron? Rahasia nya, apa pistol itu adalah rahasia nya?
Bulu kudukku merinding saat memikirkan hal ini sendirian, kalau memang benar ini semua ulah Kak Ron, aku tak akan tinggal diam. Kuakui dia memang orang yang aneh, terkadang tingkah maupun raut wajahnya itu menyimpan segala hal yang tidak ingin diketahui oleh siapa pun. Dan lagi, beberapa waktu ini dia lebih perhatian padaku, bertanya ini dan itu padaku, bahkan Bella saja risih melihatnya.
Sial, aku bergetar kembali. Semua kejadian ini membuatku bergidik ngeri untuk memikirkan banyak hal, aku berjalan perlahan dan menutup jendela kamarku, angin malam yang kencang menembus masuk kekulitku yang tak terlalu tebal. Rasanya dingin ini sungguh menyeruak hingga ke jantungku. Bila saja aku tak melihat seikat bunga Lily yang tergeletak itu, aku mungkin lupa kalau hari ini Nick menyatakan perasaannya padaku. Kepalaku pusing, suhu tubuhku memanas, apa aku tiba-tiba demam? Aku harus segera memberitahukan ini pada Felix besok, ah ataukah malam ini saja? Tidak, aku tak mempunyai cukup tenaga untuk melakukan hal itu, otak ku sangat lelah sekarang, jantungku juga terus berdebar sedari tadi, perasaan sesak dan menakutkan ini menjalar ke seluruh tubuhku yang lemah. Aku takut tak bisa menahannya, bahkan aku lupa cara yang telah diajarkan oleh Vin waktu itu. Keringat dingin kini memenuhi seluruh punggungku, mataku berkunang-kunang dan semakin lama semakin gelap, jantungku mulai normal, sesaknya mulai berkurang. Efek obatnya mungkin telah bekerja, sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak.
Black Mountain, 22 Desember 2021
[Author] Muka gadis itu memerah. Meminum obat dan mandi air hangat mungkin belum cukup untuk meredakan suhunya yang naik, setidaknya obat itu ampuh untuk mengatasi sakit kepalanya. Dia tak yakin akan menahan tubuhnya yang sakit di cuaca sedingin ini, tapi ini penting, Rin harus segera menemui Felix untuk memberitahukan surat mengerikan itu padanya.
Dengan tergesa Rin menapaki kakinya cepat di koridor gedung itu, berjalan tanpa henti hingga memasuki ruangan yang pernah satu kali dikunjunginya. Nampak ramai dan berisik, terdengar seperti sebuah tangisan kesedihan, terlebih suaranya sangat putus asa. Rin menoleh dan menatap bingung saat melihat wanita paruh baya tengah menangis tersedu-sedu sembari berbicara pada seorang polisi.
"Rin?"
"Ah Kak Felix, maaf tak menghubungimu lebih dulu," kata gadis itu dengan nafas agak tersengal.
Rin duduk tepat dihadapan Felix dan memberikan kertas surat yang ia dapat tadi malam. Dengan lekat, Felix membaca dan memahami isi surat yang dianggap mengerikan oleh Rin itu. Pria itu memegang dagunya seraya berpikir, ia nampak serius hingga cukup lama ia memperhatikan kertas-kertas itu.
"Kau bilang kau menemukan ini didepan pintu Apartemenmu?"
"Iya, itu benar. Aku menemukan itu disana, aku sudah mencoba bertanya pada tetanggaku, tapi mereka semua tidak tahu dan tak melihat siapa-siapa," jelas gadis itu.
"Apa ada CCTV yang bisa kita cek?"
"Sayangnya tidak ada."
Felix terlihat mengerutkan dahinya, netra biru mudanya menatap kedepan, lebih tepatnya tatapan itu menjurus kearah Rin. "Kau sakit?" tanya Felix memastikan. Rin tertegun sesaat, ia membetulkan topi kupluknya dan menatap Felix kembali. "Apa hal itu begitu kelihatan?" tanyanya polos.
Felix kembali mengerutkan dahinya, ia menghela nafasnya kasar sebelum kembali menatap Rin tajam.
"Kenapa kau memaksakan dirimu sampai kesini? Kau cukup menelponku dan aku yang akan menemuimu!" tukasnya.
"Mana bisa begitu, dan lagipula ini hanya demam biasa," jelas gadis itu.
"..."
Pria itu terdiam sejenak, kemudian memeriksa kembali kertas-kertas itu. Terlihat dari kaca yang menembus keluar ruangan, wanita paruh baya yang ia lihat pertama kali itu sedang menyeka air matanya sembari berjalan keluar, untuk beberapa alasan Rin memanyunkan bibirnya, entah mengapa itu membuatnya menjadi sedih begitu saja.
"Ada apa? Kau merasa sakit?" tanya Felix.
Rin menggeleng pelan, "Wanita itu kenapa?" katanya dengan sorot mata yang menatap wanita paruh baya itu.
"Ah, dia kesini tadi pagi untuk melaporkan putrinya yang tak pulang, kami menyuruhnya pulang karena ini belum 1X24 jam," jelasnya.
"Apa putrinya hilang?"
"..."
"Dan mengenai kertas-kertas yang kau dapat ini, aku akan memeriksa dan menyelidikinya terlebih dahulu, aku juga belun paham apa maksud dari orang yang menulis ini untukmu."
Rin mengepalkan kedua tangannya, menahan untuk tak berkata apapun pada Felix itu sungguh menganggu dirinya, gadis itu mengingat dengan jelas bahwa ia menyetujui saran dari Vin untuk tak mengatakan apapun pada Felix, tapi ada suatu dorongan yang kuat membuatnya mengatakan semuanya.
"Sebenarnya aku mencurigai satu orang," ucapnya ragu.
Felix berhenti sesaat dan mendongakkan wajahnya, netra biru muda yang menatap serius dan datar itu membuat Rin menjadi gugup, hal ini bisa saja menjadi bumerang baginya nanti.
"Benarkah?"
"Mm," jawabnya sembari menganggukan kepala pelan.
"Siapa orang yang kau curigai, Rin?"
"...Kak Ron, ah maksudku Ronny Hailey, managerku,"
Akhirnya dia mengatakannya pada Felix. Ron yang bertingkah aneh, terlibat perselisihan dengan pria gondrong tempo hari, hingga Ron yang menyembunyikan sebuah pistol didalam jaketnya. Pria berambut emas itu memicingkan matanya, menggoyang-goyangkan pulpen yang terjepit disela jarinya dan berpikir keras. Mungkin orang itu memang bisa dijadikan tersangka sementara, tapi penyelidikan tetap harus dilakukan, pikirnya. Mungkin dimulai dengan menyelidiki tulisan siapa yang terpampang disurat ancaman itu, lalu bergerak untuk memata-matai pria yang bernama Ronny Hailey itu. Itu sungguh membuat kepalanya hampir meledak, tapi dia adalah polisi, dan lagi dia tak bisa mengabaikan gadis yang berada dihadapannya ini.
"Mukamu merah sekali," ujar Felix tiba-tiba.
Gadis itu kini tersentak, tubuhnya memang sangat lemah saat ini, namun dia tak punya waktu untuk bermalas-malasan, dia harus kuliah siang ini, bahkan janjinya untuk menemani Bella hari ini adalah mutlak.
"Aku akan menyelidiki ini, sebaiknya kau pulang, aku akan mengantarmu."
"Tidak usah, aku akan kekampus setelah ini."
"Kau masih ingin kuliah ketika sakit?"
"Kalau cuma seperti ini, aku masih bisa menahannya,"
"Hah..." Felix memejamkan matanya dan menghela nafas panjang.
Rin mengeluarkan syal putih miliknya dari dalam tas, melilitkan disekitar leher jenjangnya dan membenamkan dagu dan bibirnya pada syal itu, benar-benar hangat. Pada akhirnya Felix tetap mengantarnya, pria itu memakai seragam polisi dan terlihat tegas. Lain halnya Nick atau pun Vin, Diffuser mobil Felix aromanya sungguh manis, jelas itu berbeda sekali dengan kepribadiannya.
"Kupikir orang itu memang hanya ingin menggertakmu, bisa jadi CCTV yang kupasang di tempat biasa dia menguntitmu itu membuatnya kesal," ujar Felix sembari menyetir.
"Jadi maksudmu, dia mengancam akan membunuh orang-orang kalau kau tak mencabut CCTV-CCTV itu?"
"Ya mungkin,"
"Apa... Kau akan mencabutnya?"
"Untuk saat ini, tidak."
"Syukurlah kalau begitu," ujar gadis itu lega. Felix hanya melirik sebentar dan kembali fokus kedepan dengan tatapan datar dan raut wajah yang berpikir serius.