PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 21 : Pembunuhan kembali



Sebelum masuk ke chapter berikutnya, kita liat visual mereka dulu yuk!



Rinoa Beverly/ Rin




Nama Lengkap: Rinoa Winter Beverly


Umur : 19 tahun



Vincent Damieer/ Vin




Nama Lengkap: Vincent Damieer


Umur: 20 tahun



Nicholas Holder/ Nick




Nama lengkap: Nicholas Kylie Holder


Umur: 19 tahun



Felix Braxton/ Felix




Nama lengkap: Felix Braxton


Umur: 26 tahun



Issabella Northman/ Bella




Umur: 19 tahun


Credit art by pinterest. Oke kita lanjut ke cerita! Cekidot.


Bunyi hujan seakan memberikan kengerian tersendiri, menimbulkan suara berisik saat mereka terjatuh pada benda-benda yang keras. Malam ini hujan kembali turun, tak tanggung-tanggung, mereka turun amat deras, membasahi seluruh permukaan Black Mountain. Seorang pria mengenakan topi putihnya yang indah, kali ini ia tak mengenakan jas hujan beningnya, melainkan membawa sebuah payung kesayangannya yang ia dapatkan secara percuma. Ia mengenakan mantel tebal, berjalan dan berkeliling dengan percaya dirinya.


Langkah kakinya berhenti, tatapannya datar namun tajam saat mengetahui tempat favoritnya kini tak nyaman lagi.


"Cih," decihnya kesal.


Dengan kuat ia meremas ujung payung yang sedang ia pegang itu, dari kejauhan ia dapat melihat, walau samar tapi ia yakin gadis yang berada didepan jendela kamarnya itu adalah gadis yang sama yang selalu ia lihat. Pria itu menyeringai, menghunus tajam sorot matanya kearah gadis itu. Dan tak lama kemudian ia pun berbalik, melenggang pergi entah kemana tujuannya.


Kembali ketitik awal, ditempat semuanya bermula, ia menyandarkan punggungnya di dinding jembatan penyebrang, menyingkirkan payungnya agar ia dapat merasakan butiran air hujan yang jatuh, ia tersenyum sembari memejamkan matanya.


Ia sangat mengenali suara hujan tanpa adanya penganggu. Namun tidak kali ini, ia menyudahi acara menikmati hujannya, menatap tajam kearah depan dimana terdapat suara yang menganggu pendengarannya, seekor tikus mabuk tengah berkeliaran diarea kesukaannya. Ia menutup payungnya, meletakkannya dibawah jembatan itu kemudian melenggang pergi hendak mengejar tikus itu.


Pria berambut gondrong tengah terhuyung dan berusaha berlari dari kejaran pria psikopat itu, ia terus memohon agar dapat selamat malam ini. Hujan masih mengeluarkan airnya, teriakannya bahkan tak terdengar akibat derasnya suara hujan, ia terus berlari tanpa menoleh kebelakang sekalipun, terdengar suara tawa yang bersemangat dari belakang sana, itu membuat situasi semakin mencekam.


Teriakan minta tolong pria itu tak dipedulikan, ia menangis tersedu-sedu bahkan sangat tak cocok bagi pria dewasa berumur 30 tahunan menangis seperti itu, apalagi terdapat tatto di lengan bagian kirinya. Pria bertopi putih itu sudah tak tahan lagi, ia menambah kecepatan berlarinya sembari melempari pria gondrong itu dengan bebatuan yang cukup besar.


"Kena kau," ujarnya menyeringai.


Pria gondrong itu terjatuh dan terkulai lemas, memegangi belakang kepalanya yang mulai dipenuhi dengan cairan kental berwarna merah. Ia menjerit histeris, ketakutan dan merasa kesakitan, bahkan malam yang gelap ini tak dapat menutupi ekspresi wajahnya itu. Pria bertopi putih itu mendekat, menatap lekat kemudian terkekeh. Gelak tawanya memecah keheningan malam saat itu, permohonan demi permohonan keluar dari mulut si pria yang tengah sekarat itu, meminta agar dibebaskan dan dibiarkan tetap hidup. Ia menunduk, berjongkok dan menatap wajah ketakutan dari korbannya, seakan itu memberinya kesenangan tersendiri.


"Membebaskanmu? Pft, yang benar saja." ujarnya parau.


Ia mengepalkan tangannya, memukul wajah pria yang sekarat itu dengan membabi buta, nafasnya tersengal, sepertinya ia terlalu bersemangat dan guyuran air hujan saat itu semakin membuatnya kegirangan. Ia menyudahinya dengan mengeluarkan sebilah pisau dari balik mantelnya, mengkilap dan terlihat tajam, biasanya ia sangat jarang mengasah benda itu, namun untuk kali ini ia mencoba untuk melakukannya dengan cepat, entah mengapa kebencian dan kemarahan berkobar melalui kedua sorot matanya. Tanpa rasa iba dan tanpa ekspresi, ia menghujamkan pisau itu berkali-kali pada dada pria gondrong itu, hingga darah segar bercipratan kemana-mana, bahkan rumput-rumput hijau itu pun bercorak kemerahan saat terkena darah orang itu. Namun itu tak berselang lama, karena hujan deras langsung membersihkan seluruhnya begitu saja.


Hujan perlahan mulai mereda, tetesannya tak sekuat dan sederas tadi, pada saat itu pekerjaannya pun telah selesai. Sangat sulit untuk memotong tubuh manusia hina sepertinya hanya dengan sebuah pisau dapur, walau pada akhirnya itu terselesaikan juga. Ia berjalan santai keluar dari hutan gelap itu, kembali pada titik awal dan mengambil kembali payung kesayangannya lalu melenggang pergi.


Kembali ia melintas ditempat pertama kali ia berhenti, apartemen Rodeo. Ia mendongakkan kepalanya keatas, jendela itu telah tertutup pikirnya. Raut wajahnya masih sama, datar dan tanpa ekspresi. Melampiaskan pada satu orang sepertinya kurang cukup baginya, namun sekarang ia sudah terlalu lelah, berjalan pulang dan merokok di balkon mungkin bukan hal yang buruk.


Ia menghempaskan pintunya hingga menciptakan bunyi keras yang menggelegar. Melangkah masuk diiringi dengan tetesan-tetesan air yang terjatuh dari setiap pakaian dan tubuhnya, seketika lantainya menjadi banjir dan licin, namun ia tak memperdulikannya. Ia berjalan kekamar mandinya, melepas semua pakaiannya dan memperlihatkan tubuh polosnya tanpa sehelai benang pun, dengan sabar ia mengisi air hangat pada bathupnya, ekspresinya masih terlihat sama, ia beranjak dan masuk kedalam bathup, menenggelamkan seluruh tubuhnya dengan menyisakan kepala dan lehernya saja, ia mendongakkan kepala nya keatas sembari memejamkan mata.


"Polisi merepotkan," umpatnya geram.


*


Rin mengunyah mie instan yang baru saja ia buat, entah kenapa rasa lega ini membuatnya lapar. Hal yang dilakukan Felix ternyata membuahkan hasil, setidaknya malam ini. Pria itu tak ada disana, mungkin dia juga merasa takut setelah tau ada CCTV yang terpasang diarea itu.


Felix tak memberi respon akan hal yang Rin katakan terakhir kali, apa dia tersinggung? Tapi Rin ingat hal yang Bella pernah katakan, Felix itu baru saja bergabung di kepolisian, yang artinya ia tak ikut andil saat penyelidikan kematian orang tua Rin saat itu. Namun itu tak memungkiri kalau ia tahu tentang kejadian itu. Mungkin hal itu juga menjadikannya tak enak hati dan dengan segera merespon laporan Rin, mungkin.


"Ah entahlah, aku pusing." ujar Rin sambil memasukan mie instan itu ke mulutnya.


Sedang menikmati makan malamnya, tiba-tiba Rin tersentak, ia teringat saat ia tengah bekerja tadi siang. Kak Ron bertingkah aneh lagi, ia menampilkan ekspresi kesal, ia bahkan terlihat berkelahi dengan beberapa orang didepan kafe, sepertinya salah satu diantara mereka adalah orang mabuk yang pernah Rin temui saat sedang menuju kekantor polisi.


Kak Ron mengumpat kesal dan masuk kedalam gudang, walau agak samar Rin dapat mengetahui kalau ia menyembunyikan sebuah senjata dari balik jaketnya, senjata itu bersinar, seperti pisau atau lebih kesebuah pistol.


"Pistol?" tukas Rin terkejut.