PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 32 : Nick



Black Mountain, 24 Desember 2021


"TIDAAK!"


Rin terbangun dengan nafas yang tersengal, lagi-lagi ia bermimpi buruk. Ia mengusap dahinya yang berkeringat, mengatur nafas dan memegang dadanya yang bergemuruh. Detik jam menyadarkannya, sekarang masih jam 03:00 pagi, Rin beranjak dari tempat tidurnya perlahan, melangkahkan kaki menuju dapur, berniat mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang mengering.


Terdengar atap di balkonnya itu berdenting, sisa-sisa air yang turun dari langit itu menciptakan ketegangan. Jujur saja, disini hujan lebih terasa horor daripada cerita hantu. Rin mengikat rambutnya asal, membuka lemari es dan tertegun saat tidak melihat bir miliknya tak ada disana. Untuk beberapa saat ia hanya termangu, hingga akhirnya ia menepuk jidatnya sendiri, Vin telah menukar birnya dengan semua jus jeruk ini.


"Pft, haha ya ampun." ia bergumam sembari terkekeh, mau tidak mau ia pun menuangkan jus jeruk itu kedalam mulutnya.


Beberapa hari ini, ia selalu bermimpi buruk, itu membuat malamnya menjadi kacau. Mimpi adalah bunga tidur, namun kenapa arti bunga disini selalu buruk, bahkan Rin tak terlalu ingat apa yang terjadi di mimpinya itu, yang ia tau adalah dia terus saja ketakutan saat disana. Kehidupan yang buruk dan semua kejadian mengerikan itu mungkin pemicunya, ya Rin dapat menduga itu, semuanya sudah tak mengherankan. Gadis itu duduk santai di sofa ruang tengahnya, sembari memakan lolipop dan menonton televisi. Wajahnya tampak datar saat menonton drama di televisi itu, ia tak bisa tidur, pikirannya melayang entah kemana. Semua perkataan Felix padanya itu sungguh membuat beban baru untuknya.


Bagaimana kalau wanita yang bernama Dayana Hill itu benar-benar akan dibunuhnya? Lantas, polisi bahkan acuh tak acuh dengan hilangnya wanita itu. Bahkan kalau Rin yang menghilang di kemudian hari, para polisi itu pun tetap sama seperti itu. Ini bukan tentang seberapa pintar pembunuh itu, ini juga menyangkut kontribusi para polisi di daerah ini. Rin menghela nafas panjang, ia meneguk segelas jus jeruk itu kasar. "Hah, ini membuatku gila," keluhnya.


...****************...


Nick membuka matanya, hari sudah kembali pagi, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Ia beranjak dari tempat tidurnya, berjalan pelan sembari mempertontonkan tubuh atletisnya, tatapannya datar saat ia melihat dirinya sendiri dicermin. Bocah kecil yang lugu itu kini telah menjadi sebesar ini, pikirnya.


Hidup sendirian, sebatang kara, jauh dari sanak saudara merupakan hal lumrah bagi dirinya. Semenjak kematian Ibunya, ia harus berjuang bertahan hidup sendirian. Nick mengingatnya, saat itu ia hanyalah seorang remaja yang baru saja mengenal dunia, siapa sangka pemandangan yang hingga kini melekat sempurna dalam kepalanya itu menyisakan rasa kesal dalam dadanya. Umurnya baru 16 tahun saat itu, saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Ibunya tewas gantung diri di bilik kamarnya. Jangan bertanya soal Ayah, karena dia akan sangat membencinya.


"Bodoh," umpatnya. Dia selalu bergumam kata itu saat merindukan Ibunya. Ibunya yang lembut, yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang walau tanpa sesosok Ayah.


"Sampai akhir hayatnya dia tetap membawa kebodohan dalam dirinya, kenapa dia selalu mencintai laki-laki yang brengsek, bahkan untuk kedua kalinya." Nick bermonolog didepan cermin.


BRAKK,


Nick memukul cermin itu dengan satu tangannya, darah segar itu menetes dari sela-sela jarinya yang terluka. Ia mendesis, merasakan perih di tangannya, namun ia membiarkannya. Nick kembali menatap pantulan dirinya dari cermin yang telah retak, ia tampak menyedihkan disana. Kali ini ia tersenyum, senyum simpul yang lama-kelamaan menjadi gelak tawa yang menggelegar. Ada yang berubah dari hidupnya, seseorang telah merubah pendiriannya saat ini, bayangan orang itu telah memasangkan akal sehatnya kembali. Hal itu bukan seperti dirinya, dia membatin. Nick terus berpikir hingga dahinya berkerut, dengan perlahan ia mengambil serpihan kaca yang masih menusuk di tangannya. Sorot matanya masih datar hingga sebuah nama yang keluar dari mulutnya itu mengukir senyum indah di wajahnya.


"Rinoa," ia bergumam.


"Andai saja aku tak bertemu denganmu, mungkin perasaan ini tak terlalu menyakitiku, aku sudah merasa lega saat itu, dan kau muncul. Bahkan berhasil membuatku gundah seperti ini." gumamnya lagi.


...****************...


Rin membetulkan syal yang melilit leher jenjangnya. Ditaman kampus, ia duduk sembari menyandarkan punggungnya, ia menghela nafas kasar, sesekali ia menyeka air mata yang jatuh akibat rasa kantuk yang menyerangnya. Gadis itu sulit mendapatkan waktu tidur terbaik, wajahnya keluh saat angin berhembus seakan menampar seluruh wajahnya, ia mengikat rambut gelombangnya bak ekor kuda, meraba isi tasnya dan mengeluarkan satu buah lolipop dengan rasa vanilla, buru-buru ia memasukkan lolipop itu kedalam mulutnya, berharap rasa kantuknya pergi saat itu.


Kafetaria tutup sementara waktu, itu karena Ronny masih ditahan di kantor polisi. Keuangan semakin menipis, Rin harus dipusingkan oleh itu, sebisa mungkin ia harus menemukan cara mengatasi masalah keuangannya. "Sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan baru," gumamnya.


Seikat bunga lily terpampang dihadapannya. Rin tertegun, netra biru tuanya bergetar saat melihat Nick yang menyodorkan bunga-bunga itu dihadapannya secara tiba-tiba.


"Hai," sapanya sembari tersenyum. Rin membalasnya dengan sebuah senyuman canggung.


"Untukmu," ujarnya memberikan bunga itu pada Rin. Gadis itu menyambutnya ragu, "Terimakasih,"


Seketika rasa kantuk yang luar biasa itu lenyap tatkala perasaan canggung menyelimuti mereka. Rin melirik pelan, berniat melihat Nick yang duduk disebelahnya. Ia mendelik saat mendapati punggung tangan Nick yang bengkak dan dipenuhi banyak luka.


"Kau terluka?" tanya Rin. Nick tersentak dan menyembunyikan tangannya cepat.


"Bisakah aku melihatnya?"


"Tidak usah, ini memalukan."


"..."


Nick tetap menyembunyikan tangannya, dan itu membuat Rin mengerutkan dahinya.


"Biarkan aku mengobati lukanya," pinta Rin.


"..."


Rin tak bergeming, ia mengulurkan tangannya seakan sudah bersedia menerima tangan Nick yang terluka. Untuk beberapa saat Nick hanya menatapnya datar, hingga pada akhirnya ia mau menunjukkan tangannya yang terluka pada Rin. Gadis itu mendelik, lukanya sangat banyak dan tak diobati sama sekali. Ia mengangkat pandangannya, terlihat netra hazel itu hanya menatapnya datar, membuatnya kembali menurunkan pandangannya. Buru-buru ia mengambil antiseptic di dalam ranselnya, membubuhi dan membersihkan luka dipunggung tangan Nick dengan hati-hati, ia memberikan obat merah dan terakhir ia membalutnya dengan kassa. Gadis itu tersenyum lega, "Sudah selesai, kau harus mengganti kassanya dua hari kedepan," ujar Rin.


"Baiklah, dua hari kedepan aku akan menemuimu untuk menggantinya," jawab Nick.


"..."


Nb:


Hallo, maaf ya kalau cerita ini rada absurd, karena authornya juga absurd wkwk. Btw reader yg dah baca dari pertama pasti tau kan ada beberapa scene yang sama antara Virin & Nirin, contoh nya scene ditembak sama kayak diatas ini, scene tangan cowonya luka. Di part kmrn sih Vin juga pernah luka tuh. Author mau tanya nih, kalian lebih suka respon Vin atau Nick? Lebih tepatnya lebih suka Vincent atau Nicholas? Atau malah lebih suka Felix ๐Ÿ˜†Komen dong, referensi nih ๐Ÿ™๐Ÿค—