PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 35 : Fear



Petang sudah tergantikan oleh malam yang gelap dan sepi. Rin turun dari bis dan berjalan gontai menuju Apartemennya dengan menenteng sebuah buku yang ia pinjam dari perpustakaan besar. Gemuruh malam mulai terdengar, ini seperti dejavu. Lagi-lagi ia merasakan seseorang tengah mengikutinya, perlahan tapi pasti, ditengah gelapnya jalan tanpa lampu, siluet hitam itu sedang menyelaraskan langkah kaki gadis itu. Dia pria dalam kegelapan, memakai jaket hoodie hingga menutupi kepala dan wajahnya sempurna, dia terlihat menyembunyikan sesuatu didalam jaketnya yang membuatnya terlihat lebih misterius.


Rin menelan salivanya kasar, mencoba agar tak terlihat panik saat itu. Gemuruh awan mendung kian menguat seiring dengan langkah kakinya yang kian menyepat. Ia mencoba menelpon Felix, namun nomornya sedang tak dapat dihubungi. Sialnya tak ada siapapun disana kecuali dirinya, ini membuat situasi menjadi dirinya merugi. Kembali ia memanggil Felix lewat telepon, namun hasinya tetap sama, nomor Felix sama sekali tak bisa dihubungi. Tanpa pikir panjang, Rin kemudian menekan nomor Vin. Berdering, itu tersambung. Untuk sesaat gadis itu merasa lega, tapi sesuatu tiba-tiba terjadi. Ponselnya terjatuh dan mati, Rin mendelik melihat pria yang kini berdiri di hadapannya. Dengan sorot mata melotot ia berusaha membekap mulut gadis itu.


Gadis itu tak dapat berbicara, tangan besar itu menutup mulutnya dengan kasar dan kuat. Mata biru tua itu hanya bisa membesar dan mengeluarkan airmata. Pria dihadapannya menyeringai, ia menaikkan topinya keatas dan menatap wajah yang sedang ketakutan itu.


"Hai Rin, lama tak bertemu," ujarnya menyeringai, ia melepas bekapannya dan mendorong gadis itu hingga tersungkur ketanah. Buku yang ia bawa berserakan bersamaan dengan tubuhnya yang terhempas. Pria itu mendekat, mengangkat wajah Rin agar bertatapan dengannya, terlihat pupil gadis itu bergetar, ia melirik kesekitar dan tak ada siapapun yang dapat menolongnya disituasi ini. Bahkan ponselnya telah terlempar entah kemana.


"K-kak Ron, apa yang-"


"Kenapa? Kau terkejut melihatku disini? Kau tidak berpikir aku dipenjara, kan?"


"..."


"Kau gadis licik yang menyebalkan. Untuk apa kau melaporkanku kepolisi, hah?"


"Tidak, bukan seperti itu-"


"Kau tau, aku hampir dibunuh Ayahku karena kau, untung saja si tua bangka itu masih mau menebusku. Kalau tidak, aku akan menghabiskan waktuku di penjara."


"..."


Ronny Hailey bak seseorang yang sedang kalap, ia mencengkram kuat lengan Rin hingga ia meringis. Gemuruh masih terus berbunyi malam itu. Rin menjerit, berusaha minta tolong namun dengan cepat mulut kecil itu sudah dibekap kembali dengan tangan besar itu. Hanya air mata yang bisa Rin keluarkan, ia berusaha menendang, namun tak sampai, tapi ia tetap berjuang agar lepas dari Ronny. Ia terus memukul pundak Ronny, dan itu berhasil membuat pria itu kesal. PLAAK! Sebuah tamparan dari Ronny mendarat dipipinya yang mulus, menyisakan tanda berwarna merah pada pipinya. Rin mencoba bangkit, dengan perasaan yang campur aduk, kakinya bergetar tatkala Ronny hendak mendekatinya kembali. Gadis itu terisak, mencoba melangkahkan kaki untuk pergi dari sana.


"Kyaa, tidak. Lepaskan aku!" Rin memohon sembari memegang rambutnya yang dijambak oleh Ronny.


Nampak tak jauh dari sana, seseorang yang misterius itu mengangkat tangan dan mengacungkan pistolnya kearah Rin dan Ronny.


Sementara itu, Rin masih terus memberontak dan membuat Ronny mencekiknya, Rin terus meronta, nafasnya tercekat, wajahnya mulai memerah saat itu. Tangannya yang meraba kemana-mana berharap ada sebuah batu didekatnya, namun tak ada apapun, yang ada hanya secarik kertas yang keluar dari mantelnya. Ia mengenggam secarik kertas itu dengan pasrah karena ia merasa sudah sangat lemas.


Bunyi pelatuk yang ditarik oleh seseorang menggema kecil, ia telah membidik Ronny dan siap menembaknya. Hanya dengan menekannya, peluru itu sudah pasti menembus kepala Ronny hingga berlubang. Namun, ia terpaksa mengurungkan niatnya. Pria berambut hitam yang datang tergesa itu segera menarik kerah baju Ronny dan memberinya pukulan segar tepat diwajahnya. Rin mengalami batuk parah, wajahnya sudah membiru akibat ulah dari Ronny.


"Sial," ujarnya. Raut wajahnya sangat kesal saat melihat kondisi Rin. Ia terus memukul Ronny hingga Ronny tak punya kesempatan untuk melawan.


"Vin, cukup!" teriak Rin. Ia menggertakan giginya karena amarahnya masih memuncak saat melihat wajah Ronny kala itu.


"Vin, cukup! Dia bisa mati." Rin berusaha menghentikan Vin.


Wajah Ronny sudah babak belur, Vin berhenti karena Rin yang menyuruh. Ia menatap dingin Ronny yang lemas digenggamannya, sorot mata hitam itu menunjukkan bahwa dia ingin membunuh Ronny saat itu juga.


"Vin!" panggil Rin lagi. Vin melepaskan Ronny dan segera mendekat kearah Rin. Dipapahnya gadis itu, ia tak berbicara apapun, namun netra hitam itu tampak begitu khawatir. Rintik hujan perlahan mulai jatuh, Ronny pun sudah menghilang saat itu, tapi Vin sudah tak memperdulikannya lagi.


"Aku lelah, Vin." Rin berkata kecil, lalu ia pun tak sadarkan diri setelahnya. Tanpa berkata apapun lagi, Vin mengangkat tubuh Rin dan menggendongnya hingga ke mobil.


Pria dengan hoodie yang menutupi seluruh wajahnya itu berdecak kesal. Ia menyembunyikan pistol itu dibalik jaketnya dan pergi meninggalkan tempat itu.


Hujan mulai mengguyur Black Mountain, Vin terus mengusap wajah Rin sembari mengendarai mobilnya. Dia mengambil secarik kertas di genggaman Rin dan menghela nafas panjang.