
"Kyaa, pudingnya benar-benar lembut dan manis, benarkan Rin?" ujar Bella bersemangat.
"Ah i-iya benar,"
"Hei, kau kenapa? Bukankah seharusnya kau senang, orang yang baru saja jadian itu harusnya menunjukkan raut wajah yang bahagia," ujar Bella panjang lebar.
"Hah, bagaimana bisa kau tau?"
"Ya ampun, tadi aku melihat kalian berdua di perpustakaan. Lalu, tatapan Vin saat itu adalah tatapan seorang pria untuk kekasihnya, dan yang lebih menyebalkan, aku melihat dia membelai rambutmu. Ya ampun aku iri sekali, tapi aku juga senang melihat kau dan Vin akhirnya jadian,"
"Ah aku-"
"Apa? Kenapa kau tak menceritakan ini padaku? Jahat sekali!"
"Bukan seperti itu-"
"Kau sungguh berpacaran dengan pria itu?" suara parau yang tinggi membuat Rin dan Bella tersentak. Nick terlihat marah, apa dia mendengar semuanya? Tatapannya seakan ingin memakan kami hidup-hidup.
...****************...
Rin menelan salivanya kasar, dan disinilah mereka, ditaman belakang kampus. Duduk sembari menikmati awan mendung yang tak karuan. Suasana menjadi canggung saat diantara mereka tak ada yang bersuara, Rin tersadar, dia bahkan belum memberikan jawaban pada Nick atas pernyataannya waktu itu dan sekarang Nick mendapati bahwa Rin berpacaran dengan pria lain. Hah, betapa sampahnya aku, gumam Rin dalam hati.
"Maaf," ujar Rin pada akhirnya.
"... Apa kau menyukai orang itu?" tanya Nick.
"Saat kau memberi waktu untukku berpikir, saat itu aku benar-benar memikirkannya. Aku sangat terkejut saat kau tiba-tiba menyatakan perasaanmu, kupikir itu adalah sesuatu hal yang tidak mungkin, tapi saat ditengah-tengah itu, aku menemukan satu fakta. Aku menginginkan orang lain, dan aku memang menyukai dia," jelas Rin.
"..."
Nick bungkam, seakan jawaban dari Rin mengundang kemurkaannya. Lantas apa yang harus Rin lakukan, bukankah kejujuran yang paling penting sekarang? Untuk sesaat wajah Nick terlihat sangat menyeramkan, tapi kemudian itu berangsur-angsur berubah menjadi dia yang biasanya.
"Jadi, aku ditolak ya?" ujarnya menunduk.
"Huh?"
Nick mendongakkan wajahnya yang terlihat sedih, itu pertama kalinya pria itu memasang ekspresi itu. "Bolehkah aku memelukmu satu kali saja?" ujarnya kemudian.
"..."
"Apa kita masih bisa berteman?" tanyanya lagi.
"Tentu saja."
"Baguslah, itu melegakan. Hari minggu, datanglah kerumahku, bukankah kita sudah janji untuk itu? Ah, kau boleh mengajak pacarmu juga,"
"Ah, tentu, aku akan datang."
...****************...
23:45PM
"Dia tidak ada," ujar Rin menatap kebawah. Hujan mulai membasahi, fenomena alam yang menyeramkan saat disini. Rin membuka laci meja belajarnya, berharap menemukan sebuah buku catatan yang biasa ia simpan. Sebuah foto kecil yang hampir terlupakan, foto yang ia temukan saat membongkar barang milik Ayahnya. My Lily, 2014, ia meraih foto itu dan menatapnya lekat. Seketika jantungnya berdebar kuat, sebuah kejutan yang tak sebanding dengan pesta ulang tahun. Benarkah ini orang yang sama? Wanita yang terbaring dengan damai di pemakaman tadi, Sylvia Morisette Holder, apa ini benar dia?
"Apa-apaan ini?" serunya tak percaya.
...****************...
"Dia pasti menungguku, berdiri didepan jendela kamarnya sembari menyorotkan mata kearah bawah. Kekeke sayangnya aku tak bisa kesana, dan itu semua gara-gara polisi sialan itu!" teriaknya sembari menendang kursi yang berada didekatnya.
Matanya tajam namun datar saat memandangi tetes demi tetes hujan yang turun.
"Sial, suasana hatiku benar-benar buruk hari ini." dia menggerutu kesal sembari berjalan menuju gudang rumahnya. Dia terus berjalan dan berhenti didepan seorang pria yang setengah sekarat, dengan dua tangan terikat dan kakinya yang lebam parah. Ia memulainya, dengan tatapan mata yang mengerikan ia mulai menendangi pria dibawahnya, "Sial, aku tak akan pernah puas walau menelanmu hidup-hidup!" teriaknya. Pria itu meringis dengan kain yang menutupi mulutnya. Dia menyeringai dan tertawa setelah menendangi pria itu, layaknya orang yang kehilangan akalnya, bahkan pria itu mungkin akan mati sebentar lagi walau hanya dibiarkan.
"Ronny Hailey, bajingan gila yang mesum. Dengan tangan mana kau menyentuhnya? Katakan! Aku akan memotongnya!" ujarnya berteriak.
Pria itu tak menjawab bahkan untuk bergerak saja rasanya dia tak akan bisa. Ronny yang malang, bahkan seluruh tubuhnya sudah babak belur semenjak hari itu. "Hah, ini tidak akan berhasil, aku benar-benar kesal. Mari kita selesaikan ini sekarang!" ujarnya melayangkan pisau tajam itu ke tubuh Ronny. Menghujamkannya beberapa kali sembari menyeringai, "Luar biasa, melakukan ini saat hujan memang yang terbaik," ujarnya tertawa.
Black Mountain, 28 Desember 2021
Kantor polisi Rumanov begitu bising, para petugas yang seliweran kesana kemari bahkan ada beberapa diantara mereka yang hanya bergunjing tentang ini dan itu. Felix terpuruk didalam ruangannya, hidungnya memerah dan kepalanya sedikit pusing. Akibat pengintaian sia-sia yang ia lakukan semalam, ia menjadi flu. Ia dan beberapa rekannya rela berdiri dibawah hujan untuk menangkap orang itu, nyatanya orang itu bahkan tidak muncul disana.
"Hatchu! Hah sial, dia lebih pintar dari yang kukira," ujarnya sembari mengusap hidungnya. Felix mengambil satu pil dari sebuah botol dan menenggaknya dengan air putih. Ia memilin-milin dahinya, daerah dengan ruang lingkup yang tak terlalu besar, bagaimana bisa seseorang bisa begitu pintar untuk tak pernah meninggalkan jejak. Bisa saja dia menggunakan Rin untuk memancing orang itu muncul, tapi hal itu tidak akan terjadi. Felix tak ingin melakukan hal yang membahayakan gadis itu, terlebih orang itu sepertinya sangat terobsesi dengan Rin.
"Haruskah aku menyelidiki laki-laki yang dekat dengannya? Oh ya ampun, apa hatiku bisa menahan hal ini, tck!" ujarnya sembari berdecih.