
"Aku akan menceritakan kisah menarik di masalalu," ujarnya datar.
"..."
"Dulu ada seorang wanita yang cantik di Kota Rumanov. Dia jatuh cinta pada seorang lelaki lalu menikah dengannya, dari hasil pernikahan itu dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengannya, awalnya mereka baik-baik saja, namun entah mengapa suaminya kabur begitu saja dan tak pernah kembali. Wanita itu sangat terluka dan kecewa, namun anak laki-laki itu memberikannya semangat agar terus menjalani hidup, dia sangat menyayangi anak satu-satunya itu, ia bahkan rela bekerja di pasar hanya untuk menghidupi anak semata wayangnya."
"..."
Nick menghidupkan sebatang rokok dan menyilangkan kakinya dihadapan Rin, gadis itu hanya terdiam, ia menelan salivanya kasar, tenggorokannya kering dan kelu, namun dia tak bisa berbuat apapun selain pasrah dan diam mendengarkan.
"Kukira saat itu anaknya berumur 12 tahun. Wanita itu berkenalan dengan seorang pedagang yang baik hati, pedagang yang sering datang kepusat kota, mempunyai rambut pirang dan lumayan tampan,"
"..."
"Pedagang itu jatuh hati pada wanita itu begitu pun sebaliknya, mereka menjalani hubungan asmara yang sangat bergairah, bahkan pedagang itu juga bersikap baik pada anak laki-lakinya. Wanita itu sangat menyukai Bunga Lily sedari dulu, maka dari itu si pedagang selalu membelikan bunga itu setiap kali menemui wanita itu."
"Siapa wanita itu sebenarnya?" pertanyaan Rin membuat netra hazel itu menatap tajam dirinya.
"Aku belum selesai dengan ceritaku," ujarnya.
"..."
Nick menghitung dengan jarinya sembari berpikir, "Berapa tahun ya? Ah sepertinya dua tahun, mereka menjalin hubungan selama dua tahun lamanya. Saat itu wanita itu benar-benar bahagia, dia dihadiahi sebuah Apartemen di hari ulang tahunnya, senyumnya terus mengembang selama dua tahun itu. Lalu, sesuatu terjadi. Pada Februari 2015 silam, saat anak laki-lakinya berumur 14 tahun, pedagang itu memutuskan hubungan secara sepihak dengan wanita itu, dia berkata bahwa sebenarnya dia adalah pria yang berkeluarga, selama ini dia tak jujur pada wanita itu. Karena wanita itu terlanjur mencintainya, dia bahkan rela bila harus dijadikan simpanan saja, namun pria itu menolak, dia bilang bahwa istrinya sedang mengandung anak keduanya saat itu dan dia tak bisa melukai Istrinya lebih banyak. Wanita itu kecewa dan sakit hati apalagi saat pedagang itu bilang dia sangat mencintai anak dan istrinya. Hah, menceritakan ini aku jadi sangat kesal."
"Sebenarnya untuk apa kau menceritakan hal ini padaku?" tanya Rin bergetar.
"Ini cerita yang menarik, tidakkah kau penasaran apa yang terjadi pada wanita itu?"
"..."
"Dia menjadi depresi dan gila semenjak itu. Kau tau? Itu bukanlah waktu yang singkat. Dia menjalani hari dengan kegilaan dalam kurun waktu dua tahun, dia tersiksa. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menghabisi dirinya sendiri diumur anaknya yang ke-16 tahun. Sungguh ironi, dan itu semua gara-gara pedagang itu!" ujar Nick menggertakkan giginya.
"...Sylvia Morisette Holder, apa dia adalah wanita itu?"
"..."
Hening, saat nama itu terucap dari mulut Rin seketika Nick terdiam, ia mengerutkan dahinya dan melotot kearah Rin. Gadis itu hanya menunduk dengan perasaan takut diseluruh tubuhnya, ia meringis saat rasa perih menjalar ditangannya yang terikat.
"Benar." suara Nick yang dingin menggetarkan jantung Rin. Rin mendongak, seakan meminta penjelasan lebih jauh akan jawabannya itu.
"Wanita itu bernama Sylvia Morisette Holder, dia adalah Ibuku," ujarnya dengan tatapan datar.
"I-Ibumu? Lalu pedagang itu-"
"APA? TI-TIDAK MUNGKIN!"
Nick beranjak dari kursi dan melangkah perlahan menuju nakas, menarik laci dan mengambil secarik foto lawas. "Aku bertanya-tanya darimana kau mengetahui nama Ibuku hingga lengkap begitu. Tapi itu tidak penting, kau lihat ini?" ujarnya seraya menunjukkan foto itu dihadapan Rin. Foto dimana seorang wanita cantik yang mirip dengan Nick itu bersama dengan pria berambut pirang persis warna rambut Rin. Pupil gadis itu bergetar, ia melebarkan kedua matanya, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar. Itu memang benar Ayahnya, dan wanita itu adalah, My Lily, 2014... Itu adalah wanita yang sama.
"Ayahku tidak mungkin-"
"Tidak mungkin apa? Derrick itu playboy brengsek yang tak tahu malu,"
"JANGAN MENGHINA AYAHKU!"
"..."
Nick meraih rahang gadis itu dan mencengkramnya kuat. Ia menatap wanita itu dengan tajam, ada rasa benci dan rasa tak tega secara bersamaan. Namun Nick menepis semuanya, ini sudah terlanjur pikirnya.
"Harusnya kau juga ikut orang tuamu saat itu, jadi aku tak perlu repot-repot hingga seperti ini."
"Apa maksudmu!"
"Aku seharusnya membunuhmu saat ada kesempatan seperti aku membunuh semua keluargamu,"
"KAU GILA! LEPASKAN AKU!" Rin meronta-ronta, namun itu malah membuat Nick semakin emosi. Sebuah tamparan kembali mendarat di pipinya, kali ini lebam itu terlihat lebih jelas, bahkan bekas darah disudut bibirnya hampir mengering saat itu. Rin mengiggit bibir bawahnya, menahan airmata yang akan menerobos sela matanya, itu benar-benar menyakitkan, tubuhnya bahkan hatinya.
"Kau sakit jiwa! Hiks, kenapa kau tega melakukan itu Nick, KENAPA?" teriak Rin sembari menangis.
"Kau serius mempertanyakan hal itu? Apa sedari tadi kau tak mendengar ceritaku? Ayahmu sudah membuatku kehilangan Ibuku!" jawab Nick dengan suaranya yang meninggi. Rin tersentak, ia bergetar ketakutan, namun ia tetap mendongakkan wajahnya.
"Tapi kau tak seharusnya membunuh mereka semua, keluargaku... Hiks, bahkan kau membunuh orang-orang yang tak bersalah!" ucap Rin dengan suara bergetar.
Nick memiringkan kepalanya, "Hah, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah aku harus membunuhmu disini," ujar Nick menodongkan pistolnya tepat di dahi Rin. Rin terdiam, ia membuka lebar matanya, tubuhnya tak berhenti bergetar kala ujung pistol itu benar-benar menyentuh dahinya.
"Kau tau? Aku menepati janjiku pada Ibuku, dia terus meracau ingin selalu bersama dengan Ayahmu semasa dia hidup. Kurasa dia akan tenang sekarang, karena sebagian abunya sudah aku tuangkan diatas jasad Ayahmu,"
"Ha!"
Dengan tatapannya yang datar, Nick siap menarik pelatuk pistol itu. "Aku akan menghabisimu sebelum perasaan sialan ini menghalangiku, aku tidak percaya aku jatuh cinta padamu, dan yang lebih gila lagi kau menolakku, sialan!"
Dengan tubuh yang bergetar, Rin menutup kedua matanya. Bayangan keluarga yang tak bernyawa itu terus menghantui pikirannya, keluarganya yang selalu tersenyum saat menyebut namanya, Ayahnya yang selalu mengusap puncak kepalanya dengan penuh rasa kasih, haruskah Rin membenci Ayahnya itu?
Rin membuka matanya perlahan, Nick telah siap mendorong pelatuk itu agar pelurunya dapat menembus kepala Rin yang kecil. Ah, aku melupakan kuponku, apakah aku benar-benar mati sekarang? Kumohon, Vin selamatkan aku!