
"HAH!"
Deru nafas yang tak beraturan itu memenuhi ruangan yang senyap, bunyi suara yang ditimbulkan oleh jam dinding itu sepertinya kalah telak jika dibandingkan dengan suara jantung yang berdetak kencang. Angin berhembus itu membuat gadis yang baru terbangun dari tidurnya itu tersentak, jendelanya masih terbuka lebar, hujan masih turun dari langit yang kelam, sepertinya belum ada tanda-tanda akan berhenti, bahkan dia masih berada di kursi belajarnya.
"Mimpi, itu hanya mimpi," gumam Rin terbata.
Rin menghela nafas kasar, berusaha mengatur nafas untuk menenangkan dirinya, keringat membanjiri tubuh dan wajahnya, jantungnya masih berdegup kencang, perasaan takut masih menyertai dirinya, bahkan tubuhnya masih bergetar. Ia memegangi dahinya, ternyata belum ada lubang disana, dia masih hidup dan selamat. Itu hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang mengerikan.
"Hiks hiks," ia meluapkan kepedihan dan ketakutannya, ia seakan membawa sebuah batu besar yang diikatkan pada kepalanya, dadanya sesak diiringi dengan rasa mual pada perutnya. Pada akhirnya kecemasan ini terjadi lagi, ini lebih parah daripada sebelumnya, ia tak bisa mengendalikan penyakit ini, secepat mungkin ia membuka laci meja belajarnya, mengambil dan memasukkan beberapa pil kedalam mulutnya dan didorong oleh segelas air putih hingga pil itu masuk dengan sempurna di tubuhnya.
Rin beranjak, menutup jendela yang sedari tadi dibiarkannya terbuka.
"Ah!"
BRAAAKKKK...
Rin terduduk lemas dilantai kamarnya dengan raut wajah yang ketakutan.
Mata biru tuanya membesar saat melihat pria yang ada dimimpinya itu sedang berdiri di bawah Apartemennya, bila dipikir-pikir itu sering kali terjadi, seperti sekarang ini.
"Itu dia, dia ada dibawah sana, bagaimana ini? A-aku sangat takut," gumam Rin bergetar.
Black Mountain, 17 Desember 2020
"Ah, ini sudah siang," gumam Rin dengan suara yang kecil.
Pada akhirnya, setelah semua kejadian mengerikan tadi malam, Rin tertidur setelah menenggak kembali pil tidur, suatu keajaiban dia masih terbangun hari ini, bahkan Bella sedari tadi sangat heboh, gadis itu menelpon tiada henti. Rin terpaksa absen kuliah hari ini, kepalanya pusing dan tubuhnya terasa tidak enak, beberapa menit yang lalu Rin baru saja bersapa dengan Bella melalui video call, ya gadis itu memang selalu khawatir terhadap sahabatnya yang satu ini.
Berendam di air hangat memang luar biasa, setidaknya itu memberi penyegaran pada kepala Rin yang cukup berat. Semalam itu adalah malam yang paling mengerikan yang pernah ada, Rin bahkan berpikiran bahwa dia benar-benar target si psikopat itu. Itu bisa saja terjadi, walau Rin tak pernah tau apa yang menjadi tujuan si pembunuh itu sebenarnya, mengapa pembunuh itu selalu ada ketika hujan dimalam hari, memakai jas hujan yang sama beserta topi yang sama. Beberapa minggu ini, berita pembunuhan berada dalam fase senyap, apa itu karena si pembunuh belum mencapai tujuannya? Apa benar tujuannya adalah Rin? Itu hal yang rumit ketika dipikirkan.
"Apa aku harus melapor kepolisi?" gumam Rin.
Rin melangkahkan kakinya yang basah, dengan dibaluti handuk ia segera mencari pakaian untuk berganti, cuaca dingin hari ini sungguh berbahaya, itu membuat sebagian dedaunan pohon membeku dan sebagian yang lain layu.
Mata gadis itu terhenti ketika tangannya menyentuh sebuah kemeja berwarna putih tertata rapi dalam lemari pakaiannya, ia menariknya dan menatapnya sejenak.
"Ah, haruskah aku mengembalikan kemejanya?"
Rin menghela nafas pelan sesaat setelah ia memasukan kembali kemeja itu dalam lemarinya. Ia telah selesai, mengenakan celana panjang dan baju rajut merah muda yang tebal, sepertinya itu cukup untuk menghalau rasa dingin yang datang. Hari ini mungkin dia akan beristirahat total, bahkan ia juga tak bisa bekerja di kafe karena kondisi tubuhnya.
Baru saja Rin hendak merebahkan diri diatas kasur, suara ketukan pintu pun terdengar, Rin melirik kearah jam dinding, sekarang pukul dua siang, jantungnya masih berdetak bekas semalam. Ia menelan salivanya kasar, melangkahkan kaki mendekati pintu dan mengintip siapa yang datang.
Seorang pria berambut coklat gelap dengan memakai sweater hitam itu berdiri didepan pintu sembari memainkan ponsel, Rin terbelalak, ia bergegas menemui cermin, melihat apakah dirinya sudah cukup baik untuk bertemu dengan pria yang ia sukai itu.
"Aish, kenapa dia tiba-tiba datang kesini," ujar Rin sembari menyisir rambut dan membubuhkan lipstik tipis agar tak terkesan pucat.
Tiga menit hal itu berlangsung, untungnya Nick masih setia didepan pintu, Rin membuka pintu Apartemennya dan menyambut pria tampan itu dengan senyum canggungnya. Nick menatapnya dengan datar walau pada akhirnya ia memberikan seutas senyum tipisnya.
"Nick?"
"Oh itu benar, ah silahkan masuk dulu."
Suasana canggung terasa lagi, Nick duduk disofa itu sembari menatap Rin, sayang sekali sepertinya ia terlihat biasa saja, pria itu tampak tenang.
"Kau sudah periksa kedokter?"
"Ah tidak, tidak perlu sampai kedokter, aku hanya kecapekan,"
"Kau begadang lagi?"
"Huh? Ti-tidak kok, aku tidak begadang."
"Benarkah?"
"Iya, aku berkata sejujurnya."
Tatapannya seakan berkata, "Haruskah aku mempercayaimu?", dan dia menanyaiku seperti aku adalah tersangka.
"Oh ya Nick, kau tau darimana nomor unit Apartemenku?"
"Huh?"
Nick tak langsung menjawab, ada keraguan bila dilihat dari ekspresi wajahnya, rasanya Rin tak pernah memberi tahu pada Nick nomor unit Apartemennya, itu kali pertama ia membuat ekspresi seperti itu, kecanggungan.
"Itu, aku bertanya dengan penghuni disini," tukasnya.
Rin mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, diluar dugaan, Rin menyangka dia akan bertanya pada Bella, itu membuat Rin tersenyum tipis, ada kalanya Nick dapat membuat ekspresi malu-malu seperti itu rupanya.
"Aku membawakanmu makanan, kau sudah makan?"
Rin menggeleng pelan.
"Kalau begitu kita makan bersama, makanannya ada banyak."
Kali ini makan siang bersama dengan Nick terasa cukup baik, Nick menunjukkan sisinya yang berbeda, dia orang yang cukup lembut walau diluar ia nampak sedingin es, bahkan ia beberapa kali menyentuh dahi Rin hanya untuk memastikan bahwa demam Rin sudah turun atau belum. Nick benar-benar menjadi orang yang berbeda hari ini, itu sangat tak disangka.
"Terimakasih untuk makanannya," ujar Rin.
"Tidak masalah, lagipula itu hanya makanan biasa."
"Ah, terimakasih juga sudah berkunjung kesini,"
"Iya, kita kan teman, sudah seharusnya aku mengunjungi teman yang sakit, bukan?"
"Oh, ya itu benar"
Benar, kami hanya teman, saking senangnya aku jadi lupa kalau kami hanya berteman, hampir saja aku menceritakan semua hal yang terjadi padaku semalam karena terbawa suasana, ah bodohnya aku.