PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 48 : Piercing



Vin melangkah mendekat kearah Felix yang sedang tergantung, ia bahkan terkikik geli melihat kondisi Felix saat itu.


"BAJINGAN! LEPASKAN AKU!" teriak Felix sembari meronta. Vin mengerutkan dahinya dan berdecih, Felix begitu berisik hingga akhirnya Vin harus menutup mulutnya dengan sepotong lakban. Sepertinya itu tidak cukup untuk menenangkan polisi yang sedang mengamuk itu, dia meronta-ronta bagai ikan yang menggelepar di pasar, hal itu mengundang gelak tawa Vin, pria berambut hitam itu tertawa geli melihat Felix yang meronta di hadapannya.


Suara Felix yang tertahan akibat lakban itu tak diperdulikannya, Vin memegang tubuh Felix yang tergantung itu dan mencoba membuatnya tak bergerak, itu tentu membuat Felix kebingungan.


Apa yang akan sialan ini laku-


BUAK! Felix membesarkan bola matanya saat satu pukulan menghamtam perutnya dengan telak, ia terdiam dan terbatuk saat rasa sakit dan mual menjalar keseluruh tubuhnya. Airmata keluar dengan sendirinya saat tubuhnya merespon rasa sakit yang luar biasa itu.


Sembari menaikkan sudut bibirnya, Vin terus memukul perut Felix dengan sangat bersemangat, bahkan dengan seluruh pakaian yang basah kuyup itu tak membuatnya gemetar kedinginan, ia terus melayangkan pukulannya bersamaan dengan seringaiannya yang menyeramkan.


"Haha, kau sempurna untuk menjadi samsak."


...****************...


Denting jam dinding yang menunjukan ini sudah lewat tengah malam, sudah jam 03:00 bahkan sebentar lagi kemungkinan langit akan kembali terang. Hujan sudah berhenti satu jam yang lalu, menyisakan rasa dingin dan basah. Felix masih menggantung dengan perut yang lebam dan darah dimulutnya yang sedikit lagi mengering, ia bahkan hampir tak sadarkan diri.


Vin duduk dihadapannya dengan sebatang rokok di jari tangannya, menatap datar kearah Felix yang sudah terlihat menyedihkan.


"Jadi, kapan kau mengetahuinya?" tanya Vin dengan suara rendah. Caranya berbicara kini sangat berbeda dari ia biasanya, suaranya terdengar berat dan menakutkan.


"..."


Tak ada jawaban dari Felix, dia hanya melenguh, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Mata hitamnya menatap datar beberapa saat, ia mematikan api rokok yang sedang ia pegang lalu beranjak, "Hah, ini membosankan," ujarnya.


Vin melayangkan sebuah pisau dan memotong tali yang menggantung Felix, suara hentakan saat tubuh Felix terjatuh di lantai gudang yang dingin itu menjadi lantunan yang indah, itu bahkan membuat Vin tertawa geli. Felix menggeliat, meringis kesakitan, sementara Vin masih tertawa sembari mengambil beberapa pil penghilang rasa sakit diatas nakas yang tak jauh dari situ. Beberapa pil itu masuk sempurna kedalam mulut Felix, berjalan ke kerongkongannya dan mungkin akan segera di cerna oleh tubuhnya. Vin memindahkannya kesebuah kursi kayu dan mengikatnya disana, polisi itu terlihat tak berdaya saat terduduk disana, dan itu pemandangan menakjubkan bagi Vin.


...****************...


Samar-samar aku dapat melihat, pria ini menatapku dengan sorot matanya yang sangat menakutkan. Ia tak memasang ekspresi apapun, dan itu pula yang membuatnya tampak mengerikan. Aku lengah saat dia tiba-tiba muncul dihadapanku, memecahkan kaca mobilku lalu memukulku dengan balok kayu. Sial, aku benar-benar sial!


"Ada apa? Apa kau sudah membaik?" tanya Vin.


"Sebenarnya apa tujuanmu?" Felix balik bertanya. Obatnya mungkin bekerja dengan sangat baik, dan itu mengundang rasa semangat di wajah Vin.


"Tujuanku?"


"Kau kehilangan piercingmu, benarkan? Dan aku menemukannya di hutan. Letaknya pun sangat menakjubkan, benda itu tergeletak tak jauh dari potongan lengan Ronny Hailey."


"..."


Vin tersenyum hingga kedua matanya menyipit, salah satu lengannya meraba sebelah telinganya, terasa polos memang.


"Ini terjatuh dari saku celanamu saat aku menggantungmu, kekeke."


Sial, batin Felix sembari menekuk wajahnya, ingin rasanya ia meninju wajah mengesalkan dihadapannya itu, membuatnya babak belur dan mengikatnya di kursi seperti yang tengah ia lakukan padanya saat ini. Tapi ia tersadar itu tidak akan mudah, dia sedang menghadapi pembunuh dan orang gila secara bersamaan, nyawanya mungkin berada dalam genggaman pria itu sekarang, pikirnya.


Vin menghela nafasnya, ia beranjak dan melangkahkan kakinya kesudut ruangan, menyentuh sebuah payung yang tergeletak rapi disana lalu tersenyum lega.


"Apa kau menyukai hujan, Pak Polisi?"


"..."


"Bukankah hujan itu menyegarkan? Aku merasakan itu saat berada di bawahnya."


"Apa yang mau coba kau katakan sebenarnya?"


"Kau benar, aku memang pembunuh itu! Aku yang membunuh semua orang-orang itu!"


"Apa tujuanmu? Kenapa kau membunuh semua orang-orang itu? Apa yang salah denganmu, hah?"


"Ah, apa kau sedang menginterogasiku? Dengan keadaanmu yang seperti itu?"


"..."


"Pft, dengarkan aku pak polisi! Aku tak punya tujuan apapun, kau tau? Membunuh itu sama halnya seperti melakukan segs. Kau akan kecanduan saat sudah melakukannya sekali."


Felix berdecih, dia benar-benar sedang menghadapi orang gila. Setidaknya sebelum mati ia ingin memberitahu Rin bahwa pria yang dikencaninya ini tak lebih dari seorang psikopat yang gila membunuh.


"Kau telah membunuh setidaknya 7 orang, kau bahkan memutilasi mereka! Apa kau benar-benar berpikir bahwa kau masih waras?" teriak Felix dengan emosi yang meluap.


"Kenapa kau berteriak? Bahkan para polisi pun membiarkan aku. Ah maksudku, jika mereka memang berniat menangkapku, mungkin korbanku tidak sebanyak itu." Dengan santai Vin menjawab pertanyaan Felix. Polisi itu tersentak, terdiam dan tak bisa membantah.


"Sebenarnya, apa yang membuatmu melakukan hal itu, hah!"


"Hm, kau tak perlu tau. Karena kita tidak sedekat itu untuk berbagi cerita hidup. Oh, sebagai informasi, dahulu kala aku itu anak laki-laki yang lucu dan polos, lalu sesuatu yang buruk terjadi, dan BOOMM!!! Jadilah aku yang seperti sekarang ini," jelasnya sembari terkekeh.


"..."


"Hah, senang sekali bisa bersenda gurau denganmu Pak Felix, tapi sepertinya aku mulai bosan."


"Apa maksudmu?"


"Dari pertama aku tidak berniat melukaimu, aku berniat untuk membunuhmu!"