PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 4 : Sebuah perubahan



Rin membuka matanya, pupilnya bergetar, ia terduduk lemas dengan tangan yang memegangi kepalanya, bahkan airmata masih membekas disudut matanya.


"Itu hanya mimpi" gumamnya bergetar, ia memilin dahinya yang dibanjiri dengan keringat, mencoba tenang seraya berpikir atas arti mimpinya. Rin kembali meneteskan airmata, merasa begitu bodoh dengan perbuatannya selama ini, bahkan harusnya ia melanjutkan kehidupannya dengan baik seperti apa yang dikatakan kedua orang tuanya didalam mimpi.


Ranjangnya bergetar tatkala ia kembali merebahkan dirinya kasar, tangannya bergerak menyeka air matanya yang membekas dan mulai mengering, kembali ia memejamkan matanya, dan terlelap kembali dalam tidurnya.


*


Black Mountain, 05 Desember 2019


Rin mengambil seiris roti dan mengolesinya dengan selai kacang kesukaannya, mengunyahnya menjadi satu dan menelannya tanpa sisa, ia melirik arloji ditangan kirinya, waktu sudah menunjukan jam delapan pagi, ia segera bergegas, mengambil segelas susu kemudian meneguknya sampai habis, dia tak ingin telat bekerja hari ini. Sejak saat itu Rin kini mengubah sudut pandangnya, tekadnya telah berubah, hal yang telah terjadi memang tak seharusnya disesali, mungkin Rin harus bisa mengambil sisi positifnya barang sedikit mungkin, itu memang tidak mudah, namun tidak ada salahnya mencoba untuk menjadi yang lebih baik, walau Rin sadar bahwa kecanduannya akan alkohol belum bisa diperbaiki dengan cepat, dia harus rutin pergi ke psikiater untuk membantunya mengatasi itu. Rin belajar dari semua masalalunya, karena takdir itu tak selalu sesuai dengan rencana, maka dari itu disetiap permohonan pasti diawali dengan kata semoga, Rin berharap semoga perubahan ini akan berjalan dengan baik, seperti yang diinginkan kedua orang tuanya.


"Selamat pagi Rin" sapa seorang wanita cantik seusianya dengan rambut coklat gelombangnya.


"Pagi Bella, oh kau tak kuliah?" jawab Rin sembari memasukkan tasnya kedalam laci.


"Ya ampun ini hari minggu, tentu aku libur"


"..."


"Hah, kau terlalu sibuk sampai tak mengingat hari" gerutu Bella yang masih dengan aktifitasnya.


"Iya" jawab Rin terkekeh pelan.


Rin bekerja dikafetaria, sekadar mengisi waktu luang dan juga sekaligus menambahi pendapatannya, kini ia tak lagi tinggal dirumahnya yang lama, ia merasa rumah itu terlalu besar untuk ditinggalinya seorang diri, lagipula kenangan manis akan keluarganya selalu terngiang saat berada disana, Rin menyewakan rumah tersebut kemudian pindah kesebuah Apartemen sederhana yang pas untuk ia tinggal sendirian. Dikafetaria itu ia bertemu dengan Isabella Northman, gadis manis yang lucu dan bersemangat, gadis itu juga bekerja paruh waktu untuk mengisi waktu kosongnya selain kuliah, mereka berdua akrab, bahkan Ronny Hailey, selaku Manager kafetaria itu pun sangat baik terhadap mereka.


"Rin, jadi kapan kau akan kuliah? Pendaftaran sudah dibuka, sayang sekali kalau kau hanya bekerja disini saja, lagipula Kak Ron juga tak melarang tuh, kau masih bisa tetap bekerja walaupun kuliah, seperti aku" tukas Bella sembari mengelap peralatan-peralatan disana.


"Hmm, kau benar, aku sudah menyiapkan berkas dan uangnya, aku juga sudah registrasi, tinggal menunggu jadwal ujiannya saja"


"Nah, itu baru kabar baik" tukas Bella memberi senyum lebarnya.


"Hah, bosan sekali" gerutu Bella


"..."


Rin menghela nafasnya, ia memandang keluar, hari ini tampaknya cerah, walau suhu yang dingin ini dapat membuat tubuh membeku. Beberapa tahun ini hujan sepertinya jarang menampakan diri, mungkin itu berkat permohonan para penduduk disini, bahkan ada beberapa orang yang memberi persembahan agar hujan tak turun, itu hal yang menggelikan, dizaman seperti ini masih saja ada orang yang berpikiran seperti itu, pembunuh itu sepertinya memang pintar dalam hal mempermainkan mental orang-orang, dalam beberapa bulan di tahun lalu, daerah ini sepertinya aman-aman saja walaupun hujan turun dengan derasnya, tidak ada penculikan, tidak ada mayat ditemukan, keadaannya senyap, seakan-akan ia hilang ditelan bumi, semua merasa tenang, bahkan ada beberapa gosip yang menyatakan bahwa sipembunuh telah tertangkap. Rin mendesah pelan, ia tersenyum kecil memikirkan hal menggelikan itu, nyatanya dua bulan setelah gosip itu beredar, si pembunuh itu pun memberi salam lagi pada penduduk Black Mountain dengan menaruh jasad yang telah membusuk di dalam hutan itu.


"Hei Rin, sedang memikirkan apa?"


Suara Bella membuyarkan pikiran Rin, "Tidak, aku hanya berpikir tentang siapa sebenarnya si pembunuh itu".


"..."


Bella memanyunkan bibirnya, gadis itu tau semua hal yang menimpa temannya itu, ia melangkah pelan mendekati Rin yang sedang melamun, dengan perlahan Bella melingkarkan tangannya di tubuh Rin dengan erat. Rin tertegun, ia tersenyum kecil melihat temannya yang menggelayuti tubuhnya itu, Bella adalah satu-satunya teman yang sangat akrab dengan Rin, ia gadis centil yang selalu memberi Rin semangat, membuat Rin tertawa dan bahkan memaksa Rin mengikuti kencan buta seperti yang sering dilakukannya. Satu hal yang tak bisa Rin lupakan dari Bella, gadis itu tetap ingin berteman dengannya bahkan setelah tau bahwa Rin adalah pecandu alkohol dan pengidap Distimia, itulah yang membuat Bella berharga untuk Rin.


"Apa ini? Kenapa tiba-tiba?"


"Tidak apa-apa, aku tidak ingin sahabatku ini bersedih"


"Pft, siapa yang sedih? Aku tidak bilang tuh kalau lagi sedih"


"Aish Rin, seharusnya kau membalas pelukanku dan mengatakan kalimat yang bagus"


Rin hanya tertawa melihat tingkah Bella saat itu, gadis itu menggerutu kecil, walau pada akhirnya ia ikut tertawa.


"Kau harus cepat-cepat kuliah Rin, disana ada banyak sekali pria-pria tampan dan seksi" ujar Bella sembari memegang kedua pipinya sendiri.


"Kau kuliah untuk belajar atau mencari pria, dasar kau ini"


Tepat disaat itu, segerombol orang memasuki kafe itu, mungkin mereka mahasiswa jika dilihat dari cara dan wajahnya. Suara tawa dan cara bicara mereka sangat berisik, mungkin itulah yang sedang Rin pikirkan, namun ada satu pria yang tampak sedikit berbeda, tanpa sengaja dan tanpa disadari, mata mereka bertemu, mata biru tua dan mata hitam pekat bagai malam itu saling memandang satu sama lain, membuat desiran kuat dari darah beralih ke jantung Rin. Pria itu tersenyum, senyum yang bahkan penuh akan misteri, membuat Rin hanya mampu mengerutkan dahinya, entah mengapa, Rin tak menyukainya.