PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 16 : Kantor polisi bag 1



"Aku pulang dulu, istirahatlah dengan benar," ujar Nick.


Rin hanya menganggukkan kepalanya mantap, ia melihat punggung Nick yang perlahan menjauh lalu menghilang. Ada yang bilang, didunia yang penuh polemik ini, kita jangan berhenti berharap, lalu ada juga yang bilang semakin kau berharap maka rasa kecewa yang kau dapat akan semakin besar.


Rin menghempaskan tubuhnya di sofa, menatap lurus kedepan sembari mengedip-ngedipkan matanya, pikirannya melayang, bahkan beberapa jam yang lalu, ia masih merasa tak enak badan dan pusing, berkat kedatangan Nick, semuanya lantas menghilang begitu saja. Setidaknya dalam percintaan, berharap itu adalah hal yang selalu ada meski kita tak menginginkannya.


"Woah, dia benar-benar menyegarkan," gumam Rin.


Rin melirik kearah jendela, mata biru tua itu memandang lekat suasana diluar, sudah mulai petang, udara masih terasa sangat dingin, itu dapat membuat jari-jari tangan membeku bila terlalu lama diluar ruangan. Rin beranjak dari sofa, hendak mengambil rokok yang berada didalam laci nakas ruang tengahnya, namun niat itu pun diurungkan tatkala memikirkan bahwa dia adalah seorang gadis perokok dan pecandu alkohol, dan lagi gangguan psikologis yang sangat merepotkan, apakah hal semacam itu tidak apa-apa jika Nick mengetahuinya? Rin tersenyum simpul sembari menghela nafas, ia menarik laci nakas itu dan mengambil sebatang rokok miliknya, kembali ia menghempaskan bokongnya di sofa empuk itu, dengan punggung yang bersandar disana, ia menyalakan rokoknya, seketika asap putih mulai menggempul memenuhi ruangan yang tak terlalu besar itu.


"Hah, lagipula dia hanya menganggapku teman, lantas apa yang kuharapkan dari Nick." ujar Rin masih menikmati rokok nya. Ya, setelah dipikir-pikir kembali, pernyataan nomor dua lebih akurat, haruskah Rin mengambil pernyataan nomor tiga, yaitu Hope is a *****.


Hening, yang terdengar hanya suara jam dinding yang berdetik beserta kipas dari tungku pembakaran, rasa bosan mulai menyerang dirinya, ia beranjak, berjalan menuju jendela dan melihat musim dingin Black Mountain yang kelabu, seketika hawa dingin beserta hembusan angin menampar keras wajahnya, ia menjentikan jemarinya, membuat putung rokok disela jarinya itu terpental keluar. Pandangannya menatap lurus kedepan, membiarkannya hanyut didalam lamunan. Namun, suara getar dan dering ponsel kini menyadarkannya, gadis itu menoleh, segera berjalan menuju ponselnya yang berbunyi, itu nomor tidak dikenal, tanpa rasa curiga ia mengangkatnya.


"Hallo," ujar Rin.


"Oh hallo, syukurlah itu benar kau." jawab suara dari seberang sana.


"Ini dengan siapa?" tanya Rin ragu.


"Kau melupakan suaraku? Kejam sekali..."


"...Hah, Vin?"


"Pft, hahaha ternyata kau hanya pura-pura tak kenal ya,"


"Hentikan basa-basinya, darimana kau dapat nomor teleponku?"


"Haha, aku tak akan memberitahumu"


"..."


Pria menyebalkan, itulah yang sedang memenuhi isi kepala Rin, pria konyol yang bisanya hanya bercanda saja, mengubah suasana hati yang bagus menjadi berantakan. Anehnya, walau telah menyadari bahwa Vin menjengkelkan, Rin tak berniat untuk menutup panggilan itu, ia seakan menikmati perbincangan mereka, walau itu berarti Rin harus memanyunkan bibir dan mengerutkan dahi disepanjang percakapan itu.


"Kudengar kau sakit, ya?"


"Hah, beritanya menyebar dengan cepat, ya."


"Kau harus cepat sembuh dan kuliah, hari-hariku hampa karena tak melihat wajahmu."


"Apa? Berhentilah mengatakan hal-hal menjijikan!"


"Pft, kenapa jadi marah, aku serius."


"..."


Dasar pria aneh, buat aku merinding saja, batin Rin.


Daripada dibilang percakapan, itu lebih tepat disebut seperti perdebatan, ketika Vin menggoda Rin, maka Rin akan marah dan Vin membalasnya dengan tawa, siklusnya seperti itu, namun itu terlihat murni dan mengalir begitu saja.


"Besok kau harus kuliah, kalau tidak, aku akan datang kerumahmu,"


"Untuk apa kau kerumahku?"


"Aku merindukanmu"


"..."


Eh, perasaan apa ini? Aku merasa aneh, jantungku sepertinya akan meledak, apa itu karena... Jantungku rusak?


"Ah ya ya,"


"Hah, kukira kau pingsan"


"ENAK SAJA!"


"Pft, hahaha ya sudah, istirahatlah dengan baik, sampai bertemu besok"


"Apa yang kau maksud bertemu besok?"


"..."


TUT...TUT...TUT...


"Dasar, seenaknya saja memutuskan panggilan," gerutu Rin.


Dengan memasang wajah yang cemberut, Rin kembali kekamarnya, menghempaskan tubuh rampingnya diatas kasur yang empuk itu, memandang lekat langit-langit kamarnya, sembari mengedipkan mata, lamunannya pun kian memanjang, dilema atas semua hal yang terjadi pada dirinya, ketakutan yang melanda siang dan malam, lalu hari hujan adalah puncaknya. Apa tidak apa-apa bila ia menceritakan hal itu pada Bella? Rasanya beban gadis itu terlalu berat, apa melapor kepolisi adalah pilihan yang terbaik? Rin mengacak-acak rambut coklat panjangnya, pembunuh berantai itu seperti sedang berada disekitarnya, dan itu membuatnya cemas dan takut berhari-hari.


Black Mountain, 18 Desember 2020


"APA?"


Suara Bella yang melengking itu mengundang banyak perhatian, apalagi ini adalah kantin dan sekarang adalah jam makan siang, kau harus tau bagaimana penuhnya makhluk hidup yang berkumpul disana di jam seperti ini.


"Rin, ini kejadian yang berbahaya, kau harus segera melapor kepolisi, ya ampun aku jadi merinding memikirkannya," ujar Bella panjang lebar.


Pada akhirnya gadis itu menceritakan semuanya pada Bella, hal-hal yang ia alami hingga kemarin ia mengalami demam, ternyata benar kata Dr. Freya, dengan menceritakan sedikit masalah pada orang terdekat, maka beban yang dirasa akan berkurang sedikit demi sedikit, itu sudah lebih dari cukup, dengan adanya solusi ataupun tidak ada sama sekali, itu bisa dipikirkan nanti, semua pasti akan ada jalan keluarnya jika kita memikirkannya bersama, bukan?


"Ah, aku juga berpikiran seperti itu, tapi aku sedikit ragu."


"Kenapa? Jangan ragu, tenang saja Rin, aku akan menemanimu kemanapun dan kapanpun kamu mau,"


"...Ya ampun, kau berlebihan sekali, tapi terimakasih banyak," ujar Rin sembari tersenyum simpul.


"Aduh, Rin-ku manis sekali," ujar Bella mencubit-cubit pipi Rin, membuat gadis itu meringis dan memberontak pelan.


"Hei, jangan beritahu soal ini pada Nick, kau dengar?"


"Ya ya, lagipula siapa yang ingin memberitahu pemuda jutek sepertinya," ujar Bella mengangkat kedua bahunya keatas.


Nick sedari tadi belum datang, padahal dia sendiri yang mengatakan akan makan siang bersama dengan Rin dan Bella, ya mungkin dia sedang ada kerjaan, itu hal yang harus dimaklumi.


Untungnya semalam tidak turun hujan, rasanya itu malam yang cukup baik karena Rin dapat tidur dengan nyenyak tanpa menenggak pil tidur.


"Sepulang dari sini kita akan langsung kekantor polisi," ujar Bella setengah berbisik.


"Baiklah," jawab Rin.


"Apa aku boleh ikut?"


"Tent....EH KENAPA KAU TIBA-TIBA ADA DISINI?"


"Pft, hahaha"


Suara tawa yang renyah, siapa lagi kalau bukan berasal dari pria yang dianggap menyebalkan oleh Rin, Vincent. Itu membuat Rin dan Bella tertegun dan kaget setengah mati, dia muncul ditengah-tengah mereka secara tiba-tiba saat mereka sedang melakukan obrolan serius.


"Jadi siapa yang akan kekantor polisi setelah ini?" tukas Vin tersenyum.