
"Laporannya sudah saya terima, secepat mungkin tim kepolisian akan menyelidiki hal ini. Kau tak perlu khawatir, selama kau tak keluar rumah saat hujan deras, kupikir kau akan tetap aman." ujar Felix sembari menatap layar laptopnya.
"Apa... Kalian akan benar-benar menyelidikinya?" tanya Rin ragu.
"Kau meragukan polisi?"
"Tidak, bukan seperti itu, maksudku sekarang aku benar-benar takut, bagaimana kalau dia memang sedang mengincarku?"
"...Rinoa Beverly, jadi kau anak dari Derrick Beverly yang terbunuh beberapa tahun yang lalu, ya,"
"..."
Rin mendongak menatap wajah Felix yang datar, saat menyebut nama Ayahnya, Rin tak kuasa menahan air matanya, gadis itu menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata agar tak keluar dari pelupuk matanya.
"H-hei kau menangis, apa aku salah bicara?" ujar Felix yang salah tingkah.
Felix beranjak dari tempat duduknya, sepertinya ia lemah terhadap air mata wanita, itu terlihat dari ekspresinya yang salah tingkah sekaligus panik dihadapan Rin. Rin masih menunduk, menghapus air mata yang keluar tanpa permisi dari sela matanya. Suasana berubah menjadi senyap namun canggung, isakan tangisnya terdengar samar. Siapa yang dapat mengontrol perasaan sedih, bahkan Rin pun tak berkeinginan untuk menangis dihadapan Felix. Terdengar suara pintu ruangan itu terbuka, Bella melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu, wajahnya yang gelisah dan bingung serta merta membuatnya mempercepat langkah kaki agar dapat duduk disebelah sahabatnya itu.
"Ya ampun, Rin-ku ada apa? Kenapa kau menangis?" ujar Bella memeluk sahabatnya itu.
"Ah tidak, aku tidak apa-apa Bella,"
"Apa ini gara-gara Kak Felix?" tukas Bella mengarahkan tatapan tajamnya kepada Felix.
"Apa? Tidak, aku tidak melakukan apapun," ujar Felix panik.
"...Bella, aku hanya sedih karena teringat dengan keluargaku," ujar Rin dengan suara parau.
Felix menelan salivanya, raut wajahnya masih dalam kepanikan, ia duduk dikursi kebesarannya dan mengalihkan pandangannya pada layar laptopnya, sesekali netra birunya melirik kearah Rin, dengan jari yang sibuk mengetik, walau tak tau apa yang sedang ia ketik itu.
"Kak Felix, Rin sudah melaporkan hal yang dianggap berbahaya, jadi sebagai aparat, kalian harus segera menyelidiki hal ini hingga tuntas." ujar Bella dengan nada yang cukup tinggi.
"Iya, iya, tanpa kau berbicara begitu juga kami akan menyelidikinya kok."
"..."
"Ah, Rinoa... Apa perkataanku sudah membuatmu sedih?" tanya Felix ragu.
"...Tidak."
Rasa sedih itu datang dengan tiba-tiba, seperti terenyuh dengan segala kenangan yang menyangkut soal keluarga, selama ini Rin berjuang untuk menguncinya rapat dan tanpa sadar Felix menyentuh perasaan itu dengan pertanyaannya. Bukannya tidak percaya pada kinerja polisi, namun rasa was-was memanglah menakuti, sudah beberapa tahun lamanya daerah ini dilanda ketakutan seperti ini, apa memang sesulit itu untuk mencari tau siapa dalangnya? Sedari tadi Rin berpikiran seperti itu, netra biru tuanya menatap datar kearah Felix, apa membuat laporan kesini adalah hal yang benar? Batin Rin berkecamuk dengan monolognya sendiri.
"Hah, kami akan melakukan yang terbaik, aku janji, jadi bisakah kau tak menatapku seperti itu lagi!" ucap Felix kemudian.
Rin tersentak, tersadar dari setiap lamunan dan pikirannya, ia tersenyum simpul, dengan pandangan malu ia berkata "Maafkan aku." tak disangka orang seperti Felix pun akan memerah pipinya karena penuturan dan ekspresi Rin saat itu, buru-buru ia menunduk dan mengutak-atik kembali laptopnya, terdengar sebuah tawa kecil yang keluar dari Bella kala itu.
"Kalau begitu aku permisi, terimakasih." ujar Rin sembari menundukkan kepalanya.
"Ya." jawab Felix tanpa memandang Rin.
Rin beranjak dari kursi itu, bersama dengan Bella ia berjalan menuju pintu dan keluar saat itu juga, sepasang mata biru itu memperhatikan dari dalam tanpa berkedip, hingga bayang Rin menghilang ketika pintu ruangannya kembali tertutup.
"Ah, pintu sialan," umpatnya.
Rin berjalan dengan raut wajah yang sedih, Bella masih setia merangkulnya, ia menatap kedepan, Vin telah berdiri dihadapannya dengan tatapan bingung, netra hitamnya seakan penuh pertanyaan apa yang telah terjadi, namun Rin hanya menggelengkan kepalanya dengan lesuh.
Gadis itu menundukkan kepalanya, menatap lantai keramik yang dingin itu dengan pemikiran yang rumit menguasai kepalanya.
"Jangan memasang tampang sedih seperti itu, karena itu tak cocok untukmu," ujarnya pelan.
Walau terkesan mengejek tapi Rin tau, itu kalimat yang dikeluarkannya untuk menghibur Rin. Untuk beberapa saat Rin hanya diam bagai orang idiot, namun tak lama ia pun tersadar dan langsung mendorong Vin sekuat tenaga, wajahnya memerah bagai udang yang direbus, sebagian jarinya berusaha untuk menutupi hal yang memalukan itu, ia mengalihkan pandangannya, sedangkan Vin hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku gadis itu.
"Kau apa-apaan sih, kenapa dekat-dekat seperti itu,"
"Kau ini pria atau wanita, tenagamu kuat sekali,"
"Berisik, dasar menyebalkan,"
"Ya ampun, aku bagaikan melihat opera sabun disini," gumam Bella pelan.
*
Jalanan sudah tak lagi macet seperti tadi, langit mulai menghitam kembali, disepanjang jalan Rin hanya melamun sembari menatap keluar mobil, Nick juga tak menghubunginya sedari tadi, itu membuat suasana hatinya semakin memburuk.
Mungkin sebatang rokok atau pun segelas bir bisa mengatasi suasana hati yang buruk ini, tapi Rin tak bisa melakukan itu, Bella masih bersamanya, dan lagi Vin juga ada bersama mereka.
"Jadi, bagaimana tadi?" akhirnya Vin menanyakan hal itu.
"Ah, ya mereka bilang akan segera menyelidikinya,"
"Hanya itu?"
Rin menganggukan kepalanya mantap, begitu pula dengan Bella.
"..."
Vin tak berbicara apapun lagi, dia hanya menatap sekilas Rin melalui kaca, lalu kembali fokus kedepan, sesekali ia bersiul hingga menimbulkan suara sendu didalam mobil itu.
Bella melambaikan tangan ketika ia sudah sampai didepan rumahnya, Vin mengantar Bella terlebih karena rute yang pertama kali dilalui. Terlihat hari sudah mulai malam, waktu memang berjalan begitu cepat. Cuaca malam ini ternyata lumayan bagus, walau tadi langit sempat menghitam namun tergantikan oleh kemunculan bintang-bintang yang bercahaya, udara semakin dingin, Rin hanya menggunakan kaos biasa yang dilapisi dengan mantel coklat kesukaannya, berharap nanti ia tidak terserang flu karena nya.
"Apa kau mau berjalan-jalan di pinggir danau terlebih dulu?" ajak Vin tiba-tiba.
"Ah, sekarang?"
"Mm tidak, tahun depan."
"Aish, aku serius."
"Pft, iya sekarang Rin,"
"...Ba-baiklah."
"Oke." ujar Vin memacu mobilnya lebih cepat.
"Hm Vin, bisa aku minta sesuatu?"
"Katakan saja."
"Mm.. Aku ingin kau membelikanku rokok dan dua kaleng bir." ujar Rin gamblang.
"Eh?"